Bab 89: Pemilik Toko
Selama beberapa hari aku berbaring di atas ranjang penginapan Kota Perbatasan untuk memulihkan luka, Yu Die’er pergi keluar menelusuri kabar tentang Suku Patus. Kabar yang dibawanya sangat membuat orang marah sekaligus berduka. Katanya, semua laki-laki Suku Patus dibantai habis oleh Suku Malti. Karena mereka tidak mendapatkan dua ekor kuda terbaik, orang-orang Suku Malti juga tidak menemukan Danni dan Jinsha di antara para perempuan dan anak-anak yang mereka culik. Tidak satu pun perempuan dan anak-anak yang mereka bawa pulang dibiarkan hidup. Untuk menutupi kejahatannya, Suku Malti membakar habis jejak perbuatan mereka di tanah Suku Patus. Api berkobar selama dua hari dua malam, mengubah perkampungan kecil yang dahulu sederhana itu menjadi lahan hitam hangus tanpa sisa.
Seluruh tubuhku bergetar. Yu Die’er menatapku dengan cemas, “Huahua…”
“Aku akan membuat mereka membayar semua ini!” Aku mengepalkan kedua tangan, melihat mata sendiri yang memerah di pantulan tatapan Yu Die’er, bersumpah penuh kebencian.
“Sekarang bukan waktunya membicarakan hal itu. Lalu, bagaimana kau akan memberi tahu kedua anak itu?” tanya Yu Die’er.
“Kita tak bisa memberitahu mereka,” gelengku pelan, terasa perih di hati. “Itu terlalu kejam untuk mereka.”
“Tapi…” Yu Die’er mengerutkan kening. Aku menarik napas dalam-dalam. “Mari kita kembali ke Cangdu dulu, biarkan aku memikirkannya dengan matang.”
An Yuanxi membawa dua anak itu masuk. Aku menyembunyikan ekspresi berat dan tersenyum pada mereka, “Danni, Jinsha, kita akan segera kembali ke Cangdu. Kalian akan segera bisa menonton pertunjukan wayang kulit Tianzhao, dan makan gula-gula tusuk yang enak…”
“Kami tidak mau pergi!” Tiba-tiba Danni memotong, matanya yang bening menatapku tajam hingga membuatku gugup. “Kakak Ah Hua, aku dan adik ingin pulang ke padang rumput!”
“Tidak boleh!” Refleks aku menolak keras. Danni menatapku mantap, “Kenapa tidak boleh? Kami ingin pulang! Kami mau mencari Ayah, Ibu, dan Nenek!”
“Pokoknya tidak boleh. Nenekmu memintaku membawa kalian pergi, aku tidak akan membiarkan kalian pulang!” Aku menggigit bibir, tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Perkataanku terdengar sangat tidak masuk akal.
“Kakak Ah Hua…” Jinsha menatapku dengan takut-takut. Aku memeluknya, membujuk dengan lembut, “Jinsha, ikutlah kakak ke Cangdu. Percayalah, kalian akan bahagia hidup di sana…”
“Kakak Ah Hua, kami ingin pulang…” Jinsha mulai tersedu, air matanya jatuh seperti untaian mutiara yang putus. “Aku kangen Ibu… hiks, hiks…”
“Jinsha…” Aku memeluknya dengan sedih, menghela napas tak berdaya. Danni kembali menatapku mantap, “Kakak Ah Hua, apa kau melarang kami pulang karena Ayah, Ibu, dan Nenekku sudah meninggal?” Mendengar itu, Jinsha menangis semakin keras.
“Danni…” Aku menatapnya dengan kening berkerut. Ia melirik Yu Die’er, “Kau menyuruh Paman ini mencari kabar ke padang rumput, apa yang dia dapatkan?”
Anak ini sepertinya sudah menduga nasib keluarganya. Aku menghela napas. Yu Die’er mengerutkan kening, “Huahua, tidak mungkin kita terus menyembunyikan hal ini dari mereka. Sebaiknya katakan saja yang sebenarnya.”
