Bab 70: Pengejaran Mengerikan
Berdasarkan naluri seorang pemburu, Luo Zheng tahu dirinya sedang dibidik oleh seorang yang sangat berbahaya. Orang ini jelas bukan lawan yang bisa dia hadapi; bahkan dengan senapan runduk tipe 95 di tangan, paling banter dia hanya bisa melawan sebentar saja—hasil akhirnya tetap sama. Karena itu, Luo Zheng memilih untuk lari sejauh mungkin. Berani bertahan hanya akan membuatnya mati lebih cepat, dan Luo Zheng belum ingin mati.
Saat berlari, Luo Zheng merasakan nyeri menusuk di paru-parunya, seolah-olah hendak meledak. Itu akibat kurangnya suplai darah dari jantung, dan otaknya kekurangan oksigen. Namun, Luo Zheng tidak berani berhenti. Ia mengatur napas dengan teknik warisan keluarga. Sialnya, ia tersandung akar pohon yang menonjol. Tubuhnya tersentak, langkahnya melebar karena panik, namun akhirnya ia bisa menyeimbangkan diri dan terus berlari tanpa henti.
Dengan naluri pemburu yang tajam, Luo Zheng yakin lawannya sudah sangat dekat di belakang. Setiap saat bisa saja melancarkan serangan mematikan. Orang sekelas itu pasti membawa alat penglihatan malam, sedangkan dirinya tak punya apapun. Ia hanya mengandalkan insting dan pengetahuannya tentang hutan, sehingga tenaganya terkuras lebih cepat daripada lawan. Kalau begini terus, pasti celaka—ia harus mencari cara lain.
Sayangnya, otak yang kekurangan oksigen tidak mampu memikirkan strategi untuk lolos. Luo Zheng menggertakkan gigi dan terus berlari. Di depannya, ada sebuah lereng. Tiba-tiba ia merasakan sensasi menusuk di tengkuknya yang membuatnya ketakutan. Secara reflek, ia menjatuhkan diri ke tanah. Sebuah peluru menancap pada pohon di depannya, meninggalkan lubang.
Melihat lawannya sudah sedekat itu, Luo Zheng makin panik. Mendadak ia mendapat ide—dikeluarkannya belati militer tipe 65, lalu melempar ransel ke satu arah dan ia sendiri berlari ke arah berlawanan. Cara ini memang takkan membingungkan musuh terlalu lama, tapi bisa memberi sedikit waktu. Kalau terus lari seperti tadi, Luo Zheng yakin ia akan jatuh juga.
Dikejar di tengah malam seperti ini sungguh menyiksa. Tidak tahu kapan peluru menembus tubuh, tidak tahu musuh bersembunyi di mana. Perasaan tak berdaya ini membuat bulu kuduk Luo Zheng berdiri, nyaris membuatnya gila. Ia jadi teringat masa kecil, saat dikejar dua serigala liar. Seketika, sebuah gagasan melintas—kalau tak bisa melawan dengan senapan runduk, balaslah dengan cara berburu!
Dengan pikiran itu, Luo Zheng berhenti, melihat ke sekitar, lalu segera mengambil keputusan. Ia mencabut belati dan memasang jebakan seadanya. Waktunya sangat sempit, dan Luo Zheng tahu peluangnya tipis, tapi tak ada salahnya mencoba.
Dalam gelapnya hutan, seorang prajurit bertubuh tinggi berjongkok di depan ransel, mengamati beberapa saat. Ia menggerutu kesal, lalu menendang ransel itu dan berbalik, mengikuti jejak ranting dan daun kering yang terinjak. Setelah beberapa lama, ia berhenti lagi; sorot matanya yang tajam menyiratkan cemoohan. Ia perlahan berjongkok di samping pohon, mengamati tanah lapang di depan.
Tak lama, ia memungut sebatang ranting besar dan melemparkannya ke depan, tepat mengenai sebuah sulur tipis yang tersembunyi di bawah daun kering. Seketika, bayangan hitam melesat keluar, mengeluarkan suara menderu di udara, menghantam batang pohon hingga kulitnya pecah. Bayangan itu jatuh ke tanah—ternyata hanya sebatang tongkat.
Prajurit itu mencibir, tak peduli pada tongkat itu, lalu melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah kemudian ia kembali berhenti. Matanya yang dingin berkilat tajam dalam gelap, seperti bintang, menyapu sekitar hingga tertuju pada sebatang ranting patah di dekat semak. Ia mengitarinya dengan hati-hati.
