Bab 148: Ujian Kekaisaran
Halaman (1/3)
Begitu menerima kabar dari Ping’an, aku tak kuasa menahan senyum. Cepat sekali waktu berlalu, sudah tiba lagi hari ulang tahun Ping’an. Aku teringat ketika tahun lalu mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Saat itu dia masih seorang gadis polos dan lugu. Kini dia tetap polos dan lugu, tetapi telah menjadi perempuan muda yang hatinya sudah memiliki tambatan.
Semula kukira aku akan kembali melihat taman yang dipenuhi putri-putri pejabat tinggi yang datang merayakan ulang tahunnya. Tak disangka, Ping’an hanya mengundang Su Ling dan Luo Shang’er, serta seorang pemuda bernama Feng Qing. Mereka semua adalah wajah-wajah yang pernah kulihat sekilas tahun lalu. Begitu melihat kedatanganku, para putra dan putri bangsawan itu berdiri dan memberi hormat.
“Tak perlu sungkan.” Aku tersenyum, merasa keadaan ini agak lucu. Tahun lalu, ketika bertemu dengan mereka, aku masih seorang perempuan hina dari rumah bordil. Kini, dalam sekejap, aku telah menjadi seorang wanita terhormat dari keluarga kaya. Nasib manusia sungguh penuh drama.
“Benar, dipanggil Nyonya begini terdengar canggung. Panggil saja Kakak Ye,” kata Ping’an sambil tersenyum. “Kakak Ye sama sekali tidak terlihat tua.”
Semua orang pun tertawa. Su Ling berkata sambil tersenyum, “Sejak mengenal Kakak tahun lalu, kami bertiga sudah sangat mengagumi Kak Ye. Satu lagu ‘Tertawa di Dunia Fana’ yang Kakak nyanyikan sungguh luar biasa dan hingga kini masih membekas dalam ingatan.”
“Benar,” sahut Luo Shang’er. “Sejak saat itu pula aku baru tahu bahwa perempuan juga bisa hidup sebebas dan setegas itu, tanpa kalah dari kaum lelaki.”
“Banyak sekali perempuan yang tidak kalah dari lelaki,” kataku sambil tersenyum. “Misalnya Hua Mulan yang menggantikan ayahnya pergi berperang, para pahlawan perempuan dari Keluarga Yang yang melawan bangsa Jin, dan Permaisuri Wu Zetian, satu-satunya maharani dalam sejarah. Mereka semua adalah perempuan legendaris yang tidak kalah dari lelaki. Bahkan banyak lelaki yang tak mampu menandingi mereka.”
“Kak Ye, siapa Hua Mulan, para pahlawan perempuan Keluarga Yang, dan Wu Zetian yang Kakak sebutkan? Mengapa kami tak pernah mendengar nama-nama itu? Apakah mereka tokoh dalam cerita?” Feng Qing bertanya dengan heran.
“Ah?” Aku sadar telah keceplosan. Terpaksa aku mengiyakan, “Eh, ya, mereka tokoh dalam cerita.”
“Oh, benar!” Ping’an tersenyum. “Cerita yang Kak Ye bawakan juga sangat menarik. Kisah Perjalanan ke Barat yang Kakak ceritakan kepada Ibu Suri di istana sudah tersebar sampai ke tengah masyarakat. Kudengar bahkan ada orang yang membawakan kisah itu di kedai teh. Hari ini, bagaimana kalau Kak Ye menceritakan kisah Hua Mulan, para pahlawan perempuan Keluarga Yang, dan Wu Zetian kepada kami?”
“Jumlahnya begitu banyak. Kalau diceritakan, beberapa hari beberapa malam pun belum tentu selesai.” Aku tertawa.
Ping’an berkata, “Kakak mulai saja hari ini. Bisa bercerita sebanyak apa pun, kami akan mendengarkan. Kami semua ingin tahu sehebat apa perempuan-perempuan legendaris itu.”
