Bab 27: Dilema yang Berulang
Lin Lei baru saja selesai rapat, kasus ini benar-benar membuatnya puas; dari menerima laporan, menemukan mobil curian, hingga menangkap pelaku utama, seluruh prosesnya tidak sampai satu jam! Selama lebih dari dua puluh tahun berkarir di bidang kriminal, belum pernah sekalipun ia menangani kasus semudah ini.
Pimpinan di kepolisian maupun kota sangat memuji efisiensi kerja tim kriminal, dan sebagai tokoh utama di balik keberhasilan ini, suasana hati Lin Lei pun sangat baik. Begitu keluar dari ruang rapat, ia segera menyalakan telepon, "Halo? Li Fanyu, tadi aku sedang rapat. Ganggu apa, kamu justru pahlawan besar kami! Mobil-mobil selundupan itu mau diapakan? Tentu saja akan dilelang lewat pengadilan! Kenapa, kamu ada rencana?"
Li Fanyu bertanya dengan hati-hati, "Begini... aku mau tanya, kalau dilelang, kira-kira satu mobil bisa laku berapa?"
Lin Lei menghela nafas seolah giginya ngilu, "Tadi pagi aku sudah lihat mobil-mobil itu. Para bajingan itu memotong rangka mobil seperti kue, mesinnya pun rusak parah. Sebelumnya, mobil serupa yang dilelang pengadilan, kalau tidak ada kejutan, paling cuma laku beberapa puluh juta saja satu unitnya."
Li Fanyu sangat terkejut, "Semurah itu?!"
Lin Lei mengerutkan dahi, "Kamu jangan-jangan tertarik, mau beli buat dipakai sendiri? Dengar ya, jangan pernah beli mobil-mobil begitu. Biasanya yang beli itu bengkel besar, mereka bongkar buat diambil onderdilnya. Kalau dipakai sendiri, bahaya banget, sama saja bunuh diri."
Mendengar itu, hati Li Fanyu terasa hangat, buru-buru ia menjelaskan, "Bukan, bukan, pamanku kan punya bengkel, memang mau buat jual onderdil."
Barulah Lin Lei tertawa lepas, "Kalau gitu sih boleh. Sekarang kasusnya belum selesai, aku carikan infonya buat kamu. Kalau lancar, sekitar sepuluh hari-an, akan ada hasil. Kalau pengadilan sudah ada kabar, aku kasih tahu kamu duluan."
Selesai menutup telepon, Li Fanyu mulai berhitung dalam kepala. Ada lebih dari seratus dua puluh mobil, misal satu mobil laku delapan puluh juta, berarti totalnya lebih dari satu miliar! Uang di tangannya, hasil syuting film kemarin hanya empat ratus juta, ditambah uang saku dari ibunya dua juta, semuanya baru empat ratus dua juta...
Ia memandang sekeliling kamar asrama dengan lesu, si sulung sedang main game, si nomor dua sedang cuci celana, yang ketiga lagi seduh mi instan.
Ia berdeham, "Bro, aku mau minta bantuan nih."
Tiga sekawan itu tetap tak menoleh, "Apa, bilang saja!"
Li Fanyu, "Aku mau usaha besar, tapi kurang modal, bisa nggak kalian bantuin dikit?"
Tiga sekawan itu tetap saja tidak menoleh, "Berapa, bilang saja!"
Li Fanyu, "Kira-kira enam ratus juta..."
Ketiganya langsung menoleh, menatapnya lekat-lekat.
Lama hening, akhirnya si sulung angkat bicara, "Kalau kamu mau usaha, sebagai saudara aku pasti dukung!"
Si nomor dua dan tiga, "..."
Si sulung menepuk paha, berdiri, "Begini, Benben, kamu ke perempatan, cari mobil, tabrakin diri sampai mati, nanti malam bertiga kami bakar uang buat kamu di alam sana."
Si nomor dua dan tiga, "Betul!" "Iya, bener banget!"
Li Fanyu, "..."
Setitik uang saja bisa membuat pahlawan putus asa, apalagi ini enam ratus juta.
Li Fanyu terus menghitung-hitung, memikirkan saldo di rekening, lalu terbayang mobil-mobil mewah yang kinclong itu, hatinya berdenyut sakit.
Perasaannya mirip seperti punya sekelompok calon istri yang dirawat sejak kecil, tapi setengahnya akan direbut pria asing.
Aduh, rasanya sakit sekali.
Tak ada jalan keluar, Li Fanyu pun membuka aplikasi X.
Poinnya bertambah sekitar dua ratusan setiap hari, total sudah hampir seribu.
Tanpa berpikir pun tahu, itu pasti berkat para sopir taksi.
