Bab 97: Penggalangan Dana Berakhir
Pikachu yang pemarah itu segera menarik perhatian semua orang. Tubuhnya yang gemuk dan kaki tangannya yang pendek tampak sangat serius melakukan senam pagi. Usai rangkaian gerakan senam, ia dengan gagah membawa kotak biola ke depan kerumunan, menandakan bahwa pertunjukannya berbayar.
Sungguh, semakin dilihat semakin membuat orang merasa gemas dan ingin mengusilinya.
Namun untungnya, pertunjukan Pikachu berhasil mengalihkan sebagian tekanan dari Zhou Qingyu. Ia melihat Pikachu yang, setelah mengumpulkan ‘tiket masuk’, kembali bersemangat melakukan gerakan peregangan. Ingin tertawa, tapi hatinya terasa sesak.
Pikachu seolah merasakan perubahan suasana hatinya, berbalik dan membuat gerakan penyemangat ke arahnya.
Zhou Qingyu tersenyum tipis, menata perasaannya lalu mengangkat biola dan mulai bermain.
Lagu yang ia mainkan adalah “Cry Me a River”, lagu favoritnya. Melodinya sederhana, bahkan bisa dibilang terlalu datar. Namun sejak pertama kali mendengarnya, ia terpikat oleh alunan yang tenang dan ringan, sehingga ia menambahkan sedikit improvisasi dengan dua bagian yang lebih dinamis.
Sore awal musim gugur di antara deretan pohon birch yang berdesir, diiringi alunan nada yang mengalir dari ujung jarinya, menghadirkan suasana yang begitu syahdu. Jika hanya ada dirinya dan biola, pemandangan ini pasti membuat para pecinta seni jatuh hati.
Namun dengan adanya Pikachu, suasana menjadi agak aneh...
Malam itu, sebuah video tersebar luas di Weibo.
“Hutan Kota Gongqing, biola cantik, hutan birch dan Pikachu.”
“Awal musim gugur di taman, Pikachu dan biola ternyata serasi.”
Para pengguna internet, terutama yang tinggal di Kota Puhai, langsung tertarik dengan video ini.
Lihat saja topik hangat di Weibo sekarang, isinya selebritas cantik atau gosip panas. Kalau tidak lucu, pasti tentang karakter menggemaskan. Video ini punya semuanya: kecantikan, bakat, kelucuan, dan kontras yang unik.
Selain itu, pemain biola dalam video bertubuh ramping dan anggun, namun mengenakan masker menutupi wajahnya, membuat penonton penasaran.
Di akhir video, seseorang bertanya apakah gadis itu akan tampil lagi besok. Ia hanya tersenyum misterius, mengangguk, lalu pergi bersama Pikachu.
Video itu pun menyebar dengan cepat. Judulnya pun berubah menjadi: “Besok, ayo kita nonton sang Dewi dan Pikachu Gendut!”
Namun ada juga netizen yang jeli, menyadari bahwa pemain biola dalam video itu punya postur yang sangat familiar. Terkait dengan acara amal besar di Kota Puhai, mereka menduga itu adalah seorang selebritas yang sedang menggalang dana.
Dunia hiburan memang penuh kejutan dan teka-teki. Semakin seseorang berusaha menyembunyikan identitasnya, semakin besar rasa penasaran publik.
Segala macam spekulasi dan analisis pun bermunculan, membahas siapa sebenarnya gadis dalam video itu.
Sekitar pukul sembilan malam, seorang penggemar Zhou Qingyu mengunggah analisis di Weibo. Ia membandingkan foto-foto peragaan Zhou Qingyu sebelumnya dengan sosok dalam video, mulai dari tinggi badan, lekuk tubuh, hingga ciri khas lain.
Hasilnya, tingkat kecocokan mencapai tujuh puluh persen.
Sontak, warganet pun heboh.
“Wahhh! Aku tadi ada di sana! Kalau tahu itu Dewi Qingyu, pasti aku sudah minta foto bareng!”
“Menyesal sekali! Pertemuan singkat dengan sang Dewi kini hanya tinggal penyesalan!”
“Besok! Mari kita ke Hutan Kota menonton sang Dewi!”
“Kalian semua, Zhou Qingyu melakukan ini untuk menggalang dana amal. Besok, mari kita berikan dukungan untuk kebaikan!”
“Yang di atas, omongannya serius sekali. Berani taruhan kamu bukan cuma mau lihat Dewi?”
“Tak salah juga, kalau sang Dewi saja rela turun ke jalan demi amal, kita harus dukung!”
“Besok, kita bawa kartu ATM untuk menonton sang Dewi!”
Singkatnya, postingan itu pun menjadi trending di Weibo.
