24. Amukan di Kedai Tamu
Suasana di Rumah Kupu-Kupu Musim Semi berubah hening seketika begitu Kaisar Zhu Houzhao pergi. Saat itu, mucikari tua melihat tamu dari kamar keempat sudah pergi, ia pun naik ke lantai atas untuk memeriksa keadaan. Begitu masuk, ia mendapati dua pemuda sedang berada di dalam kamar, salah satunya duduk sangat dekat dengan Bayangan Bunga.
Mucikari itu pun berkata pada mereka,
“Kalian siapa? Kenapa sembarangan masuk ke kamar Bayangan Bunga di Rumah Kupu-Kupu Musim Semi?”
Sambil berkata begitu, ia langsung mencoba menarik Bayangan Bunga pergi.
Du Buwang segera melangkah maju menghadang, sehingga tangan mucikari itu malah mencengkeram tubuh Du Buwang. Dengan wajah masam, Du Buwang berkata,
“Kau perempuan tua busuk, dia ini istriku, tahukah kau? Berani-beraninya kau menculik dia dan menjualnya ke Rumah Kupu-Kupu Musim Semi untuk dijadikan gadis penghibur. Akan kuberi kau pelajaran hari ini.”
Setelah berkata begitu, Du Buwang langsung menampar keras muka mucikari itu hingga ia menjerit-jerit kesakitan. Saat mucikari hendak berteriak, Zhu Housong yang berada di belakang, langsung menendang kedua betisnya, memaksa mucikari itu berlutut. Seketika itu juga, perempuan tua itu tak berani bersuara lagi.
Du Buwang tiba-tiba teringat urusan di Kedai Arak Tamu Datang, lalu bertanya pada mucikari,
“Tahu tidak siapa pemilik Kedai Arak Tamu Datang? Siapa pemilik perempuan dan lelaki tua enam puluhan itu?”
Setelah ditampar dan ditendang, mucikari itu sudah ketakutan luar biasa, dengan suara gemetar ia menjawab,
“Setahu saya, kedai itu dibuka setahun lalu oleh... oleh sebuah perguruan dunia persilatan. Sepertinya... namanya Perkumpulan Kaki Besi Danau Tai. Ya, itu. Kabarnya mereka dulu menyinggung beberapa orang di Danau Tai, makanya mereka kabur ke sini. Saya sendiri tidak akrab, hanya sering berbisnis saja.”
Zhu Housong yang mendengar itu langsung teringat kejadian ketika adik perempuannya menendang nyonya kedai hingga dirinya sendiri yang kesakitan. Seketika ia paham lalu bertanya,
“Nyonya pemilik itu namanya Song Tiga, dan lelaki tua itu dipanggil Zhou Dua?”
Mucikari itu segera mengangguk,
“Betul, memang itu namanya. Walau saya hanya urusan dagang dengan mereka, dan mereka jarang menyebutkan nama aslinya di sini, saya pernah mendengarnya.”
Du Buwang yang tak terlalu paham urusan dunia persilatan, hanya menatap bingung. Melihat itu, Bayangan Bunga berkata,
“Tuan Muda Kecil, meski jarang keluar, rupanya tahu banyak urusan dunia persilatan.”
Mendengar Bayangan Bunga memanggil pemuda di belakangnya sebagai Tuan Muda Kecil, mucikari itu langsung berlutut dan membenturkan kepalanya,
“Tuan Muda Kecil, ampunilah saya. Umur saya sudah tua, kasihanilah saya, tolong maafkan hidup saya.”
Berkali-kali mucikari itu membungkukkan badan ke arah Zhu Housong. Zhu Housong berkata,
“Sudah, aku tahu kau pandai bersandiwara. Mau membungkuk pun aku tak akan melarang.”
Mendengar itu, mucikari langsung berhenti membungkuk.
