Bab Tiga Belas: Si Raksasa Perkasa
“Sudah mempelajari teknik tombak, sekarang tinggal butuh satu tombak. Aku harus pergi ke toko senjata, membeli tombak untuk berlatih.” Setelah menguasai keterampilan ‘Dasar Teknik Tombak’, Long Fei baru teringat bahwa dirinya belum punya senjata untuk latihan, maka dia segera meninggalkan toko buku dan menuju ke toko senjata.
Barang-barang di toko senjata itu hanyalah barang murah, tak ada satu pun senjata yang bermutu tinggi. Namun, saat ini Long Fei sama sekali tidak mempermasalahkan kualitas senjatanya. Dia membeli senjata hanya untuk latihan teknik tombak, jadi tidak menuntut senjata dengan kualitas istimewa. Dengan lima puluh keping perak, ia membeli sebuah tombak panjang dari baja lalu memanggulnya santai dan perlahan menuju penginapan.
Di sudut seberang penginapan, ada dua pemuda mengenakan jubah abu-abu perak. Kedua pemuda ini adalah mata-mata keluarga Zheng dari Kota Kaiping yang dikirim untuk mengamati Long Fei. Pemuda berbadan besar dan kekar itu bernama Ding Jia. Sementara yang berwajah tirus dan bertubuh ramping bernama Wu Zhong.
“Kita sudah mengamatinya beberapa hari, ternyata selain makan dan tidur, dia tampak sangat antusias berlatih ilmu bela diri. Dasar teknik pedangnya sangat kuat. Selain itu, tak ada sesuatu yang istimewa. Sekarang, dia malah membeli buku ‘Dasar Teknik Tombak’. Melihat gelagatnya, dia berniat mempelajari teknik tombak. Kalau kita terus membuntuti begini saja, kita takkan pernah tahu siapa dia sebenarnya. Menurutku, lebih baik tunggu dia keluar, lalu cari alasan untuk menahannya dan hajar dia. Dengan begitu, kita pasti bisa mengetahui kekuatan aslinya,” Ding Jia mengajukan sarannya.
“Tuan kepala keluarga sudah berpesan berulang kali, sebelum mengetahui kekuatan aslinya, jangan bertindak gegabah. Apa tidak terlalu berisiko kalau seperti ini?” tanya Wu Zhong.
“Kalau mau cepat menyelesaikan tugas, jangan terlalu kaku. Setiap hari membuntuti seperti ini, sungguh pekerjaan yang membosankan,” ujar Ding Jia.
Wu Zhong melirik Ding Jia, lalu menggeleng pelan, “Baru beberapa hari berpisah dari istrimu, sudah kepikiran wanita saja. Kau kira aku tak tahu isi hatimu? Sungguh kasihan istrimu, tiap malam kau perlakukan setengah mati, siang hari pun masih harus melayani segala kebutuhanmu. Sejujurnya, dia sudah sangat baik padamu.”
“Kau sendiri apa tak ingin?” tanya Ding Jia balik.
“Sekarang, cari uang susah. Gaji bulanan, dikurangi pengeluaran latihan, hampir tak tersisa. Ini sedang menjalankan tugas, jangan karena urusan wanita, tugas penting kepala keluarga jadi terhambat. Kalau sampai berbuat salah dan ketahuan, lalu dianggap lalai, bisa-bisa kita dipecat,” jawab Wu Zhong apa adanya.
“Itulah sebabnya kau selalu dapat bonus satu keping emas lebih tiap bulan dari kepala keluarga, karena kau kerja serius dan bertanggung jawab, kan?” Ding Jia tersenyum.
“Sebenarnya kau juga bisa melakukannya dengan baik,” kata Wu Zhong.
…
Saat keduanya mengobrol, tampak enam orang berpakaian seragam memasuki pandangan mereka, lalu masuk ke Penginapan Yuebin di bawah pengamatan mereka.
“Dari keenam orang itu, ada satu yang dulu berjaga di gerbang Akademi Sheng En, yang kalah taruhan dengan si pria bertopeng, kau ingat dia?” Mata Wu Zhong tajam, begitu melihat keenam orang itu, langsung mengenali salah satunya sebagai penjaga Akademi Sheng En yang dulu sempat dikerjai Long Fei, lalu ia buru-buru menanyakan pada Ding Jia.
“Ya, sepertinya memang dia,” Ding Jia mengangguk.
