Bab Empat Puluh Sembilan: Uang, Krisis Kekurangan Dana
Setelah menguasai Tinju Naga, Long Fei awalnya berniat mengembalikan kitab rahasia ilmu bela diri itu kepada Long Wanli. Namun, ia khawatir rahasianya akan terbongkar, sehingga ia memutuskan untuk tidak mengembalikannya dan memilih menyimpan kitab itu ke dalam ransel sistemnya. Ia berencana mengembalikannya pada kesempatan lain di masa depan.
Bagi Long Wanli, Long Fei menerima hadiah yang ia berikan sudah merupakan hal yang paling membahagiakan. Bisa dikatakan, Long Wanli benar-benar menggantungkan seluruh harapan masa depan dan kejayaan keluarga Long pada Long Fei.
Jika tindakan Long Wanli ini diketahui oleh para pemimpin kekuatan lain, mereka pasti akan menganggap Long Wanli sudah gila. Betapa tidak, harapan kejayaan keluarga Long justru diletakkan pada seorang luar yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Long.
Bahkan, mereka akan menilai investasi Long Wanli ini sungguh terlalu nekat.
“Tuan, mohon berhenti di sini. Aku, Long Fei, mohon pamit,” kata Long Fei setelah menerima kitab Tinju Naga. Ia lalu mengenakan topeng dan berpamitan pada Long Wanli.
“Pergilah, hati-hati di perjalanan. Jika kau benar-benar tidak sanggup menghadapi sesuatu, ungkapkan saja bahwa kau bagian dari keluarga Long, biar tekanan itu ditanggung keluarga Long, juga keluarga Wang yang kini punya hubungan ekonomi dengan kita,” ujar Long Wanli sambil tersenyum.
“Terima kasih, aku akan berhati-hati.” Long Fei melambaikan tangan dengan santai pada Long Wanli, lalu berbalik dan pergi mengejar Zhao Jianhong serta yang lainnya.
“Anak ini, cukup menarik. Semoga aku tidak salah menilai orang. Semoga risiko investasi kali ini benar-benar membawa keuntungan besar bagi keluarga Long.” Setelah Long Fei pergi, Long Wanli berdiri diam sampai sosok Long Fei benar-benar hilang dari pandangan, barulah ia berbalik dan kembali.
Long Fei sampai di pelabuhan di tepi pantai, di mana Zhao Jianhong dan yang lainnya telah menyewa kapal dan hanya menunggu kedatangan Long Fei untuk segera berangkat.
Mereka pun berlayar menyeberangi laut.
Malam hari, air laut tampak biru gelap. Cahaya bulan menyelimuti permukaan laut bak taburan pasir perak. Long Fei berdiri di dek kapal bagian depan, angin laut berhembus lembut, pandangannya menerawang ke permukaan laut yang beriak lembut, telinganya menangkap suara deburan ombak yang menenangkan hati.
“Tuan muda, ke mana tujuan kita selanjutnya?” tanya Zhao Jianhong yang berdiri di samping Long Fei.
“Menuju tepi timur Pelabuhan Guanlin, kalian cari tempat bermalam di Kota Kaiping. Untuk urusan apa yang harus dilakukan, kalian atur sendiri.” Saat ini Long Fei benar-benar tidak punya tenaga untuk mengurus hal lain, ia hanya ingin fokus meningkatkan kekuatan dirinya.
“Kami ini hanya punya tenaga kasar, kemampuan sekadarnya. Kalau sudah sampai Kota Kaiping, bagaimana kalau kami membuka kantor pengawalan barang?” tanya Zhao Jianhong.
“Kalau kalian yakin bisa menjalankannya dengan baik, lakukan saja. Tidak perlu menanyakan persetujuanku lagi,” jawab Long Fei.
“Terima kasih atas kepercayaan tuan muda.” Zhao Jianhong tersenyum, “Kalau begitu, kami putuskan saja. Sampai di Kota Kaiping, kami langsung cari tempat dan membuka kantor pengawalan barang. Tuan muda, bisa bantu pikirkan nama yang bagus?”
“Aku menyelamatkan kalian hanya berharap kalian bisa keluar dari penderitaan, lalu kelak bisa memilih jalan hidup sendiri, menjalani kehidupan seperti yang kalian mau. Karena kalian memilih membuka kantor pengawalan untuk mencari nafkah, aku doakan semoga usahanya maju dan makmur selamanya. Untuk nama, gunakan saja Kantor Pengawalan Yongchang, abadi dan makmur. Bagaimana menurut kalian?” ujar Long Fei.
