Bab Empat Puluh Delapan: Hantu Wanita Berbaju Hijau
Malam itu aku tidak bisa beristirahat dengan tenang. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya aku berbagi kamar dengan seorang gadis muda yang rupawan. Pikiran-pikiran liar berseliweran di kepalaku, hingga akhirnya aku menenangkan diri dengan metode meditasi yang diajarkan Paman Keempat, mengulanginya berulang-ulang sampai aku tertidur lelap.
Tak kusangka, pagi harinya kabar mengejutkan itu pun sampai ke telingaku.
Kami bergegas mengikuti Pak Tua Tao ke rumah tempat kejadian. Tubuh si pria sudah ditutupi kain putih, hanya kaki yang menguning dan kaku saja yang tampak. Di bawah kain, pada bagian dada pria itu, tampak bercak darah besar yang sudah meresap ke kain; jelas-jelas jantungnya telah diambil!
Sementara itu, perempuan pelaku sudah diikat di batang pohon besar. Aku melirik ke arahnya—tubuhnya kurus kecil, sorot matanya kosong, sama sekali tak tampak seperti orang kejam. Tapi siapa sangka, perempuan seperti itu sanggup mencungkil jantung suaminya sendiri lalu membawanya keluar rumah untuk dipersembahkan sepanjang malam!
Seorang perempuan paruh baya, mungkin sekitar lima puluhan, meraung histeris sambil mengacungkan pisau dapur, hendak menyerang si perempuan muda itu. Tak perlu ditanya, pasti itu ibu mertua si pelaku. Ia benar-benar hancur hatinya, namun berhasil ditahan orang-orang sekitar.
Perempuan muda itu tampak kosong, tak berekspresi. Menurutku, jiwanya seolah telah mengembara entah ke mana, tak peduli apa pun yang terjadi di sekelilingnya.
Di luar halaman, beberapa perempuan berbisik-bisik, menduga-duga bahwa mungkin suaminya sering memukulnya, hingga ia putus asa lalu meniru apa yang dilakukan oleh Qianqian, mencungkil jantung suaminya untuk dipersembahkan.
Dalam hati aku menggumam, apakah hal keji semacam ini bisa begitu saja ditiru?
Bai Yiyi menyenggolku pelan, berbisik, “Ayo kita periksa ke kuil Penjaga Gunung.”
Kuil itu mudah ditemukan, terletak di rimbunnya hutan di depan desa kecil ini. Banyak warga desa yang juga berkumpul di sana, karena setelah kejadian pembunuhan, darah menetes ke luar rumah hingga ke arah kuil, dan dada pria yang berlubang membuat orang-orang langsung teringat pada kuil Penjaga Gunung itu.
Aku dan Bai Yiyi berjalan menuju kuil tersembunyi tersebut. Dalam hati, aku membatin bahwa fengshui desa ini sangat buruk. Saat aku pernah kesurupan, Paman Keempat pernah mewanti-wanti agar aku jangan sekali-kali lewat di belakang kuil atau kantor polisi, sebab menurut fengshui, tempat-tempat itu sangat celaka.
Sambil memikirkan semua itu, kami sampai di kuil tua yang nyaris roboh. Kuil ini terbuat dari batu, sudah berdiri entah sejak kapan. Pintu dan jendela kayunya telah lapuk dan rontok. Tampaknya, tak banyak warga desa yang percaya pada Penjaga Gunung di sini, sebab di dalamnya sangat berantakan, penuh sarang laba-laba, dan sama sekali tak ada dupa atau persembahan.
Tanpa dupa, besar kemungkinan kuil ini sudah kehilangan penjaganya. Kuil tanpa penjaga adalah tempat yang paling mudah dimasuki roh jahat.
Di atas altar berdiri patung Penjaga Gunung bermata garang. Meski ada sarang laba-laba, aku bisa melihat patung itu baru-baru ini diperbarui.
Namun anehnya, di desa yang sudah hampir mati ini, siapa yang bersusah payah memperbarui patung Penjaga Gunung yang bahkan sudah tak dipuja siapa-siapa?
Sekelompok warga desa berkerumun di sekitar kuil. Melihat kami datang, mereka menatap dengan curiga. Bai Yiyi segera memperkenalkan diri sebagai tamu Pak Tua Tao, barulah mereka tidak menaruh curiga lagi.
Di depan patung Penjaga Gunung, ada sebuah baki batu yang penuh bercak darah, sebagian kehitaman, sebagian lagi merah gelap. Tampaknya baik Qianqian maupun perempuan pelaku pembunuhan pagi ini, sama-sama meletakkan jantung di baki itu.
Warga desa saling berbisik, berkata bahwa ini benar-benar aneh. Selama mereka hidup dan mati turun-temurun di sini, tak pernah terdengar perempuan mengeluarkan jantung, apalagi Penjaga Gunung membahayakan manusia. Mereka pun bertanya-tanya siapa yang sempat-sempatnya memperbarui patung itu.
