Bab 144: Di Dalam Hatinya, Ada Dirinya
Malam begitu dingin bagai air. Rembulan yang terang bersinar tinggi di angkasa, menatap megah ke bumi, sementara cahaya bulan tercurah tanpa suara.
Di bawah temaram lampu, Gu Yuni menerima sebuah telegram. Setelah merampungkan dekode sandi pada pesan terakhir, ia mengernyitkan kening dan tenggelam dalam lamunan yang pekat.
Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Militer Jepang menyerbu Pearl Harbor, pasukan Amerika menderita korban jiwa yang sangat besar... Aduh, kekacauan sudah pasti tak terhindarkan. Situasi di Shanghai, apakah kawasan konsesi akan tertimpa bahaya?"
Gu Yuni merasa bulu kuduknya merinding, nyaris tak berani membayangkan kelanjutannya.
Ia memadamkan lampu meja dan kembali ke ranjang, bersiap untuk beristirahat.
"Bum, duar... bum, duar..."
Suara ledakan yang menggelegar membahana, membuat bangunan-bangunan bergetar hebat.
Beberapa orang mengira itu adalah gempa bumi, lalu berteriak ketakutan, "Tolong, selamatkan kami!"
Gu Yuni dibangunkan oleh kepala pelayan, lalu pergi ke paviliun di taman untuk melihat ke luar.
Para warga yang ketakutan berlarian ke jalanan. Suasana di jalan menjadi kacau balau, gaduh tak keruan, diwarnai tangisan orang-orang yang meratap.
Gu Yuni menajamkan pendengarannya. Selain suara tangisan, ia juga menangkap rentetan suara tembakan yang merapat.
Jantungnya berdetak kencang seketika. Ia membuka pintu belakang dan menerobos keluar.
Ia bergegas menembus lorong dan jalanan, melewati satu demi satu jalan raya, hingga tiba di depan kantor polisi yang kini tampak kosong melompong.
Petugas jaga yang terbangun dari tidurnya tampak kebingungan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dengan panik ia melapor ke atas, lalu tanpa pikir panjang ikut bergabung dalam barisan pemadam kebakaran.
Gu Yuni berlari ke jalanan. Di mana-mana kepulan asap mengepul tebal dan kobaran api membubung tinggi menembus langit.
Jalan-jalan yang dihujani bom mengalami kehancuran parah. Sebagian besar rumah hancur berkeping-keping atau roboh rata dengan tanah. Asap mesiu menyelimuti segalanya, meninggalkan pemandangan yang porak-poranda di setiap sudut. Udara dipenuhi debu pekat dan bau mesiu yang menyesakkan...
"Ayah... Ibu..."
Dari dalam sebuah bangunan reyot, terdengar suara tangisan seorang anak yang menjerit parau.
Gu Yuni mengikuti arah suara tersebut.
Orang-orang telah berkerumun di depan rumah itu. Keluarga ini sangat bernasib malang; sang suami menderita sakit parah, sang istri harus merawatnya, dan anak mereka masih sangat kecil. Sebuah bom tepat menghantam atap rumah itu, merenggut nyawa pasangan suami istri tersebut dan meninggalkan anak yang baru berusia tujuh atau delapan tahun ini sebatang kara.
Anak itu duduk di atas tanah, menangis histeris karena ketakutan.
Tak jauh dari sana, sebuah rumah lain mengalami kerusakan parah akibat ledakan. Seorang gadis kecil yang terkunci di dalam ruangan tewas mengenaskan.
Kerabatnya datang mencarinya, namun yang tersisa hanya serpihan jasad. Seseorang menangis histeris...
Udara dipenuhi aroma yang menyesakkan dada.
Genangan darah tampak di mana-mana.
Satu demi satu tragedi kemanusiaan yang disaksikannya membuat perasaannya semakin hancur.
Penderitaan yang begitu mendalam membuat dada terasa sesak hingga sulit bernapas.
Gu Yuni menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan sesak di dadanya.
Di tengah gelora peperangan, betapa menderitanya rakyat jelata!
Melihat dan mengalami begitu banyak hal, Gu Yuni mengira dirinya telah menjadi mati rasa dan kebal terhadap rasa sakit. Namun entah mengapa, menyaksikan pemandangan yang begitu tragis ini, hatinya tetap tak sanggup menanggungnya.
Gu Yuni ikut membantu mengevakuasi para korban yang terluka.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, ia mulai merasa kesulitan bernapas, hingga akhirnya terjatuh terduduk di atas tanah.
"Hei, ada apa denganmu? Cepat bangun!"
Dalam kesadarannya yang mulai kabur, ia merasa seseorang sedang menarik tubuhnya.
"Oh... aku..."
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Bibirnya terbuka, namun suaranya sekecil dengungan nyamuk, sementara tubuhnya terasa sangat lemas tak bertulang.
"Ada apa denganmu? Apakah kamu merasa sangat kesakitan? Katakan padaku!"
Ia mendongakkan kepalanya, mendapati seorang dokter wanita berwajah bulat yang mengenakan jas putih sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
Ia merasa wajah itu tidak asing, namun tidak bisa mengingat di mana ia pernah melihatnya.
Ia membuka mulut untuk berbicara, tetapi suaranya tidak keluar. Dadanya terasa sangat sesak dan nyeri bergelombang.
"Kenapa, tidak bisa bicara?" tanya dokter wanita itu cemas.
Gu Yuni mengerahkan seluruh sisa tenaganya, berusaha menganggukkan kepala.
"Kamu... sepertinya kamu keracunan!" kata sang dokter wanita.
Keracunan? ... Bagaimana mungkin?
