Bab Sembilan Puluh Empat: Lokasi Penembakan
Cahaya bintang diam-diam menyinari malam. Empat anggota keluarga Xu duduk bersama di ruang tamu. Insiden yang baru saja terjadi membuat para pelayan ketakutan setengah mati, tetapi melihat sang majikan tetap tenang, mereka pun mulai merasa lega dan kembali membereskan segala sesuatunya dengan teratur.
Xu Xi tiba-tiba teringat sesuatu, lalu melambaikan tangan kepada seorang pengawal di sisi, “Zheng, tolong cek keadaan di pos penjaga.”
Zheng segera berlari keluar, sementara Yang duduk di samping memainkan PDA miliknya. Sebuah surel segera dikirim: “Ketua Lin, aku perlu bantuanmu.”
Balasan pun datang cepat: “Ada apa?”
Yang mengetik: “Tugas di sini sedikit bermasalah, bos kami diculik.”
Orang di seberang tampak sangat terkejut: “Bagaimana bisa? Bukankah ini cuma tugas kelas C? Kudengar juga ada penyihir yang membantumu.”
Yang membalas: “Segala sesuatu memang tidak pernah pasti. Coba cek, apakah ada anggota tim penyelamat yang sedang bertugas di daerah sini? Kalau bisa, kirimkan sepuluh orang untukku!”
Balasan datang dengan cepat: “Sepuluh orang? Kenapa tidak kau mati saja sekalian? Sabar dulu, biar aku periksa.”
Baru saja Yang hendak membalas “terima kasih”, Zheng buru-buru kembali dan berkata, “Bos, Tuan Ye dan Nona sudah kembali!”
“Benarkah?” Xu Xi berseri-seri gembira.
Yang pun ikut terkejut, segera mengirimkan surel: “Tidak usah, asistanku sudah berhasil menyelamatkan mereka.” Setelah itu, dia menjulurkan leher menatap ke arah pintu.
Namun, balasan masih terus datang: “Wah, hebat juga asistennya!”
Yang membalas seadanya: “Mungkin sedang beruntung saja.”
“Siapa namanya? Dari unit mana?”
“Ye Fan dari Tim Bayangan Hitam.”
“Nama sandi?”
“Mungkin akan jadi: Gigi Putih!”
Saat itu, sosok Ye Fan sudah tampak di gerbang halaman, menggendong Xu Yan di pelukannya. Semua orang segera berhamburan keluar menyambut mereka.
Xu Xi memandang Xu Yan yang terkulai lemas di pelukan Ye Fan, bertanya cemas, “Bagaimana keadaannya?”
Ye Fan menjawab, “Sepertinya pingsan.”
Dikelilingi oleh orang-orang, mereka masuk ke rumah dan membaringkan Xu Yan di sofa. Ye Fan bangkit dan berkata, “Aku pergi mengambil air.”
Yang tertegun, “Air buat apa?” Sambil berkata, ia mendekat dan menekan titik di bawah hidung Xu Yan. Tak lama kemudian, Xu Yan perlahan-lahan siuman.
Ye Fan tercenung, teringat bagaimana tadi ia membasahi seluruh bagian atas tubuh Xu Yan hanya untuk membangunkannya.
Setelah sadar, Xu Yan mengernyit cantik, sambil memijat lehernya, “Sakit sekali.” Ia berkedip, menatap sekeliling, lalu tersenyum bahagia, “Aku masih di rumah. Kukira aku sudah diculik.”
Xu Xi tersenyum, “Memang kamu sempat diculik, untung ada Ye Fan. Belum sempat kami bertindak, kamu sudah kembali.”
Xu Yan memandang Ye Fan dengan senyum manis, “Terima kasih, kamu sudah sekali lagi menyelamatkanku.”
Ye Fan menghela napas lega, senyum tulus akhirnya terbit di wajahnya. Yang menghampiri dan menepuk bahunya, “Keren juga kau, bocah!”