“Kali ini bakal seru, biar mereka saja yang menguji kekuatan si pria bertopeng, kita tak perlu turun tangan sendiri,” ujar Wu Zhong sambil tersenyum.
…
Long Fei kembali ke kamar, baru saja hendak melepas topeng dan mulai berlatih teknik tombak, tiba-tiba pintu kamar diketuk keras-keras.
“Salah kamar, mungkin?” Long Fei tak berniat membuka pintu. Di Kota Daun Jatuh ini ia tak kenal siapa-siapa. Long Yu Ying pun tak mungkin datang mencarinya secepat itu. Maka ia hanya menjawab santai.
“Kalau kau memang pria bertopeng itu, berarti kami tak salah kamar.” Dari luar terdengar suara pria kasar.
“Masalah datang,” begitu mendengar mereka memanggilnya ‘pria bertopeng’, Long Fei langsung sadar ada urusan yang mencarinya. Tapi ia tak panik, menggenggam tombak lalu berjalan ke pintu dan membukanya.
Begitu pintu terbuka, enam orang yang menunggu di luar langsung masuk dan mengepung Long Fei.
“Aku sedang butuh uang, berapa banyak kalian mau memberikanku hari ini?” Long Fei mengabaikan mereka, langsung menatap penjaga Akademi Sheng En yang pernah ia permainkan, dan tersenyum.
“Katanya kau tahan pukul?” Dari rombongan itu, seorang laki-laki tinggi besar bertubuh kekar, lengannya bahkan lebih besar dari paha Long Fei, bertanya padanya. Orang ini adalah kepala penjaga gerbang Akademi Sheng En, bernama Xue Yingpeng, tingkatannya sudah mencapai tingkat sembilan Alam Fan Biasa, menguasai jurus keluarga Tinju Harimau pada tingkat tinggi.
Ketika ia memperagakan jurus Tinju Harimau, gerakannya begitu ganas dan bertenaga, bagaikan auman harimau yang bergema di telinga, sangat menggetarkan. Selain itu, ia juga memiliki kekuatan alami yang luar biasa. Pernah dengan tangan kosong merobek lawan selevel, sehingga di antara rekan-rekan di Akademi Sheng En ia mendapat julukan ‘Si Gila Kekuatan’.
“Memang benar, kau mau coba?” tanya Long Fei.
“Kau lumayan berani,” Xue Yingpeng mengerutkan kening. “Kalau kau bisa menerima satu pukulanku tanpa mati dan masih sanggup bangkit, aku akui kau benar-benar tahan pukul.”
“Hanya begitu saja?” Long Fei mengerutkan kening.
“Mau bagaimana lagi menurutmu?”
“Bagaimana kalau kita bertaruh?”
“Taruhan seperti apa?”
“Kalau kau kalah, jadilah bawahanku.”
“Itu tak mungkin.”
“Sepuluh ribu keping emas, itu harga mati. Kalau berani taruhan, tunjukkan uangnya. Kalau tidak punya, silakan pergi sekarang. Aku masih ada urusan penting, tak ada waktu untuk omong kosong.” Long Fei berkata sangat serius dan tegas.
“Kalau kau yang kalah?” tanya Xue Yingpeng.
“Kalau aku kalah, terserah kalian mau apakan.”
“Baik, itu katamu sendiri.” Xue Yingpeng tampak bersemangat, segera menyuruh teman-temannya mengumpulkan uang.
Tak lama, keenam orang itu berhasil mengumpulkan sepuluh ribu keping emas yang diminta Long Fei sebagai syarat taruhan. Setelah itu, Long Fei dan Xue Yingpeng menandatangani surat taruhan.
Setelah selesai, Xue Yingpeng langsung memasang kuda-kuda menyerang.
“Hanya gaya saja,” Long Fei menggeleng pelan, sengaja mengucapkan kalimat yang memancing kemarahan Xue Yingpeng.
Tuhan itu adil. Jika memberimu wajah tampan, biasanya ada kekurangan di bagian tubuh lain. Misalnya, wanita yang cantik, kadang tubuhnya atau dadanya kurang proposional, sehingga ada saja yang terasa kurang sempurna. Begitu juga dengan Xue Yingpeng di depan mata ini, dia diberi kekuatan luar biasa, namun otaknya tak terlalu cerdas, mudah marah dan emosional.
Begitu Long Fei selesai bicara, Xue Yingpeng langsung bergerak. Ia benar-benar tak tahan diprovokasi, ingin segera menerjang dan melumat Long Fei hingga puas, agar amarah di dadanya terlampiaskan.