Bab 73: Musim Semi Industri Mobil Nasional?
Dalam masyarakat modern saat ini, keberadaan senjata nuklir membuat konflik antarnegara menjadi semakin terkendali. Sebab jika perang besar-besaran benar-benar terjadi, tidak ada satu pihak pun yang bisa meraih kemenangan hanya dengan satu serangan, karena kedua belah pihak pasti akan menyisakan cukup kekuatan nuklir untuk saling menghancurkan.
Sumber daya yang sangat besar yang akan terkuras dalam perang besar, atau bahkan perang terbatas, tidak bisa diterima oleh rezim yang berambisi menjaga stabilitas dan pembangunan. Karena itulah, penyelesaian perselisihan secara bertahap beralih pada jalur negosiasi dan persaingan ekonomi.
Namun, memenangkan perang hanya dengan retorika hanyalah mitos dalam kisah-kisah kuno. Persaingan ekonomi kini menjadi medan utama dalam peperangan modern.
Pada jamuan penyambutan, Menteri Keuangan Jepang, Taro Kyoyama, secara khusus menyinggung isu pulau-pulau sengketa. Ia berkata, “Saya menilai hubungan ekonomi dan politik antara Jepang dan Tiongkok kini tengah berkembang menuju babak baru. Saya berharap pihak Tiongkok tidak melewatkan peluang baik ini, dan tidak mengalihkan energi kepada perselisihan seputar pulau-pulau tertentu.”
Ucapan yang nampak seperti sanjungan ini membuat para pengamat dan jurnalis yang hadir mulai menebak-nebak: apakah ini upaya tulus untuk meredakan ketegangan, atau justru menyimpan maksud tersembunyi. Maka, selepas jamuan berakhir, rubrik politik dan ekonomi di berbagai surat kabar serta situs berita langsung ramai membahas serta menebak-nebak langkah pemerintah Jepang dalam pertemuan ekonomi Asia kali ini.
Namun urusan politik semacam itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Li Fanyu.
Beberapa hari belakangan, ia benar-benar sedang di atas angin; delapan belas mobil pengawal telah diserahterimakan, ia mendapatkan proyek besar pengadaan kendaraan operasional pemerintah kota, dan sekaligus meraup keuntungan tambahan.
Setelah hari itu melihat Oubo di parkiran kantor polisi, sebuah ide muncul di benak Li Fanyu.
Keamanan dalam negeri secara umum masih cukup baik, kecuali di beberapa kawasan tertentu, sehingga kebutuhan kendaraan pengamanan super ketat relatif kecil. Mobil lapis baja bersenjata masih terasa terlalu berlebihan. Namun, kendaraan transportasi lapis baja hasil modifikasi seperti Oubo justru punya potensi pasar yang bagus—sebagai kendaraan operasional pengangkutan uang.
Setelah ide itu muncul, ia pun memodifikasi beberapa prototipe, melakukan perhitungan terbalik untuk mendapatkan data parameter kendaraan, dan meminta Pan Qiang untuk menghubungi beberapa perusahaan jasa pengangkutan uang terbesar dalam negeri.
Begitu mereka mengetahui ada kendaraan angkut uang lapis baja yang bisa dipesan secara khusus dalam negeri, apalagi melihat data spesifikasi dan penampilan mobil pengawal di Forum Ekonomi Asia, enam perusahaan jasa pengangkutan uang langsung menunjukkan minat untuk membeli.
Sebelumnya, karena keterbatasan jalur distribusi, sulit bagi perusahaan pengangkutan uang dalam negeri untuk memesan kendaraan semacam itu dari luar negeri. Namun, seperti kata pepatah, ular punya jalannya sendiri, tikus punya lubangnya sendiri—selama orang masih hidup, pasti ada jalan keluar. Di sinilah sejumlah bengkel modifikasi amatir dalam negeri benar-benar menghidupkan semangat “KW”.