Saat itu, seorang pelayan mendekat, “Bos, itu bagaimana?” sambil menunjuk ke tiga jenazah di lantai yang ditembak mati oleh Yang.
Xu Xi mengusap pelipis, “Zheng, tolong panggil orang untuk membereskannya.”
Zheng pun pergi, dan pelayan bertanya lagi, “Bos, apakah tetap ingin makan malam?”
Xu Xi menatap semua orang, senang, “Tentu saja. Semua baik-baik saja, kenapa tidak makan?” Namun, wajahnya tiba-tiba suram, “Sayang sekali, Da Li...” Selain Ye Fan dan Xu Yan, ekspresi semua orang ikut berubah muram.
Makan malam berlangsung dalam keheningan. Tak ada yang berbicara, yang terdengar hanya suara sumpit menyentuh piring dan mangkuk. Setelah semuanya selesai dan pelayan membersihkan meja, Xu Xi berkata pada Ye Fan, “Bagaimana, Tuan Ye? Sudah terbiasa dengan makanannya?”
Ye Fan tersenyum, “Masakannya terlalu banyak, jadi agak tidak terbiasa.”
Semua orang tertawa. Xu Xi berkata pada Xu Yan, “Xiao Yan, hari ini kamu pasti sangat ketakutan. Istirahatlah lebih awal. Besok aku panggilkan dokter Li untuk memeriksamu.”
Xu Yan menghela napas, tersenyum, “Tak usah periksa, aku hanya agak lelah. Aku duluan masuk kamar.” Ia berdiri, mengangguk pada semua orang, dan secara khusus melambaikan tangan pada Ye Fan sebelum naik ke lantai atas.
Xu Xi berkata lagi, “Aku juga ada urusan yang harus diselesaikan. Aku duluan ke kamar.”
Yang tersenyum, “Seharian ini aku mengajak Tuan Xu main mahyong, semoga tak mengganggu urusan penting.”
Xu Xi tersenyum dan beranjak naik ke lantai atas, dua pengawalnya segera mengikuti.
Ye Fan memandang ketiga orang yang pergi itu dengan curiga, lalu bertanya pada Yang, “Kita tidak ikut?”
Yang menggeleng, “Sebagai pengawal tamu semacam kita, ada beberapa hal yang lebih baik tidak kita ketahui. Ayo ikut aku.”
Yang membawa Ye Fan ke ruang pemantauan. Di sana terdapat banyak layar pengawasan yang menampilkan setiap sudut rumah dan halaman. Bahkan area puluhan meter di luar pagar juga terpantau. Di layar, Ye Fan melihat Xu Xi kembali ke ruang kerjanya, duduk di meja besar, membolak-balik tumpukan berkas, sesekali mengutak-atik komputer, dan memberikan perintah pada dua pengawal di belakangnya.
Pada layar lain, Xu Yan tampak duduk sejenak di kamarnya, lalu mengambil pakaian di lemari dan masuk ke kamar kecil. Ye Fan terus mencari di layar-layar lain. Yang tertawa, “Jangan dicari. Itu kamar mandi di kamar Xu Yan. Semua kamar mandi di rumah ini tidak dipasang kamera. Jangan kira jadi pengawal berarti boleh mengintip orang mandi.”
Wajah Ye Fan memerah. Ia sama sekali tidak punya niat seperti itu, tapi menjelaskan pun hanya akan membuatnya semakin disalahpahami, jadi ia memilih diam.
Yang bersandar santai, kedua kakinya terangkat ke atas meja, menyalakan rokok dan mengisap dalam-dalam sebelum berkata, “Aku merasa ada yang aneh dengan tugas kali ini.”
“Apa yang aneh?” Ye Fan menoleh.
Yang menjawab, “Pertama tentang Da Li yang tewas tadi siang. Saat aku masuk, Da Li sudah tergeletak di lantai, tertembak di antara alis. Pembunuhnya menembak dengan senapan runduk dari sini.” Sambil berkata, ia menunjuk ke layar yang menunjukkan pemandangan dari jendela ruang pemantauan.