Aku tersenyum tipis, berpikir sejenak, lalu mulai berkata, “Kisah Hua Mulan bermula dari sebuah syair:
‘Cekikik, cekikik,
Mulan menenun di depan pintu.
Tak terdengar suara alat tenun,
yang terdengar hanya helaan napas sang gadis…’”
Perlahan-lahan, aku menuturkan kisah rakyat yang telah lama beredar di duniaku. Beberapa gadis bangsawan itu mendengarkan dengan penuh minat. Mungkin karena kisahnya berkaitan dengan peperangan, bahkan Feng Qing pun menyimaknya dengan sangat serius.
Setelah cerita selesai, semua orang mengaguminya. Luo Shang’er berkata, “Ternyata di dunia ini benar-benar ada perempuan luar biasa seperti itu. Sungguh membuat orang ingin mengenalnya!”
“Dari mana Kakak mendapatkan cerita-cerita sehebat ini?” Su Ling bertanya sambil tersenyum. “Aku berani berkata bahwa aku telah membaca cukup banyak buku, tetapi belum pernah mendengar kisah seaneh dan semenarik ini. Hua Mulan benar-benar pahlawan perempuan yang keberaniannya tak tertandingi!”
“Itu cerita yang beredar di kalangan rakyat.” Aku tersenyum canggung.
Saat itulah terdengar suara dari luar, “Siapa Hua Mulan?”
Aku menoleh dan melihat Kaisar bersama Ji Jingyun berjalan masuk. Aku segera berdiri. Para putra dan putri bangsawan yang hadir memberi hormat kepada mereka berdua. Dengan penuh kegembiraan, Ping’an berseru, “Paman Yu, Paman Kedua, kalian datang!”
Aku tahu para gadis bangsawan yang hadir belum mengetahui jati diri Kaisar. Maka aku hanya membungkuk hormat dan berkata, “Tuan Yu, Jenderal Ji!”
“Apa yang diceritakan Nyonya Ronghua sampai membuat kalian begitu gembira?” Kaisar melirikku sambil tersenyum.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Baru saja Kak Ye menceritakan kisah Hua Mulan yang menyamar sebagai lelaki dan menggantikan ayahnya pergi berperang. Menarik sekali!” Ping’an tertawa. “Kalian juga duduklah dan dengarkan.”
Kaisar sama sekali tidak sungkan. Ia langsung duduk, dan Jenderal Ji pun ikut mengambil tempat sambil tersenyum. “Sudah lama kudengar cerita Nyonya Ronghua sangat menarik. Hari ini aku sungguh beruntung.”
“Jenderal hanya menggodaku.” Aku tersenyum.
Feng Qing mendesak, “Kak Ye, cepat ceritakan bagaimana kisah para pahlawan perempuan Keluarga Yang! Aku sudah tak sabar ingin tahu!”
“Cerita ini panjang dan tak mungkin selesai dalam waktu singkat. Akan kupilih beberapa bagian untuk diceritakan.” Aku tersenyum. Setelah mereka mengangguk setuju, aku mulai memaparkan latar belakangnya.
“Kisah para pahlawan perempuan Keluarga Yang terjadi di sebuah negeri bernama Song. Pada suatu tahun, negeri tetangga Song, yaitu Xi Xia, mengerahkan pasukan untuk menyerang perbatasan Song. Marsekal Song yang menjaga perbatasan, Yang Zongbao, memimpin pasukan melawan musuh. Namun, ketika sedang menyelidiki jalan di Lembah Hulu, ia terkena panah rahasia dan gugur.
“Keadaan menjadi genting. Dari perbatasan, seorang utusan dikirim kembali ke ibu kota untuk meminta bantuan. Di Kediaman Tianbo milik Keluarga Yang, ibu kota, Nenek Shi yang telah berusia lebih dari seratus tahun sedang mengadakan jamuan untuk merayakan ulang tahun cucunya, Zongbao, yang kelima puluh. Ketika kabar duka tiba, seluruh keluarga diliputi kesedihan, sementara istana gempar dan hendak menyerahkan wilayah demi berdamai.