Aku memalingkan muka, tak sanggup melihat ekspresi mereka. Melihat aku tak membantah, Yu Die’er lalu menceritakan kabar yang didapatnya di padang rumput pada kedua anak itu, dengan kata-kata yang dipilih sehalus mungkin. Jinsha terus menangis. Aku menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Danni, dengan wajah pucat dan bibir tergigit, hanya diam membisu. Setelah Yu Die’er selesai bicara, aku berkata lembut pada Danni, “Danni, kalau kau pulang sekarang, bukankah sia-sia pengorbanan keluargamu? Nenekmu sudah menitipkan kalian padaku, aku pasti akan menjaga kalian dengan baik…”
Danni menatapku sejenak, lalu wajahnya menunjukkan keteguhan, “Kakak Ah Hua, tenang saja. Aku sekarang tidak akan pulang…”
Aku menghela napas lega. Tak disangka, tiba-tiba ia berlutut di depan Yu Die’er, “Paman, kau bisa ilmu bela diri, kan? Ajarkan aku ilmu beladiri, aku pasti akan belajar sungguh-sungguh. Setelah aku bisa, aku akan pulang, membunuh Suku Malti, membalaskan dendam keluargaku!”
Kami semua terkejut, bahkan Jinsha pun berhenti menangis. Yu Die’er buru-buru menariknya, “Bangun dulu!”
“Kalau Paman setuju, aku akan berdiri!” Danni melepaskan tangan Yu Die’er dengan keteguhan yang tidak seharusnya dimiliki anak seusianya. Ia tetap berlutut tegak, menatap Yu Die’er dengan sorot mata penuh tekad, jelas ini bukan keputusan gegabah sesaat.
Yu Die’er tampak serba salah, “Ilmu yang kupelajari bukanlah untuk membunuh.”
“Lalu, bisakah Paman memberitahu siapa yang mengajarkan ilmu untuk membunuh? Aku akan belajar padanya!” Danni bersikeras. Aku mengerutkan kening, merasa kasihan atas malapetaka yang menimpa keluarganya, namun jika ia seumur hidup memanggul dendam, akankah ia bahagia? Tiba-tiba terlintas sebuah wajah yang begitu membekas di ingatanku, membuat dadaku berdenyut nyeri. Teringat pada sorot mata tajam yang dulu membuatku ketakutan hingga tak bisa tidur, tubuhku merinding. Aku tak bisa membiarkan Danni menjadi seperti dia. Kalau itu terjadi, aku tak akan menepati pesan Bibi Ixia padaku.
Aku menatap Yu Die’er, “Yu Die’er, kau sudah lama mengembara di dunia persilatan, adakah kau mengenal tokoh senior yang benar-benar terhormat?” Aku sengaja menekankan kata “terhormat”. Tak bisa langsung memadamkan niat Danni, itu bisa berdampak buruk. Belajar bela diri tak bisa instan, jika ada guru yang benar dan jujur, mungkin ia bisa membimbing Danni, menenangkan amarahnya, sekaligus memberinya kemampuan melindungi diri. Itu tidak buruk juga.
Yu Die’er segera menangkap maksudku. Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum, “Memang ada seorang senior yang sangat dihormati di dunia persilatan, dan juga sangat mahir. Kalau dijelaskan keadaannya, mungkin ia bersedia menerimanya sebagai murid.”
“Oh?” tanyaku cepat, “Siapa?”
“Dia adalah Kepala Biara Hui Dan dari Wihara Wuxiang di Gunung Xuanwu,” jawab Yu Die’er sambil tersenyum. “Wihara Wuxiang sejak lama dianggap sebagai panutan di dunia persilatan. Kepala Biara Hui Dan adalah biksu bijaksana yang sudah mendapatkan pencerahan. Jika ia bersedia menerima Danni sebagai murid awam, kekhawatiranmu akan teratasi.”
