Bab Empat Puluh Sembilan: Si Kecil Zhen
“Paman Li.” Suara Xiao Zhen terdengar datar saat menyebutkan sapaan hormat itu, sembari melepaskan kain penutup wajahnya, menampakkan paras mungil nan tegas dan anggun.
Seakan telah terbiasa dengan wataknya yang demikian, Kepala Pengawalan Li Yigong bukannya marah, malah menyunggingkan senyum lebar, lalu berkata, “Nona, sudah bertahun-tahun tak jumpa, kini sudah jadi gadis dewasa dan semakin paham etika…” Harus diketahui, beberapa tahun lalu, nona mereka takkan pernah memanggilnya Paman Li, paling banter menyebutnya Si Tua Li. Kemudian Li Yigong melanjutkan, “Tuan dan nyonya…”
Ucapan Li Yigong yang hendak menyinggung tuan dan nyonya rumah langsung dipotong oleh Xiao Zhen, “Paman Li, para penjahat yang tertangkap hidup-hidup ini akan dikirim ke kantor pemerintahan atas nama Biro Pengawalan Dingyuan, aku butuh bantuanmu.”
“Siap! Nona tenang saja. Tuan dan nyonya... mereka sangat merindukan nona, mereka…”
“Paman Li, aku sedang sibuk. Maaf tak bisa menemani. Aku pasti akan menulis surat ke rumah.” Seusai berkata, Xiao Zhen melangkah pergi ke tempat lain.
Melihat Xiao Zhen tak ingin Kepala Pengawalan menyinggung kedua orang tuanya, Wei Zixin hanya bisa tersenyum maklum, lalu berkata pada Kepala Pengawalan, “Kepala Li, terima kasih atas bantuan penuh kalian kali ini.”
“Nona Wei terlalu sungkan. Biro pengawalan kami milik keluarga Ma, semua yang tahu urusan dalam pasti paham, Tuan Ma dan Tuan Kota Wei bersahabat bak saudara, bisnis keluarga Ma dan bisnis Kota Yunlong selalu saling terkait. Membantumu memberantas penjahat, baik secara resmi maupun pribadi, memang sudah kewajiban kami.”
Ternyata, gadis kecil bernama Xiao Zhen itu tak lain adalah Ma Zhen, satu-satunya pewaris keluarga Ma yang menekuni bisnis angkutan darat, sungai, dan segala usaha terkait.
Jika ditelusuri, kisahnya bermula puluhan tahun lalu, keluarga Ma awalnya menjalankan usaha kain di ibu kota. Kemudian, rencana perjodohan dengan keluarga Guan di ibu kota gagal terlaksana. Hal itu karena putri keluarga Guan, Guan Linglong, menikah dengan Tuan Kota Yunlong, yang tak lain ayah Wei Zixin. Sementara Ma Luyao dari keluarga Ma yang telah bertunangan, justru jatuh hati pada sepupunya, Wang Duo’er, wanita tercantik di ibu kota saat itu. Maka, kedua pihak memutuskan pertunangan secara baik-baik.
Meski perjodohan itu batal, Ma Luyao dan Tuan Kota Wei yang sudah saling mengenal dan bersahabat tetap menjalin hubungan erat, bahkan setelah menikah dan beranak-pinak.
Guan Linglong adalah pengelola utama bisnis keluarga Guan, ibu Wei Zixin, yang sebelum menikah pernah memimpin keluarga Guan mengembangkan usaha di bidang sandang, pangan, papan, dan transportasi. Dalam waktu singkat, bisnis keluarga Guan menjadi yang terbesar di negeri. Setelah menikah dengan Tuan Kota Wei, keluarga Ma sempat mengelola bisnis keluarga Guan.
Sejak Ma Luyao mengambil alih bisnis keluarganya, ia fokus mengembangkan usaha angkutan darat dan air. Di bawah namanya terdapat biro pengawalan, armada kereta, kelompok kuda, kapal sungai bahkan pelayaran laut. Di mana pun transportasi besar berlangsung di Dinasti Daxing, pasti ada bayang-bayang bisnis keluarga Ma, bahkan hingga ke luar negeri.
Kemudian, bisnis keluarga Guan digabungkan ke dalam Kota Yunlong, membentuk Xiyun She, kongsi dagang terbesar nomor satu di negeri, memonopoli bisnis sandang, pangan, dan papan. Hanya bidang transportasi—yang berkaitan dengan angkutan darat, air, dan sebagainya—tetap menjadi domain keluarga Ma, tanpa dicampuri.
