Bab Tujuh Puluh Empat: Bergegas Kembali ke Yangzhou

Pesona Seribu Wajah Keluarga Lin Cheng 2044kata 2026-02-07 21:46:55

Tinggal tersisa dua setengah hari lagi! Segera pertandingan ini akan berakhir! Teman-teman, di hari-hari terakhir ini, tolong bantu aku bertahan!

***********

Ucapan itu sungguh tajam dan pedas. Itu benar-benar membandingkan kata-kata pria tampan bermarga Yu yang sangat percaya diri itu dengan ocehan seorang wanita kasar di pasar. Apa yang paling dijunjung tinggi oleh orang-orang pada masa Wei dan Jin? Tentu saja, keanggunan dan sikap! Ucapan Chu Si itu, berputar-putar namun jelas-jelas menuding bahwa pria itu sama sekali tak punya keanggunan, bahkan kata-kata dan kalimat yang ia pilih begitu tajam menembus hati, hingga membuat beberapa orang di sekitarnya tertawa kecil.

Pria bermarga Yu itu begitu marah sampai tersendak, ia melotot kepada Chu Si, namun lama tak mampu berkata apa-apa. Karena marah, kedua pipinya yang putih berseri menjadi kemerahan, justru menambah keindahan yang unik pada wajahnya.

Saat Chu Si tengah merasa puas atas serangan baliknya yang begitu kuat, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang perempuan yang sangat dikenalnya, “Ah, jadi kau tunangan ketiga dari keluarga Xie? Ternyata kau hanya seperti ini? Ah, pantas saja selama perjalanan kau selalu memakai caping dan tak mau melepasnya, rupanya memang begitulah adanya. Ah, wajahmu benar-benar tidak sepadan dengan Xie Sanlang.”

Suara itu nyaring dan manja, terdengar terus-menerus, dan orang yang bicara tak lain adalah Nona Huan yang datang bersama Chu Si. Begitu masuk kota bersama para pengawal, ia langsung berjalan-jalan dengan riang. Begitu kembali dan melihat wajah Chu Si yang sejak tadi membuatnya penasaran, ia kecewa dan tanpa basa-basi langsung melontarkan kata-kata pedas.

Pria bermarga Yu yang tadinya murka karena ucapan Chu Si namun tak bisa membalas, tiba-tiba mendengar ucapan itu, seketika suasana hatinya membaik. Ia membentangkan kipasnya dan tertawa terbahak-bahak.

Mendengar tawa itu, Nona Huan menoleh dan meneliti pria bermarga Yu itu. Setelah beberapa kali memandang, matanya mulai berbinar, lalu ia melihat ke belakang dan mendapati di belakang pria itu berderet kereta kuda mewah, kuda-kuda tinggi, dan kereta berwarna merah menyala yang membuat matanya silau.

Melihat lambang pada kereta dan setelah beberapa kali memastikan, Nona Huan berseru pelan, “Ah, kau pasti putra keempat keluarga Yu? Kudengar adik perempuanmu yang kelima kecantikannya tiada tanding, benarkah itu? Apakah dia juga datang? Boleh aku menemuinya?”

Di sini ucapannya terhenti sejenak, lalu segera melanjutkan, “Ah, kudengar Xie Sanlang dan adik perempuanmu pernah berjanji untuk bertemu, benarkah itu? Aku juga menyukai Xie Sanlang, meskipun aku tidak bisa bersaing dengan adikmu, dan adikmu pun tidak bisa bersaing dengan nona dari keluarga Wang ini, hehe, memikirkan itu saja sudah membuatku lega.”

Pada dasarnya, Nona Huan memang suka bicara tanpa henti. Awalnya ucapannya membuat pria bermarga Yu itu senang, tapi bagian belakang justru membuat wajahnya semakin gelap dan muram.

Begitu ia selesai bicara, pria bermarga Yu mengibaskan lengan bajunya dan mendengus keras dari hidungnya. Ia tak lagi memandang Nona Huan, melainkan menatap Xie An dengan serius dan berseru, “Benar, Xie An, adik perempuanku yang kelima akan mengadakan pesta perahu di tepi Danau Dieyan di Yangzhou tujuh hari lagi, maukah kau datang bersama tunanganmu?” Setelah berkata demikian, ia berjalan kembali ke keretanya, lalu dengan santai berkata setelah naik ke atasnya, “Tujuh hari lagi adalah hari yang baik, sebagian besar kaum cendekia sudah berencana hadir. Xie An, beranikah kau datang?”