Benar-benar pilihan yang tepat. Membiarkan Danni menimba ilmu dan mendengarkan wejangan para biksu selama beberapa tahun tentu bermanfaat baginya. Maka semuanya diputuskan begitu saja. Danni pun tak ingin menunda barang sehari, langsung ingin berangkat ke Gunung Xuanwu. Aku mempertimbangkan sejenak, lalu setuju Yu Die’er membawanya, dan kami pun berpisah jalan. Aku memberikan kuda hitam dan putih untuk mereka tunggangi—itu nama yang kuberikan untuk Raja Kuda Liar dan pasangannya. Kuda hitam kupanggil Si Hitam, yang putih Si Putih. Awalnya aku ingin menamai mereka “Pengejar Angin” atau “Pengejar Bulan”, tapi melihat ekspresi Raja Kuda Liar yang agak aneh, akhirnya kupilih nama sesederhana warna bulunya saja. Entah mengapa, setiap kali aku memanggil mereka dengan nama yang kurang gagah itu, kedua kuda selalu tampak murung, membuatku tak tahan untuk tidak tertawa.
Aku sendiri bersama An Yuanxi menyewa kereta kuda, membawa Jinsha pulang ke Cangdu. Cangdu masih sama seperti ketika kutinggalkan, tetap ramai dan hiruk-pikuk. Saat tiba di rumah Kakek Fu, Fuxiang yang membukakan pintu langsung girang bukan kepalang, sambil berteriak-teriak, “Tuan, Kakak Ye dan Kakak An sudah pulang!”
Kakek Fu langsung keluar dengan langkah tergesa, wajahnya berseri-seri dan hidung merahnya berkilauan, “Gadis Ye, akhirnya kalian pulang juga. Sudah lebih dari sebulan ini kami sangat khawatir! Fuxiang, cepat beritahu Nyonya An, bilang bahwa Yuanxi sudah kembali.”
“Baik!” Fuxiang tersenyum, lalu berlari keluar. Kakek Fu menggandeng kami masuk ke dalam, “Ayo, masuk dulu. Sebenarnya kalian mengalami masalah apa, kok lama sekali baru kembali?”
“Kami…” Aku baru hendak bicara ketika An Yuanxi menahan lenganku dan berbisik, “Aku menulis surat ke rumah hanya bilang ada sedikit masalah dan harus tertunda beberapa hari, tidak menceritakan lebih jauh. Nanti saat ibuku datang, sebaiknya kau diam saja, biar aku yang jelaskan.”
Aku tertegun, lalu mengangguk. Tak lama duduk, Nyonya An dan An Sheng bergegas masuk ke rumah.
“Yuanxi…” Nyonya An langsung memeluk putranya sambil menangis, “Kenapa kau jadi kurus begini? Apakah kau banyak menderita di luar sana? Makanannya di Negeri Yaoyue pasti tak cocok, ya? Kalian janji sebulan, kenapa malah dua bulan baru pulang?”
Pertanyaan Nyonya An bertubi-tubi. An Yuanxi sepertinya sudah menyiapkan alasan: bilang jalan di padang rumput sulit, uang di Negeri Yaoyue terlambat diterima, jadi mereka bersenang-senang lebih lama, dan sebagainya. Walau begitu, An Yuanxi tetap saja tak lepas dari omelan dan tangis ibunya. Melihatnya saja aku sudah bergidik, syukurlah aku tidak terus terang menceritakan semuanya, kalau tidak, bisa-bisa aku tak tahan mendengar ocehan Nyonya An.
Setelah suasana agak tenang, Kakek Fu baru sadar kami membawa seorang gadis kecil. Ia bertanya siapa dia, dan aku hanya bilang menemukan seorang anak yatim di perjalanan. Fuxiang dan An Sheng yang melihat Jinsha yang lucu pun senang, ingin mengajaknya bermain. Aku menahan mereka, “Jinsha sudah lama di perjalanan, pasti lelah. Kalian antar dulu dia ke kamarku untuk beristirahat, besok saja bermain.”