Ye Fan menghela napas, “Seharusnya dia tidak membuka jendela.” Ia sudah mendengar sedikit tentang itu.
Yang menggeleng, “Itu bukan inti masalah. Jika pembunuh ingin menembak petugas monitoring, hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan di mana letak ruang monitoring. Tapi...” Yang berhenti sejenak, lalu menunjuk beberapa layar, “Lihat kamera-kamera ini? Jika seseorang ingin mengintai rumah ini dari jarak efektif, yang lebih dulu terlihat adalah dirinya sendiri. Apalagi ruang monitoring ini punya jendela khusus yang jika tidak dibuka, mustahil orang luar tahu apa yang terjadi di dalam!”
Ye Fan memeriksa layar-layar tersebut yang kebanyakan menampilkan hutan di sekitar rumah. Tiba-tiba ia tertegun. Di antara pohon-pohon itu, ia menemukan sebuah jalan yang lurus mengarah ke rumah seperti tangga di gerbang depan. Ia buru-buru menunjuk dan berkata dengan semangat, “Lihat, di sini ada jalan lagi.”
Yang melirik sekilas, lalu mencibir, “Tentu saja. Kau kira keluarga Xu tak punya mobil? Itu jalur dari garasi ke jalan raya! Dengar baik-baik penjelasanku tadi.”
“Ya, ya, aku dengar,” kata Ye Fan, “Lanjutkan.”
Yang berdeham, “Sampai mana tadi?”
Ye Fan menunjuk layar-layar itu, “Soal kamera dan jendela khusus.”
“Benar, soal kamera-kamera itu... Eh, apa tadi ya?” Yang sendiri tampak lupa.
“Kamera ini memungkinkan kita melihat lebih dulu siapa saja yang mencoba mengintai rumah ini,” kata Ye Fan agak kesal.
“Betul. Aku cuma mau memastikan kau benar-benar mendengarkan. Sampai di sini, masih tak paham maksudku?”
“Maksudmu apa?” tanya Ye Fan.
Yang berdiri, berjalan mondar-mandir, lalu menunjuk ke luar jendela, “Sekarang kau duduk persis di kursi yang diduduki Da Li saat itu, mengawasi layar. Seseorang menembak dari arah ini, tapi pelurunya tepat mengenai keningmu.”
Ye Fan terdiam, dan Yang kembali menunjuk layar pemandangan di luar jendela, “Lihat, Da Li mungkin karena tiba-tiba melihat sesuatu di sini, ia langsung sadar ada orang mengintai di luar. Tapi hanya dalam sekejap, saat ia menoleh...,” suara ‘klik’ terdengar saat Yang menjentikkan puntung rokok ke dinding, menghamburkan percikan api.
Ye Fan memandang ke luar jendela dengan bingung.
Yang tak mempedulikannya dan melanjutkan, “Dengan begitu banyak kamera pengawas, tidak mungkin pembunuh bisa menemukan lokasi tembakan yang tepat tanpa ketahuan. Itu sebabnya aku tidak terlalu mempermasalahkan jendela tadi. Tapi kenyataannya, pembunuh itu berhasil, bahkan langsung menembak orang di sini. Kalau kau bilang Da Li lengah, kenapa ia sempat menyadari ada sesuatu di luar?”
Kini Ye Fan mulai merasakan sesuatu, menatap Yang seolah menunggu penjelasan lanjut.
Yang menyalakan rokok lagi dan, di tengah kepulan asap, berkata pelan, “Jadi, pasti ada yang membocorkan informasi ini kepada pembunuh. Pembunuh tak perlu susah-susah mengintai rumah, dia sudah tahu di mana ruang monitoring, bahkan kemungkinan besar sudah diberitahu posisi paling baik untuk menembak dari mana.”