Zhu Housong tidak lagi menghiraukannya, lalu menoleh ke Du Buwang,
“Dulu, Perkumpulan Kaki Besi adalah salah satu dari tiga kelompok besar di Danau Tai, bersama Perkumpulan Penolong Dunia dan Daftar Pemberi Derma. Ketiganya di daerah Danau Tai terkenal suka merampok dan menyelundupkan garam laut. Tapi dua tahun lalu, Perkumpulan Kaki Besi diam-diam menjual garam laut, ketahuan dua kelompok lain, terjadilah perang besar. Akhirnya mereka kalah dan lenyap, rupanya diam-diam bersembunyi dekat Gunung Wudang dan berbuat jahat di sini.”
Du Buwang bertanya,
“Jadi mereka memang Perkumpulan Kaki Besi, apakah mereka memang lihai dalam ilmu kaki besi?”
Bayangan Bunga yang sedari tadi diam, menimpali,
“Benar, nyonya kedai itu jago ilmu kaki besi, sementara lelaki tua itu lengannya sekuat kaki besi. Kalau mereka bekerja sama, bahkan ahli hebat sekalipun akan kesulitan menghadapi mereka.”
Du Buwang berkata,
“Sepertinya kita tidak bisa melawan secara terang-terangan. Apa mereka punya kelemahan?”
Bayangan Bunga berpikir sejenak lalu berkata,
“Kudengar mereka punya anak laki-laki berumur enam tahun, sangat mereka sayangi. Bagaimana kalau nanti aku mengalihkan perhatian mereka, kalian cari anak itu. Begitu kalian temukan, mereka pasti menyerah.”
Du Buwang ragu,
“Bukankah mengancam dengan anak kecil itu tidak pantas?”
Zhu Housong menimpali,
“Melawan kejahatan harus pakai cara kejahatan juga. Mana ada bicara soal kepantasan? Lagipula, siapa tahu berapa banyak pelancong yang sudah mereka celakai setahun ini.”
Tiba-tiba seseorang menerobos masuk dan langsung menendang mucikari, hingga ia menjerit-jerit. Ternyata itu Liu Shuzhen. Ia menendang mucikari itu dua kali sambil memaki,
“Perempuan tua keparat, gara-gara kau, nama baikku hampir hancur. Akan kubuat kau celaka!”
Ia pun mengeluarkan gunting entah dari mana dan hendak menusukkan ke kepala mucikari, namun Zhu Housong segera menahan dan menarik Liu Shuzhen ke samping untuk menenangkan.
Du Buwang melihat mucikari telah ketakutan setengah mati, berkata,
“Kau, mucikari tua, anggap saja kau sudah dapat pelajaran. Kalau kudengar lagi kau menculik gadis baik-baik, aku takkan ampuni.”
Setelah berkata begitu, mereka pun keluar dari Rumah Kupu-Kupu Musim Semi menuju Kedai Arak Tamu Datang.
Di jalan yang gelap gulita, Du Buwang dan Bayangan Bunga berjalan di depan, Zhu Houzhao dan Liu Shuzhen di belakang. Bayangan Bunga bertanya pada Du Buwang,
“Apa yang kau katakan di Rumah Kupu-Kupu Musim Semi tadi sungguh-sungguh?”
Du Buwang terdiam sejenak, lalu menjawab,
“Yang mana?”
Bayangan Bunga berkata,
“Soal aku istrimu.”
Du Buwang malu-malu,
“Itu sengaja kukatakan agar mucikari itu percaya. Waktu itu kau bilang aku tunangamu pada kaisar, apa itu juga sungguh?”
Du Buwang balik bertanya.
Bayangan Bunga menjawab,
“Andai benar, bagaimana? Andai tidak, lalu kenapa?”
Du Buwang tak menjawab lagi.
Saat itu Zhu Housong mendekat dan berkata,
“Jadi identitasku sebagai Tuan Muda Kecil sudah kalian ketahui. Kuharap kalian bisa merahasiakan, panggil saja aku Zhu Dua.”