Dua anak itu menjawab riang, lalu menggandeng Jinsha pergi. Melihat duka Jinsha mulai mereda, aku pun lega, lalu bertanya pada Kakek Fu, “Kakek, kenapa tidak lihat Xiao Hong?”
“Ia pergi ke toko. Selama kau tidak di sini, ia tiap hari ke toko untuk membantu,” jawab Kakek sambil tersenyum, ragu-ragu sejenak. Melihat ekspresinya aneh, aku bertanya, “Ada apa?”
“Beberapa waktu lalu, dari Toko Jinxiu di ibu kota mengirim seseorang ke toko mu. Aku tidak tahu jelasnya, kau istirahat saja dulu, nanti biar Xiao Hong yang jelaskan,” kata Kakek Fu.
“Bu Jin mengirim orang?” Aku mengerutkan dahi. Apa yang ingin dilakukan Bu Jin? Aku pun memutuskan pergi ke toko. An Yuanxi langsung hendak menemaniku, tapi Nyonya An tidak setuju, “Yuanxi, kau baru pulang, istirahat saja dulu. Besok saja ke toko.”
Aku buru-buru menyahut, “Kau pulang saja, aku pergi sendiri.”
“Aku temani kau,” kata An Yuanxi, lalu membujuk ibunya, “Ibu, aku tidak capek, nanti aku dan Kak Ye lihat-lihat toko sebentar lalu pulang.”
Mendengar putranya berkata begitu, Nyonya An menatap kami berdua dengan pandangan penuh arti, tapi akhirnya tidak melarang. Aku dan An Yuanxi pun menaiki gerobak keledai keluarga, bergegas ke kota. Setiba di toko, suasananya sunyi, hanya ada seorang pemuda asing yang menyambutku ramah, “Nona, ingin membuat pakaian atau membeli perlengkapan?”
Nona? Aku tersenyum tipis, “Kamu siapa?”
“Saya bermarga Wang, pengelola toko ini.” Jawabannya membuatku terkejut. Ini menarik! Aku tersenyum geli, “Bukankah pengelola toko ini Tuan Muda Yu?”
“Itu pengelola lama. Saya pegawai baru yang dipekerjakan pemilik toko,” katanya lagi. Ternyata selama aku pergi, banyak hal yang terjadi. Aku dan An Yuanxi saling berpandangan, ia pun tampak heran. Aku tersenyum, “Bukankah pemilik Toko Jinxiang ini Ye Haihua? Sudah berganti pemilik?”
“Belum,” jawabnya dengan dahi berkerut, “Maksud Nona apa?”
“Kalau belum berganti pemilik, kenapa aku tidak ingat pernah merekrutmu sebagai pengelola?” Aku menatapnya, melihat ekspresinya yang kebingungan, lalu tertawa. Orang ini, jangan-jangan memang suruhan Bu Jin?
“Nona, siapa sebenarnya Anda…?” Ia tampak semakin heran. Saat itu, Xiao Hong keluar dari dalam, begitu melihatku langsung berlari, “Nona! Kau… kau sudah pulang…”
Matanya memerah, lalu air matanya jatuh. Aku menepuk bahunya, tersenyum, “Kenapa menangis, aku baik-baik saja.”
“Jadi Nona adalah Pemilik Ye!” Si Wang itu menatapku ke atas-bawah, lalu membungkuk ramah, “Saya Wang Jichang, ditugaskan oleh Bu Jin dari toko pusat di ibu kota, untuk bekerja di cabang Cangdu ini.”
Bekerja? Atau mengawasi aku? Rupanya Bu Jin tidak sepenuhnya percaya padaku! Aku tersenyum, “Bu Jin sungguh perhatian pada cabang Cangdu. Terima kasih atas kerja kerasmu, Pak Wang. Kalau begitu, bolehkah saya lihat surat penugasanmu?”
—17 November 2006