Bab Delapan Puluh Delapan: Menggugat
Chu Si dengan cepat memalingkan kepala, menatap remaja yang tampak seperti perempuan itu dengan jijik, lalu berkata dengan suara datar, “Tuan datang ke sini hanya untuk mengucapkan kata-kata itu? Jika memang begitu, menurutku tidak perlu lagi.” Menatap wajah pucat remaja itu, ia berkata dengan tegas, “Antara kau dan aku, mengucapkan kata-kata seperti itu sungguh terlalu berlebihan untuk hubungan yang dangkal seperti ini!”
Remaja itu jelas tersentak, beberapa saat kemudian ia memaksakan senyum dan menatap Chu Si, “Awalnya kukira sikap dinginmu kemarin hanyalah karena lelah selama perjalanan. Tak kusangka, ternyata kau benar-benar menganggapku sebagai orang luar. Bagus, sangat bagus. Haha…”
Ia mendongak dan tertawa hambar, lalu tak lagi memandang Chu Si, malah beranjak dan duduk sembarangan di sisi lain.
Mendengar tawanya, entah mengapa, Chu Si justru merasakan hawa dingin merayap ke seluruh tubuh. Namun, ia segera menenangkan diri dalam hati: Aku takut apa? Walaupun masa lalu tubuh ini punya urusan dengan mereka, itu sama sekali tak ada hubungannya denganku. Kalau sudah tidak tahan, aku tinggal lepaskan topeng ini dan kabur, siapa yang bisa menahanku di dunia ini?
Memikirkan itu, perasaannya pun membaik.
Kini, sikap Chu Si berubah drastis dari sebelumnya yang penuh kehati-hatian menjadi tak peduli apa pun. Sebenarnya, ia sudah mulai bosan berpura-pura menjadi Wang Yun Niang dan sangat ingin segera lepas dari identitas ini. Seandainya bukan karena pertunangannya dengan Xie An yang masih mengganjal pikirannya, sudah lama ia tanggalkan topeng itu dan pergi tanpa jejak.
Setelah melihat Wei Yingyi menjauh dari Wang Sizhi, Chu Si pun mendekat sedikit. Dengan suara pelan ia berkata, “Kakak kedua, tadi Xie An bilang padaku, aku harus hati-hati…”
Wang Sizhi langsung terkejut. Ia buru-buru menoleh ke arah Chu Si dan bertanya pelan, “Itu Xie An yang bilang?”
Melihat Chu Si mengangguk, wajah Wang Sizhi menjadi serius dan keningnya berkerut dalam. Ia berpikir sejenak lalu bertanya lagi, “Apa dia bilang yang lain lagi?” Chu Si menggeleng, “Tadi Wei Yingyi sudah datang, jadi dia tidak melanjutkan.”
Wang Sizhi masih dalam kebingungan, bergumam, “Aku memang merasa aneh, hari ini Xie An jelas sudah menerima undangan, kenapa tiba-tiba malah datang ke sini? Apa mungkin akan terjadi sesuatu?”
Chu Si melirik Xie An. Melihat dia masih tersenyum ramah dan bercakap-cakap dengan orang di sekitarnya, Chu Si pun berusaha menenangkan diri, “Apa yang harus kuwaspadai? Mungkin dia cuma mengingatkanku karena aku tadi bicara terlalu tajam?”
Namun, ia sendiri pun tak terlalu yakin dengan penjelasan itu, hingga ia pun memilih diam.
Saat mereka tengah berbicara, tiba-tiba dari luar terdengar keributan. Di tengah hiruk-pikuk itu, suara tajam seseorang berteriak, “Baginda Kaisar tiba!”
Baginda Kaisar? Untuk apa Baginda datang ke sini?
Begitu suara itu menggema, suasana langsung hening. Setelah sunyi sejenak, semua orang saling pandang. Di antara mereka, kebanyakan melirik ke arah Tuan Prefek Huan.
Jantung Chu Si berdebar kencang mendengar pengumuman itu. Ia sangat ingat identitasnya saat ini memiliki hubungan yang agak simpang siur dengan Kaisar. Saat ia masih cemas, ia tanpa sengaja bertatapan dengan Wang Sizhi. Melihat kecemasan di wajah Chu Si yang tak tampak seperti urusan asmara, Wang Sizhi pun sedikit lega.
Tak lama, seorang pria tinggi berbaju biru muncul di gerbang. Semua orang serempak berlutut dan berseru, “Salam untuk Baginda Kaisar.”
“Bangkitlah.” Suara itu begitu muda, jernih, penuh semangat. Chu Si tergerak, lalu diam-diam mengangkat kepalanya.
Siapa sangka, saat ia mendongak, matanya langsung bertemu dengan tatapan sang Kaisar. Rupanya, dari tadi Kaisar memang memperhatikannya.
Kaisar itu tampak berusia sekitar dua puluh satu atau dua tahun. Wajahnya lonjong dan cukup tampan. Namun, rona wajahnya agak kebiruan, garis di antara alisnya dalam, dan seluruh dirinya memancarkan wibawa yang bercampur nuansa kelam.
Hanya sekilas bertatapan, Chu Si buru-buru menunduk lagi. Bibirnya bergerak, ingin mengucapkan permohonan maaf, namun ia tak tahu harus berkata apa, hingga akhirnya ia hanya diam dan tetap berlutut.
