Bab 32: Di Dalam Penjara Bawah Tanah
Tanganku meraba ke pinggang, mencari ke kiri dan kanan namun tetap tidak menemukan apa-apa. Tiba-tiba, Xier di seberang bertanya, “Apa yang kau cari?”
Aku menjawab, “Setan kecil dalam botol kaca itu.”
Xier tertawa pelan, “Kau pikir dia akan membiarkannya padamu?”
Hatiku kembali dilanda kekecewaan, buru-buru meraba tabung bambu itu, namun ternyata juga sudah tidak ada.
“Di mana Maomao?”
Xier pun terkekeh, “Masih bisa ingat Maomao, setidaknya kau masih punya hati nurani. Dia sangat lincah, sudah kabur.”
Mendengar itu, harapan kembali menyala di dadaku. Aku menoleh pada Xier dan bertanya, “Apakah Maomao akan kembali ke Kuil Songyue? Apakah dia bisa membawa Guru Kai Xin dan yang lain ke sini?”
Xier menggeleng, “Terlalu jauh. Maomao tidak tahu jalan. Kalau pun tahu, Maomao paling takut dengan kuil, pasti tidak akan ke sana. Andaipun dia pergi, para pendeta itu pasti langsung menangkapnya tanpa banyak bicara, lebih celaka lagi.”
Jiwaku terasa jatuh ke jurang terdalam. Saat kugenggam tanganku erat-erat, baru kusadari bahwa cincin di jariku juga telah diambil orang.
Pantas saja Xier marah. Kini bahkan tempatnya bernaung sudah tidak ada. Begitu ada orang luar datang, dia hanya bisa bersembunyi dalam tubuhku.
Aku menghela napas panjang, bersandar ke dinding, menengadah menempelkan kepala pada dinginnya tembok, berpikir kini benar-benar celaka. Apakah inilah dunia persilatan misteri yang pernah diceritakan Paman Keempat, sekali lengah saja bisa terjerat, nasib hidup mati tak menentu?
Melihatku diam saja, Xier pun tak lagi menyalahkanku. Ia perlahan berjalan mendekat, menendangku pelan, “Hei, sudah begini, kau bersedih pun tak ada gunanya. Tenanglah, tunggu saja. Aku yakin pasti akan ada kesempatan.”
Atas penghiburannya, aku hanya menjawab lirih.
Entah berapa lama waktu berlalu, entah di luar siang atau malam, tiba-tiba kudengar suara berderak, lalu suara langkah kaki, “tap... tap...”
Ada orang turun ke bawah.
Xier sudah merasakannya sejak awal. Seketika ia masuk ke tubuhku, aku menahan napas, menunggu orang itu tiba.
Langkahnya berhenti. Aku bisa merasakan ada seseorang berdiri di balik pintu besi. Begitu ia berbicara, aku tahu itu pria itu. Amarahku langsung membara. Jika aku bisa keluar, ingin rasanya kukunyah lehernya sampai putus, minum darahnya biar puas.
Saat amarahku memuncak, orang di luar pintu besi itu berkata, “Sudah bangun?”
Aku sengaja diam, duduk tanpa bergerak.
Ia memanggil dua kali, lalu tertawa seram, “Aku tahu kau sudah sadar. Tak kusangka kau juga memelihara setan kecil, bahkan punya Cincin Xinu. Dari perguruan mana kau sebenarnya?”
Aku tak tahu apa yang ia tanyakan, juga tak tahu harus menjawab apa, jadi tetap diam.
Ia berbicara sendiri, “Dari teknik membuat patung kayu setan kecil di botolmu, sepertinya kau orang dari Keluarga Bai. Tapi kenapa kau bisa Mantra Sembilan Aksara juga? Apa hubunganmu dengan Keluarga Bai?”
Aku benar-benar tak mengerti apa yang ia maksud, merasa lebih baik tetap tak menggubrisnya.
Mungkin ia tahu aku sedang mendengarkan, lalu berkata lagi, “Tak peduli kau ada hubungan dengan Keluarga Bai atau tidak, sekarang kau jangan bermimpi bisa keluar.” Saat mengatakan itu, nada bicaranya berubah, “Lalu di mana arwah pelindung dalam Cincin Xinu-mu? Kenapa hanya sebuah cincin kosong?”
