086 Dinasti Agung Tang Bergerak
Menjadi utusan ke negeri lain—dalam ingatan Tang Ping, hal itu hanya pernah ia lihat di platform video pendek, di mana para diplomat negara tampil gagah berwibawa. Dalam hatinya tentu saja ia menantikan pengalaman ini, meskipun ia sendiri sebelumnya hanyalah pemilik toko serba ada yang hidup santai, mana mungkin mendapat kesempatan seperti ini?
Maka, ketika benar-benar diputuskan bahwa ia akan menjadi utusan ke Negeri Timur Yue, semangatnya membuncah. Ia pun sudah memutuskan, seluruh anggota keluarga akan ikut. Nanti, Pei Min, Si Putih, dan Si Kecil Luoyi duduk di depan, ditambah dirinya pas lima orang, sedangkan Lao Cui dan Lao Du cukup duduk di bak belakang mobil.
"Bawa camilan ini, Si Kecil suka sekali!"
"Di jalan kita makan yang sederhana saja, cukup mi instan dan nasi praktis untuk dua kali makan."
"Lao Cui, ambil tenda yang baru kubeli dari gudang, kemungkinan kita mesti bermalam di perjalanan, tak mungkin tidur semua di mobil."
"Lao Du, bawa baju lebih banyak, kalian yang duduk di belakang tak ada pemanas!"
"Dan lagi, Si Putih, jangan kira pergi keluar jadi bisa bermalas-malasan, buku pelajaran tetap harus dibawa semua!"
Malam itu, Tang Ping seperti anak kecil yang menantikan piknik esok hari, benar-benar tak sabar. Begitu fajar menyingsing, ia sudah bergegas bangun dan bersiap-siap. Seolah semuanya tahu betapa bersemangatnya ia, saat ia turun ke bawah, Si Kecil, Lao Cui, dan yang lain sudah menunggunya.
"Berangkat!"
Dengan penuh semangat, Tang Ping membawa rombongan kecilnya, mengendarai pick-up menuju Negeri Timur Yue. Tak butuh waktu lama, mereka pun keluar dari Desa Shanghe dan tiba di jalan utama. Jalan utama di Dinasti Tang ternyata lebih baik dari yang ia bayangkan; memang tidak lurus, tapi sangat rata, dan telah dilapisi kerikil.
"Itu sudah sewajarnya!" jelas Luoyi pada Tang Ping, "Jalan utama di seluruh Dinasti Tang sangat penting untuk pergerakan pasukan. Selain tentara dan kuda, banyak juga kereta logistik yang lewat, jadi jalannya harus rata."
"Dan setiap tahun, kerja paksa rakyat paling utama adalah membangun tanggul sungai dan memelihara jalan utama."
Di masa itu, pemeliharaan jalan utama menjadi penilaian bagi pejabat setempat, sehingga tak ada yang berani menyepelekannya. Karena itu, perjalanan mereka jauh lebih cepat dari yang Tang Ping duga, apalagi hanya mobil mereka satu-satunya di jalan raya itu. Sesekali, pejalan kaki atau kereta kuda yang melihat "makhluk besi mengaum" itu pun segera menepi.
Di bak belakang, Lao Cui dan Lao Du bergantian memegang bendera militer Dinasti Tang. Orang-orang yang mereka lewati, meski tidak tahu apa sebenarnya makhluk besi itu, segera tenang setelah melihat bendera militer, tahu bahwa itu dari pasukan Tang.
Hanya dalam setengah hari, Tang Ping dan rombongannya sudah melaju hampir 200 kilometer dan sampai di Kabupaten Danfeng.
"Kita istirahat di sini, makan siang dulu, baru lanjut!"
Tang Ping meregangkan tubuh setelah turun dari mobil, sudah lama ia tak menyetir sejauh ini. Untung saja ada Li Bai, Si Kecil, dan Luoyi yang setia menemani mengobrol, jadi perjalanan pun tidak membosankan.
"Guru kedua, mobilmu ini cepat sekali!" Li Bai yang turun pun masih merasa kakinya melayang.
Namun, harus diakui, naik mobil ini jauh lebih nyaman daripada duduk di punggung kuda; kursi kulit besar membungkus tubuh, tidak ada angin dingin yang masuk. Yang paling utama tentu saja kecepatannya—dalam setengah hari sudah menempuh 400 li, artinya menempuh seribu li sehari bukan hal sulit. Dengan kecepatan ini, malam besok mereka bisa sampai di perbatasan Tang-Yue, dan lusa sudah tiba di Fuyang.