Akhirnya, mereka sepakat untuk menghancurkan kuil Penjaga Gunung.
Mendengar rencana mereka, aku jadi teringat pada peristiwa penghancuran makam di desaku dulu. Jika mereka nekat merobohkan kuil ini, jangan-jangan akan menimbulkan bencana yang lebih mengerikan.
Untung saja, itu baru sekadar wacana dan belum benar-benar disepakati. Aku dan Bai Yiyi mengelilingi kuil beberapa kali, lalu meninggalkannya.
Aku tidak menemukan keanehan apa pun, yang membuatku heran hanyalah, perempuan itu melakukan pembunuhan semalam, jantung suaminya dipersembahkan di kuil, lalu pagi harinya sudah hilang. Apakah dimakan binatang liar?
Setelah keluar, Bai Yiyi bertanya apakah aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku menggeleng. Tapi ia berkata, “Di dalam patung Penjaga Gunung ada gelombang jiwa, entah itu baik atau jahat. Karena di sini masih ramai, nanti malam kita kembali lagi.”
Aku mengangguk. Walau aku sudah belajar ilmu perdukunan dari Zhai Gunung Wushan, meski aku duduk bersila dan memakai teknik memanggil roh, tetap saja aku tak bisa merasakan gelombang seperti Bai Yiyi. Rupanya kemampuanku masih jauh di bawahnya.
Kami pun kembali ke rumah Pak Tua Tao. Teriakan dan tangisan masih terdengar sepanjang pagi, baru saat siang keadaan hening—barangkali polisi sudah datang, mengusut perkara, lalu membawa perempuan pelaku pergi.
Bai Yiyi sudah benar-benar pulih dari kutukan. Kini aku malah curiga, jangan-jangan kutukan itu memang dilakukan oleh Qian Mazi. Dulu kami curiga pada Yu Sanqin, tapi semakin kupikir, sepertinya bukan dia pelakunya. Yu Sanqin hanya seorang dukun pemanggil arwah, bukan ahli kutukan. Sedangkan kutukan yang mengenai Bai Yiyi sangat lihai, halus, dan tak terdeteksi, seolah hanya Qian Mazi yang sanggup melakukannya. Apalagi saat hendak pergi, Qian Mazi sempat melirik Bai Yiyi dan berkata, “Tak membunuh pun tak apa,” yang makin menguatkan dugaan bahwa kutukan itu memang dari dia.
Kini Bai Yiyi sudah tidak takut lagi dengan roh jahat di kuil Penjaga Gunung.
Kami menunggu hingga malam tiba, memastikan Pak Tua Tao sudah tidur, lalu perlahan-lahan keluar rumah dan menuju kuil. Di tengah malam, berjalan di jalan setapak yang masih berlumur darah, jantungku berdebar tak tenang.
Akhirnya kami sampai di depan kuil. Entah karena baru-baru ini aku berlatih ilmu gaib, hidungku jadi lebih peka. Aku mencium bau darah yang menyesakkan—bau lima jantung yang masih segar.
Bai Yiyi mengenggam pedang sakti di satu tangan, dan menyalakan sebatang dupa khusus dari bungkusan. Asapnya membubung tipis. Ia berbisik, “Dupa ini buatan khusus guruku. Jika masih ada dewa di sini, dupa ini pasti bisa habis terbakar.”
Tapi belum selesai Bai Yiyi bicara, tiba-tiba dupa itu patah di tengahnya. Ini menandakan bahwa di dalam kuil Penjaga Gunung kini tinggal mahluk jahat.
Aku baru hendak memanggil Tongtong, Bai Yiyi langsung mencabut pedang saktinya, berteriak, dan menusukkan pedang itu tepat ke patung yang baru diperbarui itu.
Begitu pedangnya menancap, patung Penjaga Gunung bergetar hebat, lalu terdengar jeritan melengking. Dari dalam patung itu melompat keluar sesosok hantu perempuan.
Hantu itu mengenakan gaun hijau, rupanya cantik menawan, namun raut wajahnya sangat menyayat hati, pucat pasi dan penuh duka. Begitu keluar, ia langsung menerjang ke arah Bai Yiyi.
Bai Yiyi sama sekali tidak gentar. Pedang saktinya berkelebat, membuat hantu perempuan itu terjungkal. Merasa tak mampu melawan Bai Yiyi, ia pun berbalik menubrukku.
Dalam hati aku berpikir, pasti ini arwah perempuan yang mati penasaran, kematiannya pasti sangat tragis, hingga ia tega menyesatkan perempuan-perempuan malang untuk menyakiti orang lain.
Teringat akan Xi’er, aku menghunus pisau mayatku, mengayunkannya ke arah hantu perempuan itu, namun tidak benar-benar melukainya. Hantu itu kaget dan melayang mundur.
Namun ke mana pun ia mencoba melarikan diri, tampaknya ada sesuatu di kuil itu yang menahannya, sehingga ia tak bisa keluar.
