Jaminan keamanan
Melihat teman-temannya begitu kooperatif, Heria merasa sangat lega. Setidaknya kali ini mereka tidak melewatkan kesempatan untuk menyelamatkan nyawa. Dengan mengamati reaksi teman-teman, ia menyadari bahwa Kacang Hijau cukup mempercayainya, sedangkan Wulan tidak begitu percaya—ia hanya menurut karena khawatir akan keselamatan dirinya sendiri. Pandangan Liang Heng dan Li Gang hampir sama dengan Wulan, mereka merasa lebih baik percaya daripada mengabaikan, dan pencegahan jauh lebih penting.
Namun, setelah ini bagaimana? Dalam keadaan sadar, Heria tidak bisa melihat makhluk-makhluk aneh itu, sedangkan saat bermimpi pikirannya tidak terlalu jernih, banyak hal terasa aneh—pertanyaan yang sudah ia siapkan di siang hari untuk ditanyakan pada makhluk aneh itu, justru terlupakan dalam mimpi. Tidak ada yang bisa memastikan, apakah para roh jahat akan kembali untuk memberi tanda dan nomor. Tidak mungkin juga seluruh tubuh dilumuri darah ayam.
Kacang Hijau berkata, "Mungkin sekarang di salah satu bagian tubuhku ada lagi papan kecil bertuliskan angka, hanya saja kita semua tak dapat melihatnya."
Wulan menimpali, "Memang ada kemungkinan seperti itu. Lantas, apa yang harus kita lakukan?"
Li Gang berkata, "Katanya roh-roh jahat tidak bisa masuk ke dalam kuil. Bagaimana kalau kita tinggal di vihara, menyumbang sedikit uang pada para biksu, lalu minta izin tidur di bawah patung Dewi Welas Asih?"
Liang Heng berkata, "Masak mau seumur hidup tinggal di kuil?"
Heria berkata, "Aku masih punya beberapa jimat di sini, katanya bisa mengusir roh jahat. Masing-masing ambil satu dan tempelkan di punggung, bisa juga diselipkan antara jaket dan pakaian dalam, mungkin bisa menjamin keselamatan."
Empat lembar jimat langsung habis dibagikan. Wulan bertanya, "Kalau kertas ini tipis sekali, kalau nanti rusak bagaimana?"
Kacang Hijau menimpali, "Nanti saja dipikirkan. Kalau kita masih hidup saat jimat itu rusak."
Liang Heng berkata, "Jangan bicara yang pesimis, kita harus lebih percaya diri."
Li Gang menambahkan, "Kita cari saja guru spiritual itu, beli jimat lebih banyak, ganti tiap tiga hari sekali."
Heria berkata, "Ide yang bagus."
Setelah kembali ke sekolah, kantin masih belum tutup, mereka pun segera mengambil makan malam. Heria mendapati porsi makanannya kali ini lebih banyak dari biasanya, walau agak dingin. Ternyata, sama juga dengan kotak makan Kacang Hijau dan Wulan—sepertinya staf kantin malas membuang sisa makanan, daripada memberikannya ke tong sampah untuk babi, lebih baik diberikan pada siswa.
Saat makan, Kacang Hijau menanyakan tentang Guru Spiritual Yang Zhengang. Heria menceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan.
Kacang Hijau berkata, "Jadi, kamarmu sudah dipasangi jimat pelindung, pasti aman. Bagus, malam ini aku dan Wulan ikut menginap di kamarmu. Jangan berpikiran yang aneh, juga jangan punya niat buruk. Kami hanya ingin merasa aman."
Heria menjawab, "Sangat senang kalian mau datang. Tapi, kita harus hati-hati, jangan sampai pengurus asrama tahu."
Kacang Hijau berkata, "Kita tidak usah ikut belajar malam, setelah makan malam langsung ke kamarmu. Biasanya penjagaan tidak terlalu ketat, jadi lebih mudah masuk."
Wulan menimpali, "Katanya kau tinggal sendirian, masih ada lima ranjang kosong. Tidakkah kau takut di malam hari?"
Heria menjawab, "Kadang-kadang memang takut."
Li Gang bertanya, "Masih ada ranjang kosong, boleh aku juga pindah ke kamarmu?"
Liang Heng berkata, "Aku suka suasana ramai, biar aku juga ikut."
Kacang Hijau berkata, "Ini sepertinya sudah terlalu ramai. Kalau sampai guru tahu, bagaimana menjelaskannya?"
Liang Heng berkata, "Asal kita tidak membuat keributan dan tetap jujur, sekalipun kepala sekolah tahu, toh tidak masalah."
Li Gang berkata, "Aku punya satu set mahjong, bisa kita bawa untuk main bersama."
Heria berkata, "Bagus sekali."