Bab 132: Kemarahan Sie An
Pada saat itu, Chu Si sama sekali lupa bahwa dirinya masih menguasai ilmu bela diri. Namun, sekalipun ia mengingatnya, dengan kemampuan yang baru pulih satu atau dua bagian, belum tentu ia mampu melawan Xie An.
“Beri tahu aku, siapa dirimu!”
Xie An kembali bertanya dengan suara rendah. Tangan kanannya yang melingkari pinggang Chu Si sesekali bergerak menyusuri pinggangnya dari balik pakaian.
“Aku… aku Chu Si.” Chu Si menjawab lirih tanpa sadar. Ia sedikit panik dan kebingungan. Sepasang matanya yang indah memancarkan kilau samar dan linglung.
Melihat hal itu, Xie An menekan perut kuda dengan kakinya, mengarahkan tunggangan mereka menjauh dari jalan utama menuju jalan pegunungan di sisi jalan. Pepohonan tumbuh lebat di kedua sisi jalur itu. Dalam sekejap, dedaunan yang rimbun menutupi sosok mereka.
Saat itu, kesadaran Chu Si telah pulih sedikit. Begitu teringat bahwa dirinya baru saja mengakui identitasnya, hatinya dipenuhi kegelisahan. Namun, kegelisahan itu masih jauh lebih ringan dibandingkan napas berat yang terdengar dari belakangnya.
Merasakan tangan Xie An yang diletakkan di pinggangnya dan sesekali bergerak memijat, Chu Si tak kuasa menggeliat beberapa kali. Dengan suara rendah, ia berkata, “Xie An, jangan begini. Lepaskan aku.”
Dalam suaranya terdengar kepanikan dan kelemahan yang bahkan tidak ia sadari. Kelemahan itu membuat hati Xie An mabuk oleh pesona. Ia menundukkan kepala, memandang sisi wajahnya yang elok, lalu berkata lirih, “Kau memanggilku apa?”
“Xie An.”
Xie An terkekeh pelan. Sambil tertawa, ia sengaja mendekatkan wajah ke telinga Chu Si. Hembusan napasnya masuk ke dalam telinga, menimbulkan rasa geli yang membuat tubuh Chu Si kembali menggigil. Dengan tawa rendah, Xie An berkata lembut, “Si Kecil, panggil aku Tuan Xie.”
Bibirnya mendekat ke telinga seputih batu giok itu. Dengan lembut dan penuh kemesraan, ia berbisik, “Panggil aku Tuan Xie.”
Wajah Chu Si memerah. Ia baru hendak mengucapkan panggilan itu ketika tiba-tiba teringat pada identitasnya. Ia pun meninggikan suara dan berkata dengan nada kesal, “Mengapa aku harus memanggilmu Tuan Xie? Xie An, bahkan jika menghitung pertemuan sebelumnya, aku baru bertemu denganmu dua kali. Kau… bagaimana bisa kau bersikap kurang ajar kepadaku?”
Dalam sekejap, ia teringat pada peran lain yang sedang diperankannya, yakni Wang Yunniang. Menurut Xie An, siapa sebenarnya dirinya? Ia hanya pernah bertemu dengannya sekali dan menyelamatkannya satu kali. Sejak kapan hubungan mereka menjadi sedekat ini? Sejak kapan pula Xie An bersikap seolah-olah Chu Si telah menipunya dan berutang sesuatu kepadanya?
Kegembiraan dan kepanikannya perlahan memudar. Semakin dipikirkan, semakin kesal pula Chu Si. Ia tak tahan untuk kembali memaki, “Kau… dasar bajingan! Cepat lepaskan aku! Kau kira dirimu siapa? Atas dasar apa kau memperlakukanku seperti ini?”
Saat ia berteriak, tubuh Xie An yang duduk rapat di belakangnya mendadak menegang. Tepat ketika Chu Si selesai berbicara, hawa dingin dan menyeramkan yang tak terlukiskan tiba-tiba menyapu ke arahnya.
