Bab 101: Ketakutan yang Tak Beralasan
Halaman (1/3)
Cahaya bintang berpendar diam-diam. Ye Fan menatap layar di depannya dengan putus asa. Ia melihat para pelayan berlalu-lalang di setiap sudut ruangan, seolah pekerjaan rumah tangga tak pernah habis untuk mereka setiap hari. Xu Xi dan Xu Yan duduk di meja belajar masing-masing; Xu Xi sibuk dengan komputernya, sementara Xu Yan masih tekun mengulang pelajaran. Baru kali ini Ye Fan tahu kalau Xu Yan ternyata juga sangat rajin belajar.
Begitulah, kadang ia memandangi layar, kadang melamun memikirkan sesuatu hingga tanpa sadar waktu pun berlalu lebih dari satu jam. Tiba-tiba, suara dering ponsel yang lembut memecah keheningan, sebuah pesan masuk.
Ia mengambil ponselnya dan melihat: “Sedang apa?” Pengirimnya hanya berupa nomor, tapi terasa agak familiar. Ye Fan tertegun sejenak lalu membalas asal saja: “Siapa ini?”
Ketika ia mengalihkan pandangannya dari ponsel ke layar di depannya, ia kembali terkejut. Di layar, Xu Yan sedang mengangkat kepala dan melambaikan tangan, bersamaan dengan itu ponsel kembali berbunyi: “Bisa lihat aku?”
“Bisa,” balas Ye Fan. Dalam hati ia berpikir, pantas saja nomor ini terasa dikenal—ternyata nomor Xu Yan. Setelah meneleponnya tempo hari, ia memang tak sempat menyimpan nomornya.
“Hei, sedang apa?” Setelah membuktikan identitasnya, Xu Yan bertanya lagi.
Ye Fan membalas: “Bukankah kamu sudah tahu, aku sedang mengawasi kamu!”
“Mengawasi aku? Tidak lihat aku sedang main ponsel? Kamu pasti sedang melamun, kan?” Xu Yan tanpa ampun menohok Ye Fan.
Untung bukan berbicara langsung, Ye Fan pun tidak terlalu canggung, lalu membela diri, “Layar di sini banyak, kebetulan tadi tidak melihat ke arahmu. Kalau aku benar-benar melamun, mana mungkin sadar kamu sedang melambaikan tangan.”
“Hei, jadi pikiranku terputus gara-gara pesanmu, ya!” Xu Yan memang cerdas, dengan satu kalimat saja ia menyingkap alasan Ye Fan.
Ye Fan tak bisa membantah, dan segera pesan dari Xu Yan masuk lagi: “Lanjutkan saja melamunmu, aku mau tidur dulu!”
Di layar, Xu Yan kembali mengangkat kepala dan melambaikan tangan. Setelah itu, Ye Fan melihat dia mengambil pakaian dari lemari dan masuk ke kamar mandi tanpa kamera pengawas. Sisa kejadian berikutnya hanya bisa ia bayangkan sendiri...
Ye Fan melanjutkan pekerjaannya memantau dengan bosan. Bahkan ia sempat berharap ada beberapa perampok masuk saat itu juga. Dalam hati Ye Fan bersumpah, jika Gagak kembali menyuruhnya mengerjakan tugas seperti ini, ia pasti akan menolak. Melihat pembagian kelompok dalam Senja Berdarah, ia bisa membayangkan jenis-jenis tugas yang akan dihadapinya, dan tak satu pun yang benar-benar menarik minatnya.
Waktu berlalu, malam semakin larut, seluruh keluarga Xu sudah beristirahat, hanya para pengawal di luar halaman yang masih bergantian patroli. Kemarin malam Ye Fan duduk di bangku, setengah tidur setengah terjaga, dan kini rasa lelah mulai menguasainya. Ia melirik ke belakang, melihat Xiao Yang tidur lelap, tidak tahan, ia pun mendekat hendak membangunkannya.
Tak disangka, sebelum tangannya menyentuh tubuh Xiao Yang, anak itu tiba-tiba berjungkir balik dan jatuh ke lantai dengan cekatan. Sebelum Ye Fan sempat bereaksi, moncong pistol yang dingin sudah menempel di pelipisnya.
Dengan kemampuan Ye Fan, sebenarnya ia bisa bereaksi tepat waktu, hanya saja ia tidak menyangka Xiao Yang akan bertindak demikian. Gerakan Xiao Yang begitu gesit, dalam sekejap ia sudah menyelesaikan serangkaian aksi: berguling, mengambil pistol, turun ke lantai, dan mengarahkan pistol ke Ye Fan.
Pandangan Xiao Yang, yang biasanya tersembunyi di balik kacamatanya, kini ketika ia tidur tanpa kacamata, menampilkan sorotan dingin yang tajam.
