Bab 015: Tamparan Tanpa Ampun (Bagian Akhir)
Ucapan terakhir Jun Xiaomo tadi benar-benar telah membersihkan segala kecurigaan bahwa dia menurunkan tingkat kultivasinya dengan meminum pil, namun kenyataan bahwa tingkat kultivasinya tiba-tiba jatuh hanya sampai tahap Qi Satu tetap menyisakan banyak pertanyaan. Sesepuh Kedua merenung beberapa saat, lalu mengangkat kelopak matanya dan bertanya dengan nada datar, “Sejak kapan tingkat kultivasimu mulai menurun?”
“Menjawab Sesepuh Kedua, murid tidak tahu,” Jun Xiaomo membungkukkan badan memberi hormat.
“Tidak tahu?” Alis Sesepuh Kedua mengerut.
“Benar, tidak tahu. Setelah murid dihukum karena masuk ke tempat terlarang tanpa izin, Kepala Sekte pernah memeriksa meridian dan dantian murid. Saat itu memang ada kerusakan, tapi tidak sampai pada tahap yang tidak bisa dipulihkan. Tak disangka, beberapa hari terakhir ini, energi spiritual dalam dantian dan meridian murid semakin banyak yang hilang. Saat murid menyadari tubuh mulai lemah, energi spiritual hampir habis, semuanya sudah terlambat, dan tingkat kultivasi murid turun hingga tahap Qi Satu.”
Dalam penjelasannya, Jun Xiaomo mencampuradukkan kebenaran dan kebohongan. Dia tahu, ucapan yang setengah benar dan setengah salah seperti ini adalah yang paling sulit untuk dinilai.
Sekalipun seseorang meminta He Zhang untuk memastikan, dia pun tak takut. Memang benar dia telah meminum pil penyembuh dari He Zhang, namun siapa pula yang bisa menjelaskan mengapa semakin “disembuhkan”, justru semakin “terluka”? Mungkin saja, He Zhang sendiri pun tak berani mengungkapkan apa yang sebenarnya telah ia berikan padanya.
Hah, pil yang bisa mengubah seseorang menjadi tubuh iblis… Apakah He Zhang benar-benar menganggap semua orang itu bodoh?
Benar saja, setelah Jun Xiaomo selesai berbicara, suasana sekeliling pun sunyi seketika.
Betapa berat hukuman yang diterima Jun Xiaomo setelah menerobos ke tempat terlarang waktu itu, semua orang telah menyaksikannya sendiri. Jadi, jika karena hukuman itu dasar kultivasinya terluka, hal itu pun tidak aneh lagi.
“Mengapa kau tidak melaporkan hal ini pada sekte?” Sesepuh Ketiga mengejar dengan pertanyaan.
“Menerobos ke tempat terlarang memang pantas untuk dihukum. Jika karena itu kultivasi murid menurun, itu adalah akibat dari perbuatan murid sendiri. Karena itu, murid tidak ingin mengganggu para sesepuh dengan persoalan sepele seperti ini,” jawab Jun Xiaomo dengan penuh ketegasan, benar-benar menunjukkan sikap seorang murid yang memikirkan para sesepuhnya.
Berpura-pura? Dia juga bisa, hanya saja dia tidak sudi berpura-pura lemah. Pandangan dingin Jun Xiaomo menyapu Yuwanyu yang duduk di samping, menunduk, entah sedang memikirkan apa.
Setelah Jun Xiaomo berkata demikian, Sesepuh Ketiga dan Kelima mengangguk penuh apresiasi. Jelas ucapan Jun Xiaomo barusan membuat kesan mereka terhadapnya jauh lebih baik. Namun, Sesepuh Kedua adalah pengecualian, tatapan yang ia berikan kepada Jun Xiaomo justru semakin sulit ditebak.
Hati Jun Xiaomo sedikit tenggelam, merasa kalau sikap Sesepuh Kedua terhadapnya agak bermasalah.
