Bab 126: Ratapan Chu
“Apa yang kaulakukan membawaku ke sini?” Aku mengangkat pandang ke papan nama yang tergantung tinggi di atas bangunan reyot itu. Terukir dua aksara besar yang menyeramkan: “Rumah Jenazah”. Bulu kudukku meremang.
“Takut?” Senyum mengejek mengembang di sudut bibir Yue Niang.
“Hal apa yang harus dibicarakan di tempat seperti ini?” Aku menarik napas, lalu menatapnya dengan tenang.
“Tak perlu tegang…” Yue Niang melirik Yun Xun dan Yun Kun yang terus mengikuti di belakangku, lalu mencibir, “Sekarang aku adalah Yue Wanchi.”
Benarkah? Sekarang ia adalah Yue Wanchi, yang berarti ia tidak akan membunuh dengan menggunakan identitas Yue Wanchi? Aku tersenyum tak percaya.
“Aku hanya membawamu menemui seorang kenalan lama. Kalau kau tidak keberatan mereka mendengarnya, biarkan saja mereka ikut.” Setelah berkata demikian, ia mendorong pintu yang setengah tertutup dan melangkah masuk.
Aku ragu sejenak, lalu ikut masuk. Di dalam ruangan luas itu berjajar belasan peti mati, besar dan kecil, baru maupun lama. Cahaya di dalam sangat suram. Sinar matahari yang menerobos dari jendela-jendela rusak hanya mampu menerangi sebidang kecil lantai. Jerami berserakan di tanah, sarang laba-laba memenuhi balok dan sudut dinding, sementara debu menumpuk di atas peti-peti mati. Bau busuk yang menusuk mengambang di udara.
Yue Niang berhenti di depan sebuah peti mati yang tampak masih baru. Ia menatapnya dengan pandangan kosong. Berbeda dari peti-peti lainnya, peti itu tidak tertutup debu.
Aku menghampiri. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Setelah beberapa lama, barulah ia mengangkat wajah dan menatapku.
“Coba tebak, siapa yang berbaring di dalamnya?”
Aku samar-samar sudah bisa menebaknya. Nada suaraku mengeras.
“Siapa pun dia, apa hubungannya denganku?”
“Tidak ada hubungan?” Yue Niang tersenyum tipis. Tangannya perlahan mengusap peti mati itu. “Aku sudah menduga kau akan mengatakan hal semacam itu. Jika ia tahu dari alam kubur, ia pasti akan kembali tersenyum pahit.”
Aku menoleh kepada Yun Xun dan Yun Kun.
“Kalian keluar dan tunggu aku.”
“Nyonya Muda?”
Keduanya menatap Yue Niang dengan waspada. Aku tetap bersikeras.
“Keluar. Tanpa perintahku, jangan masuk.”
Kedua pengawal besi itu pun pergi. Yue Niang tersenyum.
“Tidakkah kau takut aku memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuhmu?”
“Sekarang kau adalah Yue Wanchi, bukan Hantu Kelam. Sekalipun kau membunuhku, kau juga tidak akan bisa melarikan diri.” Aku berkata datar, “Siapa yang menyuruh kalian menciptakan bencana tambang di Kabupaten Tieshan? Siapa yang menyuruh kalian menghasut kerusuhan? Siapa yang menyuruh kalian menjebak Keluarga Yun? Bukankah Gerbang Wuji adalah organisasi pembunuh? Bagaimana bisa kalian merendahkan diri sampai melakukan semua ini?”
“Atas dasar apa aku harus memberitahumu?” Yue Niang tersenyum tipis. Sambil mengusap peti mati itu, ia menghela napas. “Ucapanmu tadi cukup menarik. Apa kau sedang merasa tidak terima atas nasib Chu Shang?”
Aku menarik napas, mengabaikan provokasinya, lalu memalingkan wajah.
“Dia sudah pergi selama itu. Mengapa kau tidak membiarkannya beristirahat dengan tenang di dalam tanah? Mengapa petinya masih disimpan di rumah jenazah ini?”
“Beristirahat dengan tenang?” Yue Niang terkekeh lirih. “Ia memikul tuduhan palsu yang luar biasa, dendam darahnya belum terbalaskan. Bagaimana mungkin ia merasa tenang? Lagipula…”
Ekspresi dan nada suaranya berubah ganjil.
“Ia masih menunggumu datang menemuinya…”
Aku mundur selangkah dan menatapnya dengan waspada.
“Apa sebenarnya yang kauinginkan? Kau ingin membalaskan dendam untuknya?”
“Dia sendiri sudah melepaskan niat membalas dendam. Untuk apa aku repot-repot?” Yue Niang mencibir pelan. Tatapannya jatuh pada peti mati itu dan berubah lembut, berkabut. “Aku hanya ingin menceritakan sebuah kisah kepadamu.”