Wajahnya makin lama makin penuh keputusasaan, matanya semakin panik. Ia ingin kabur, tapi tak mampu; ingin melawan, tapi bukan tandingan kami. Jeritannya yang pilu bahkan mengusir kawanan gagak yang bertengger di atap kuil.
Tak lama berselang, Bai Yiyi mengeluarkan secarik kain mantra putih, membungkus sosok hantu bergaun hijau itu.
Setelah tertangkap, ia sempat memberontak hebat. Namun begitu aku memanggil Tongtong, Tongtong hanya menatap tajam tanpa berkata apa-apa, membuat hantu itu langsung tenang.
Inilah perbedaan kasta di antara para arwah; arwah yang lebih tinggi derajatnya mampu menaklukkan yang lebih rendah.
Setelah tenang, Bai Yiyi bertanya dingin, “Mengapa kau menyakiti orang-orang di sini?”
Hantu bergaun hijau itu segera menangis pilu. Ia mengaku awalnya tak berniat jahat. Beberapa waktu lalu, saat mencari kayu di hutan, tiba-tiba seseorang membekap mulut dan hidungnya. Begitu sadar, ia sudah menjadi arwah.
Ia sangat dendam, tapi entah kenapa ia tak bisa meninggalkan kuil ini. Sebagai tempat pemujaan, kuil ini memiliki daya tahan terhadap angin jahat tiap bulan, sehingga jiwanya tetap bertahan. Namun belum lama ini, datang seorang pria yang berkata padanya bahwa ia harus membujuk orang agar mempersembahkan jantung ke kuil, jika tidak, setiap hari ia akan dipukul dengan tongkat kayu, dan jika membangkang, jiwanya akan dihancurkan.
Sebagai arwah yang terkurung, ia tak berdaya selain menurut.
Aku menduga, pria itu pasti adalah orang yang membunuhnya.
Perempuan, terutama yang hatinya suram, memang lebih mudah dikuasai energi gelap. Kebetulan ia menemukan Qianqian, perempuan yang juga penuh penderitaan dan dendam. Hantu bergaun hijau itu dengan mudah membujuk Qianqian untuk mengambil jantung seluruh keluarganya.
Malam itu juga, pria misterius itu datang mengambil semua jantung.
Setelah Qianqian membunuh, warga desa berbondong-bondong ke kuil, sehingga ia kemudian memilih korban baru: perempuan yang selalu dipukuli suaminya. Maka terjadilah peristiwa yang kami saksikan pagi tadi.
“Itu artinya kau membantu kejahatan!” seru Bai Yiyi dengan marah. Hantu bergaun hijau itu gemetar ketakutan.
Saat ditanya siapa pria yang menyuruhnya, hantu itu mengaku tidak tahu, bahkan tak mengenal tempat tinggalnya. Namun ia tahu, pria itu akan datang lagi keesokan malam untuk menanyakan apakah sudah ada korban baru. Ia meminta total sembilan jantung.
Tampaknya ada penjahat yang bersembunyi di balik bayang-bayang. Usai mendengar cerita itu, Bai Yiyi memasukkan hantu bergaun hijau ke dalam kotak kayu wutong, kayu yang paling ampuh menahan roh, lalu mulai mencari segel di dalam kuil.
Jika penuturan hantu itu benar, pasti ada sesuatu di kuil yang menahannya. Tapi setelah kami mencari ke segala sudut, tak ada satu pun jimat atau simbol tersembunyi.
Jangan-jangan hantu itu berbohong?
Tapi rasanya tidak, sebab dari tadi ia memang tidak bisa keluar dari kuil.
Anehnya, kekuatan yang menahannya itu hanya berlaku untuk hantu bergaun hijau, sedangkan Tongtong sama sekali tidak terpengaruh. Sebenarnya, benda apa yang menahan hantu itu?
Bai Yiyi hendak mengeluarkan boneka akar pohon, tapi aku menggeleng, lalu merentangkan tangan untuk merasakan. Meski aku tak bisa langsung merasakan gelombang jiwa, aku bisa merasakan ada satu titik yang sangat sarat energi gelap di kuil ini, yakni patung Penjaga Gunung!
Mungkinkah arwah itu terperangkap di patung? Aku langsung menghampiri, mengetuk patung tersebut. Kebanyakan patung memang berongga, tapi yang satu ini terasa padat.
Aku mengambil sebilah kayu, lalu menghantam bagian lengan patung. “Krak!” Patung itu pecah, dan di dalamnya tampak lengan perempuan yang mengecil dan menghitam, dengan sepotong tali hijau di pundaknya! Bersamaan dengan itu, bau busuk yang aneh pun menyeruak!
Pantas saja perempuan itu tak tahu bagaimana ia mati dan tak bisa meninggalkan kuil ini—rupanya jasadnya telah dicor hidup-hidup ke dalam patung itu!