Mendengar pertanyaannya, aku mulai tegang. Kini semua milikku telah disita, bahkan kitab Mantra Sembilan Aksara yang sangat aku jaga pun dirampas. Sebenarnya, sudah tak ada lagi yang perlu aku kuatirkan.
Tapi meski Cincin Xinu diambil, dia tak tahu bahwa arwah dalam cincin itu, Xier, kini menempel padaku. Jika ia sampai tahu, bukan hanya Xier yang celaka, tapi aku pun kehilangan satu-satunya harapan untuk meloloskan diri.
Hatiku berdegup kencang. Aku menggertakkan gigi, lalu berpura-pura baru terbangun, “Siapa kau? Kenapa kau menahanku? Di mana temanku?”
Ia hanya mencibir, “Jangan pura-pura, aku tahu kau sudah sadar. Katakan, di mana arwah pelindung dalam Cincin Xinu itu?”
Tak kusangka ia bisa menebaknya. Rupanya pria ini benar-benar licik. Aku hanya bisa menghela napas, “Sudah lama hilang. Dulu aku pernah diganggu arwah dendam, saat hendak menyelamatkanku, arwah dalam cincin itu tercerai-berai.”
Ia mendengus, entah percaya atau tidak. Kurasa ia lebih condong percaya, karena nenek pernah bilang, jika pemilik cincin terancam, arwah di dalamnya pasti langsung keluar menyelamatkan.
Tapi Xier berbeda dengan arwah pelindung lain. Dia sangat cerdik, tahu dirinya bukan tandingan para arwah lain, maka langsung menempel pada tubuhku, tak pernah keluar, dan ini sesuatu yang tak terpikirkan oleh pria itu.
Setelah menanyai aku soal ini, ia tak lagi bertanya tentang Keluarga Bai, dan jelas tak berniat membebaskanku.
Yang paling ia khawatirkan adalah apakah aku punya hubungan dengan Kuil Songyue. Dia seperti sedang mengujiku, ingin tahu apakah aku benar-benar memelihara setan. Setelah tahu cincinnya memang dipakai untuk memelihara setan, dia tampak lega. Kaum Tao takkan membiarkan muridnya memelihara setan, jadi ia percaya aku pasti bukan orang Kuil Songyue.
“Di mana temanku? Apa yang kau lakukan padanya?” Meski ia sudah mantap tak mau melepaskanku, setidaknya aku ingin tahu nasib Maotou.
Setelah menanyakan itu, ia tadinya hendak pergi, namun mendengar aku berteriak, ia kembali mendekati pintu besi, bicara dengan suara seram, “Temanmu? Tak apa-apa, hanya saja ada orang yang hampir mati, minta tolong padaku. Aku terima uangnya, lalu kupinjam empat puluh tahun umur temanmu untuk menyelamatkan orang itu.”
Hatiku kembali terguncang. Rupanya Xier benar, yang dilakukan pria itu tadi adalah meminjam umur Maotou, dan orang berambut putih bertopeng itu pasti orang yang butuh perpanjangan umur.
Umur adalah hal paling berharga, diberikan Tuhan pada tiap orang dengan jumlah terbatas. Dia malah menggunakan ilmu sesat untuk merampas umur orang, sungguh keji.
Jika Maotou kehilangan empat puluh tahun umurnya, berapa lama lagi ia bisa hidup?
Aku tak bisa menahan amarah, “Lalu sekarang di mana dia? Apakah juga kau kurung? Apa yang akan kau lakukan padanya?”
“Aku akan apa padanya? Belum kupikirkan. Biasanya, orang yang sudah dipinjam umurnya akan dilepas, mereka sendiri tak tahu apa yang terjadi, tak punya keluhan. Tapi kau malah bikin keributan, jadi jelas aku tak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Salahkan saja nasibnya, berteman dengan orang sepertimu. Tapi, orang-orang di kaki Gunung Wutai dikenal suka berbuat baik, mungkin saja akan kulepas, hanya akan kuberikan sesuatu untuk diminum, supaya dia lupa segalanya!”
Hatiku campur aduk antara marah dan pilu. Tak kusangka semua yang dikatakan Xier benar. Karena satu tindakan gegabahku, kini kami berdua sama-sama terjebak di sini. Melihat cara kejam pria bertopeng itu, masa depan kami benar-benar suram.
Memikirkan itu, amarahku memuncak, “Ini di kaki Gunung Wutai, kau melakukan hal yang menantang langit, tak takut orang-orang bijak datang mencarimu?”