“Kau...” Baru satu kata terucap dari mulut Ye Fan, ia tiba-tiba sadar, Xiao Yang bisa menganalisis rencana Xu Xi dengan begitu teliti, mungkinkah ia memang orang suruhan Xu Xi sejak awal? Kehadiran dirinya yang tiba-tiba sebagai magang telah mengacaukan rencana mereka, dan mereka tahu dirinya bukan orang mudah ditaklukkan, jadi mereka berpura-pura berada di pihak yang sama, menarik kepercayaan, lalu mencari kesempatan untuk menyingkirkannya! Dan sekarang, inilah kesempatannya. Ye Fan menarik napas panjang, jantungnya berdegup kencang.
Halaman (2/3)
Saat itulah Xiao Yang tiba-tiba berkata dingin, “Mau apa kamu?”
Ucapan itu membuat Ye Fan kaget lagi, spontan ia menjawab, “Mau bangunin kamu, ganti jaga, sekarang giliran aku tidur.”
Xiao Yang juga tertegun, menatap Ye Fan tanpa berkedip, mereka berdua diam selama lima detik, lalu Xiao Yang mengumpat, “Sialan,” dan memasukkan kembali pistolnya ke saku.
Ye Fan menghela napas lega. Kini ia paham, Xiao Yang ternyata juga sempat mengira dirinya adalah orang yang dibeli Xu Xi.
Xiao Yang menyalakan sebatang rokok, mengisapnya, lalu berkata dengan nada mengejek, “Tak bisa disangkal, di rumah yang penuh bahaya seperti ini, meski sudah terbiasa menghadapi badai, tetap saja mental jadi sedikit tegang.”
Ye Fan mengangguk setuju, “Aku juga. Barusan aku juga sempat mengira kau...”
Xiao Yang langsung memotong, “Wajar kalau aku mencurigaimu, tapi kenapa kau juga mencurigai aku?”
“Kenapa tidak boleh?” Ye Fan merasa itu haknya dan ia harus mempertahankannya.
Namun Xiao Yang berkata, “Kalau aku memang bermasalah, tadi malam kau sudah mati di depan meja itu.”
Ye Fan pun punya alasan, “Kalau aku yang bermasalah, Xu Yan juga sudah diculik dua, tiga kali. Hari ini saja aku punya banyak kesempatan untuk melarikan dia.”
Xiao Yang dengan lantang menjawab, “Tentu saja aku tahu itu, makanya aku tadi yang memasukkan pistol lebih dulu.”
Ye Fan tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya menyesal bukan dirinya yang sempat menodongkan belati ke leher Xiao Yang.
Xiao Yang melirik jam di tangannya lalu berseru, “Baru segini waktunya, sudah bangunin aku? Bukannya kesepakatan, tunggu aku bangun sendiri baru ganti jaga?”
Ye Fan menjawab, “Tak bisa disangkal, setelah semalam, aku sudah tak percaya lagi dengan yang namanya bangun sendiri.” Selesai bicara, ia pun memamerkan keunggulannya sebagai pengguna ilmu, dengan gerakan lebih gesit dari Xiao Yang, ia menjatuhkan dirinya sendiri di sofa. Xiao Yang pun terpaksa duduk di depan layar pemantau, ekspresi wajahnya sangat nelangsa.
Ye Fan tak tahan untuk tidak bertanya, “Kenapa, padahal keluarga Xu punya banyak pengawal, tapi kalau malam sudah larut, kita berdua saja yang harus jaga pemantauan?”
Xiao Yang memang terlihat menderita, tapi saat bertugas ia lebih serius daripada Ye Fan. Mendengar pertanyaan itu, matanya tetap terpaku pada layar, hanya mulutnya yang menjawab, “Sebenarnya hari ini kita tidak perlu jaga, itu aku yang minta.”
“Kenapa?” Ye Fan heran.
“Ya ampun, pakai otak sedikit, sekarang yang harus kita lindungi adalah Xu Yan, dan musuhnya adalah Xu Xi. Bagaimana mungkin kita serahkan tugas pengawasan ke orang-orang suruhan Xu Xi?” jelas Xiao Yang.
Halaman (3/3)
Ye Fan mengangguk. Ia lalu menarik bajunya menutupi kepala, tak berkata-kata lagi. Meski hanya tidur di sofa, malam itu Ye Fan tidur sangat nyenyak. Saat pagi menjelang dan ia membuka mata, ia mendapati Xiao Yang dengan satu tangan mencengkeram kerah bajunya, sementara tangan lain menodongkan pistol ke kepalanya. Begitu melihat Ye Fan bangun, ia menghela napas lega dan melepas cengkeramannya, “Akhirnya bangun juga, tidurnya seperti babi mati saja, kalau kau tidak bangun juga, aku takut tak bisa menahan diri untuk menembakmu. Waspada, waspada! Bukankah kemarin pagi baru saja aku ajari? Tadi malam juga sudah kutunjukkan langsung! Belajarlah sedikit, bisa tidak?!”
