Bab 061: Kehangatan yang Tak Dapat Ditolak
Sejak awal, Jun Xiaomo sudah menduga bahwa Ke Xinwen akan menggunakan kekerasan untuk membongkar kunci pintu, karena itu ia memasang dua lapis formasi pada pintu dan jendela—lapis pertama adalah formasi serangan. Begitu Ke Xinwen menggunakan kekuatan untuk membobol kunci, formasi itu akan aktif dengan sendirinya dan menyerang orang yang merusaknya. Namun, karena batu spiritual yang tersimpan di cincin Jun Xiaomo terbatas, ia harus menghemat penggunaannya, sehingga formasi ini hanya bisa dipakai sekali lalu menjadi tidak aktif.
Formasi kedua yang dipasang Jun Xiaomo adalah formasi penarik. Begitu seseorang menyentuh area pengaruh formasi ini, ia akan langsung tersedot ke tempat yang sudah ditentukan. Kecuali kekuatan orang itu jauh melampaui batas kemampuan formasi, nyaris tidak ada kemungkinan untuk melawan. Maka, ketika Ke Xinwen menyentuh pintu, ia langsung tersedot masuk.
Dari sini terlihat bahwa Jun Xiaomo benar-benar sudah memperhitungkan segala sesuatu dengan matang, menggiring mangsanya langsung ke dalam jebakan yang telah ia siapkan.
Jebakan yang dipilih Jun Xiaomo pun disesuaikan dengan watak Ke Xinwen. Jika yang ia hadapi adalah Qin Lingyu, maka jebakan yang dipilih tentu berbeda. Ke Xinwen terkenal sombong dan gegabah, menganggap “Yao Mo” hanyalah seorang bocah lemah yang bisa ia hancurkan hanya dengan satu jari. Karena itu, ia tidak akan memiliki sedikitpun rasa waspada terhadap Jun Xiaomo, dan semua perbuatannya sudah masuk dalam perhitungan Jun Xiaomo sejak awal.
Inilah perbedaan antara seorang veteran yang kaya pengalaman dan seorang pemula yang hanya mengandalkan tingkat kekuatan tanpa pengalaman. Dulu, Jun Xiaomo sudah terlalu sering menipu musuh, musuh sekecil Ke Xinwen benar-benar belum layak diperhitungkan. Hanya jika Qin Lingyu yang turun tangan sendiri, barulah sedikit berarti.
Sebelum benar-benar memutuskan untuk menyingkirkan “Yao Mo”, Ke Xinwen sama sekali tidak menyangka bahwa bocah lemah yang tidak ia anggap penting ini bukan hanya mampu menghadapi dirinya, bahkan bisa membuatnya terjebak parah.
Kini, ketika akhirnya menyadari kelengahannya, sudah terlambat bagi Ke Xinwen untuk menyesal. Masuk ke ruangan ini mudah, keluar sangat sulit. Selain itu, Jun Xiaomo masih menyiapkan “kejutan besar” lain untuknya, yang akan ia berikan satu per satu.
Apa yang dialami Ke Xinwen di kamar Jun Xiaomo untuk sementara dikesampingkan. Di sisi lain, Jun Xiaomo yang aman-aman saja di kamar Ye Xiuwen, justru menghadapi dilema yang membuatnya serba salah.
Malam tiba, menandakan tidak hanya berakhirnya hari itu, tetapi juga bahwa ia harus beristirahat satu kamar bersama sang kakak seperguruan.
Melihat tempat tidur kecil yang amat sempit di kamar itu, Jun Xiaomo sangat ragu apakah ranjang itu cukup untuk berdua. Andaipun cukup, pasti sudah tidak ada ruang di antara mereka...
Memikirkan hal ini, Jun Xiaomo jadi tegang dan bingung, tidak tahu apakah sebaiknya ia berbaring dengan santai atau lebih baik duduk semalaman.
Cepat atau lambat, Ye Xiuwen pasti akan mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Saat itu, bagaimana ia harus bersikap di hadapan kakak seperguruannya? Semakin dipikir, Jun Xiaomo semakin gusar, bahkan berharap bisa memutar waktu kembali, lalu memilih identitas seorang perempuan ketika muncul di depan kakak seperguruannya.
Setidaknya, ia tak perlu menghadapi situasi yang begitu canggung.
Sebenarnya, Jun Xiaomo memang terlalu jauh berpikir. Meski ia dan Ye Xiuwen “berbagi tempat tidur”, toh mereka hanya akan mengobrol di balik selimut, tidak akan terjadi apa-apa. Nanti, saat semuanya terbongkar, selama hati mereka cukup lapang, tidak akan ada rasa canggung.
Namun, bahkan Jun Xiaomo sendiri tidak mengerti, mengapa ia begitu mempermasalahkan hal ini...
Tiba-tiba, suara air mengalir terdengar, memutuskan lamunan Jun Xiaomo. Tubuhnya seketika menegang, secara refleks ia menatap nyala lilin, enggan melirik ke arah balik sekat.