Namun, seperti dikatakan Kepala Pengawalan Li Yigong, antara Kota Yunlong dan keluarga Ma, hubungan mereka sudah sedemikian erat dan saling berkelindan, sulit untuk dipisahkan.
Semua itu hanyalah kisah lama, tak perlu diuraikan lebih rinci.
Sementara itu, kediaman Pangeran Ming—yang kini menjadi kaisar—untuk sementara dikelola oleh mantan pelayannya, Mufeng.
Sebelum diam-diam meninggalkan ibu kota, Kaisar Liu Yu sempat datang ke kediaman lamanya, kediaman Pangeran Ming. Bangunan yang akrab, halaman yang dikenal, orang-orang yang masih dikenalnya, semuanya membuat hati Kaisar Liu Yu penuh haru dan nostalgia.
Dulu, Pangeran Ming selalu riang, santai dan bebas, bahkan berharap kisah romantis bagai pujangga dan gadis jelita terjadi padanya. Kini, ia telah berubah menjadi lebih tenang dan muram.
Di aula utama, Mufeng yang berdiri di samping langsung terkejut mendengar penuturan Kaisar Liu Yu, “Paduka, Anda hendak pergi ke Kota Yunlong mencari Nona Wei?!”
“Ya,” Liu Yu mengangguk.
“Maksud Paduka, Putri Lanxin itu sebenarnya Nona Wei. Dia pandai menyamar, masuk ke istana dengan nama Lanxiner?” Karena terlalu terkejut, Mufeng tanpa sadar mengulangi kata-kata Kaisar, memastikan kembali.
Liu Yu kembali mengangguk.
“Nona Wei itu, kita pernah bertemu di Kota Yunlong. Maksud Paduka, itu pun bukan wajah aslinya?” Mufeng melanjutkan pertanyaan.
“Benar, kabar di kota bahwa dia berparas menawan memang benar adanya,” jawab Liu Yu terus terang.
“Begitu rupanya…” Mufeng tampak paham dan mengangguk pelan. Ia menatap wajah Kaisar yang tampak kehilangan, diam-diam sudah mendapat gambaran di benaknya.
“Kapan Paduka berangkat?” tanya Mufeng lagi.
“Hari ini juga,” tegas Liu Yu.
“Baik, hamba segera bersiap.”
Kaisar Liu Yu tak membawa banyak pengikut, sama seperti saat dulu diracun, hanya Mufeng yang mendampinginya.
Sepanjang perjalanan, Liu Yu jarang bicara. Mufeng jelas merasakan perubahan watak tuannya, tak lagi ceria dan ramah seperti sebelumnya. Mungkin karena jadi kaisar memang harus lebih tenang dan dewasa, pikir Mufeng.
Wei Zixin, kini di mana dirinya? Apa yang sedang ia lakukan? Dalam kereta kuda, Kaisar Liu Yu duduk terpejam, berbagai pertanyaan itu terus berputar di benaknya.
Tahukah engkau aku datang mencarimu? Masihkah kau menyimpan dendam pada diriku?…
Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh hari, mereka tiba di kota kecil terdekat dari Banqingshan, lokasi Kota Yunlong.
Kota kecil ini adalah tempat di mana dulu Wei Zixin dan Xiao Yao pernah diantar pergi oleh Li Erniu.
Di salah satu rumah makan terbesar di kota itu, Mufeng sedang menemani tuannya, Liu Yu, makan siang.
Kaisar yang tengah menyamar tak ingin menarik perhatian, maka ia memerintahkan Mufeng makan satu meja dan menu yang sama.
Namun, tetap saja, lebih dari sepuluh pengawal berdiri berjejer di satu sisi, beberapa kereta kuda mewah parkir di luar, membuat iringan mereka sangat mencolok di kota kecil itu.
Awalnya, para pelanggan lain di rumah makan itu kerap melirik ke arah mereka. Lelaki tampan dan berwibawa seperti itu sangat jarang terlihat di sini. Lihat pula para pengawalnya yang berdiri tegak dengan pedang di pinggang, tegas dan gagah. Aura mereka membuat semua orang terdiam, tak berani bersuara keras.
Setelah beberapa waktu, para pelanggan melihat Liu Yu dan rombongannya hanya diam makan tanpa berkata sepatah kata pun, lalu mulai berani berbicara seperti biasa.
“Sudah dengar belum? Sudah dengar belum?” Seorang pria berjanggut lebat berani berseru pada teman satu mejanya.
“Ada apa?” temannya yang sedang minum arak penasaran bertanya.
“Di daerah Shu telah terjadi peristiwa besar!” jawab si lelaki berjanggut.
