Bab 140: Berbicara dari Hati ke Hati
Di atas lemari di sisi barat ruang kerja, sebuah radio hitam berdengung lirih. Dari dalam kotak hitam itu terdengar opera Peking karya Maestro Mei, “Kemabukan Selir Bangsawan”.
Zhou Fohan membelakangi Chu Yuanqiao. Jemarinya mengetuk-ngetuk pelan mengikuti irama opera dari radio.
Chu Yuanqiao tidak dapat melihat ekspresinya.
Yuanqiao mengangkat pandangan. Di cermin lemari buku yang terletak serong di seberang, tampak sorot mata dingin di balik kacamata berbingkai hitam. Sorot itu berkilat-kilat, hitam-putihnya begitu jelas, dingin dan tajam, sampai-sampai hawa beku terasa menerpa wajah.
Hati Chu Yuanqiao menegang. Keringat halus merembes di dahinya. Dengan terbata-bata ia berkata, “Saya... saya, mengapa harus meninggalkan kantor polisi?”
“Sekretaris Chu, kau tak perlu gugup.”
Kegugupan dan kecanggungan Chu Yuanqiao tidak luput dari pengamatan Zhou Fohan.
Zhou Fohan meliriknya dengan senyum samar, lalu mengangkat cangkir teh hijau Biluochun dari meja dan menyesapnya. “Kau bukan baru hari ini bekerja denganku. Kita seharusnya berbicara dari hati ke hati. Hari ini, aku bukan atasanmu dan kau bukan sekretarisku. Anggap saja aku seorang teman. Kalau salah bicara, aku tak akan menghukummu. Katakan saja dengan berani!”
Ia masih sedang mengujinya. Tidak boleh membuatnya menunggu terlalu lama.
“Kepala Chen memperlakukan saya dengan baik. Mengapa saya harus meninggalkannya?”
Setelah menenangkan diri, Chu Yuanqiao mengangkat wajah. “Dulu saya pernah lancang berkata bahwa saya telah memilih untuk mengikuti Komandan Zhou, karena saya merasa masa depan saya akan lebih cerah jika berada di bawah bimbingan Komandan. Itu sungguh-sungguh dari hati, sama sekali bukan kebohongan.
“Kepala Chen adalah orang yang baik. Hubungannya dengan mertua saya juga akrab. Mengikutinya memang tidak berarti saya bisa hidup mewah, tetapi setidaknya kebutuhan sandang dan pangan saya pasti terjamin. Namun, justru di situlah keterbatasannya.
“Saya masih muda. Sewajarnya saya ingin mencapai sesuatu dan memiliki lebih banyak pilihan. Sekarang, jika saya hanya menetap di kantor polisi, makan tanpa bekerja dan menunggu ajal, hidup seperti itu sungguh terlalu membosankan.”
“Hmm, aku bisa mendengarnya. Kau benar-benar tidak betah hidup tenang!”
Nada suara Zhou Fohan terdengar datar. Tak jelas apakah ia menyetujui perkataan Yuanqiao atau justru merasa muak.
“Seperti kata pepatah, manusia mendaki ke tempat yang lebih tinggi, sementara air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Saya tidak mengingkari kebenaran ataupun melanggar prinsip sebagai manusia. Saya hanya memilih jalan yang berbeda, dan pilihan itu tidak merugikan siapa pun. Mengapa tidak boleh?”
Chu Yuanqiao menatap lurus ke depan.
“Bukankah itu berarti kau selalu menganggap gunung di kejauhan lebih tinggi, tak pernah puas dengan yang telah dimiliki, dan mudah berpaling?” Zhou Fohan memasang wajah kaku. “Kelak, jika kau bertemu orang yang lebih cakap, mungkin kau akan kembali mengubah pikiran?”
Apakah Zhou Fohan khawatir suatu hari nanti ia akan berpindah haluan? Khawatir dirinya tidak cukup setia?
Chu Yuanqiao segera bangkit dan berdiri tegap. “Komandan memiliki kendali yang luar biasa tepat atas keadaan politik. Sumbangsih Komandan begitu besar hingga tak seorang pun mampu menandinginya. Dalam membaca waktu dan menilai perubahan situasi, berapa orang yang mampu menyamai Komandan? Lihatlah Tiongkok hari ini—berapa banyak orang yang dapat melampaui Komandan?
“Jika kebijaksanaan sebesar milik Komandan tidak saya ikuti, bukankah itu berarti saya buta menilai dan tidak tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?”
“Hmm, lanjutkan!”
Wajah Komandan Zhou seketika melunak.
Pujian yang benar-benar melambung ke langit!
Diam-diam Chu Yuanqiao mengagumi dirinya sendiri. Setelah mendengar sanjungan sebesar itu, hati Zhou Fohan pasti terasa amat puas.
Namun, demi menjaga wibawa sang komandan dan kewibawaannya di hadapan orang lain, Zhou Fohan sengaja memasang sikap angkuh seolah-olah berada jauh di atas semua orang.
“Anak muda, wawasanmu masih dangkal! Orang yang lebih cakap dariku, lebih bijaksana, berpandangan lebih tajam, dan berwawasan lebih luas, jumlahnya sangat banyak.”
Wajahnya tampak ramah. “Kau mampu melihat keadaan dunia politik saat ini. Itu menunjukkan bahwa kau memiliki pikiran. Kau juga tidak rela hidup biasa-biasa saja. Ambisimu tidak kecil, ya.”
“Ko... komandan...”
Mendengar kata “ambisi” diucapkan seperti itu, Yuanqiao kembali terbata-bata. “Saya hanya mendapat sedikit kehormatan karena mengikuti Komandan. Saya hanya berusaha mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Dari mana datangnya ambisi?”
