Bab Dua Puluh Satu: Harta Karun Puncak Kemanusiaan
“Hmm~ ah~” Pendeta tua yang lusuh itu merasakan keberuntungan yang mengalir dari batu giok, tanpa sadar menghirupnya ke dalam tubuh, lalu menampakkan ekspresi penuh kenikmatan.
Benar-benar menjijikkan~
Lu Xuan menundukkan kepala kucingnya, enggan lagi memandang pendeta tua yang cabul itu.
Setelah waktu yang cukup lama, pendeta tua itu akhirnya sadar kembali, mengernyit dan menatap Lu Xuan.
Dari mana asal keberuntungan manusia ini?
Belum pernah ia mendengar ada planet yang telah membuka langit bisa melahirkan kembali keberuntungan manusia yang berdiri sendiri.
Lagipula...
Kucing ini adalah hasil buatannya sendiri, dia paling tahu bagaimana struktur kucing itu. Jika memang ia memiliki kemampuan untuk menghasilkan keberuntungan manusia secara mandiri, Penguasa Bintang pun harus memberinya penghormatan.
Saat kucing ini menembus tahap sebelumnya, yang digunakan adalah murni metode kultivasi manusia, lalu di dalam tubuhnya lahir keberuntungan manusia. Bisa jadi... ruhnya bukan lahir secara alami?
Mendadak pendeta tua itu mengernyit dalam, membuat sebuah mudra, ragu-ragu sebelum menyalurkannya ke arah Lu Xuan, sambil berseru, “Binasakan kejahatan, hancur!”
Lu Xuan sangat terkejut, secara naluriah ingin menghindar.
Namun jarak kekuatannya dengan pendeta tua itu bagai langit dan bumi, mana mungkin ia bisa menghindar?
Plak~
Saat mudra itu mengenai tubuh kucingnya, Lu Xuan sudah siap untuk merelakan tubuh kucing itu, namun...
Tak ada apa-apa yang terjadi.
Lu Xuan menatap pendeta tua itu dengan bingung.
“Salah tebak?” Pendeta tua itu mengangkat Lu Xuan, memasukkan kesadarannya ke dalam tubuh kucing itu, memeriksa dengan teliti lagi, tetap tak ada perubahan.
Sebenarnya apa yang terjadi!?
Pendeta tua itu merasa dirinya hampir gila. Kucing ini dulunya adalah karya kebanggaannya, namun belakangan kejadian aneh terus menimpa kucing ini, melampaui pengetahuannya.
Seekor kucing, mana mungkin tiba-tiba memiliki keberuntungan manusia? Itu tidak masuk akal. Tak ada kekuatan yang bisa muncul dari kehampaan, keberuntungan juga adalah bentuk kekuatan, hanya saja lebih misterius daripada energi murni atau energi abadi. Sekalipun demikian, tetap saja tak boleh melanggar hukum alam.
Namun hari ini, keyakinan pendeta tua itu diguncang.
“Tak mungkin, kekuatan apapun tidak bisa muncul dari ketiadaan!” Pendeta tua itu sambil terus menyerap keberuntungan manusia yang diberikan Lu Xuan lewat giok, sambil bergumam seperti orang gila.
Begitu terus berlangsung lama, hingga akhirnya pendeta tua itu keluar dari keterpurukannya, menatap Lu Xuan dengan sorot mata rumit, “Lagipula, kekuatan manusia ini terus mengalir, bukan tanpa asal, ini... dari mana datangnya?”
Lu Xuan berbaring di pelukannya, tak berani bergerak, aura yang dipancarkan pendeta tua itu saat ini cukup menakutkan.
Ia juga ingin menyimpan keberuntungan manusia yang katanya itu, namun ia bahkan tak bisa merasakan keberuntungan itu, apalagi mengendalikannya.
“Sudahlah, sudahlah~” entah sudah berapa lama, pendeta tua itu tampaknya sudah menerima kenyataan, menatap Lu Xuan dengan lesu, lalu mengubah batu giok di tangannya menjadi kalung dan menggantungkannya di leher Lu Xuan.
“Aku ini hanya seorang petapa kecil di tahap pemisahan jiwa, baru tahap keenam dari jalan fana, bahkan belum mencapai keabadian, mana berani mengaku telah memahami kebenaran semesta? Ujung-ujungnya hanya karena batasan pencapaian dan wawasan yang sempit, haha~”
Lu Xuan akhirnya bisa bernapas lega, pendeta tua itu tidak membongkarnya. Bersamaan dengan kalung giok yang digantungkan di lehernya, mendadak Lu Xuan merasa pikirannya menjadi jernih.
“Meong?” Dengan hati-hati ia melirik pendeta tua itu, lalu mencoba menggerakkan cakarnya, menyentuh giok di lehernya.
“Keberuntungan manusia berbeda dengan keberuntungan langit dan bumi, ia terbentuk dari kehendak makhluk hidup, seribu orang seribu pikiran, bercampur dan tak murni. Jika keberuntungan manusia tak dimurnikan, meski bisa membantu kultivasi, ujung-ujungnya akan menimbulkan dampak berbalik pada penggunanya. Jika digunakan tanpa pemurnian, meski tingkatmu setinggi langit, umurmu tetap setara manusia fana.”