Barang-barang lain, tersusun rapi di sana, Li Fanyu membolak-baliknya. Semua harta miliknya ada di situ, tapi mengandalkan itu, mau dapat enam ratus juta dalam waktu singkat, itu hanya mimpi.
Masa iya dia harus bawa alat sedot dan semprotan cat, berdiri di pinggir jalan, tiap lihat mobil rusak langsung tanya, "Mau ketok magic, Pak? Lima ratus ribu sekali, sejuta bisa nginep..." Waduh, itu mah layanan khusus...
Saat ini, satu-satunya barang yang bisa menghasilkan untung besar dalam waktu singkat hanyalah alat pemulih komponen serba guna. Tapi syarat utamanya, dia harus bisa mendapat mobil selundupan itu dulu. Dan syarat untuk dapat mobil-mobil itu adalah mengumpulkan enam ratus juta dalam waktu singkat...
Yah, ini jelas lingkaran setan yang tak berujung.
Saat Li Fanyu sedang pusing mikirin uang, tiba-tiba layar ruangannya berkedip.
Dia mendekat; wah, ada misi baru!
"Poin Anda sudah mendekati 1000, akan naik ke level 3, Anda harus menyelesaikan misi prasyarat untuk naik. Isi misi: Di bidang otomotif, raih satu penghargaan apa saja. (Penghargaan harus diakui internasional)"
Astaga! Penghargaan yang diakui internasional kok dibilang 'apa saja'? Syaratnya seolah gampang tapi ujung-ujungnya sulit sekali, ini misi macam apa?!
Li Fanyu nyaris frustasi di ruang gelap itu, harus cari penghargaan di mana? Minimal kasih petunjuk dong! Masa cuma bunyi 'ting', disuruh langsung tantang dunia, masuk akal nggak sih?
Keluar dari ruang itu dengan perasaan kacau, Li Fanyu mulai berpikir dengan tenang, mencoba mengurai masalah satu per satu. Misi itu harus dijalankan, kalau tidak, level tidak bisa naik, pohon teknologi pun akan berhenti.
Sekarang, hal utama yang perlu ia cari tahu adalah, di mana bisa mendapatkan penghargaan otomotif.
Li Fanyu menyalakan komputer, dengan cepat mencari apakah ada pameran atau forum otomotif dalam waktu dekat.
Setelah setengah jam mencari, akhirnya ia menemukan informasi berguna.
"Pameran Otomotif Frankfurt, akan digelar September tahun ini..."
Astaga, masa disuruh ke Frankfurt? Itu pameran mobil terbesar di dunia, setara olimpiade industri otomotif! Hampir semua produsen mobil dari Eropa, Amerika, Jepang, Korea, pasti hadir.
Dirinya tidak punya merek, apalagi pabrik, aplikasi X, jangan kejam begitu dong!
Ketika Li Fanyu hampir putus asa di ranjang, dari luar terdengar suara, "Ayo nonton, Profesor Zhang dan Wakil Rektor ribut tuh!"
Li Fanyu langsung menegakkan leher, Profesor Zhang yang mana? Apa yang ahli sejarah otomotif itu?
Ia segera mengenakan sandal, berbaur dengan mahasiswa lain menuju kantor pusat kampus.
Di depan kantor, Profesor Zhang yang terengah-engah sedang beradu argumen dengan Wakil Rektor.
Melihat makin banyak mahasiswa berkumpul, keduanya segera ditarik masuk ke dalam gedung oleh para dosen.
Dua ketua jurusan dengan wajah garang membubarkan kerumunan.
Saat Li Fanyu tiba, orang-orang mulai kembali. Kampus memang ladang paling subur untuk gosip.
Sembari berjalan, para mahasiswa membicarakan keributan barusan.
"Eh, tadi itu kenapa sih?" tanya Li Fanyu pada seorang teman yang bertelanjang dada.
"Ah, katanya Jerman mau adain lomba desain mobil, undang mahasiswa dari semua universitas teknik top dunia, kampus kita juga dapat undangan."
Mata Li Fanyu langsung berbinar, "Terus?"
"Terus, pihak kampus nggak kasih dana, katanya belum tentu menang, kalau mau ikut harus biaya sendiri. Profesor Zhang nggak terima, bilang kampus pelit, pakai logika aneh-aneh. Wakil Rektor nggak setuju, akhirnya mereka berdua ribut. Aduh, andai jurusanku cocok, aku juga pengen ikut, dengar-dengar juara satu dapat lima ratus ribu euro lho."
Mata Li Fanyu sekarang sudah terang benderang, lima ratus ribu euro?! Itu hampir empat miliar rupiah! Bisa dapat uang, bisa sekaligus menyelesaikan misi, bukankah ini kesempatan yang benar-benar tercipta untuknya?