Sepengetahuannya, ia tidak punya alasan untuk menyinggung Sesepuh Kedua yang begitu terpandang di sekte. Mungkin saja sang sesepuh punya alasan lain untuk terus-menerus mempersulit dirinya.
Apa sebabnya? Hanya tidak suka melihat dirinya, ataukah ada alasan lain…
Belum sempat Jun Xiaomo menelusuri lebih jauh, pikirannya sudah dipotong oleh seseorang—
“Ehm… Adik Xiaomo, jika tingkat kultivasimu benar-benar turun ke Qi Satu, kenapa kau tidak terlihat seperti orang yang sedang kesakitan?” Seorang laki-laki dari barisan para murid bertanya ragu.
Tadi saja, sikapmu masih begitu tajam dan penuh tekanan, dalam hati laki-laki itu menambahkan.
Mata Jun Xiaomo menatapnya sekilas, lalu dengan tenang menyapu seluruh hadirin. Dalam pandangan mereka, Jun Xiaomo menangkap banyak keraguan dan kebingungan yang serupa.
Jun Xiaomo menyipitkan mata, lalu mengangkat dagu, bibirnya melengkung tipis, ia berkata lantang pada semua orang, “Apakah rasa tidak nyaman harus selalu diperlihatkan? Untuk apa? Agar kalian merasa kasihan padaku? Simpati? Rasa iba? Semua itu tidak kubutuhkan. Aku adalah putri Jun Linxuan, aku punya kebanggaanku sendiri. Sampai di sini ucapanku, silakan kalian nilai sendiri.” Setelah berkata demikian, ia memalingkan kepala dengan kesan tidak peduli, sama sekali tidak menatap siapa pun lagi.
Bukankah mereka bilang dia ‘angkuh dan keras kepala, manja dan semena-mena’? Baiklah, kali ini ia tunjukkan ‘kebanggaannya’!
Benar, Jun Xiaomo saat itu memang terlihat sangat ‘bangga’, namun keangkuhannya tidak membuat orang tidak suka. Jika Yuwanyu selalu menampilkan air mata yang membuat orang iba, maka Jun Xiaomo yang tetap tegar dalam luka justru membuat hati orang merasa lebih terenyuh, bahkan… sedikit menggemaskan?
Ada binatang bernama “kucing spiritual” yang serupa, meski terluka, tetap berusaha memasang sikap gagah dan tak mau kalah, seolah ingin menunjukkan keberanian dan keteguhan hatinya—entah mengapa, banyak orang yang teringat akan hal itu, termasuk Qin Lingyu dan Ye Xiuwen, walau keduanya tidak menampakkan ekspresi apa pun.
Banyak murid laki-laki di tempat itu mulai condong hatinya pada Jun Xiaomo; di benak mereka terlintas satu kalimat yang sama: Layaklah dia jadi putri Jun Linxuan, wataknya sungguh kuat.
Dalam hati Yuwanyu lonceng peringatan langsung berdentang! Ia secara refleks menoleh pada Qin Lingyu, mendapati pemuda itu sedang menatap Jun Xiaomo di tengah kerumunan, dengan sorot mata yang bahkan dirinya sendiri tak sadari betapa rumitnya. Hati Yuwanyu terasa nyeri, dan ia berseru dalam hati: Tidak boleh! Lingyu milikku! Jun Xiaomo tidak boleh merebutnya!
Seolah menanggapi kegelisahan di hatinya, luka di dada Yuwanyu tiba-tiba saja terasa makin sakit, membuatnya terbatuk-batuk hebat, seakan paru-parunya hendak terlepas.
Jun Xiaomo menoleh karena terganggu oleh suara batuk Yuwanyu, lalu berkata dengan suara dingin, “Bagaimana, Adik Yuwan, apa masih ada yang ingin kau tambahkan? Atau… kau tetap yakin bahwa aku dengan tingkat Qi Satu bisa melukaimu yang sudah Qi Lima, hmm?”
