Bab Tiga Puluh: Penistaan Terhadap Dewi
Di ruang pertempuran papan peringkat para ahli, tak terhitung pasang mata saat ini terpaku pada sosok Long Fei yang berdiri di atas arena. Semua ingin tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya—apakah ia akan langsung menantang sosok dengan peringkat tertinggi, atau memilih menahan diri dan hanya memilih lawan dari peringkat yang lebih rendah.
Akhirnya, di bawah panggilan paksa yang berasal dari kekuatan misterius, sebuah sosok perempuan melangkah memasuki arena.
Ia adalah seorang gadis, lebih tepatnya, seorang gadis yang luar biasa cantik. Kehadirannya di sana seperti aroma segar yang perlahan menyebar di seluruh medan pertempuran, menyentuh hati setiap orang yang melihatnya.
Dialah Mo Xinrui, peringkat sepuluh di papan peringkat para ahli, dan salah satu dari tiga dewi yang paling dipuja di kalangan siswa tingkat rendah.
Dua dewi lainnya adalah Lu Xuantong dan Wang Yujing, yang sebelumnya sudah pernah ditemui Long Fei.
Baik Lu Xuantong maupun Wang Yujing, memiliki kelebihan masing-masing dalam hal wajah, kecantikan, tubuh, ataupun tinggi badan, sehingga sulit untuk membandingkan siapa yang lebih unggul dari Mo Xinrui. Satu-satunya perbedaan adalah kekuatan mereka yang sedikit di bawah Mo Xinrui.
Lu Xuantong berada di peringkat empat belas, sedangkan Wang Yujing berada di posisi dua puluh satu.
“Wow, itu Mo Xinrui, dewi pujaanku!”
“Dia termasuk sepuluh besar! Hebat sekali orang itu, baru di peringkat dua puluh, sudah berani menantang Mo Xinrui yang terkenal sangat kuat dan tak pernah menahan diri dalam bertarung, bahkan banyak laki-laki pun tidak berani melawannya.”
“Dewi Mo Xinrui, kami mendukungmu! Kalahkan dia, tendang dia keluar dari arena!”
“Dewi, semangat!”
Melihat Mo Xinrui muncul, para siswa yang menonton langsung menjadi riuh.
“Kelihatannya gadis ini sangat dihormati di antara siswa tingkat rendah. Jika aku mengalahkannya, pasti banyak yang akan memusuhiku. Ini jelas bukan perkara mudah,” gumam Long Fei dalam hati, sambil melirik ke arah bawah arena.
Namun, demi menimbulkan kehebohan dan menarik lebih banyak perhatian, Long Fei tak berniat mengalah. Ia hanya memutuskan dalam hati untuk memberi sedikit muka pada sang dewi—biarlah ia kalah dengan cara yang lebih terhormat.
“Halo, nona cantik. Aku mengundangmu bertarung dengan cara ini karena terpaksa, mohon dimaklumi,” sapa Long Fei sopan setelah mengamati Mo Xinrui.
“Ini hanya permainan dalam batas aturan, tak perlu dipermasalahkan,” jawab Mo Xinrui singkat, lalu kembali menunjukkan ekspresi dinginnya. Ia meneliti Long Fei sejenak sebelum berkata, “Wajahmu asing. Kau siswa pindahan?”
“Bukan,” jawab Long Fei tanpa basa-basi. “Aku guru baru di sini. Untuk menarik perhatian, aku terpaksa menampilkan diri dengan cara menantang para ahli di papan peringkat.”
“Guru? Kau bercanda?” tanya Mo Xinrui ragu. “Guru di Akademi Seni Bela Diri paling rendah sudah berada di tingkat pertama Ranah Kecil Xuan. Tapi kekuatanmu tak jauh beda dengan siswa tingkat rendah.”
“Aku guru dari Akademi Sastra,” balas Long Fei.
“Oh, jadi begitu. Silakan mulai. Semoga kau berhasil menarik cukup banyak siswa untuk memilih mata kuliah yang kau ajarkan,” kata Mo Xinrui.