Tatapan Kaisar muda itu terus tertuju pada wajah Chu Si, tanpa berkedip, seolah tak peduli etika. Dalam hati, Chu Si mengeluh: Apa bagusnya melihatku? Di sana saja ada wanita tercantik dari kalangan bangsawan, kenapa malah menatapku?
Baru setelah dua menit menatap Chu Si, Kaisar mengalihkan pandangan ke Tuan Prefek Huan sambil tersenyum, “Aku dengar di kediaman Tuan Huan hari ini ada jamuan untuk banyak cendekiawan dan wanita cantik. Aku tertarik, jadi aku ikut meramaikan suasana. Jangan salahkan aku, Tuan Huan.”
Tuan Prefek Huan tertawa lepas dan menjawab sambil memberi hormat, “Baginda terlalu merendah. Justru karena kehadiran Baginda, kediaman hamba jadi semakin bersinar.”
Saat berbicara dan memberi hormat, gerak-gerik Tuan Prefek Huan santai saja, tak tampak sungguh-sungguh hormat. Chu Si tahu, di era Jin, kekuasaan kerajaan dan keluarga bangsawan sama kuatnya, sehingga para menteri pun tak terlalu menghormati Kaisar. Ia juga sempat mendengar, Kaisar saat ini bernama Chengdi, usianya baru sekitar dua puluh tahun.
Setelah berbincang sebentar dengan Tuan Prefek Huan, Kaisar pun memandang ke arah para tamu. Saat tatapannya jatuh pada Xie An, ia tersenyum dan berkata, “Ini pasti Xie An dari Chenjun. Aku dengar sejak kecil kau sudah bijaksana dan tenang. Sungguh luar biasa.”
Xie An segera memberi salam dan menjawab lantang, “Terima kasih atas pujian Baginda, hamba sungguh tak pantas.”
Kaisar Chengdi pun tertawa, lalu memuji beberapa orang lainnya. Tatapannya lalu beralih ke putri Keluarga Yu. Ia melirik Chu Si, lalu menatap putri Yu, dan tersenyum, “Nama harum sepupuku ini sudah lama kudengar. Tapi tak kusangka, hanya dalam setengah hari saja, setiap kali orang menyebutkan nama Yue’er dari Keluarga Yu, mereka juga menambahkan nama Yun Niang dari Keluarga Wang. Gadis Wang, bisa kau ceritakan pada kami, mengapa demikian?”
Chu Si tersenyum tipis, memberi hormat anggun, dan menjawab jernih, “Baginda juga sudah menyebutkan, hanya dalam setengah hari saja. Nama nona Keluarga Yu sudah tersohor ke seluruh negeri, bagaimana mungkin hamba berani disandingkan?”
Baru saja ia mengaku tak sudi dibandingkan dengan putri Yu, kini ia malah kembali membicarakannya di depan Kaisar dengan nada yang samar, membuat putri Yu yang duduk di sampingnya sampai gemetar menahan amarah.
“Oh? Nona Wang terlalu merendah. Aku sudah beberapa kali berjumpa denganmu dan tahu betul pesonamu. Walau parasmu tak sampai mengguncang negeri, namun ada daya tarik tersendiri yang membuat orang sulit melupakan. Menurutku, kau sepantasnya disandingkan dengan Yue’er dari Keluarga Yu. Benar begitu, Tuan Prefek Huan?”
Belum selesai Kaisar bicara, semua orang di ruangan itu sudah terbelalak. Wang Sizhi dan Xie An yang duduk di samping pun berubah wajah. Kata-kata Kaisar ini sangat berbahaya, ia sedang memberitahu seluruh dunia bahwa ia punya hubungan dekat, bahkan agak ambigu dengan Chu Si. Sekali ini keluar, nama baik Chu Si pasti hancur!
Xie An yang duduk di samping mengepalkan tangan, mengendurkan lalu mengepalkannya lagi. Wajahnya tetap tenang, namun kakinya menjejak tanah hingga meninggalkan lubang di rerumputan. Saat itu, pikirannya kacau, hanya satu suara yang terus berdengung di kepalanya: Habis sudah, habis!
Chu Si mungkin tak mengerti, tapi ia sangat paham. Kata-kata Kaisar barusan telah menghancurkan nama baik Chu Si. Setelah ini, kecuali menikah dengan Kaisar, siapa lagi dari kalangan bangsawan yang berani mengambilnya sebagai istri? Dan dirinya, meski tak peduli pendapat orang, bagaimana dengan Keluarga Xie? Bagaimana nasib keluarga?
Itu pun belum semuanya, bahkan jauh lebih rumit! Dalam situasi politik Jin saat ini, mana mungkin Keluarga Wang mau menikahkan putri utama mereka hanya sebagai selir biasa bagi Kaisar? Itu jelas bertentangan dengan kepentingan keluarga. Sial! Tak disangka Kaisar Chengdi bermain sehina ini! Ia tega menjadikan Yun Niang sebagai alat untuk menyerang keluarga bangsawan!
Sekejap saja, hati Xie An terasa seperti diaduk-aduk. Bahkan, tatapannya saat memandang Chu Si pun menjadi kosong.