"Bagaimana? Mau belajar nyetir?" Tang Ping membantu menggelar alas dari bak belakang.
"Mau, dong!" Mata Li Bai langsung berbinar-binar. Ini jauh lebih keren daripada sepeda; kalau bisa mengendarai mobil, siapa butuh sepeda?
"Baik, nanti setelah kita kembali dari Negeri Timur Yue, aku ajari kalian. Lao Cui, Lao Du, atau Si Kecil, siapa saja yang mau belajar, boleh!"
Sekarang memang baru punya satu mobil, tapi siapa tahu nanti bisa punya lebih?
Sementara itu, di istana, Li Shimin juga sudah menerima kabar: Tang Ping dan rombongan telah meninggalkan Chang’an dengan mengendarai mobil besi yang meraung, melaju ke timur dengan cepat.
"Mobil besi itu tak butuh kuda, lajunya sangat kencang. Menurut orang-orang dari Biro Intelijen, menunggang kuda terbaik pun paling hanya bisa mengikuti sekitar dua puluh sampai tiga puluh li, setelah itu tak mungkin bisa menyusul lagi," kata Li Yuanji dengan nada iri, "Kalau Tang Ping pulang, semoga saja aku bisa pinjam untuk coba-coba."
"Cukup, adik ketiga, jangan hanya memikirkan bermain!" Pick-up besar penuh tenaga memang punya daya tarik tersendiri bagi para pria, bahkan Li Shimin pun tak terkecuali, namun mereka masih punya urusan lebih penting.
Sebelum berangkat, kemarin Tang Ping sempat berdiskusi satu rencana terakhir dengan Fang dan Du, yaitu menangkap nimfa belalang dengan tenaga manusia.
Memang benar, saat bencana belalang tiba, jumlahnya tak terhitung, tapi mengurangi satu saja sudah berarti. Dinasti Tang masih memiliki sedikit cadangan pangan untuk berjaga-jaga menghadapi bencana. Kali ini, cadangan itu akan dikeluarkan lebih awal, namun bukan untuk dibagikan gratis, melainkan ditukar dengan nimfa belalang yang berhasil ditangkap rakyat.
Dengan cara itu, sebagian cadangan pangan untuk bantuan bencana sudah disalurkan, sementara nimfa belalang yang dikumpulkan akan dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Bubuk belalang itu bisa digunakan sebagai pakan ayam dan bebek. Perlu diketahui, bencana belalang bukan hal baru; menurut catatan sejarah, hampir setiap beberapa tahun pasti terjadi. Maka Dinasti Tang mulai mendorong rakyat untuk beternak unggas secara besar-besaran, agar bisa sekaligus mencegah bencana dan menyediakan daging.
Selain itu, bubuk belalang juga bisa dicampur ke makanan sebagai sumber protein. Meskipun terkesan aneh, kandungan protein belalang mencapai lebih dari 74%, dengan berbagai asam amino, dan rasio lemak tak jenuh yang lebih baik dari kebanyakan minyak hewan, bahkan setara dengan minyak kacang tanah.
Singkatnya, nilai gizi belalang sangat tinggi—protein melimpah, komposisi asam amino seimbang, lemak rendah, dan kaya mineral—benar-benar bahan makanan yang bagus.
Karena itu, selepas kepergian Tang Ping dari Chang’an, Dinasti Tang pun mulai menjalankan program penukaran nimfa belalang secara besar-besaran. Sepuluh jin nimfa hanya bisa ditukar dengan satu kantong kecil beras, tapi karena nimfa tersebar di mana-mana dan saat itu musim senggang, daripada menganggur, lebih baik pergi ke ladang menangkap belalang. Sekecil-kecilnya nyamuk, tetaplah daging; sekecil-kecilnya beras yang didapat, tetaplah beras.
Bisa dibilang, ini juga bentuk lain dari kerja untuk bantuan pangan.
Pada saat yang sama, Dinasti Tang juga melakukan penyesuaian kekuatan militer. Menggerakkan pasukan besar memang bukan perkara mudah, tapi sebagai negara yang berbatasan, masing-masing pasti punya mata-mata di wilayah lawan. Cukup dengan menunjukkan penambahan pasukan di perbatasan Tang-Yue, tanpa benar-benar menggerakkan tentara secara menyeluruh, Negeri Timur Yue pasti sudah mendapat kabar.
TAMAT BAB INI