Orang-orang lain makin penasaran dan mendesak, “Peristiwa apa?!”
Orang itu tak lagi menahan diri, bersuara lantang, “Kabarnya, gerombolan perampok yang selama ini bercokol di Shu, beberapa hari lalu sebagian besar dibunuh, sisanya ditangkap hidup-hidup, habis sudah riwayat mereka!”
“Peristiwa sebaik ini, siapa yang melakukannya? Pejabat pemerintah?” Semua orang bertanya-tanya.
“Mana mungkin? Kalau pemerintah mampu, mana mungkin perampok itu merajalela bertahun-tahun!” Ia membanting meja, lalu mulai bercerita, “Beberapa hari lalu, perusahaan dagang terbesar negara ini, Xiyun She, mengirim kargo besar. Yang mengawal adalah Biro Pengawalan Dingyuan. Harta sebanyak itu tentu saja menarik perhatian para perampok. Tak disangka, saat mereka hendak merampok dan membunuh, tiba-tiba muncul sekelompok orang bertopeng, seperti pasukan dewa dari langit, menyerang balik para perampok hingga tak berkutik…”
“Siapa kira-kira orang bertopeng itu?” Seseorang memotong cerita, bertanya.
“Tidak tahu.” Pria berjanggut itu tampak kecewa, “Cuma kabarnya…” Ia lalu memperlihatkan ekspresi sangat misterius, menatap semua temannya satu per satu, baru melanjutkan, “Dalang di balik peristiwa itu ternyata seorang perempuan…”
“Perempuan…” Semua orang terkejut, lama baru bisa mencerna kabar itu.
“Perempuan dengan kecerdikan seperti itu sungguh langka di dunia!” seseorang mengagumi.
Liu Yu yang duduk di sudut mendengarkan semua itu, hatinya bergetar mendengar kata “perempuan”. Setahu dia, hanya satu perempuan yang punya kecerdikan seperti itu. Bukan saja ia kenal, ia pun mencintainya, ingin menjadikannya permaisuri, bahkan rela mengosongkan istana demi dirinya. Namun, ia belum tahu pasti apakah perempuan misterius itu benar-benar Xiner-nya.
Andai memang benar, berarti kini ia ada di tanah Shu. Tapi, yang paling penting saat ini, Liu Yu harus ke Kota Yunlong, tak bisa berbelok ke Shu hanya karena kabar yang belum pasti.
Memikirkan itu, ia meletakkan sumpit dan mangkuk, lalu berkata tegas pada Mufeng, “Sore ini kita percepat perjalanan, usahakan tiba di Kota Yunlong sebelum malam.”
“Baik, Tuan Muda!” jawab Mufeng segera.
Sore harinya, rombongan mereka berputar-putar di tengah hutan lebat, akhirnya menemukan jalan menanjak berbatu menuju gunung.
Hujan rintik turun di pegunungan, kabut tipis menyelimuti, di tepi jalan sesekali ada ranting pohon muda dengan tunas hijau, suasana begitu segar dan penuh semangat, kicauan burung terdengar jernih, tanda musim semi yang menggairahkan.
Kuda berjalan pelan di jalan setapak, kereta kuda bergoyang ditarik maju. Semakin mendekati Kota Yunlong, Liu Yu justru semakin gugup, apakah Xiner ada di sana? Maukah ia menemuinya? Maukah ia pergi bersamanya?...
Akhirnya mereka tiba di depan gerbang Kota Yunlong, langit mulai gelap. Pintu gerbang sudah tertutup, hanya ada beberapa lampion menyala di kedua sisi menara gerbang, memancarkan cahaya hangat di tengah malam.
Dalam rintik hujan yang menusuk dingin, Mufeng turun dari kereta menuju gerbang kota yang berat, mengetuk dengan gagang besi, “tok tok tok”, “tok tok tok”…
Setelah cukup lama mengetuk, akhirnya pintu kayu bergeser, angin berhembus dari celah, lalu muncul seorang pemuda, bertanya, “Siapa yang datang? Ada perlu apa?”
Mufeng memberi salam sopan, lalu berkata, “Tuan kami ingin bertemu kepala kota kalian.”
Pemuda itu langsung bertanya, “Siapa tuanmu?”
“Tuan kami adalah Sri Baginda Kaisar,” jawab Mufeng dengan tenang.
Jelas pemuda itu terkejut mendengar jawaban itu, ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Silakan tamu agung menunggu sebentar, saya akan melapor kepada kepala kota!”
Selesai berkata, pemuda itu menutup kembali pintu gerbang, menghilang dalam gelapnya malam…