Orang itu menepuk pintu besi, tertawa dingin, “Justru aku sengaja memilih kaki Gunung Wutai. Hampir tiap hari ada orang yang diganggu makhluk halus datang minta pada dewa dan Buddha. Mereka inilah sasaran yang paling mudah untukku pinjam umurnya. Orang yang sudah kupinjam umurnya tak pernah tahu, para ahli pun takkan curiga. Aku tak punya apa pun yang perlu ditakuti.”
Mendengar itu, keraguanku perlahan terjawab. Rupanya pria ini benar-benar penuh dosa, entah sudah berapa banyak umur manusia ia rampas. Aku benci dan takut, lalu berteriak, “Sebaiknya kau lepaskan kami! Kuberi tahu, Paman Keempatku seorang pendeta, ilmunya jauh lebih hebat dari para pendeta Songyue. Jika dia datang ke sini, kau takkan bisa lari, tempat ini pun akan dihancurkan!”
Ia hanya mendengus mengejek, lalu tanpa menjawab, aku mendengar suara langkah kakinya perlahan menjauh. Ia benar-benar pergi.
Dari suara langkahnya, lorong ini sekitar lima atau enam meter, lalu ada tangga naik. Begitu ia sampai di tangga, terdengar lagi suara berat, seperti ada pintu lain.
Setelah ia pergi, suasana hatiku makin suram. Sepertinya kabur dari sini benar-benar mustahil.
Tak lama kemudian, Xier kembali keluar dari tubuhku. Aku duduk menunduk, hanya melihat sepasang kaki kecil Xier berdiri tak jauh dariku. Aku menghela napas dan berkata, “Sepertinya aku takkan bisa keluar. Kau lebih baik cari jalan sendiri, kau kan arwah, pasti bisa pergi.”
Tak kusangka Xier malah terkekeh, menunduk bertanya, “Hei, sekarang kau baru ingat menyuruhku pergi, sungguh atau palsu?”
Aku mendongak menatapnya, tak menyangka matanya berbinar penuh cahaya, seolah terkurung di sini pun ia tak peduli, malah wajahnya tampak ceria.
Sungguh, watak arwah ini tak bisa kutebak. “Tentu saja sungguh. Jika bisa lolos satu orang, itu sudah bagus. Kalau sampai mereka tahu keberadaanmu, nanti pun kau tak bisa lari.”
Xier mengangguk, lalu wajahnya berubah serius, “Benar juga. Tapi kalau aku pergi, kau mungkin seumur hidup akan terkurung di sini.”
Apa yang dikatakan Xier memang benar. Jika ia tak membantuku, meski aku bisa kabur dari penjara bawah tanah ini, aku tetap takkan bisa lolos tanpa jejak dari tempat penuh arwah ini. Lagi pula, Xier tak mungkin mendekati Gunung Wutai, sehingga tak bisa memberi tahu Paman Keempat tentang keadaanku.
Aku terdiam sejenak, lalu menggertakkan gigi, “Aku tahu, tapi kalau kau tetap di sini pun tak ada gunanya. Kalau sampai mereka tahu, kau bisa lebih berbahaya dariku. Pergilah.”
Mendengar itu, Xier yang semula serius malah tersenyum, “Tak kusangka kau sama baiknya dengan Maomao, masih memikirkan aku. Tenang saja, selama kau belum mati, aku takkan pergi.”
Mendengar itu, walau terjebak, hatiku terasa hangat. Walau arwah perempuan ini aneh dan licik, ia tetap baik padaku.
Melihat wajahku yang tampak berterima kasih, Xier menatap mataku lalu tiba-tiba berkata, “Tak usah terlalu berterima kasih. Sebenarnya aku belum pergi juga karena dua alasan penting. Pertama, di atas penjara bawah tanah ini penuh arwah, aku pasti ketahuan kalau keluar. Kedua, di luar pintu penjara ada segel penakluk arwah, aku tak bisa menembusnya.”
Mendengar itu, aku tertegun, tapi ia malah tertawa cekikikan.
Jarang sekali ia bisa tertawa di saat seperti ini, aku hanya bisa terdiam.
Xier berbincang-bincang denganku dalam kegelapan, aku menjawab tanpa semangat. Waktu seperti berhenti di kegelapan ini, terasa satu abad lamanya, hingga akhirnya kembali terdengar suara pintu penjara bawah tanah dibuka dari luar.