Xie An menoleh pada Chu Si, melihat wajahnya penuh rasa ingin tahu, lalu tertawa pelan dan membungkuk, “Jika seorang wanita cantik mengundang, mana mungkin aku menolak?”

Chu Si menatap punggung pria bermarga Yu yang menjauh, lalu perlahan berjalan ke samping Xie An. Seorang cendekiawan paruh baya yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka sambil sesekali merapikan jenggotnya yang tidak rapi, kini bertanya dengan penasaran, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Chu Si menjawab tanpa banyak pikir, “Aku sedang berpikir, apakah ini yang disebut diskusi ringan?”

Cendekiawan paruh baya itu menatap Chu Si dengan heran, lalu memandang Xie An. Wajah Xie An langsung berubah, menatap Chu Si tajam, lalu setelah beberapa saat hanya bisa menghela napas pelan.

Cendekiawan itu bertanya bingung, “Apa maksudmu? Mana mungkin ini disebut diskusi ringan?”

Mendengar itu, Chu Si langsung sadar bahwa ia baru saja mengucapkan sesuatu yang menjadi kelemahan besar. Ia memejamkan mata, putus asa memikirkan, kali ini pasti kecurigaan Xie An terhadapnya semakin dalam, mungkin ia sudah mulai menebak sesuatu!

Ia tak berani menengadah, tak berani menatap mata Xie An. Bibirnya terkatup rapat, dalam hati ia mengutuk kecerobohannya sendiri.

Padahal, ia sendiri bukan seorang penipu profesional, selama ini selalu bertindak sesuka hati, jadi jika sekali waktu ia membuat kesalahan, itu adalah hal yang wajar.

Karena suasana hati yang buruk, rasa lapar pun ia lupakan. Ia membungkuk sedikit dan berkata pelan, “Aku kurang sehat, mohon izin untuk undur diri.” Setelah berkata demikian, ia pun kembali ke keretanya tanpa menoleh.

“Sungguh aneh,” ujar cendekiawan paruh baya itu kepada Xie An. “Tunanganmu tadi bicara sangat tajam dan menarik, mengapa tiba-tiba jadi begitu lemah?”

Xie An memaksakan senyum dan menggeleng, “Jangan bicarakan dia lagi. Mari kita makan sambil saling bercerita tentang apa saja yang terjadi setelah lama berpisah.”

Rombongan mereka memang jarang beristirahat selama perjalanan. Hari itu, setelah makan, Chu Si langsung kembali ke penginapan dan beristirahat dengan baik semalaman.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, rombongan kembali berangkat menuju Yangzhou. Kali ini, cendekiawan paruh baya itu pun ikut serta. Ia bermarga Lü, bernama Zhen. Dahulu, ia pernah menjadi biksu, tapi kemudian kembali ke kehidupan awam, menikah dan punya anak. Namun setelah anaknya meninggal karena tenggelam, ia masuk ke aliran Tao, dan kini untuk kedua kalinya kembali ke kehidupan awam.

Di antara tiga ajaran besar yang populer di dunia, yaitu Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme, ia telah memeluk dua di antaranya. Karena itu, masyarakat menyebutnya “Pemimpin Dua Ajaran”, atau singkatnya “Dua Pemimpin”. Janggutnya pun sering jadi bahan olokan. Ia sangat suka memelihara janggut, namun anak lelakinya yang baru berumur empat tahun sangat gemar “merapikan janggut ayahnya”. Entah hari ini membakarnya sedikit, besok mengirisnya dengan pisau, atau asal cabut seenaknya.

Sepanjang perjalanan menuju Yangzhou, mereka bergerak cepat siang dan malam. Chu Si tahu, semua ini demi memenuhi undangan kecantikan nomor satu dari keluarga bangsawan, nona Yu. Setiap kali mengingat hal itu, perasaannya pun jadi tidak menentu.