Bab 116: Seluruh Dunia Sudah Jengkel
Pabrik sedang berhenti beroperasi. Sun Guoyi pun mengajak sekelompok buruh yang sedang tidak punya pekerjaan untuk memikirkan cara menekan biaya produksi.
Sebenarnya, mereka hanya mencari kesibukan. Alur produksinya sudah baku; kalau ingin meningkatkan kapasitas sekaligus menurunkan biaya, satu-satunya jalan adalah mengurangi kualitas. Namun Li Fanyu, sang pemilik, telah menetapkan standar yang sangat ketat. Apa pun boleh dikorbankan, kecuali kualitas.
Jadi, persoalan ini memang tidak punya jalan keluar. Tetapi menganggur juga bukan pilihan. Tidak mungkin sekelompok buruh terus menerima gaji tanpa bekerja dan hanya beristirahat di rumah.
Zhengxin Power sekarang bahkan belum memiliki jaringan penjualan. Mereka juga hanya punya satu produk, yaitu ZGX888. Tanpa pesanan, mesin-mesin itu hanya bisa teronggok begitu saja.
Membangun perusahaan sama saja seperti menjadi orang tua. Melihat anak sendiri hidup segan mati tak mau, siapa yang tidak merasa perih?
Li Fanyu sendiri semakin melihatnya, semakin naik pitam. Setelah menelepon Anning dan mengetahui bahwa di pihak sana pun belum ada kemajuan, ia akhirnya ambruk sendirian di kantornya.
Menatap awan putih yang berubah-ubah di balik jendela, ia tak kuasa bertanya pada diri sendiri: apakah langkahnya terlalu besar?
Sejak memperoleh Xapp, ia sudah terbiasa mengandalkan teknologi canggih itu untuk melaju mulus. Kini, ketika ingin mengandalkan sumber daya yang dimilikinya sendiri untuk membuka jalan baru, mengapa semuanya terasa begitu sulit?
Sebenarnya, hatinya diliputi pertentangan. Di satu sisi, ia berkali-kali diuntungkan oleh teknologi canggih dari Xapp. Di sisi lain, ia tidak ingin menjadi bergantung padanya, apalagi berubah menjadi pengikut Xapp. Pabrik ini sebenarnya lahir dari keinginannya untuk membuktikan diri. Setelah peningkatan sistem kali ini, ia masih memiliki satu kesempatan undian yang belum digunakan. Itu pun karena ia ingin mengandalkan kemampuannya sendiri dan bertarung sekali lagi.
Dilihat dari keadaan sekarang, semuanya memang sangat sulit. Ia sudah lama mendengar bahwa membangun usaha, terutama di bidang industri, adalah jalan yang penuh rintangan. Namun ia tidak menyangka kenyataannya akan sesulit ini.
Apakah ia menyesal?
Tidak.
Sejak awal, ia sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Teknologi canggih itu memang dapat membantunya mendapatkan modal awal dan mengembangkan usaha. Namun, untuk menempa besi tetap dibutuhkan kekuatan sendiri. Jika seseorang tidak pernah membangun fondasinya sendiri dan hanya mengandalkan keberuntungan untuk mencari makan, apa bedanya ia dengan industri otomotif dalam negeri yang penuh kepalsuan itu?
Kalau hanya ingin mendapatkan uang cepat, menjual mesin EA888 seharga beberapa ratus juta rupiah bukanlah hal yang sulit.
Namun jika terus-menerus hanya memikirkan uang cepat dan mengeruk keuntungan sesaat, cepat atau lambat akan tiba hari ketika semua sumber daya itu habis.
Memanfaatkan keunggulan Xapp sekaligus memperkokoh fondasinya sendiri—itulah arah perkembangan yang ia cita-citakan.
Jika dihitung-hitung, semua bisnis Zhengxin saat ini, baik mobil bekas maupun modifikasi, masih berkeliaran di pinggiran industri otomotif. Mendirikan pabrik dan memproduksi mesin sendiri adalah langkah pertamanya untuk benar-benar memasuki bidang ini, sekaligus menjadi tiket masuknya.
Namun sekarang tampaknya pintu itu benar-benar terbuat dari baja…
Setelah melamun sepanjang siang, waktu pulang kerja pun tiba. Baru ketika melihat para buruh gaduh menandatangani daftar kepulangan, Li Fanyu tersadar dari lamunannya.
Ia mengusap wajah lalu meregangkan tubuh dengan malas. Aduh, hari ini kembali berlalu tanpa hasil apa pun.
Baru saja ia mengenakan jaket luarnya, teleponnya berdering. Ketika melihat layar, ternyata Cheng Ke yang menelepon.
Belakangan ini ia selalu berkutat di laboratorium atau di pabrik, sehingga sudah lama tidak pergi ke kampus. Kabar tentang dirinya yang memproduksi mesin bahkan telah menyebar ke seluruh kampus. Para pimpinan universitas sekarang mungkin hanya tinggal membuat potretnya untuk dipajang di dinding. Seandainya bukan karena laboratorium dan urusan mesin yang membuat pihak kampus memberinya kelonggaran, mungkin ia sudah diperintahkan mengulang kuliah sejak lama.
Semua orang tahu ia sedang sibuk, jadi Cheng Ke juga jarang meneleponnya akhir-akhir ini.
Begitu melihat telepon dari Cheng Ke, Li Fanyu segera mengangkatnya.