Setelah memasangkan giok itu pada Lu Xuan, pendeta tua itu menghela napas, “Sayangnya setelah langit terbuka, harta tertinggi manusia takkan pernah muncul lagi, giok ini konon berasal dari tempat tinggal Raja Manusia, sebelum dunia terbuka memang harta yang bagus, kini hanyalah batu giok biasa. Meski bukan harta tertinggi, namun dengan keberuntungan manusia yang kau punya masih sedikit, cukuplah untuk menahan dan memurnikannya.”
Artinya, tanpa harta tertinggi itu, meski berhasil menembus dunia bawaan hingga ke tingkat yang lebih tinggi sekalipun, tetap tak bisa berumur panjang?
Lu Xuan tertegun. Ia begitu rajin berlatih, demi melindungi diri sekaligus berharap umur panjang. Jika hidup bisa dinikmati, siapa yang tak ingin abadi?
Pendeta tua itu tak lagi peduli padanya, seolah teringat sesuatu, buru-buru ke sudut ruangan dan membongkar sebuah gulungan kuno.
“Ketemu!” seru pendeta tua itu dengan penuh semangat.
Lu Xuan ragu-ragu, namun akhirnya melompat ke meja untuk melihat gulungan bambu itu, pendeta tua itu pun membiarkannya.
Gulungan bambu itu adalah alat sihir, namun sudah sangat tua dan tampak lusuh.
Untungnya isinya masih cukup jelas.
Lu Xuan membaca dengan teliti, harta tertinggi manusia ada dua, satu Daftar Penetapan Dewa, satu Cap Pegunungan dan Sungai.
Kedua benda ini lahir bersamaan dengan kebangkitan manusia. Daftar Penetapan Dewa terbentuk dari kumpulan keberuntungan, lahir dari hubungan langit dan manusia, berwujud tapi tak nyata, dapat menetapkan dewa-dewa, berbagi keberuntungan manusia. Para dewa menerima keberuntungan manusia, membantu kebangkitan manusia, sehingga manusia makin berjaya.
Namun keberuntungan manusia bercampur dan tak murni, tanpa pemurnian, bagi petapa, menggunakannya laksana meneguk racun, meski kultivasi meningkat, umur tetap setara manusia biasa. Harus dimurnikan dahulu dengan Cap Pegunungan dan Sungai, hingga keberuntungan manusia menjadi murni, barulah bisa terbebas dari masalah ini.
Hidup manusia tak lebih dari seratus tahun, jika hanya ada Daftar Penetapan Dewa, Raja Manusia dan para dewa takkan bisa abadi, nafsu akan muncul, sehingga keberuntungan manusia sulit bertahan lama.
Cap Pegunungan dan Sungai lahir dari hubungan manusia dan bumi, menyatu dengan gunung sungai dan daratan, memiliki kekuatan tak terduga, merupakan harta serangan terkuat manusia, juga dapat memurnikan keberuntungan. Jika Cap ini dipadukan dengan Daftar Penetapan Dewa, manusia akan berjaya, jika hanya salah satunya, manusia akan mengalami pasang surut.
Perlu diketahui, kedua benda ini adalah harta tertinggi manusia, namun seperti keberuntungan manusia, keberadaannya tak tetap, jika manusia berjaya, hanya ada satu, jika manusia melemah, akan terpisah, mencari naga tersembunyi...
“Daya naga agung! Makhluk jahat, hancur!”
Lu Xuan tengah asyik membaca, tiba-tiba terdengar pekikan keras di sampingnya.
Lu Xuan spontan mendongak, mendapati seekor naga emas yang bersinar terbang ke arahnya.
Selesai sudah! Mata kucingnya menyempit menjadi dua garis tipis, melihat naga emas itu masuk ke tubuhnya.
Namun... tak terjadi apa-apa.
“Meong?” Lu Xuan menatap bingung pada pendeta tua yang baru saja melancarkan jurus.
“Bukan makhluk jahat?” Pendeta tua itu mencabut jenggotnya.
Tadi ia melihat Lu Xuan membaca dengan begitu serius, mana mungkin itu perilaku kucing yang baru saja mendapat kesadaran, jangan-jangan dirasuki makhluk jahat, maka ia segera bertindak.
Ternyata tak ada efek, ia pun sengaja menggunakan metode khusus untuk membasmi makhluk jahat. Meski kelihatannya dahsyat, tapi kalau bukan makhluk jahat, takkan terjadi apa-apa.
Melihat Lu Xuan baik-baik saja, pendeta tua itu merasa lega sekaligus kecewa.
Dengan demikian, kejadian aneh pada Lu Xuan tetap tak terjelaskan.
Masih belum puas, ia melancarkan beberapa mudra lagi: Tanda Pengusir Setan, Perintah Mengusir Arwah, Tanda Pembasmi Kejahatan!
Lu Xuan mengibaskan ekor, melompat turun dari meja.
Apa hebatnya petapa tahap pemisahan jiwa? Cuma segini?
Plak~
Pendeta tua itu menembakkan energi dengan ujung jarinya, sangat ringan.
Lu Xuan seperti disambar petir, terlempar hingga membentur dinding, baru berhenti.
“Meong!@” Lu Xuan murka, ini jelas sengaja! Terlalu menindas!
“Tak masuk akal!” Pendeta tua itu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, tadi ia kira sudah menemukan kebenarannya.
Sudahlah! Seorang lelaki sejati tahu kapan harus menunduk!
Lu Xuan merasa kepalanya amat sakit, ia pun diam-diam merangkak ke sudut ruangan, kesadarannya kembali ke tubuh asli, hari ini sudah cukup banyak informasi yang didapat, kepalanya benar-benar sakit...