Saat ini, kebanyakan kendaraan pengangkut uang terdiri dari dua bagian—sebuah mobil niaga besar atau van kecil seperti Oubo, kemudian bagian belakangnya dikosongkan dan dipasangi brankas besar.
Saat beroperasi, pintu belakang dibuka, lalu brankas di dalamnya dibuka, uang tunai dan petugas keamanan dimasukkan ke dalam brankas, kemudian petugas bank di luar menguncinya...
Jujur saja, menyebutnya kendaraan pengangkut uang itu terlalu sopan. Di kalangan perusahaan pengamanan, kendaraan semacam ini punya julukan khusus—“kaleng uang”.
Karena brankas hanya bisa dibuka dari luar, dan bagian dalamnya benar-benar tertutup rapat, pernah terjadi kecelakaan serius: mobil pengangkut uang terbakar, brankas di dalamnya memuai karena panas, dua petugas keamanan tewas kehabisan napas di dalam.
Tak heran jika kemunculan perusahaan seperti Zhengxin yang mampu memproduksi kendaraan modifikasi lapis baja khusus akan meraup untung besar dalam pasar kendaraan pengamanan. Namun, Li Fanyu sendiri memilih lepas tangan, dan sendirian naik kereta ke Kota Nanhe.
Tak ada pilihan lain, karena hari ini adalah hari pertemuan yang diundang oleh An Ning.
Akibat cuaca buruk dari topan pesisir, sore itu Kota Nanhe diguyur hujan ringan.
Setelah hujan reda, cahaya senja keemasan menembus masuk ke kamar hotel yang berada di samping Stasiun Kereta Nanhe.
Fanyu sedang duduk santai, kaki bersilang, menikmati laporan keuangan yang baru saja dikirim Wang Meimei ke ponselnya.
Dengan bantuan Teknologi X, perusahaan hanya butuh waktu sebulan untuk menutup seluruh biaya investasi. Selain itu, jika dalam beberapa hari ke depan pemerintah kota melunasi pembayaran mobil pengawal, saldo rekening bank Li Fanyu akan menembus angka seratus juta. Saat ini Li Fanyu benar-benar merasa berada di puncak dunia; impian masa kecilnya akhirnya terwujud.
Mulai besok, aku akan jadi orang elegan.
Beli perangkat audio terbaik dan termahal, lalu mendengarkan musik DJ di rumah.
Mulai besok, aku akan jadi orang yang hidup mewah.
Sarapan di Gedung Melati, minum satu mangkuk susu kedelai di tempat, satu lagi dibungkus dibawa pulang.
...
Dengan kepercayaan diri khas orang kaya, Li Fanyu dengan penuh gaya mengenakan setelan yang dipilihkan oleh Cheng Ke, mengikat dasi, mengenakan sepatu, dan sebelum berangkat tak lupa memakai jam tangan Casio KW terbaru seharga dua ratus sembilan puluh sembilan ribu yang dibelinya di toko daring...
Di depan Gedung Mogu. Lampu-lampu mulai menyala, deretan mobil mewah berjajar. Layar LED raksasa di atas pintu memamerkan slide bertuliskan “Malam Pertemuan Khusus Industri Otomotif Tiongkok”.
Li Fanyu membayar ongkos taksi, menepuk punggungnya dan melangkah masuk ke dalam gedung.
“Hai, Fanyu, di sini!” Melihat Li datang, Liu Qing segera melambaikan tangan.
Akhir-akhir ini ia memang sangat sibuk, harus mengawasi proyek mobil pengamanan dan kerja sama dengan perusahaan jasa keamanan, sehingga Li Fanyu tidak datang bersama Cheng Ke dan tiga sahabat pintar lainnya ke Nanhe, melainkan sepakat bertemu langsung di lokasi. Sudah lama tidak jumpa dengan para sahabat, ia pun langsung memeluk mereka erat.
“Hei, ada apa dengan setelan kalian berdua?” Xu Fufang melirik Li Fanyu, lalu menoleh ke Cheng Ke, bertanya dengan nada menggoda.