“Kantor Pengawalan Yongchang, abadi dan makmur. Nama yang bagus, terima kasih atas nama yang tuan muda berikan.” Zhao Jianhong mengangguk puas, lalu berpamitan dan meninggalkan dek untuk kembali ke dalam kapal, berdiskusi dengan yang lain tentang rencana membuka kantor pengawalan di Kota Kaiping.
Kini di dek hanya tersisa Long Fei seorang diri.
Angin laut bertiup pelan, helaian rambutnya menari tertiup angin. Berdiri di haluan kapal, kenangan masa lalu melintas dalam benaknya, membuat hatinya bergetar. Hasrat kuat untuk menjadi lebih hebat membara semakin dalam.
“Dunia ini adalah dunia di mana yang lemah menjadi mangsa yang kuat. Tanpa kekuatan, hidup di sini benar-benar sulit. Jika ingin hidup baik, bebas, hanya kekuatanlah sandaran paling kokoh. Tinju, kekuatan.”
Dalam lamunan, Long Fei tanpa sadar mengepalkan tinjunya. Ia pun teringat pada kitab ilmu bela diri warisan keluarga Long, Tinju Naga, yang tadi diberikan oleh Long Wanli.
Maka, di bawah terpaan angin laut, di atas dek kapal yang luas, ia mulai berlatih jurus-jurus Tinju Naga.
Tak lama, suara notifikasi sistem terdengar di telinganya.
“Ding! Pengalaman Tinju Naga bertambah!”
“Ding! Pengalaman Tinju Naga bertambah!”
Semalaman penuh ia menghabiskan waktu untuk berlatih tinju. Berkat kerja keras tanpa henti, kemampuan Tinju Naga miliknya naik dari tingkat dasar ke tingkat berikutnya.
Peningkatan yang pesat itu membuat Long Fei benar-benar merasa puas. Perasaan gembira membuncah dalam hatinya.
Namun, ketika ia teringat pada peningkatan kemampuan Tapak Api yang begitu lambat, pengalaman yang diperlukan berlipat ganda setiap kali naik tingkat, serta banyaknya batu api yang dibutuhkan untuk berlatih, kepala Long Fei langsung pening.
Masalah utama: kekurangan uang, sangat kekurangan uang.
Itulah masalah yang paling sering terlintas di pikirannya saat ini.
Pagi hari, permukaan laut begitu tenang. Matahari merah perlahan terbit dari timur, menyinari lautan hingga berpendar kemerahan.
Awan putih melayang di langit biru, camar terbang rendah di atas laut dengan riang, menghadirkan pemandangan harmonis “lautan luas tempat ikan meloncat, langit tinggi tempat burung terbang”.
Tiba-tiba, kapal bergetar hebat, seolah menabrak karang.
Laju kapal pun tiba-tiba melambat.
Menyadari keanehan ini, Zhao Jianhong dan yang lain yang sedang beristirahat di dalam kapal segera keluar ke dek dan berlari ke sisi kapal untuk memeriksa keadaan.
Saat itu, bayangan hitam sebesar tong muncul membawa semburan air, melesat dari laut dan memecah ketenangan permukaan air.
Saat cipratan air mereda, sosok hitam itu pun terlihat jelas, memantulkan cahaya tajam di bawah sinar pagi.
Zhao Jianhong dan yang lain, yang cukup mengenal berbagai makhluk buas di dunia ini, hanya butuh sekali lihat langsung pucat pasi dan tubuh mereka bergetar hebat.
“Celaka, kita bertemu gurita raksasa yang dijuluki iblis laut!” teriak Zhao Jianhong.
“Gurita raksasa, bagaimana kemampuan bertarungnya? Apa keistimewaannya?” tanya Long Fei yang kurang mengenal makhluk seperti itu.
“Gurita raksasa adalah makhluk air yang memiliki delapan kaki dengan banyak alat pengisap, daya lekatnya luar biasa. Kuatnya tak terukur, bisa menyeret beban empat sampai lima kali berat tubuhnya, bahkan lebih. Selain itu, makhluk ini sangat sulit dibunuh, ahli berkamuflase, dan kalau kapal sudah jadi incarannya, sedikit saja lengah kapal bisa diseret ke laut dalam,” ujar Zhao Jianhong cemas.
“Menurutmu, makhluk yang satu ini termasuk tingkat apa?” tanya Long Fei.
“Tingkat dua, mungkin juga tingkat tiga. Tapi pastinya belum bisa ditentukan.”
“Hanya makhluk tingkat segitu?” Long Fei mengernyit, namun di wajahnya justru muncul senyum tipis.
Karena mengenakan topeng, tak ada yang tahu ekspresi wajahnya. Kalau tidak, pasti mereka akan mengira Long Fei sudah gila karena meremehkan bahaya sebesar itu.