“Aku tidak ingin mendengarnya.” Aku memalingkan wajah dan menggigit bibir rapat-rapat.
“Tidak ingin mendengar, atau takut mendengar?” Yue Niang tersenyum. Nada suaranya dipenuhi keteguhan. “Ternyata kau juga hanya seorang pengecut yang takut mengetahui kebenaran.”
“Dia sudah meninggal. Apa gunanya membicarakan semua ini?” Suaraku sedingin es. “Mengapa tidak membiarkan semuanya berakhir bersamaan dengan kematiannya?”
“Memang dia sudah mati, tetapi apakah menurutmu semua persoalan benar-benar telah berakhir?”
Yue Niang menatapku dengan ejekan tipis. Seluruh tubuhku bergetar. Aku menggigit bibir bawah dan tidak bersuara. Seketika tubuhku terasa seperti dicekik telapak tangan tak kasatmata yang sangat kuat, hingga menjadi lemah dan tak bertenaga.
Sambil mengelus tutup peti mati, Yue Niang mulai menceritakan kisahnya.
Delapan belas tahun yang lalu, di Negeri Tianzhao, terdapat sebuah keluarga pejabat yang telah turun-temurun dikenal karena kebudayaannya. Keluarga itu berada di puncak kejayaan. Putri mereka masuk ke istana dan dianugerahi gelar selir kekaisaran, sedangkan putranya mengabdi di pemerintahan hingga diangkat menjadi Guru Agung, guru bagi para pangeran.
Guru Agung itu juga menikahi perempuan tercantik di ibu kota pada masa itu. Mereka memiliki seorang putra yang cerdas dan tampan.
Namun, masa bahagia itu tidak berlangsung lama.
Suatu hari, Nyonya Guru Agung pergi ke Kuil Guanyin untuk bersembahyang. Di sana ia kebetulan bertemu Wei Jinlan, yang kala itu masih menjabat sebagai Wakil Menteri Ritus dan belum menjadi perdana menteri. Wei Jinlan terpukau oleh kecantikannya. Setelah mengetahui bahwa perempuan itu adalah istri Guru Agung, ia sengaja menjalin persahabatan dengan sang pejabat hingga menjadi teman dekatnya. Dengan demikian, ia memperoleh alasan untuk sering keluar-masuk kediaman Guru Agung dan mencari kesempatan mendekati istrinya.
Namun, Nyonya Guru Agung adalah perempuan terhormat dari keluarga baik-baik, yang menjunjung kesusilaan dan menjaga martabat. Berkali-kali gagal mendekatinya, Wei Jinlan pun melahirkan niat jahat. Ia merancang jebakan dengan menuduh Guru Agung berkhianat dan menjual negeri kepada musuh.
Akibatnya, lebih dari seratus delapan puluh anggota keluarga Guru Agung dihukum mati. Adik perempuannya yang menjadi selir kekaisaran pun diperintahkan mengakhiri hidup.
Konon, pada hari eksekusi, darah mengalir seperti sungai di tempat hukuman. Darah itu mewarnai tanah menjadi merah menyala dan tidak menghilang selama berbulan-bulan. Pemandangannya sungguh mengenaskan.
Menjelang bencana itu, Guru Agung memperoleh kabar mengenai bahaya yang akan datang. Ia menyuruh kepala pelayan tua membawa putra tunggalnya yang berusia enam tahun melarikan diri dari ibu kota.
Setelah mengetahui hal tersebut, Wei Jinlan mengirim orang-orang untuk mengejar dan membunuh mereka. Pada akhirnya, para pengejar berhasil menemukan mereka. Demi melindungi tuan kecilnya, kepala pelayan tua itu menerima lebih dari dua puluh sabetan. Tangan dan kakinya ditebas hingga ia berubah menjadi sebatang tubuh manusia yang bermandikan darah. Darahnya membasahi seluruh tubuh putra Guru Agung.
Putra Guru Agung itu benar-benar ketakutan. Ketika sebilah pedang hampir menebasnya sampai mati, tiba-tiba seseorang muncul dan membunuh semua pengejarnya, lalu menyelamatkannya.
Orang yang menyelamatkannya membawa anak itu ke tempat paling gelap di seluruh dunia—sebuah tempat untuk melatih para pembunuh.
Di sana, setiap hari ia dipaksa berkelahi dengan anak-anak seusianya. Jika menolak, ia tidak akan diberi makan.