Tanpa perlu menoleh, Chu Si tahu bahwa Xie An telah marah. Namun, apa haknya untuk marah? Seharusnya aku yang marah, bukan? Dia hanya pernah bertemu dengan Chu Si sekali. Dia juga memiliki Wang Yunniang sebagai tunangan. Atas dasar apa dia marah kepadaku? Atas dasar apa dia menyentuhku sesuka hati? Siapa yang dia kira diriku? Apa dia mengira statusnya sebagai putra keluarga bangsawan begitu hebat, sampai-sampai aku harus memohon agar dia menjadikanku selirnya?
Api kemarahan yang tak bernama mulai berkobar. Chu Si menggigit bibir bawahnya, mengulang kalimat-kalimat itu berkali-kali dalam hati sambil menunggu pembelaan Xie An.
Setelah waktu berlalu cukup lama, Xie An akhirnya membuka suara perlahan.
“Chu Si.”
Chu Si tidak menjawab.
Dengan lambat ia melanjutkan, “Chu Si, berapa banyak topeng yang kau miliki?”
Tubuh Chu Si bergetar.
Begitu pertanyaan itu terlontar, seribu satu alasan yang memenuhi benaknya seketika berubah menjadi abu. Ia menahan kegelisahan dalam hati dan berpikir dengan cemas, Apa maksudnya? Tidak. Tidak mungkin. Pertanyaan itu pasti tidak mengandung makna lain.
Xie An perlahan melepaskan kedua tangannya yang menahan Chu Si. Tangan kanannya mencengkeram dagunya, memaksanya menoleh dan mengangkat wajah untuk menatapnya. Begitu melihat sepasang mata Xie An yang hitam pekat dan dalam, Chu Si segera menundukkan kepala dengan panik.
Xie An mengangkat dagunya lebih tinggi, memaksanya kembali menatap dirinya.
Sudut bibir Xie An sedikit terangkat. Ia tersenyum lembut dan berkata, “Si Kecil, kau tidak berniat memberitahuku berapa banyak topeng dan penyamaran yang kau miliki?”
Wajah Chu Si memucat. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi tak satu kata pun keluar.
“Bicaralah. Bukankah tadi kau sangat marah? Mengapa sekarang tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun?”
Kedua tangan Xie An berpindah ke kerah pakaiannya. Sambil menyusuri lehernya, ia perlahan membuka ikatan pada kerah itu sedikit demi sedikit. Wajah Chu Si kembali memerah. Ia tak tahan untuk berkata, “Jangan…”
Melihat Xie An menatapnya tanpa berkedip, ia akhirnya berkata dengan lemah, “Jangan lakukan ini.”
“Kenapa tidak boleh?”
Xie An tertawa rendah. Kedua matanya berkilauan terang, tetapi di balik tatapan yang jernih dan cemerlang itu tersembunyi kemurkaan dan ketidaksenangan yang sulit dilukiskan.
Setelah tertawa beberapa kali, ia menghentikan tawanya dan mengembuskan napas panjang. Dengan suara perlahan, ia berkata, “Aku, Xie An, telah tersohor di seluruh dunia. Sejak kecil, siapa pun yang mengenalku selalu memuji kecerdasanku.”
Suara jernih dan merdu itu mengalun. Tidak menyangka bahwa pada saat seperti ini Xie An justru mulai memuji dirinya sendiri, Chu Si mengangkat mata dengan rasa ingin tahu dan memandangnya.
Namun, Xie An menurunkan pandangan. Jari-jarinya yang panjang bergerak menyusuri dagu dan leher Chu Si. Seolah tidak menyadari rasa ingin tahu Chu Si, ia mengangkat telunjuknya dan perlahan menekannya ke bibir sendiri.
Telunjuknya yang memiliki sedikit kapalan bergerak lembut di atas bibir merah Chu Si. Sambil mengikuti garis bibirnya, Xie An berkata, “Meski begitu, sejak dulu aku tahu bahwa di luar langit masih ada langit. Aku tidak pernah berani menyombongkan diri. Baru setelah semakin banyak orang dan peristiwa yang mampu kulihat sampai ke akar-akarnya hanya dalam sekali pandang, aku percaya bahwa diriku layak disebut sebagai salah satu tokoh terbaik di dunia.”
Xie An berbicara dengan tenang dan mengalir. Suaranya jernih seperti mata air, merdu dan penuh daya pikat, mampu membuat seseorang mabuk tanpa sadar serta menumbuhkan rasa suka dan ketergantungan kepadanya.