“Nenek Shi menekan dukacitanya. Bersama menantu-menantu dan cucu-cucu menantunya yang telah menjanda, serta cicitnya, Wenguang, ia dengan penuh semangat membantah pendapat kelompok di istana yang menghendaki perdamaian. Dengan keteguhan hati, Nenek Shi menerima tugas sebagai panglima, lalu memimpin para perempuan Keluarga Yang menuju perbatasan untuk melawan musuh dan menyelamatkan negeri…”
Mungkin kisah ini lebih mengguncangkan daripada kisah Hua Mulan. Sejak awal, cerita itu telah menarik perhatian mereka. Bukan hanya beberapa anak muda yang mendengarkan dengan mata tak berkedip, bahkan Kaisar dan Ji Jingyun pun menyimaknya dengan sangat serius.
Aku menceritakan beberapa bagian, lalu berhenti untuk minum. Hari ini Ping’an ternyata sangat perhatian. Ia tidak menyiapkan teh untukku, melainkan air madu untuk melegakan tenggorokan. Rupanya sejak awal dia memang berniat memastikan aku tidak mendapat kesempatan beristirahat.
Setelah meletakkan cangkir, aku tersenyum dan berkata, “Baiklah, sampai di sini saja cerita hari ini. Kalian juga harus memberiku waktu untuk beristirahat.”
“Apakah di dunia ini benar-benar ada perempuan luar biasa yang seluruh keluarganya setia dan gagah berani seperti itu?” Feng Qing bertanya dengan wajah serius. “Aku tak pernah menyangka perempuan juga memiliki keberanian dan kesetiaan seperti itu. Dibandingkan para jenderal di Negeri Tianzhao yang mengandalkan pasukan pribadi dan menolak tunduk, mereka sungguh bahkan tidak sebanding dengan perempuan…”
“Feng Qing! Omong kosong apa yang kau katakan?” Ji Jingyun membentaknya.
Aku ingat Feng Qing tampaknya adalah putra salah seorang jenderal bawahan Ji Jingyun. Dia pasti sering mendengar keluhan di rumah. Karena tidak tahu bahwa Kaisar sedang menyamar dan berada di tempat itu, dia pun mengucapkan kata-kata yang tidak pada tempatnya.
Setelah ditegur Jenderal Ji, Feng Qing segera menutup mulut dan tak berani berkata apa-apa lagi. Aku melihat wajah Kaisar tetap tenang. Ia tidak tampak marah karena ucapan ceroboh Feng Qing.
Sebaliknya, Ping’an malah menyahut, “Apa yang dikatakan Feng Qing juga benar. Mereka memang bahkan tidak sebanding dengan perempuan…”
“Yang diceritakan Nyonya Ronghua hanyalah kisah. Mana mungkin di dunia ini seorang perempuan diangkat menjadi panglima?” Kaisar menatapku dengan tenang.
Ping’an membantah, “Mengapa tidak mungkin? Kak Ye berkata perempuan bukan hanya bisa menjadi pejabat di istana, tetapi bahkan bisa menjadi kaisar…”
“Ping’an…” Aku buru-buru menghentikannya. Anak ini benar-benar tak tahu menjaga ucapan.
Benar saja, alis Kaisar sedikit terangkat. Sudut bibirnya melengkung seolah tersenyum, tetapi juga tidak. “Perempuan menjadi kaisar? Dari mana lagi kau mendengar hal itu?”
Aku menarik napas, memikirkan cara menjawabnya. “Sebenarnya, sejak kecil hamba pernah mendengar orang bercerita bahwa di negeri-negeri seberang laut dan wilayah Barat yang sangat jauh, perempuan memiliki hak yang sama dengan lelaki. Mereka dapat belajar, menjadi pejabat, dan mengabdi kepada negara. Bahkan ada pula maharani.”