Setelah melewati semak, ia menatap lebatnya hutan. Wajahnya semakin keras dan dingin, seluruh tubuhnya memancarkan aura membunuh yang menekan, seperti singa yang diremehkan, dengan gairah bertempur yang menggelegak. Prajurit itu melangkah lebar, dan saat melintasi pohon, ia menendang batu hingga mengenai sulur tipis yang nyaris tak terlihat di tanah.
Dua akar pohon pun melesat keluar dari kegelapan seperti anak panah, terbang melewati tubuh prajurit itu tanpa melukainya. Semua itu terlihat jelas oleh Luo Zheng yang bersembunyi tak jauh dari sana. Wajahnya langsung pucat. Ia pun berbalik dan berlari sekuat tenaga. Tiga jebakan beruntun yang susah payah ia pasang bisa diatasi lawan dengan mudah—orang itu benar-benar seorang monster luar biasa.
Sambil berlari, Luo Zheng hampir putus asa. Kemampuan menembaknya kalah, keahliannya berburu pun tak mempan, lalu harus bagaimana? Dalam kepanikan, ia sadar bahwa tak ada cara lain kecuali lari. Ia sendiri tak yakin bisa lolos, tapi pikirannya hanya dipenuhi satu kata: lari. Kalau ingin hidup, ia harus berlari secepat mungkin.
Lama-kelamaan, kedua kakinya terasa berat seperti dipenuhi timah. Napasnya memburu seperti alat pompa tua yang hampir rusak, seolah-olah sewaktu-waktu akan pingsan karena kehabisan napas. Jantungnya berdegup kencang, kepalanya pening, tak bisa berpikir jernih lagi. Luo Zheng tahu, tubuhnya sudah sampai batas kemampuan.
“Tak kusangka, suatu hari aku akan dikejar sampai mati. Bukankah ini sangat langka?” Di benaknya, Luo Zheng teringat pada Lan Xue. Semoga dengan mengalihkan perhatian musuh, ia bisa membantu gadis itu lolos. Sayangnya, ia mungkin tak bisa memenuhi janji dua tahun mereka. Ia merasa akan mengecewakan gadis itu juga.
Tiba-tiba, kakinya terpeleset, tubuhnya terhuyung dan menabrak pohon. Hampir bersamaan, suara tembakan menggelegar, peluru melesat ke kegelapan. Luo Zheng tersentak kaget, peluh dingin membasahi punggungnya, dan pikirannya langsung jernih, seolah-olah rasa takut memulihkan kesadarannya. Darahnya berdesir deras, tenaganya seakan pulih, pikirannya pun menjadi sangat tajam.
“Kalau tak bisa mengalahkanmu, apa aku juga tak bisa lari darimu? Akan kupaksa kau lari sampai mati!” Luo Zheng membatin dengan geram, lalu kembali berlari. Ia sama sekali tak sadar bahwa tubuhnya, di bawah ancaman kematian, telah menembus batas. Seluruh tubuhnya kini seperti mesin yang berputar kencang, bergerak cepat dan gesit.
Tak lama kemudian, prajurit pengejar itu muncul. Melihat Luo Zheng mendadak mempercepat lari, ia sempat terperangah, mengusap keringat di dahi, lalu bagai raja harimau yang tersulut amarah, semangat bertarungnya membara. Wajahnya yang semula mengejek kini berubah menjadi serius dan ganas. Ia pun menggertakkan gigi dan mempercepat langkah mengejar.
Luo Zheng tidak tahu siapa sebenarnya yang ia hadapi. Tapi ia mendadak merasa pikirannya jauh lebih jernih, napasnya pun lebih teratur. Dengan teknik pernapasan warisan keluarga, tenaganya juga cepat pulih. Sensasi aneh ini membuat Luo Zheng terkejut, namun kesempatan untuk hidup membuat hatinya berbunga-bunga, langkah kakinya pun makin cepat.
Tak lama, di depan tampak sebuah sungai lebar, dan di seberangnya berdiri sebuah gunung. Melompat ke sungai memang bisa jadi cara kabur, tapi sungai itu terlalu lebar. Luo Zheng tidak yakin bisa menyelam menyeberang tanpa terlihat. Begitu muncul di permukaan, ia akan jadi sasaran empuk. Musuh berada tak jauh di belakang, lengkap dengan alat penglihatan malam. Di tengah sungai yang terbuka, tak ada tempat untuk bersembunyi. Memikirkan itu, Luo Zheng menggertakkan gigi dan berlari menuju gunung. Di depan lawan sehebat itu, segala upaya mencari jalan pintas bisa berujung maut.