Pada awalnya ia tidak mau menyakiti siapa pun. Akibatnya, ia dikeroyok oleh sekelompok anak hingga dua tulang rusuknya patah. Orang-orang itu kemudian melemparkannya ke sebuah ruangan gelap. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidak memberinya makanan seteguk pun, tidak memberinya air, bahkan tidak mengobati lukanya.
Tikus-tikus merayap di sekeliling tubuhnya dan menggigiti jari-jari kakinya. Berkali-kali ia mengira dirinya akan mati dan tidak akan bertahan sampai esok hari.
Namun, pada hari keempat, ketika pintu ruangan itu dibuka, ia masih hidup.
Orang-orang itu menyeretnya keluar dan mengobati lukanya. Setelah sembuh, ia kembali dipaksa berkelahi. Ketika tidak ada lagi anak yang mampu mengalahkannya, orang-orang itu melemparkan setumpuk pedang kepada mereka dan menyuruh mereka saling menebas.
Pada pertarungan pertama, punggungnya ditebas hingga meninggalkan luka sepanjang lebih dari tiga puluh sentimeter. Lengan kirinya juga tercabik hingga daging dan darah bercampur menjadi satu. Namun, setiap kali pertarungan berlangsung, dialah yang selalu berdiri paling akhir di antara anak-anak yang saling membacok itu.
Ia terpilih menjadi calon pembunuh. Bersama calon-calon pembunuh lain yang juga lolos seleksi, ia mempelajari ilmu bela diri. Setiap hari, mereka wajib berlatih selama sepuluh jam penuh.
Ketika berusia dua belas tahun, ia menjalani pertarungan pertamanya. Lawan-lawannya adalah calon pembunuh seperti dirinya.
Hari itu, dua puluh enam orang ikut bertarung, tetapi hanya tiga belas yang dapat bertahan hidup.
Dalam pertarungan pertamanya, empat tulang rusuknya patah dan tubuhnya menerima lima luka tebasan. Namun, lawannya kehilangan kepala.
Pertarungan semacam itu pada awalnya diadakan setiap enam bulan, lalu setiap tiga bulan, kemudian sebulan sekali, dan akhirnya setiap tujuh hari.
Mula-mula ia bertarung melawan calon pembunuh seperti dirinya. Setelah itu, organisasi tersebut mulai mencari para ahli bela diri terbaik dari dunia persilatan untuk dijadikan lawannya.
Pada awalnya ia selalu terluka, tetapi ia juga selalu berhasil memenggal kepala lawannya. Semakin lama, kemungkinan dirinya terluka semakin kecil.
Pada usia delapan belas tahun, ia menjalani pertarungan terakhir. Setelah itu, ia akan menjadi pembunuh resmi dan mulai menerima tugas.
Dalam pertarungan terakhir tersebut, ia boleh memilih siapa pun di dalam organisasi sebagai lawan. Ia memilih pemimpin organisasi—sosok yang telah dijadikan legenda, yang selama ini tidak pernah dikalahkan oleh siapa pun.
Namun, ia menebas kepala pemimpin itu dengan satu ayunan pedang dan menciptakan legenda baru.
Ia menjadi pemimpin baru organisasi pembunuh tersebut. Ia mulai berhubungan dengan pemerintahan dan memonopoli hak perdagangan sutra, teh, serta garam. Dalam waktu enam tahun, ia menjadi saudagar ternama di Negeri Tianzhao.
Akhirnya, ia juga menemukan dalang yang dahulu menyebabkan seluruh keluarganya dihukum mati: Wei Jinlan, yang kini telah menduduki jabatan perdana menteri.
Ia menyusun rencana pembalasan dengan saksama dan berhasil menangkap Wei Jinlan. Namun, di kediaman perdana menteri, ia justru bertemu seseorang yang sama sekali tidak pernah disangkanya akan ditemui—ibunya, yang selama ini ia kira telah meninggal delapan belas tahun lalu.
Yang lebih tidak pernah diduganya, ibunya ternyata telah menikah dengan musuh yang membunuh ayahnya dan menjadi selir sampingan perdana menteri.
Dengan murka, ia mencela ibunya. Namun, ibunya mengatakan bahwa dahulu Wei Jinlan telah menggunakan tipu muslihat untuk menukar orang dan menyelamatkannya dari tempat eksekusi. Selama ini ibunya mengira Wei Jinlan adalah orang yang menyelamatkan hidupnya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Wei Jinlan adalah orang yang menjebak keluarga suaminya.
Ia tidak mampu menerima penjelasan ibunya dan nyaris menjadi gila. Setelah kebenaran terungkap, ibunya merasa sangat malu. Ia meraih tangan putranya dan mengarahkan pedang yang digenggamnya ke perut sendiri.
Di depan matanya, ibunya meninggal sambil tetap menggenggam tangannya, memaksanya membunuh ibunya sendiri.