Di kamar hotel Gardelia, Zhou Qingyu sudah berganti piyama. Sambil mengeringkan rambut, ia menonton video Pikachu yang menari kocak itu berulang kali. Setiap kali melihat Pikachu yang lucu namun sok berkuasa itu, ia tak kuasa menahan senyum.
Sementara itu, Li Fanyu melempar kostum Pikachu ke samping ranjang, lalu membaringkan diri lemas. Porsi olahraga hari itu sungguh gila—pagi mengemudi lebih dari satu jam, sore menari lebih dari sejam. Rasanya benar-benar melelahkan.
Baru saja hendak tidur, ia dikejutkan bunyi pesan di ponsel.
“Penampilan hari ini bagus. Besok jam empat sore, lanjutkan di depan hutan birch.”
Li Fanyu membalik tubuh, merasakan seluruh ototnya pegal. Membayangkan harus tampil konyol lagi besok, ia pun menutup mata dengan putus asa.
Belum sempat ia meratapi nasib, telepon dari Ma Rao pun masuk.
“Kau memang bisa diandalkan, membantu Zhou Qingyu dengan baik! Besok di Huangpu ada pameran lukisan, lukisanku dipamerkan di sana, kau harus bantu aku juga.”
Ponsel Li Fanyu terjatuh menimpa wajahnya. Hidup begini benar-benar melelahkan.
Empat hari berturut-turut, ia merasa dirinya seperti promotor dunia hiburan. Siang hari mengenakan jas membantu Ma Rao menjual lukisan dengan berbagai taktik, malam berubah menjadi Pikachu yang menggemaskan demi mengumpulkan donasi bersama Zhou Qingyu.
Sementara itu, Zhou Qingyu berjalan sangat lancar.
Ia berhasil melewati hambatan batinnya. Meski permainan biolanya biasa saja, baik penggemar maupun masyarakat umum memberi dukungan besar. Namanya juga seleb lintas bidang, apa lagi yang bisa diharapkan?
Setelah kru reality show turun tangan, makin banyak orang yang rela berdonasi. Ada yang memberi lima puluh, seratus, bahkan sampai dua ribu. Bisa mendukung sang Dewi sekaligus tampil di televisi, siapa yang menolak?
Satu-satunya kekurangan hanyalah Pikachu yang mirip bandit itu. Kalau ada yang mau donasi lima atau sepuluh ribu, ia langsung berkacak pinggang dengan ekspresi meremehkan, membuat orang sungkan menyumbang terlalu sedikit.
Keesokan harinya, kru acara membawa kotak donasi besar, karena kotak biola sudah tak cukup lagi menampung uang.
Saat dihitung di akhir acara, total donasi yang terkumpul selama beberapa hari mencapai tujuh ratus enam puluh ribu yuan.
Dibandingkan dengan hasil selebritas lain, jumlah ini termasuk di atas rata-rata. Apalagi Zhou Qingyu seorang model yang selama ini berkarier di luar negeri, jadi jumlah penggemarnya tak sebanyak artis lain.
Hasil ini sudah sangat luar biasa.
Di sisi lain, Ma Rao agak sial. Ia mengklaim lukisannya merupakan perpaduan gaya abstrak dan impresionis, merefleksikan dinginnya dunia dan kurangnya cinta kasih.
Namun Li Fanyu yang menatap lukisan potret mirip Quasimodo itu, tak menemukan makna dingin ataupun kekurangan cinta kasih. Tampaknya lebih seperti poster film horor.
Sampai akhirnya, dua hari kemudian, lukisan masterpiece Ma Rao dibeli seorang konglomerat dengan harga lima ratus ribu.
Saat Ma Rao senang bukan kepalang dan memuji dirinya di depan Li Fanyu, menganggap bakatnya diakui dan pembelinya punya selera tinggi, si pembeli malah datang mencari Ma Rao dengan canggung, mengaku punya anak angkat di dunia hiburan, dan berharap bisa dapat peran di film berikutnya.
Baru setengah jalan membanggakan diri, langsung kena batunya, sungguh memalukan.
Ma Rao pun langsung mengambil kembali lukisannya dan mengembalikan uangnya. Untungnya, seorang teman Ma Rao datang menyelamatkan situasi, membeli lukisan itu dengan harga dua ratus ribu.
Namun, semua yang pernah berkunjung ke rumah temannya itu mengaku tak pernah melihat lukisan tersebut. Entah lukisan itu disimpan di gudang, atau sejak awal memang Ma Rao yang membayar dan meminta temannya membeli demi menjaga gengsi, hanya mereka yang tahu kebenarannya.
Setelah acara selesai, Li Fanyu, Ma Rao, dan Zhou Qingyu sempat berkumpul sebentar, lalu keesokan harinya mereka kembali ke Tiancheng.
Karena Zhang tua menelepon, dengan ragu memberitahu bahwa dana bantuan laboratorium bermasalah, dan An Ning sudah kehabisan uang.