Ye Xiuwen sedang mandi di balik sekat. Karena penampilan Jun Xiaomo saat ini adalah seorang lelaki, Ye Xiuwen merasa tidak perlu terlalu menjaga jarak, ia langsung mandi di kamar itu menggunakan bak mandi.
Jun Xiaomo menatap api lilin cukup lama, dan saat menyadari Ye Xiuwen belum juga keluar, ia pun diam-diam menghela napas lega.
Sebenarnya, kakak seperguruannya juga tidak mungkin keluar tanpa busana. Kenapa ia tadi sampai repot-repot khawatir? Jun Xiaomo menegur dirinya sendiri dalam hati, lalu mengalihkan pandangan sambil mengusap matanya yang perih dan berair.
Tiba-tiba, tirai sekat tersibak, dan sesosok tubuh ramping melangkah keluar. Ye Xiuwen hanya mengenakan pakaian dalam, seutas tali kain diikat longgar di pinggang, rambut hitam legam terurai hingga pinggang. Dalam temaram cahaya lilin, guratan otot dada Ye Xiuwen tampak samar—kukuh tanpa berlebihan, kulitnya yang agak pucat diselimuti sinar keemasan, menambah kesan keindahan yang temaram.
Tangan Jun Xiaomo yang sedang mengusap mata tiba-tiba terhenti, ia terpaku menatap Ye Xiuwen yang baru keluar dari balik sekat, sejenak tidak mampu bereaksi.
Tatkala bertemu tatap, seulas gelombang tipis melintas di mata tenang Ye Xiuwen. Ia berjalan mendekat, duduk di samping Jun Xiaomo, menuangkan secangkir teh, menyeruputnya pelan, lalu berkata, “Luka di wajahku ini diakibatkan oleh erosi energi iblis saat kecil.”
“Apa?!” Jun Xiaomo tertegun, baru setelah beberapa saat ia menyadari apa yang dikatakan Ye Xiuwen.
Mengapa kakak seperguruannya tiba-tiba membicarakan lukanya? Pikiran pertama Jun Xiaomo adalah mempertanyakan hal itu. Lalu ia sadar, sebelum mandi tadi, Ye Xiuwen sudah melepas kerudung penutup wajahnya.
Kini, yang tampak di hadapannya adalah wajah asli Ye Xiuwen, tanpa penutup apa pun.
Sebenarnya, wajah asli Ye Xiuwen tidaklah buruk. Dari alis, hidung, bibir, hingga garis wajahnya, dapat ditebak bahwa jika bukan karena cacat, ia pasti seorang pria tampan.
Namun, itu semua hanya dapat disimpulkan setelah mengamati dengan saksama. Orang lain, ketika pertama kali melihat Ye Xiuwen, pasti akan terkejut dengan luka besar yang melintang di wajahnya. Luka itu bukan hanya menakutkan dan jelek, tetapi di sekelilingnya juga mengalir aura hitam berbentuk ular, seolah hidup.
Itu adalah kutukan seorang kultivator iblis. Kecuali ia berhasil menemukan pelakunya, atau menggunakan cara khusus untuk memecahkan kutukan, luka itu akan mengikuti Ye Xiuwen seumur hidup!
Kehidupan seorang kultivator bisa sangat panjang, tergantung pada tingkat kekuatan mereka. Dalam kasus Ye Xiuwen, hidupnya bisa ratusan, bahkan ribuan atau puluhan ribu tahun.
Haruskah sang kakak seperguruan menjalani hidup selamanya dengan luka itu, menyembunyikan diri di balik kerudung dan tidak pernah berani menampakkan diri? Haruskah ia memendam luka itu selamanya, dan tak pernah berani menerima pujian orang lain atau mengejar cinta yang ia dambakan?
Mengingat di kehidupan lalu Zhang Shuyue telah menipu perasaan Ye Xiuwen, membuatnya terjerat hingga akhirnya hancur lebur, hati Jun Xiaomo terasa sakit. Ia takut kakak seperguruannya akan mengulangi kesalahan yang sama. Jika di kehidupan ini Ye Xiuwen kembali jatuh cinta pada Zhang Shuyue, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia membunuh Zhang Shuyue, atau langsung mematahkan tangan dan kakinya, menghancurkan inti jiwanya, lalu menyerahkan Zhang Shuyue yang tak berdaya kepada sang kakak seperguruan?
Jangan katakan ia terlalu kejam. Sejak dulu, ia memang dikenal sebagai ratu iblis. Terhadap orang yang ia benci, apalagi musuh, ia tak pernah peduli soal cara ataupun kekejaman—selama hasil akhirnya sesuai dengan keinginannya.
Namun, jika kakak seperguruan benar-benar jatuh cinta lagi pada Zhang Shuyue, dua cara itu pasti akan membuatnya menderita, bukan?