“Mengakui bahwa dirimu memiliki ambisi bukanlah hal buruk.”
Zhou Fohan tersenyum, sama sekali tidak menganggapnya penting. “Yang penting, kau harus memikirkan baik-baik langkah berikutnya. Apakah kau akan bekerja secara rutin dan patuh tanpa banyak bicara, atau menggunakan otakmu lebih banyak dan bertindak secara aktif?”
“Bert... bertindak?!” Chu Yuanqiao menatapnya dengan mata terbelalak. “Saya bodoh dan lamban, sungguh tidak memahami maksud Komandan.”
Cara bicara Zhou Fohan membuatnya semakin sulit mengerti.
“Ungkapan itu tidak dapat dipahami hanya dari arti harfiahnya.” Zhou Fohan menundukkan kepala sambil menyesap teh. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya muram. “Kau harus bersiap secara mental. Dalam bertindak, jangan terpaku pada bentuk atau aturan. Kau harus tahu bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan.”
“...”
Chu Yuanqiao semakin tidak mengerti.
Bagaimanapun juga, ia bukan cacing di dalam perut Zhou Fohan. Mengapa pria itu tidak mengatakannya dengan lebih jelas? Sebenarnya apa maksudnya?
Keduanya terdiam. Keheningan berlangsung cukup lama.
Pintu ruang kerja tertutup rapat. Tidak ada sedikit pun aliran udara. Seolah-olah seluruh udara di ruangan telah membeku.
“Komandan... saya...”
Yuanqiao membuka mulut, lalu kembali menghentikan kata-katanya. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Zhou Fohan tampak sedang memusatkan pikiran pada sesuatu. Barangkali ia juga menyadari bahwa suasananya mulai tidak beres.
Ia mengangkat pandangan. “Hari ini kita hanya mengobrol santai sebagai teman. Aku sekadar berbicara tanpa maksud tertentu. Jangan terbebani. Kau adalah sekretarisku. Mengetahui maksud atasan adalah bagian dari tugasmu. Apa pun yang kuperintahkan harus kau kerjakan dengan baik. Jangan ceroboh.”
Yuanqiao berkata, “Komandan, tenang saja! Saya pasti akan mengabdi sampai napas terakhir—”
Pada saat seperti ini, jangan pedulikan apakah kata-kata itu terdengar kuno atau berlebihan. Selama terdengar menyenangkan, ucapkan saja.
“Sudahlah, tak perlu menyatakan kesetiaan.”
Zhou Fohan mengangkat pandangan dan melambaikan tangan, memberi isyarat agar Yuanqiao duduk. “Kita kembali ke pembicaraan semula. Sekarang kita bicarakan urusan yang sebenarnya.”
“Ah? ... Oh.”
Chu Yuanqiao mengangkat kepala, lalu menundukkannya kembali.
Jadi, begitu banyak perkataan tadi bukan semata-mata untuk menguji kesetiaannya. Ada hal-hal lain pula—wawasan, keberanian, nyali, dan sebagainya?
“Sebagai sekretaris, tugasmu bukan hanya mengurus satu kompi pengawal. Kau juga harus membentuk satu pasukan bersenjata khusus untuk menghadapi keadaan yang mungkin muncul sewaktu-waktu.”
Zhou Fohan menatapnya dengan wajah serius. “Mulai sekarang, kau harus mulai mencari orang-orang yang tepat. Mereka harus setia, memiliki kemampuan bertarung yang baik, berani, berwawasan, dan mampu mengejutkan musuh serta menaklukkannya...”
Zhou Fohan terus berbicara perlahan, sementara Chu Yuanqiao mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan mencatatnya dengan teliti satu per satu.
Chu Yuanqiao bukan orang yang daya ingatnya buruk. Sebaliknya, hampir semua hal yang pernah didengarnya dapat ia ingat tanpa pernah terlupa.
Namun, ia belum pernah menjadi sekretaris. Karena itu, ia harus bertingkah seperti seorang sekretaris baru.
Sikapnya yang begitu serius semakin membuatnya tampak seperti sekretaris yang cakap. Ia bukan semata-mata sedang mencari muka, melainkan juga berusaha perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan peran barunya.
Setelah Zhou Fohan selesai berbicara, Chu Yuanqiao menutup catatannya.
Ia mengangkat kepala dan bertanya, “Komandan, apakah masih ada yang ingin ditambahkan?”
“Hmm, hanya itu.”
Zhou Fohan mengangguk puas. “Persiapkan semuanya sesuai dengan yang kukatakan, satu per satu, mulai sekarang. Pasukan harus dilatih pada hari-hari biasa agar siap digunakan pada saat genting. Kalau sudah tiba saatnya membutuhkan orang dan tak seorang pun dapat diandalkan, itu akan menjadi hal yang memalukan.”
“Baik. Saya akan segera mulai mempersiapkannya.”
Chu Yuanqiao mengangkat pandangan, lalu berkata lagi, “Selain itu, saya ingin menanyakan sesuatu kepada Komandan.”
“Katakan!”
“Beberapa rekan di kantor polisi—Hu Feng dan yang lainnya—memiliki kemampuan bertarung yang baik. Apakah mereka boleh dijadikan calon cadangan?”
“Karena urusan ini sudah kuserahkan kepadamu, aturlah sesuai pertimbanganmu.”
Percaya kepada orang yang telah dipilih, dan jangan memakai orang yang diragukan—itulah prinsip Zhou Fohan dalam memilih bawahan.
“Baik!”
Chu Yuanqiao bangkit, memberi hormat, lalu meninggalkan ruang kerja sambil menutup pintu di belakangnya.
Zhou Fohan mengawasinya hingga sosoknya menghilang. Kemudian ia menoleh dan menatap peta di dinding sambil tenggelam dalam lamunan.