Ia merasa hal itu sedikit menggelikan, sementara dadanya terasa semakin sesak.
"Tunggulah di sini, jangan bergerak! Usahakan untuk tetap tenang, aku akan mencarikan sebuah tandu untuk membawamu!"
Usai berkata demikian, dokter wanita itu berlari pergi dengan tergesa-gesa.
Apakah aku keracunan? Sepertinya memang benar.
Bagaimana bisa keracunan?
Militer Jepang tidak hanya menjatuhkan bom, tetapi juga menyebarkan racun. Bau menyengat yang diciumnya di udara tadi, mungkinkah itu gas beracun?
Kepanikan melanda hatinya.
Ia berusaha keras untuk tetap tenang, bagaikan seorang yang hampir tenggelam dan mati-matian mencoba meraih sesuatu. Ia mengangkat pandangannya, mencari-cari apakah ada orang di sekitar yang bisa menolongnya.
Dalam radius beberapa meter, tidak ada seorang pun!
Ia merasa sedikit putus asa.
Tidak, aku harus bertahan!
Ia mencoba memikirkan hal-hal yang sangat indah untuk mengalihkan perhatiannya, agar terhindar dari kepanikan di dalam hatinya.
Kenangan indah yang terukir antara dirinya dan Wu Shanyun...
Wu Shanyun, jika ia tidak melihatku, ia pasti akan sangat cemas!
Ia merasa sangat menyesal, mengapa selama ini ia tidak berani dengan jujur mengakui bahwa ia menyukai pria itu?
Jika ia benar-benar tidak tertolong, akan ada penyesalan yang mendalam di hatinya.
Ia sama sekali tidak boleh jatuh pingsan...
Begitu pingsan, ia benar-benar tidak akan bisa diselamatkan lagi!
Ia terus mengatakan hal itu pada dirinya sendiri.
Mengapa dokter itu belum juga kembali? Mungkinkah ia meninggalkannya dan tidak memedulikannya lagi?
Rasa takut yang tak terlukiskan merenggut hatinya.
Ia membuka mulutnya dan berteriak sekuat tenaga, "Tolong, adakah seseorang di sini?"
Suaranya begitu lemah bagaikan semut, tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya.
Ia terkulai lemas, melirik dengan pandangan sayu ke samping...
Tidak jauh dari sana, sekelompok orang berlari kesana-kamari dengan putus asa. Tak seorang pun yang berhenti barang sedetik untuk meliriknya.
Memandang orang-orang itu yang tampak tiada berkesudahan...
Hatinya merasa amat putus asa, dan ketakutannya semakin menjadi-jadi.
Aku tidak ingin mati, siapa pun tolong selamatkan aku!
Ia berjuang menatap orang-orang di kejauhan itu. Mereka masih sibuk bekerja, tetapi tidak ada satupun yang datang mengurusnya.
Ia hampir tidak sanggup bertahan lagi.
Ayah, maafkan aku! Anakmu ini tidak berbakti, sepertinya aku tidak akan bisa bertahan... Ayah, jaga diri baik-baik.
Butir-butir keringat sebesar biji jagung mengalir turun.
Air mata yang besar menetes satu demi satu.
Kesedihan yang luar biasa, berpadu dengan keengganan yang teramat sangat untuk meninggalkan dunia ini.
"Wu Shanyun, maafkan aku..." Ia mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk bergumam lirih, "Aku... sebenarnya aku menyukaimu..."
Ia merasa sangat kelelahan, lalu memejamkan matanya. Tubuhnya terhuyung ke samping dan nyaris ambruk ke tanah.
Seketika itu juga, sepasang tangan yang lembut menopang tubuhnya dengan kuat.
"Hei, Nona, Anda harus bertahan! Kuatkan diri Anda, jangan tidur, jangan beristirahat, jangan berbicara! Ini hanya membuang-buang tenaga Anda, kenapa Anda tidak mendengarkan?"
Gu Yuni mendongakkan pandangannya. Ah, dokter wanita tadi!
Ia menatapnya, merasakan kehangatan yang luar biasa. Air mata membasahi matanya, dipenuhi rasa terima kasih yang mendalam.
Ia bagaikan seorang peri, tidak, dia memang seorang peri! Sungguh, lembut, cantik, dan berhati malaikat.
Ia ingin mengucapkan terima kasih, membuka bibirnya untuk bergerak, namun suaranya terlalu kecil hingga tak seorang pun bisa mendengarnya.
"Jangan bicara!" Dokter wanita itu menahannya. "Pelan-pelan, angkat dia ke atas tandu, segera bawa ke rumah sakit!"
Dokter wanita itu memberi instruksi untuk menyelamatkannya. Suaranya terdengar begitu merdu dan menenangkan.
Ia dibaringkan di atas tandu, lalu dibawa melangkah pergi.
Ia selamat, semuanya akan baik-baik saja.
Hatinya mendadak menghangat, merasakan sensasi bagaikan terlahir kembali. Kegembiraan membuncah di dalam hatinya.
Setelah aku sembuh nanti, aku harus berterima kasih kepada dokter itu!
Seorang perawat datang untuk memberinya infus, sementara perawat lainnya menyuapinya sedikit makanan cair.
Perawat itu berkata, "Nona, masa kritis telah terlewati. Jika Anda mengantuk, Anda bisa beristirahat sejenak."
Rasa kantuk yang pekat menyerangnya. Ia memiringkan kepalanya dan tertidur, seraya bergumam pelan,
"Wu Shanyun, semoga kamu baik-baik saja di kantor polisi... Kamu harus selalu baik-baik saja, baik-baik saja..."