Bagi Mo Xinrui, menghabiskan waktu pada pelajaran selain bela diri adalah bentuk pemborosan. Pandangan seperti ini juga dianut oleh mayoritas siswa di Akademi Sheng En. Itulah sebabnya, bagi guru Akademi Sastra, sangat sulit menarik banyak siswa untuk mengikuti pelajaran mereka.
Karena itulah Mo Xinrui berkata demikian.
“Terima kasih,” balas Long Fei sopan.
“Aku cukup bersimpati padamu dan mengagumi keberanianmu, tapi itu bukan berarti di atas arena aku akan mengalah padamu. Semoga penampilanmu tidak membuatku kecewa,” ujar Mo Xinrui, lalu mengambil sebilah pedang dari ruang penyimpanan harta.
Pedang di tangan Mo Xinrui berkilauan dengan cahaya kebiruan yang lembut, jelas kualitasnya sangat baik, jauh lebih unggul dibanding pedang besi biasa.
Begitu menggenggam pedang itu, semburan energi meledak dari tubuh Mo Xinrui, membuat rambut dan pakaian tipisnya berkibar, menambah pesonanya yang memukau.
“Dewi, semangat!”
“Dewi, semangat!”
Sorak-sorai bergema. Banyak pengagum Mo Xinrui bersorak lantang, terpukau oleh aura dan keperkasaannya.
“Ayo, mulai saja. Aku menantimu,” ujar Long Fei sambil tersenyum.
“Baik, kalau begitu aku tidak akan sungkan.” Mo Xinrui menjejakkan kaki ringan ke tanah, tubuhnya melayang seperti burung walet, membentuk lengkungan indah dan menerjang ke arah Long Fei.
Long Fei tetap diam. Saat pedang Mo Xinrui mengarah kepadanya, ia malah maju, tidak mundur.
“Cras!”
Pedang Mo Xinrui dengan mudah menusuk bahu kiri Long Fei, lalu dengan dorongan kekuatannya, tubuh Long Fei tertembus hingga darah segar mengalir deras dan membasahi pakaiannya.
Namun, Long Fei seolah tak merasakannya. Dalam sekejap pedang menembus tubuhnya, ia langsung merentangkan kedua lengan, merangkul Mo Xinrui, melingkarkan tangan di lehernya, lalu menurunkannya sehingga kedua lengan Mo Xinrui dan tubuhnya sendiri terjepit kuat, tak bergerak.
Di saat yang sama, kedua kakinya melingkar seperti ular, membelit erat kaki Mo Xinrui, lalu dengan kekuatan penuh tubuhnya, ia menjatuhkan Mo Xinrui ke tanah.
Tubuh Long Fei pun menindih tubuh Mo Xinrui dengan erat.
“Apa yang dilakukan bajingan itu?”
“Dia sedang menodai sang dewi!”
“Brengsek, kubunuh dia!”
“Lepaskan dewi kami, atau aku takkan pernah mengampunimu!”
Pemandangan mengejutkan di medan pertempuran itu membuat semua siswa laki-laki gemetar oleh kemarahan dan keinginan untuk mengoyak Long Fei menjadi berkeping-keping.
“Sungguh memalukan, bertarung melawan perempuan dengan cara seperti itu.”
“Masih pantaskah disebut laki-laki?”
“Metodenya benar-benar licik.”
Banyak siswi pun merasa kecewa, bahkan memandang hina pada Long Fei.
“Wow, keren sekali!”
“Penuh keberanian, benar-benar laki-laki sejati!”
“Bahkan saat berdarah, ia tetap maju demi kemenangan, mengerahkan segalanya. Semangat juang seperti ini patut dihormati.”
Hanya sedikit siswi yang merasa bahwa Long Fei mungkin sadar tak akan menang jika bertarung secara terbuka, sehingga memilih menukar luka dengan kesempatan, menahan Mo Xinrui dan memaksanya berada dalam posisi tertekan. Dalam hati, mereka mengagumi keberanian dan keteguhan Long Fei.