“Halo?”
“Kak Fanyu, sedang sibuk?” tanya Cheng Ke dari seberang dengan ragu.
“Tidak. Aku baru mau pulang kerja. Ada perintah apa?” jawab Li Fanyu sambil tertawa.
“Aku sedang tidak enak hati. Ingin minum…”
Ck, mengapa belakangan ini semua orang sedang tidak enak hati? Minum arak juga bukan cara menyelesaikan masalah. Namun Li Fanyu cukup penasaran, masalah apa yang bisa membuat Cheng Ke—yang hatinya seluas tampah—murung seperti itu.
Karena itu, ia menyetujuinya dan naik taksi menuju Universitas Teknologi.
Setengah jam kemudian, Li Fanyu melihat Cheng Ke di depan gerbang kampus. Gadis itu tampil tanpa riasan dan sama sekali tidak ceria seperti biasanya. Sepasang mata almondnya yang jernih tampak sedikit memerah, seolah baru saja menangis. Padahal suhu malam itu hampir menyentuh nol derajat, tetapi ia hanya mengenakan pakaian tipis.
“Ada apa?” Li Fanyu segera menghampirinya. Ia melepaskan jaket lapangan dua-dalam-satu yang dikenakannya dan menyelimutkannya ke tubuh Cheng Ke.
Cheng Ke tidak menjawab. Ia langsung menarik Li Fanyu ke sebuah kedai barbeku terdekat, lalu tanpa banyak bicara memesan dua krat bir.
Li Fanyu melongo. Wah, ini sepertinya benar-benar ingin mabuk.
Ia buru-buru mencegahnya, lalu memanggil pelayan dan asal-asalan memesan berbagai hidangan dari menu.
Orang-orang Tiancheng memiliki kebiasaan makan yang sangat khas. Kalau diringkas dalam dua kata: kuat makan. Di tempat lain, barbeku biasanya sudah cukup untuk dijadikan makan malam. Namun orang Tiancheng berbeda. Barbeku umumnya disantap setelah makan malam, sebagai kudapan tengah malam. Karena itu, saat ini hanya Cheng Ke dan Li Fanyu yang berada di kedai tersebut.
Apa pun yang ditanyakan Li Fanyu, Cheng Ke tetap diam. Sambil menyantap sepiring irisan kentang panggang, ia menghabiskan tiga botol bir dalam waktu singkat.
Akhirnya Li Fanyu tidak tahan lagi. Ia merebut gelas dari tangan Cheng Ke dan membantingnya pelan ke atas meja.
“Cheng Ke, kalau kau terus begini, aku tidak akan menghiraukanmu lagi! Kalau ada masalah, katakan. Kalau kau diam saja, untuk apa menyuruhku datang?”
Setelah dibentak, lingkar mata Cheng Ke langsung memerah. Hidung kecilnya mulai tersengal-sengal, bibirnya mengerucut, dan ia tampak hendak menangis.
Melihat keadaan itu, Li Fanyu langsung panik.
“Eh, eh, eh, Ke Ke, jangan menangis! Maaf, kau sedang tidak enak hati, aku seharusnya tidak membentakmu. Aduh, jangan menangis, jangan menangis. Tadi pagi aku membaca lelucon yang sangat lucu di internet. Biar kuceritakan. Samsung, Xiaomi, dan Apple sedang duduk bermain kartu. Xiaomi mengeluarkan angka enam, Apple mengeluarkan angka tujuh, lalu Samsung naik pitam. Coba tebak, apa yang dikeluarkannya?”
Cheng Ke menatap wajah Li Fanyu yang kebingungan sambil mengoceh tak karuan. Tiba-tiba ia tertawa di sela tangisnya. Sambil mengusap air mata di sudut matanya, ia menjawab, “Bom…”
“Syukurlah, akhirnya kau mau bicara juga.” Li Fanyu mengusap keringat dan mengembuskan napas lega.
Namun setelah berpikir sejenak, Cheng Ke kembali mengerucutkan bibirnya. Air matanya pun jatuh lagi.
“Kak Fanyu, ayah dan ibuku mau bercerai…”
Li Fanyu menepuk wajahnya sendiri. Sial, krisis paruh baya.
Tidak ada yang bisa ia lakukan. Untuk masalah rumah tangga seperti ini, kemampuannya benar-benar terbatas. Ia hanya bisa menghibur Cheng Ke sambil menemaninya minum untuk melupakan kesedihan.
Tanpa terasa, dua krat bir telah tandas. Seperti yang sudah diduga, Cheng Ke mabuk.
Daya tahan Cheng Ke terhadap alkohol memang buruk, tetapi ia tidak pernah berulah saat mabuk. Ia hanya langsung tertidur.
Melihat Cheng Ke yang sudah sempoyongan dan hampir merangkak naik ke atas meja, Li Fanyu segera membayar tagihan. Setelah itu, ia menggendong si babi kecil yang mabuk tersebut menuju asrama.
Orang yang mabuk ternyata sangat berat. Dengan napas terengah-engah, Li Fanyu akhirnya tiba di bawah gedung asrama putri. Ia sedang kebingungan memikirkan cara mengantarkan Cheng Ke masuk ketika melihat seorang pria paruh baya yang sangat tampan berdiri di depan pintu asrama.
Pria itu melempar puntung rokok ke tanah, lalu melangkah cepat menghampiri mereka dengan wajah penuh amarah.