Chu Si pun mulai terpengaruh. Tanpa sadar ia melupakan jari Xie An yang masih bermain-main di bibirnya. Ia hanya menatap Xie An dalam diam, menunggu kelanjutan ucapannya.
Saat itu, Xie An mengangkat wajah dan bertatapan dengannya.
Dengan gigi putih berkilau, Xie An tersenyum tipis. Senyum itu terasa seperti angin musim semi yang menyentuh wajah, membuat Chu Si tanpa sadar ikut tersenyum.
Tepat ketika senyum menghiasi wajahnya, Xie An memeluknya dan melompat turun dari kuda. Ia melangkah beberapa langkah ke depan hingga punggung Chu Si bersandar pada batang pohon besar. Barulah ia kembali menyeringai.
Senyum itu masih memperlihatkan gigi putih dan terasa seperti angin musim semi, tetapi entah mengapa Chu Si merasa angin tersebut berubah dingin, seolah-olah telah menjadi angin musim dingin yang menggigit.
Ia bergidik. Wajahnya yang semula merona perlahan memucat. Sambil melirik Xie An dengan hati-hati, Chu Si mulai merasa gelisah.
Xie An kembali tersenyum. Ia mencondongkan tubuh hingga dahinya menyentuh dahi Chu Si. Dengan napas yang segar dan mata terpaku pada mata Chu Si, ia berkata perlahan, “Ketika pertama kali melihatmu, kecantikanmu tiada banding. Tatapanmu memiliki kejernihan, keyakinan diri, keberanian, dan keceriaan yang jarang dimiliki perempuan. Saat itu aku berpikir, ternyata di dunia ini masih ada perempuan seperti dirimu.”
“Setelah itu, segala sesuatu yang kau lakukan, katakan, dan perlihatkan membuatku tak mungkin melupakannya sepanjang hidup. Ketika melihatmu dibawa pergi oleh Shi Hu, aku tak bisa makan ataupun tidur. Aku menderita hingga batasnya.”
Aneh, mengapa pembicaraannya tiba-tiba beralih ke sini setelah tadi memuji diri sendiri?
Saat mengucapkan hal itu, otot-otot wajah Xie An berkedut beberapa kali. Suaranya pun membawa kesedihan.
“Masa itu adalah masa paling menyakitkan dalam hidupku. Setiap hari aku hidup dalam penderitaan, penyesalan, kerinduan kepadamu, serta kebencian kepada Shi Hu. Beberapa kata yang kau tuliskan di telapak tanganku dan tatapanmu ketika menyuruhku pergi, semuanya berulang kali hadir dalam mimpiku. Aku tidak pernah bisa melupakannya.”
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan suaranya yang mulai bergetar karena emosi. Setelah memejamkan mata sejenak, Xie An kembali menatap Chu Si.
“Sejak saat itu, sosokmu menjadi luka yang terukir di dalam hatiku. Setiap saat aku menyalahkan diri sendiri dan merindukanmu. Setiap kali melihat sosok yang menyerupaimu di jalan, aku selalu tertegun berulang kali. Betapa ingin aku melihatmu berjalan keluar dari kerumunan sambil tersenyum, lalu berkata kepadaku, ‘Xie An, kita bertemu lagi.’”
Kedua tangannya turun perlahan dan berhenti di ikat pinggang Chu Si, tetapi suaranya dalam sekejap berubah menjadi dingin.
“Sekarang kita memang bertemu lagi. Namun, kau datang ke sisiku dengan wajah lain, berpura-pura menjadi orang asing. Nona Chu Si, aku, Xie An, ingin bertanya kepadamu: sebenarnya berapa banyak wajah yang kau miliki?”
Suaranya mendadak merendah. Tangan kanannya menarik kuat, dan terdengar suara robekan ketika pakaian luar Chu Si terbelah, menampakkan pakaian dalam berwarna putih rembulan di baliknya.
Xie An menundukkan kepala, memandang tulang selangka Chu Si yang seputih giok. Tangannya terulur dan menyentuh bagian tenggorokannya yang menonjol. Dengan suara serak dan rendah, ia bertanya, “Izinkan aku bertanya—haruskah aku memanggilmu Chu Si, atau Chu Tian? Atau Wang Yunniang?”