Jun Xiaomo merasa kesedihan di hatinya hampir menenggelamkan dirinya sendiri. Ia menggigit bibir bawah, menatap Ye Xiuwen tanpa berkedip, bahkan tak sadar kapan air matanya mulai mengalir.
Ye Xiuwen awalnya mengira “bocah laki-laki” itu terkejut dan ketakutan melihat luka di wajahnya, makanya sampai terpaku. Namun, ketika ia meneguk tehnya dan kembali menoleh, ia justru mendapati pipi “bocah itu” basah oleh air mata, matanya memerah seperti kelinci kecil yang tersakiti.
Kali ini, giliran Ye Xiuwen yang tertegun. Ia tidak mengerti, mengapa bocah ini menangis setelah melihat dirinya.
Apalagi, air mata itu mengalir diam-diam, tanpa suara, justru membuatnya tampak semakin menyedihkan.
Apakah wajahnya benar-benar begitu menakutkan hingga bocah enam belas tahun pun menangis ketakutan?
Ye Xiuwen mengusap dahinya, mengeluarkan saputangan, lalu menyerahkannya pada Jun Xiaomo. “Lap dulu air matamu.”
Jun Xiaomo menerima saputangan itu, mengusap wajahnya, dan setelah hampir semua air matanya kering, ia akhirnya tersadar bahwa ia benar-benar menangis barusan.
“Terima kasih, Ka... Ye Dage,” ujar Jun Xiaomo pelan sambil menunduk, sempat tergagap menggigit lidahnya.
Karena terlalu melamun, ia nyaris memanggil Ye Xiuwen dengan sebutan kakak seperguruan.
Ye Xiuwen tak terlalu memperhatikan jeda sesaat itu. Ia menatap pusaran rambut bocah itu yang menunduk, lalu setelah beberapa saat, bertanya tenang, “Yao Mo, apa kau takut dengan luka di wajahku ini?”
“Apa?” Jun Xiaomo tertegun. Ia menegakkan kepala, menatap Ye Xiuwen dengan mata masih berair.
Ye Xiuwen menarik napas pelan. “Jujur saja, aku tak akan menyalahkanmu. Bukan hanya kau yang pernah menangis ketakutan melihat luka ini.”
—Orang lain itu adalah adik seperguruan di sekte, Jun Xiaomo. Saat itu Jun Xiaomo baru berusia enam tahun, masih polos dan belum mengerti banyak, tapi ia pernah benar-benar menyakiti hati kakak seperguruannya sekali.
Namun, Ye Xiuwen kini bukan lagi remaja berusia enam belas tahun yang masih sensitif dan rapuh. Ia takkan marah hanya karena “Yao Mo” menangis, juga takkan sedih jika “Yao Mo” takut. Ia sudah mampu menghadapi pandangan aneh orang lain dengan hati yang tenang.
Paling penting, “Yao Mo” dalam hatinya hanya sebatas teman baru. Jika yang duduk di hadapannya kini adalah Jun Xiaomo sendiri, mungkin ia tak akan bisa setenang ini.
Bagaimanapun, kadar perhatian di hati menentukan reaksi yang ditunjukkan.
Setelah mendengar itu, mana mungkin Jun Xiaomo tidak sadar Ye Xiuwen kembali salah paham? Jun Xiaomo buru-buru menegakkan kepala, menggenggam tangannya, lalu berkata sungguh-sungguh, “Bukan begitu, aku sama sekali tidak merasa luka itu menakutkan!”
Itu memang benar. Di kehidupan sebelumnya, ia sudah melihat pemandangan yang jauh lebih menjijikkan. Luka Ye Xiuwen sama sekali tidak bisa disebut “menakutkan” di matanya.
Itulah sebabnya tadi ia bahkan tidak sadar Ye Xiuwen telah melepas kerudung—ia sama sekali tidak memperhatikan luka tersebut.
Di mata hitam pekat “Yao Mo”, bayangannya sendiri terpampang jelas. Dalam temaram cahaya lilin, mata itu jernih dan dalam, seperti kolam bening yang dasar emosinya mudah terbaca.
Tatapan “Yao Mo” begitu serius, hingga Ye Xiuwen pun tak sanggup menyangkal.
Ia menarik napas perlahan, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Ia mengacak rambut Jun Xiaomo, berkata, “Aku mengerti, terima kasih, Xiao Mo.”
Apa pun alasan bocah ini begitu peduli pada perasaannya, Ye Xiuwen tetap akan menyimpan kebaikan hati itu dalam-dalam—tak banyak orang sanggup menolak kehangatan tulus dari orang lain, setidaknya Ye Xiuwen tidak bisa.
Senyum damai itu melembutkan aura dingin pada diri Ye Xiuwen. Jantung Jun Xiaomo bergetar, dan ia pun tersenyum bodoh.
Di bawah cahaya oranye yang hangat, kamar itu seketika dipenuhi suasana akrab dan damai.