“Kalau begitu, ceritakan bagaimana maharani itu memerintah negaranya.” Kaisar terus mengejar pertanyaan itu.
Punggungku mulai terasa dingin. Melihat sikapnya yang tak mau melepaskan persoalan ini, aku tahu tak mungkin mengelabuinya. Setelah berpikir sejenak, aku berkata hati-hati, “Hamba pernah mendengar tentang sebuah negeri seberang laut bernama Tang. Di sana pernah ada seorang maharani bernama Wu Zetian. Pada masa pemerintahannya, ia memperhatikan perkembangan pertanian, memperbaiki berbagai keburukan yang telah mengakar, menyempurnakan sistem ujian kenegaraan, menghancurkan pengaruh keluarga-keluarga bangsawan, mengangkat orang-orang berbakat tanpa memandang latar belakang, serta membentuk pemerintahan pusat yang kuat. Masyarakat hidup tenteram dan perekonomian berkembang. Ia adalah seorang maharani yang sangat cakap.”
“Menyempurnakan sistem ujian kenegaraan dan menghancurkan pengaruh keluarga bangsawan?” Kaisar tertegun sejenak. “Apa yang dimaksud dengan ujian kenegaraan?”
“Eh?” Baru saat itu aku tersadar bahwa di dunia ini belum ada sistem ujian kenegaraan.
Pemilihan pejabat di sini mirip dengan sistem rekomendasi pada zaman kuno: para pejabat daerah mengamati dan memilih orang-orang berbakat di wilayah mereka, kemudian merekomendasikan mereka kepada atasan atau pemerintah pusat. Setelah menjalani masa percobaan dan pemeriksaan, barulah mereka diangkat menjadi pejabat.
Namun, pada kenyataannya, sistem itu dikuasai oleh keluarga-keluarga bangsawan. Mereka saling memuji, memalsukan hasil, membentuk kelompok, dan menjalin hubungan kepentingan. Sangat sedikit orang yang benar-benar berbakat dan berguna bagi negara yang dapat terpilih.
Ada pula sistem perekrutan langsung. Dalam sistem itu, Kaisar mengundang orang-orang terkenal di masyarakat untuk menduduki jabatan penting di istana. Sementara itu, pejabat tinggi pemerintah pusat atau pejabat daerah dapat mengangkat bawahannya sendiri, lalu merekomendasikan mereka kepada istana.
Singkatnya, siapa pun yang ingin memperoleh jabatan di istana harus mendapatkan rekomendasi. Seperti perlombaan puisi yang diadakan keluarga Yun dan para bangsawan Cangdu—sejujurnya, itu hanyalah cara untuk membentuk kelompok dan memperkuat jaringan mereka.
Aku tidak tahu apakah menjelaskan semua ini akan membawa keberuntungan atau bencana. Aku pun ragu-ragu. Kaisar menatapku dengan sorot mata yang menggetarkan, terus mendesak selangkah demi selangkah.
“Nyonya Ronghua?”
“Ujian kenegaraan adalah sistem yang digunakan pemerintah untuk memilih pejabat melalui serangkaian ujian.” Aku menarik napas dan berusaha menjelaskannya sesederhana mungkin. “Karena pemilihan dilakukan berdasarkan bidang-bidang ujian yang berbeda, sistem itu disebut ujian kenegaraan. Sistem yang sempurna terdiri atas empat tingkatan: ujian akademi, ujian provinsi, ujian ibu kota, dan ujian istana. Materinya pada dasarnya adalah ajaran klasik kaum sarjana, dengan kalimat-kalimat dari Empat Kitab sebagai bahan soal. Bentuk tulisannya pun ditetapkan, yaitu esai berpola delapan bagian…”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Mata Kaisar seketika berbinar. Ia menyela dengan suara penuh minat, “Ajaran klasik kaum sarjana? Empat Kitab?”