Pada saat itu, ia benar-benar kehilangan akal.
Ia menculik Wei Jinlan dan putrinya. Semula ia hanya ingin membalas dendam kepada Wei Jinlan. Ia tidak pernah berniat melibatkan istri dan anaknya.
Namun, pada saat itu hanya ada satu pikiran dalam benaknya: membalas dendam.
Ia ingin melampiaskan kebencian atas kematian ibunya kepada putri Wei Jinlan. Ia ingin Wei Jinlan menyaksikan dengan mata kepala sendiri putrinya dikuasai oleh musuh. Ia ingin Wei Jinlan merasakan sakit yang menusuk jantung dan penghinaan yang membekas sampai ke tulang.
Ia memperkosa putri Wei Jinlan. Di hadapan perempuan itu, ia sengaja menyiksa Wei Jinlan dan memaksanya membunuh ayahnya sendiri. Namun, hal itu tetap belum mampu meredakan kebenciannya.
Ia kemudian melemparkan perempuan itu ke rumah bordil. Ia hanya ingin mempermalukan dan menyiksanya sehina mungkin, memaksanya membayar dosa-dosa yang telah dilakukan ayahnya.
Namun, perempuan itu sungguh berbeda dari yang lain.
Ia tidak menangis dan tidak membuat keributan. Ia mampu memahami keadaan yang dihadapinya dengan tenang. Ia sangat cerdas dan tahu bagaimana mengupayakan yang terbaik bagi dirinya sendiri, bahkan dalam lingkungan yang paling kejam.
Bakatnya luar biasa. Dengan mudah ia menarik perhatian semua orang. Segala sesuatu tentang dirinya sama sekali berbeda dari informasi yang pernah diketahuinya.
Hal itu membuatnya bingung.
Ia bersembunyi dan mengamati perempuan itu. Semakin lama ia mengamati, semakin bingung dan semakin tidak mengerti dirinya sendiri. Ia semakin menyadari bahwa perempuan itu begitu istimewa.
Yang lebih mengerikan, ia mendapati dirinya perlahan-lahan tertarik kepadanya.
Ia pernah berjuang melawan perasaan itu, menolaknya, bahkan berusaha menghindarinya. Namun, perempuan itu bagaikan bunga beracun. Ia tahu bahwa mendekatinya berarti akan mati diracuni, tetapi tetap tidak mampu menahan daya tariknya.
Pada akhirnya, ia jatuh cinta kepada perempuan itu—putri musuh yang telah membunuh ayah dan ibunya.
Ia mencintainya, sekaligus membencinya. Perasaan itu menyiksanya siang dan malam. Ia tidak mampu mengendalikannya hingga nyaris menjadi gila.
Perempuan itu mengandung anaknya. Namun, ia menderita sampai kehilangan kendali dan tidak menginginkan anak tersebut.
Ketika melihat penderitaan dan keputusasaan di wajahnya, ia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah mampu membencinya lagi.
Ia hanya ingin membawa perempuan itu pergi, menjauhkannya dari tempat yang membuatnya menderita, menyembuhkan luka di dalam hatinya, dan menebus dosa-dosa yang telah dilakukannya terhadap perempuan itu.
Namun, ia sudah tidak memiliki kesempatan.
Entah siapa yang membocorkan identitasnya. Istana mengirim pasukan besar untuk memburunya, bahkan mengerahkan puluhan ahli bela diri istana.
Hari itu, ia membunuh hingga matanya memerah. Ia menewaskan hampir seratus orang, tetapi pada akhirnya tetap tertangkap. Kepalanya dipenggal dan digantung di atas gerbang kota.
Mengapa ia tidak melarikan diri?
Dengan ilmu bela dirinya, jika ia ingin kabur, tidak seorang pun akan mampu menangkapnya.
Aku tidak pernah percaya bahwa ia benar-benar mati. Bahkan setelah aku pergi ke gerbang kota untuk mengambil kepalanya dan menjahitnya kembali ke tubuhnya, aku masih tidak mau percaya.
Namun, kepala itu memang miliknya. Tubuh itu juga tubuhnya.
Lengan kirinya telah ditebas. Di sekujur tubuhnya terdapat puluhan luka besar dan kecil yang dihasilkan oleh berbagai senjata: luka pedang, luka tebasan, luka bakar, luka cakaran. Darah masih mengucur, dan beberapa luka begitu dalam hingga tulangnya terlihat…
“Cukup!”
Aku memeluk kepala sendiri, lalu berlutut dan merosot lemas ke tanah. Air mata mengalir deras seperti banjir.
“Jangan lanjutkan… jangan lanjutkan…”
—4 Januari 2007