Bab 7: Jika sesuatu terjadi di luar kebiasaan, pasti ada keanehan di baliknya
Sepeda listrik itu melaju di antara kemacetan jalan raya, menyelinap di sela-sela mobil dengan kecepatan luar biasa, membuat para pejalan kaki terpana dan polisi lalu lintas menggertakkan gigi. Begitu keluar dari pusat kota, Li Fanyu pun melepaskan kendali, membiarkan sepeda listrik itu melaju sekencang mungkin menuju Rumah Sakit Umum Ketiga Kota Tian. Sampai di rumah sakit, sepeda itu pun kehabisan daya.
Melihat Cheng Ke yang masih tampak acak-acakan, Li Fanyu berkata, “Maaf, aku memang sedang benar-benar ada urusan mendesak. Sepedanya habis baterai, jadi kutinggal di sini saja. Kalau tidak keberatan, kamu pulang saja dengan taksi?”
Cheng Ke tampak sudah kehilangan semangat hidup, “Tadi waktu kamu merebut sepedaku, dompetku jatuh, aku sudah berkali-kali memanggilmu tapi kamu tidak berhenti…”
Li Fanyu merasa sangat bersalah, tapi ini bukan waktunya untuk bertele-tele. Ia sebenarnya ingin memberi uang taksi pada Cheng Ke, biar dia pulang duluan. Tapi setelah merogoh saku, ia baru sadar bahwa karena terburu-buru, dompet pun tak dibawa.
Tak ada pilihan lain, ia pun mengajak Cheng Ke masuk ke rumah sakit, berniat meminta uang kepada keluarganya untuk membayar ongkos taksi Cheng Ke.
Rumah Sakit Umum Ketiga Kota Tian adalah rumah sakit kelas dua, meski letaknya jauh dari pusat kota, bagian rawat inap tetap penuh sesak. Di depan lift, antrean panjang sudah terbentuk. Li Fanyu yang cemas memikirkan pamannya, jelas tak mungkin menunggu lift.
Ia memberitahu nomor kamar pamannya pada Cheng Ke, menyuruhnya ikut antre, lalu ia sendiri bergegas naik tangga.
Manusia memang aneh, saat tak ada apa-apa, naik ke lantai enam saja terasa berat. Tapi kalau rumah kebakaran dan istri-anakmu masih di dalam, naik dua belas lantai pun terasa hanya dua menit. Begitulah perasaan Li Fanyu saat ini; ia terengah-engah, berlari menuju kamar rawat pamannya, mendorong pintu dan masuk.
Itu adalah bangsal bedah dengan empat tempat tidur, semuanya terisi. Setiap sisi tempat tidur dipenuhi barang-barang kebutuhan sehari-hari yang ditumpuk sembarangan. Para keluarga pasien yang ingin menghemat uang, tidur beralaskan tikar atau ranjang lipat di samping tempat tidur. Mungkin karena tidur malam yang tidak nyenyak, beberapa keluarga pasien masih tertidur.
Li Fanyu langsung melihat pamannya yang terbaring di ranjang. Pamannya, Dong Jianguo, kepala dibalut perban, tangan dan kaki dipasang gips, wajah dan hidung lebam-lebam. Ia masih tidur. Ayah dan ibu Li Fanyu duduk di samping ranjang. Begitu melihat Li Fanyu masuk, mereka memberi isyarat agar diam.
Li Fanyu menahan air mata, berjalan perlahan mendekat.
“Ayah, Ibu. Bagaimana kondisi Paman? Kenapa bisa sampai begini?”
Melihat mata Li Fanyu yang memerah, ibunya ingin menjawab, tapi air matanya tak tertahan. Takut membangunkan adiknya yang masih tidur, ia menutup mulut dan memalingkan wajah.
Ayahnya berusaha tersenyum, walau wajahnya menegang, lalu berkata, “Tangan dan kaki patah, ada luka luar, tapi semua sudah diobati. Semalam baru bisa tidur setelah semalaman ribut, kata dokter tak ada yang serius. Jangan bilang apa-apa, nenekmu sudah tua dan sakit, jangan sampai dia tahu.”
Li Fanyu mengangguk, menatap luka-luka pamannya, akhirnya air matanya jatuh juga. Ia berjongkok di sisi ranjang, kenangan masa kecilnya bersama paman mengalir dalam benak bak tetesan dari botol infus.
Dalam ingatan Li Fanyu, pamannya selalu tersenyum, baik saat bekerja, saat mengajaknya bermain, bahkan saat Li Fanyu nakal, ia tetap menasihati dengan senyum. Pamannya tak pernah bermasalah dengan siapa pun, meski hidup serba kekurangan, tak pernah ia perhitungan atau marah pada orang lain. Lebih baik rugi sendiri daripada ribut dengan orang lain.
Dulu pamannya masih muda, seperti anak muda yang tak banyak menuntut. Meski tak bisa dibilang tampan, kehadirannya terasa membawa sinar matahari. Namun, bertahun-tahun berlalu, beban hidup dan pernikahan yang tak bahagia membuat pria itu menua. Dari sela-sela perban di kepalanya, tampak beberapa helai rambut putih. Di sudut matanya yang lebam, samar-samar terlihat keriput.
Jelas luka-luka itu akibat dipukuli orang.
