Film horor
Liang Heng baru saja kembali dari kamar mandi, lalu melanjutkan ceritanya.
Setelah cangkirnya pecah, Xiaoyan menghentikan film yang sedang diputar di komputer, lalu bangkit dari kursi dan membungkuk membersihkan serpihan kaca. Tanpa sengaja, jarinya tertusuk dan berdarah. Ia terkejut melihat darah yang menetes di atas pecahan kaca itu perlahan menghilang, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Dengan kardus bekas burger, ia mengumpulkan serpihan kaca, membawanya ke dapur, dan membuangnya ke tempat sampah. Ketika hendak kembali, ia juga mampir ke kamar mandi. Karena merasa cemas dan takut, Xiaoyan sengaja menghindari bercermin; setelah selesai, bahkan ia tidak mencuci tangan, melainkan menunduk dan bergegas kembali ke depan komputer.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Padahal sebelumnya film sudah ia hentikan, tetapi kini film itu kembali diputar. Apa yang sedang terjadi? Ia berpikir mungkin saja ini fitur baru dari situs tempat ia menonton. Namun, alur cerita yang muncul tampak tidak nyambung dengan yang tadi, sebab tokoh utama perempuan dan laki-laki dalam film sudah mati dan berubah menjadi hantu. Mereka saling berpelukan, berguling-guling di lantai, menanggalkan semua pakaian hingga tubuh mereka yang kebiruan terlihat jelas, lalu mulai memperlihatkan adegan terlarang. Organ tubuh yang biasanya disamarkan, kini diperlihatkan tanpa sensor sama sekali.
Hal seperti ini jelas tidak seharusnya muncul di sebuah situs besar ternama. Namun, mungkin saja film ini baru saja diunggah dan belum sempat diperiksa oleh pengelola, atau pengawasannya kurang ketat sehingga lolos. Begitulah dugaannya.
Tapi adegan selanjutnya semakin vulgar dan aneh. Tokoh perempuan dalam film itu berkata ingin menonton televisi. Tiba-tiba, kepalanya terlepas dari badan, rambut panjangnya mengepul di udara, lalu kepala itu melayang, menghadap ke arah lain, sementara tubuh tanpa kepala itu tetap bermesraan dengan tokoh pria.
Xiaoyan merasa ada yang tidak beres. Ia tak berani melanjutkan menonton dan segera meraih mouse untuk menutup jendela film. Namun ia langsung sadar, komputernya seperti hang. Kursor mouse menghilang entah ke mana, digerakkan ke mana pun tak terlihat. Ia mencoba tombol keyboard, tapi tak ada reaksi.
Ia berpikir, mungkin satu-satunya cara adalah mematikan listrik dari colokan. Namun ia sempat ragu, bagaimana jika setelah listrik dimatikan, gambar di layar tetap ada? Bukankah itu berarti ada hantu?
Tak peduli lagi, ia akhirnya memutuskan untuk mematikan listrik. Dengan menahan napas, ia membungkuk dan meraih sakelar.
Tiba-tiba, suara lelaki samar dan lemah terdengar di belakangnya, “Jangan takut, ini cuma film horor, mari kita tonton sebentar lagi, terima kasih.”
Xiaoyan menjerit dan meloncat berdiri, menoleh ke belakang, tapi tak ada siapa-siapa, hanya tirai jendela yang melambai tertiup angin. Namun, sesuatu terasa janggal. Ia jelas ingat, saat hujan mulai turun tadi, semua jendela sudah ia tutup rapat.
Ketika melirik ke layar komputer, kini adegan sudah berganti. Bukan lagi dua hantu bermesraan, melainkan sekelompok besar hantu menumpuk membentuk gunungan kecil, berbuat sesuka hati, tampak sangat bahagia.
Xiaoyan merasa tak bisa membiarkan ini berlanjut. Ia memberanikan diri menginjak sakelar listrik dengan kaki. Gambarnya tetap ada, hanya saja berubah dari berwarna menjadi hitam-putih.
Ia pun membungkuk dan mencabut semua colokan. Tak ada gunanya, layar tetap menampilkan film hantu yang tak senonoh itu.
Dengan ketakutan hebat, ia berbalik dan berlari keluar. Namun karena panik, ia salah arah, hampir menabrak dinding. Anehnya, ia justru menembus dinding dan langsung masuk ke kamar mandi.
Di kamar mandi, ada sesosok mayat. Bagian atas tubuhnya terendam di bak mandi, pakaian yang dikenakan persis sama dengan milik Xiaoyan.
Saat itulah ia tiba-tiba menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Ternyata, ia sudah meninggal sekitar sepuluh menit lalu. Seusai dari kamar mandi tadi, ia terpeleset, terjatuh, kepalanya membentur tepi wastafel hingga pingsan, lalu kepalanya terendam dalam bak mandi dan akhirnya meninggal karena kehabisan napas.