Li Fanyu menatap dirinya sendiri—memang benar, pakaiannya sangat serasi dengan Cheng Ke...
Cheng Ke mengenakan gaun selutut, meskipun gaun malam, namun tetap tampil polos dan segar. Warna ungu muda membuat kulitnya tampak putih dan lembut, meski itu bukan hal terpenting.
Yang utama, aksesori yang dikenakan Cheng Ke dan kemeja serta dasi Li Fanyu, entah kenapa tampak seperti satu rangkaian—benar-benar seperti pasangan yang sengaja mengenakan pakaian serasi.
Wajah Cheng Ke sedikit memerah, ia membela diri, “Dia kan nggak paham soal pakaian, pasti nggak tahu cara memilih. Aku yang memilihkan, jadi wajar kalau sesuai seleraku.”
Zhang Yu langsung berlagak manja dan menggoda, “Aku juga nggak paham fashion, besok pilihkan baju buat kami juga, ya, Cheng Ke?”
“Sudahlah, kami berdua ini murni teman biasa. Jangan karena kalian nggak seganteng aku, jadi protes begitu. Kasih kalian bertiga pakai Armani juga tetap saja kelihatan kampungan.”
Setelah sukses memancing kekesalan, ia pun mengajak keempat temannya masuk ke aula perjamuan. Li Fanyu memang datang agak terlambat, saat itu acara hampir dimulai, dan aula sudah penuh sesak.
Meski Asosiasi Industri Otomotif baru saja berdiri, undangan yang hadir benar-benar banyak; mulai dari pemasok suku cadang, subkontraktor, sejumlah insinyur, hingga para jurnalis otomotif—lebih dari enam ratus orang memenuhi ruangan hingga penuh sesak.
Kelima sahabat ini masih mahasiswa yang belum lulus, tidak kenal siapa-siapa, jadi merasa sungkan untuk memulai percakapan. Mereka pun memilih pojok area prasmanan, mengambil makanan dan mulai makan tanpa banyak basa-basi.
Saat mereka sedang asyik menikmati makanan, dari speaker di langit-langit terdengar suara elektronik, lalu pengingat dari pembawa acara, “Acara malam ini akan segera dimulai. Para tamu undangan, mohon tenang.”
Ruangan langsung hening, semua orang memegang gelas sambil menatap ke panggung.
Pembawa acara berhenti sejenak, lalu membuka acara dengan khidmat, “Malam ini, aula kita benar-benar dipenuhi tamu istimewa. Izinkan saya, atas nama Asosiasi Industri Otomotif Tiongkok, mengucapkan selamat datang yang hangat kepada Anda semua!”
Tepuk tangan pun menggema. Kelima sahabat ikut bertepuk tangan, namun wajah mereka menunjukkan ekspresi canggung; dari sambutan pembuka saja, sudah bisa ditebak alur acaranya. Kalau tidak salah, langkah berikutnya pasti giliran pejabat naik ke panggung. Persis seperti acara kampus...
Dan benar saja, sesuai dugaan mereka.
Karena asosiasi ini didirikan di Nanhe, beberapa pejabat kota setempat turut hadir dan memberikan sambutan singkat bersama ketua asosiasi.
Meski sambutannya cenderung formal, ada juga informasi berharga.
Di Forum Ekonomi Asia, Menteri Keuangan Wang Weibai mengumumkan bahwa selama lima tahun ke depan, pemerintah akan gencar mendukung perkembangan industri otomotif dalam negeri, mendirikan dana khusus dan laboratorium riset otomotif. Selain itu, akan ada sejumlah kebijakan untuk mendorong riset dan pengembangan mobil buatan sendiri.
Yang paling menggembirakan, demi meningkatkan kemandirian rantai industri otomotif Tiongkok, bea masuk untuk mobil utuh dan suku cadang impor akan disesuaikan!
Mendengar itu, seisi ruangan sontak tercengang.
Beberapa pelaku industri dan jurnalis otomotif segera menyadari—ini saatnya musim semi industri otomotif nasional akan segera tiba!