Aku begitu menyesal hingga hampir ingin menggigit lidah sendiri. Melihat ekspresinya yang penuh antusias, aku tahu tak mungkin menghindar tanpa memberikan penjelasan. Aku menelan ludah dan berkata dengan susah payah, “Di negeri Tang itu, pada zaman dahulu pernah hidup seorang bijak bernama Kongzi. Ia mengajarkan suatu paham yang disebut ajaran kaum sarjana. Paham itu kemudian menjadi arus utama kebudayaan, pedoman para penguasa dalam memerintah, serta landasan pemikiran rakyat. Empat Kitab adalah kumpulan naskah klasik yang ditulis oleh para orang bijak pada zaman dahulu di negeri itu. Isinya merupakan inti dari ajaran kaum sarjana.”
“Lalu, apa yang diajarkan oleh paham yang dicetuskan Sang Bijak Kong itu? Apa isi Empat Kitab?” Mata Kaisar menyipit. Nada suaranya semakin mendesak.
Mana mungkin aku tahu? Aku bahkan belum pernah membaca Empat Kitab dan Lima Klasik!
Aku menggigit bibir, lalu tersenyum kaku. “Ajaran kaum sarjana menjunjung kebajikan, keadilan, tata krama, kebijaksanaan, dan kepercayaan. Kebajikan merupakan inti ajaran mereka. Mereka menjadikannya landasan utama etika moral, serta berpendapat bahwa seorang penguasa harus memahami keadaan rakyat, menghargai tenaga rakyat, menentang pemerintahan yang kejam, dan melaksanakan pemerintahan yang penuh kasih. Mereka menganjurkan negara diatur berdasarkan tata krama dan keadilan, serta menggunakan tata krama dan musik untuk membatasi perilaku manusia dan membentuk wataknya.
“Sedangkan mengenai Empat Kitab itu, Tuan, Anda benar-benar menyulitkan hamba. Hamba hanya pernah mendengar kisah-kisahnya, bukan membaca buku yang ada di dalam kisah tersebut.”
Kaisar menatapku lekat-lekat. Ekspresinya dalam dan sulit ditebak. Setelah beberapa saat, sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Lanjutkan penjelasanmu tentang ujian kenegaraan.”
Aku menghela napas lega, lalu melanjutkan, “Ujian akademi juga disebut ujian anak didik. Ini adalah ujian kenegaraan tingkat daerah yang diselenggarakan oleh pengawas pendidikan tiap provinsi, dan terdiri atas tiga tahap: ujian kabupaten, ujian prefektur, serta ujian akademi. Semua pelajar di seluruh negeri boleh mendaftarkan diri, tanpa memandang usia, asal-usul keluarga, maupun tinggi rendahnya kedudukan. Kesempatannya sama bagi semua orang.
“Setelah lulus ujian akademi, seseorang memperoleh status sebagai pelajar resmi. Hanya dengan status itulah ia dapat memasuki sekolah prefektur, wilayah, atau kabupaten untuk belajar. Karena itu, ujian ini juga disebut ujian masuk sekolah. Semua peserta ujian, tanpa memandang usia, disebut pelajar pemula.”
Mata Kaisar semakin berbinar.
“Lanjutkan.”
“Ujian provinsi diselenggarakan setiap tiga tahun sekali di ibu kota masing-masing provinsi. Hanya pelajar pemula yang boleh mengikutinya. Biasanya ujian ini diadakan pada bulan kedelapan musim gugur, sehingga disebut pula ujian musim gugur. Penguji utamanya ditunjuk oleh Kaisar. Setelah ujian selesai, diumumkan daftar utama dan daftar tambahan. Mereka yang lulus dalam daftar utama disebut sarjana terpilih, sedangkan peringkat pertama disebut Jiyuan.”