“Aku harus banyak latihan. Malam ini biar aku tidur lebih awal, mau coba lagi,” jawab Ye Fan.
“Persetan kau!” Makian Xiao Yang yang kasar sangat bertolak belakang dengan penampilannya yang sopan dan lembut. Sayangnya, ia tak pernah berkata kasar di depan orang banyak. Benar-benar menganggap Ye Fan sebagai saudara, pikir Ye Fan, sampai tak perlu berpura-pura di depan dirinya.
“Cepat, pergi bersiap-siap, jadwal hari ini masih sama seperti kemarin,” ucap Xiao Yang sambil mengenakan dasi.
Setelah keluar dan sarapan, Xiao Yang mengikuti Xu Xi ke luar, sementara Ye Fan menemani Xu Yan belajar. Hari ini Xu Yan tidak lagi iseng seperti kemarin, tidak ada ramalan atau berjemur, selesai makan langsung masuk kamar dan belajar dengan tekun. Maka, seperti kemarin, Ye Fan pun kembali duduk di sofa itu. Meski ingin sekali berbicara dengan seseorang, ia tak ingin mengganggu Xu Yan.
Tak pernah disangka Ye Fan, sofa di kamar Xu Yan itu menjadi teman paling akrab dalam pengalaman pertamanya sebagai pengawal. Tiga hari berlalu dengan tenang dan Ye Fan pun menghabiskan tiga hari itu duduk di sofa. Ia merasa ketabahannya benar-benar diuji dan ditingkatkan selama tiga hari ini.
Jumat sore, para pelayan keluarga Xu mulai sibuk menyiapkan pesta untuk keesokan harinya. Seluruh aula berubah total setelah dibereskan seharian. Malamnya, ketika Ye Fan bersama Xu Yan turun dari lantai atas, mereka hampir mengira telah tersesat ke tempat lain. Aula itu sudah tak seperti ruang tamu lagi. Di sisi timur, deretan meja makan panjang telah tertata, dengan piring, sendok-garpu, sumpit, dan berbagai peralatan makan lainnya tersusun rapi. Sementara di sisi barat, deretan sofa berjajar. Ye Fan heran, setiap hari duduk di depan monitor, kenapa tidak pernah tahu rumah keluarga Xu punya begitu banyak meja dan sofa...
Di pojok timur laut aula yang semula terdapat lemari minuman, kini diperluas, koleksi minumannya pun makin beragam, botol-botol berwarna-warni membuat mata Ye Fan berkunang-kunang. Berlawanan dengan itu, di pojok barat laut kini dibangun sebuah panggung. Ye Fan menunjuk ke sana dan bertanya pada Xu Yan, “Ada pertunjukan juga?”
Xu Yan menjawab santai, “Mungkin akan ada band yang tampil.” Jelas, ia sudah biasa dengan hal semacam itu.
Ye Fan kembali kagum, memang orang kaya beda, di keluarga biasa, sekalipun ada ruang untuk pesta, paling-paling hanya ada dua speaker dan amplifier, mana mungkin semewah ini dengan pertunjukan langsung. Membayangkan ia juga akan menghadiri acara semewah ini, jantung Ye Fan pun berdebar-debar.
Seusai makan malam, mereka duduk-duduk di meja makan, mengobrol sebentar, sudah jadi kebiasaan dalam beberapa hari ini. Seperti biasa, Xiao Yang lebih dulu membuka percakapan, “Tuan Xu, penataannya bagus sekali!”
Xu Xi tertawa, “Ah, tidak seberapa. Sebenarnya, acara besok malah merepotkan kalian, harus minta bantuan kalian lebih banyak lagi.”
Xiao Yang tersenyum, “Dengan pengaturan sebaik ini, saya rasa besok tak mungkin ada orang asing yang bisa masuk. Lagi pula, beberapa hari ini begitu tenang, saya kira lawan kita pun sudah kehabisan akal, tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tak disangka, selama beberapa hari hanya kejutan semu, benar-benar menggembirakan! Tuan Xu, bagaimana dengan proses akuisisi di pihak Anda?”
Xu Xi menjawab, “Besok sore, sebelum bursa saham tutup pukul tiga, akuisisi pasti selesai sepenuhnya.”
Xiao Yang mengangguk puas, “Bagus sekali, sungguh kebahagiaan ganda!” Lalu ia berkata, “Besok kalian berdua jadi bintang utama, malam ini sebaiknya istirahat lebih awal.”
Kakak beradik keluarga Xu mengangguk, lalu bangkit ke kamar masing-masing.
Ye Fan dan Xiao Yang kembali ke ruang pengawasan. Di perjalanan, Xiao Yang merangkul pundak Ye Fan dan berbisik, “Besok, kita berdua yang jadi bintang utama!”