Selesai bicara, mereka pun tiba di depan Kedai Arak Tamu Datang. Tak ada seorang pun di depan pintu. Mereka menjalankan rencana yang sudah disepakati sebelumnya di Rumah Kupu-Kupu Musim Semi. Du Buwang yang khawatir pada keselamatan Bayangan Bunga, ingin menjadi pengalih perhatian, tetapi akhirnya tak bisa membantah kehendak Bayangan Bunga.
Bayangan Bunga pun mengetuk pintu. Setelah lama, seorang lelaki tua berumur enam puluhan membuka pintu—itulah Zhou Dua.
Melihat Bayangan Bunga, Zhou Dua memandang ke sekeliling lalu berkata,
“Bukankah tadi kau di Rumah Kupu-Kupu Musim Semi? Kenapa kembali? Apa mucikari menyuruhmu kemari?”
Bayangan Bunga menjawab,
“Benar, mama menyuruhku kemari.”
Ia pun bertanya,
“Mama menyuruhku mencari Song Tiga, kenapa dia tidak kelihatan?”
Zhou Dua pun memanggil Song Tiga. Tak lama kemudian, Song Tiga yang mengenakan baju tidur putih panjang keluar, diikuti Zhou Dua. Jelas ia baru saja bangun dari tidur.
Bayangan Bunga berkata pada Song Tiga,
“Kali ini mama menyuruhku menyampaikan urusan besar. Bisakah kita bicara di tempat tersembunyi?”
Song Tiga menjawab,
“Ayo ke kamarku saja.”
Ia hendak menarik Bayangan Bunga ke kamar sebelah.
Bayangan Bunga menolak,
“Kamar tidak cocok untuk bicara, lebih baik kita cari tempat lain. Bagaimana kalau di taman?”
Memang, ia sudah berniat mengajak Song Tiga ke taman belakang agar rencana Du Buwang dan kawan-kawan berjalan lancar.
Zhou Dua tiba-tiba berkata,
“Di belakang kedai memang ada taman, kalian berdua ke sana saja.”
Song Tiga setuju,
“Benar, di taman saja.”
Setelah itu, Song Tiga kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Bayangan Bunga berkata pada Zhou Dua,
“Kami berdua perempuan, malam-malam ke taman rasanya tidak aman. Bisakah Zhou Dua ikut melindungi?”
Zhou Dua ragu sejenak,
“Aduh, tadinya aku mau menjaga anak, tapi toh anak juga sedang tidur. Baiklah, aku temani kalian.”
Tak lama kemudian, Song Tiga muncul dengan mantel hijau. Ia memberi isyarat pada Zhou Dua untuk kembali menjaga anak, tapi Zhou Dua menjelaskan alasannya. Song Tiga diam saja. Setelah menutup pintu, mereka berjalan ke taman belakang.
Du Buwang dan kawan-kawan menunggu mereka pergi agak jauh, lalu mendekati pintu dan mencari cara membukanya. Zhu Dua menemukan sebuah batu, lalu bersama Du Buwang mereka menghancurkan pintu itu. Begitu masuk ke kamar, mereka melihat anak laki-laki enam tahun masih lelap, dan tumpukan emas, perak, permata, serta kipas batu giok hasil curian siang tadi, tergeletak di samping tempat tidur. Mereka mengambil kembali barang-barang itu, dan menyuruh Liu Shuzhen menggendong anak itu, lalu menuju ruang tengah.
Namun rasa puas belum juga datang, mereka meletakkan barang-barang lalu menghancurkan isi ruang tengah hingga berantakan. Setelah itu, mereka pindah ke ruang belakang, membantu para pendeta mabuk keluar dari kedai, lalu kembali memecahkan kendi-kendi arak besar sampai arak membanjiri ruang belakang, barulah mereka merasa puas.