Meski namanya ada kata “yu” yang berarti bodoh, Li Fanyu tak sebodoh itu. Ia tahu orangtuanya menutupi penyebab kejadian ini karena khawatir ia akan bertindak gegabah.
Ia marah, ia geram. Namun ia menekan semua amarah itu dalam hati, karena marah-marah tak ada gunanya, apalagi sebelum tahu duduk perkaranya dengan jelas.
Ayah dan ibu Li Fanyu saling berpandangan, memahami sifat anak mereka. Saat ayahnya masih ragu apakah akan menceritakan yang sebenarnya, tiba-tiba pintu kamar didorong keras.
Masuklah seorang gadis cantik luar biasa, berjalan dengan wajah kesal.
Cheng Ke sebenarnya bukan naik lift sendiri, ia terdesak masuk oleh arus orang. Lift padat seperti sarden, untung si cantik kampus ini tidak gemuk, ia berhasil menemukan sudut sempit hingga bisa naik ke atas. Untung tadi pagi ia sarapan sedikit, kalau makan banyak, mungkin sudah tak tahan di dalam lift itu.
Baru pertama kali dalam hidup, ia mengalami hal seperti ini, dan tentu saja ia menyalahkan Li Fanyu.
Ia berniat memarahi Li Fanyu begitu masuk, tapi saat melihat Li Fanyu berjongkok di samping ranjang, mengusap air mata, hatinya melunak dan kemarahannya pun tertahan.
Namun suara pintu yang dibukanya terlalu keras, membangunkan Dong Jianguo.
Dong Jianguo membuka mata yang lebam, melihat Li Fanyu.
Dengan suara serak ia berkata, “Xiao Fan datang ya, Paman sudah bilang ke Ibumu, jangan kasih tahu kamu. Paman baik-baik saja, nanti kamu pulang saja, ya.”
Begitu pamannya terbangun, Li Fanyu buru-buru mendekat dan menggenggam tangan pamannya yang digips. Karena itu, Cheng Ke yang ada di belakangnya pun terlihat.
Dong Jianguo menatap Cheng Ke, lalu melihat Li Fanyu. Dengan mata bengkak seperti buah persik, ia melirik dan mengangkat alis.
Anak bagus! Pilihan yang tepat.
“Wah, ini teman Xiao Fan, ya? Silakan duduk, silakan.” Ibu Li baru tersadar, langsung menarik tangan Cheng Ke dengan ramah dan mendudukannya di kursi.
“Tante, Paman, selamat pagi.” Meski kesal pada Li Fanyu, Cheng Ke tetap sopan dan menyapa manis.
Dong Jianguo menarik Li Fanyu ke samping dengan tangan yang tak cedera, lalu berbisik menggoda, “Hebat, kapan kamu mulai pacaran?”
Li Fanyu gelagapan, “Cuma teman sekelas, jangan salah paham.”
“Ah, jangan sembunyi-sembunyi sama Pamanmu. Tapi benar, lihat kamu bawa pacar ke sini, rasanya setengah sembuh.”
Li Fanyu tertawa kering, dalam hati membatin, “Yang penting kau senang, salah paham pun tak apa.”
Setelah berbasa-basi sebentar, Li Fanyu pun memberanikan diri menanyakan siapa yang telah memukuli Dong Jianguo. Dong Jianguo berusaha mengelak, tapi Li Fanyu tak mau menyerah, bertanya lagi beberapa kali dengan keras kepala.
Akhirnya Dong Jianguo menghela napas, lalu menceritakan kejadian sebenarnya.
Dua hari lalu, menjelang tutup bengkel, datang seorang pelanggan. Ia mengendarai Mercedes-Benz SUV seri Y, mengaku cairan pembersih wiper habis dan minta tolong diisikan. Itu pekerjaan mudah, tinggal buka kap mesin, hanya beberapa menit, malah bisa sekalian jual satu botol cairan.
Dong Jianguo senang hati menerima. Setelah selesai, orang itu bilang ia orang luar kota, malamnya harus pergi makan dan takut tak bisa mengemudi kalau minum minuman keras, jadi bertanya apakah boleh menitipkan mobil semalam di garasi bengkel.
Dong Jianguo melihat mobilnya mahal, takut kalau ada lecet atau rusak akan merepotkan, awalnya enggan. Tapi si pemilik mobil terus membujuk, bahkan memberi seratus yuan, dan berjanji besok pagi akan mengambil mobilnya.
Akhirnya mobil itu pun diparkir dalam garasi.
Keesokan harinya, orang itu tak juga datang mengambil mobil. Menjelang malam, terjadi masalah.
Lima-enam pria kekar datang ke bengkel, mengaku mobil mereka dicuri. Tanpa banyak bicara, mereka masuk ke garasi dan menuduh Dong Jianguo bekerja sama mencuri Mercedes itu.
Dong Jianguo berusaha menjelaskan, tapi mereka langsung memukuli. Dalam kekacauan, entah siapa yang mendorong rak alat, yang di atasnya ada suku cadang berat. Dong Jianguo kebetulan ada di samping, suku cadang jatuh menimpanya, dan jadilah ia seperti sekarang.
Selesai bercerita, Li Fanyu langsung merasa ada yang janggal.
Semua ini terasa terlalu kebetulan.