Aku berusaha mengingat kembali pengetahuan yang samar-samar tersimpan dalam pikiranku.
“Ujian ibu kota juga diselenggarakan setiap tiga tahun sekali, biasanya pada musim semi, sehingga disebut ujian musim semi. Ujian ini dipimpin oleh Kementerian Upacara. Kaisar menunjuk ketua dan wakil ketua penguji. Semua sarjana terpilih dari berbagai provinsi dan para pelajar Akademi Nasional boleh mengikutinya. Tiga ratus orang yang lulus akan memperoleh gelar sarjana persembahan, sedangkan peringkat pertama disebut Huiyuan.”
Ekspresi Jenderal Ji dan para putra-putri bangsawan yang hadir tampak sulit dipercaya. Di zaman ketika jabatan pemerintahan secara wajar dikuasai melalui rekomendasi keluarga bangsawan, mekanisme yang memberikan kesempatan ujian relatif adil kepada seluruh rakyat ini benar-benar terlalu mengguncangkan bagi mereka.
Kaisar menatapku dengan mata berkilat.
“Lalu, bagaimana dengan ujian istana?”
“Ujian istana adalah tingkatan tertinggi dalam sistem ujian kenegaraan. Kaisar mengajukan pertanyaan secara langsung di istana kepada para sarjana persembahan yang lulus ujian ibu kota, lalu menentukan peringkat mereka. Kadang-kadang Kaisar juga menunjuk seorang menteri untuk memimpin ujian dan tidak mengajukan pertanyaan secara langsung.
“Para peserta yang lulus dibagi menjadi tiga tingkatan. Tingkat pertama terdiri atas tiga orang dan dianugerahi gelar ‘sarjana yang lulus langsung’. Peringkat pertama disebut juara utama, peringkat kedua disebut juara kedua, dan peringkat ketiga disebut juara ketiga. Tingkat kedua terdiri atas sejumlah orang dan dianugerahi gelar ‘sarjana dari keluarga pejabat’. Tingkat ketiga juga terdiri atas sejumlah orang dan dianugerahi gelar ‘sarjana setara’. Peringkat pertama dari tingkat kedua dan ketiga disebut pula pembawa berita kelulusan. Ketiga tingkat itu secara keseluruhan disebut sarjana istana.
“Karena ujian istana dilakukan melalui pertanyaan langsung dari Kaisar, rakyat juga menyebut mereka yang lulus sebagai murid pilihan Putra Langit.”
Aku mengucapkan semuanya dalam satu tarikan napas. Tenggorokanku terasa kering, jadi kuangkat cangkir dan meneguk air madu.
Ketika mengangkat wajah, kulihat mata Kaisar bersinar begitu tajam hingga membuatku gentar. Dalam suaranya terdengar gejolak yang tak sepenuhnya tenang.
“Murid pilihan Putra Langit?”
“Ya. Murid pilihan Putra Langit.” Aku mengangguk dan menatapnya terus terang. “Orang-orang ini adalah bakat yang dipilih oleh Kaisar. Kesetiaan mereka tertuju kepada Kaisar, dan yang mereka lindungi adalah kepentingan negara, bukan jalinan kepentingan keluarga bangsawan yang telah mengakar. Jika Kaisar tidak ingin dikendalikan oleh keluarga-keluarga bangsawan, ujian kenegaraan adalah cara terbaik.”
“Nyonya Ronghua…”
Ji Jingyun menatapku dengan takjub. Para putra dan putri bangsawan yang hadir juga memandangiku seolah-olah aku makhluk aneh. Kaisar menatapku lekat-lekat, matanya dipenuhi emosi rumit yang sulit dimengerti. Dadanya tampak naik turun dengan jelas.
—29 Januari 2007
Jilid pertama “Benang Sutra Hijau” akan segera diterbitkan pada awal Februari. Para pembaca yang menyukainya dapat memesan di Toko Buku Penyihir Kecil.
Halaman (3/3)