“Aku bukan… batuk… batuk…” Yuwanyu ingin menjelaskan bahwa ia batuk bukan untuk menyampaikan sesuatu, tapi Jun Xiaomo sama sekali tak memberinya kesempatan.
“Kenapa, kau tidak sedang memfitnahku?” Sudut bibir Jun Xiaomo melengkung mengejek, sengaja memelintir maksud ucapan Yuwanyu, “Coba kau uraikan, bagaimana aku dengan ‘sembrono’ menyakitimu, bagaimana aku ‘manja dan semena-mena’ mengancammu agar tidak menyebarkan kejadian itu. Ceritakan dengan rinci, jangan ada yang dilewatkan.”
Yuwanyu menggigit bibirnya kuat-kuat, air mata pun menggenang di pelupuk matanya.
Kali ini air mata itu bukan pura-pura, ia sungguh merasa tertekan—entah mengapa, setiap kali ia mencoba mengingat detail saat Jun Xiaomo melukainya, semua bayangannya justru menjadi kabur.
Seolah ingatannya telah diubah seseorang!
Jun Xiaomo menyipitkan mata, lewat ekspresi Yuwanyu ia menangkap satu hal.
Yuwanyu tampaknya benar-benar telah melupakan gejala hampir berubah menjadi iblis waktu itu. Baguslah, jika ia sampai mengingatnya, itulah yang benar-benar merepotkan.
Jun Xiaomo menyingkirkan pikiran itu untuk sementara.
Dengan langkah perlahan, ia mendekati Yuwanyu yang tengah berlinang air mata.
“Tsk tsk, sepertinya aku memang ‘manja dan semena-mena’ ya, buktinya kau sampai menangis begini. Aku jadi penasaran, apakah reputasi ‘manja dan semena-mena’ku selama ini juga didapat dengan cara seperti ini?”
Jun Xiaomo berkata pelan dan santai, tak terlalu keras, tapi karena suasana sangat hening, semua orang mendengarnya dengan jelas.
Sekejap saja, setengah lebih dari orang yang hadir langsung berubah pandangan terhadap Yuwanyu: Ya, bukankah kesan mereka pada Jun Xiaomo yang ‘manja dan semena-mena’ itu hanya didengar dari cerita orang? Banyak yang bilang Jun Xiaomo sering memanfaatkan statusnya untuk menindas murid-murid yang latar belakangnya tidak baik, dan nama yang paling sering disebut adalah Yuwanyu.
Tapi jika ‘penindasan’ hanya sebatas ini… rupanya rumor tidak selalu dapat dipercaya.
Merasa ditatap dengan pandangan menusuk, Yuwanyu benar-benar ingin merobek senyuman di wajah Jun Xiaomo!
Bagaikan pemburu yang seumur hidupnya menangkap elang, siapa sangka hari ini justru matanya dipatuk burung elang! Dulu dia sering bersandiwara lemah supaya Jun Xiaomo sulit membela diri, kini giliran dirinya yang harus menelan pil pahit itu, membuat amarahnya benar-benar tersangkut di tenggorokan.
Yuwanyu menguatkan tekad, ia harus bertahan—kalau tidak, tuduhan ‘memfitnah sesama murid’ akan menimpa dirinya!
Di sekte, dosa memfitnah sesama murid juga sangatlah berat. Yuwanyu jelas takut akan hal itu.
Dengan pikiran seperti itu, air mata yang sudah menggenang di mata Yuwanyu akhirnya mengalir turun. Dengan suara tersendat ia berkata, “Kakak Xiaomo, aku juga tidak ingin memfitnahmu, tapi saat itu orang yang kulihat memang kau, aku harus bagaimana? Sebenarnya aku juga tidak ingin memperpanjang masalah ini, aku hanya tidak ingin kesalahpahaman di antara kita berlanjut… batuk… bisakah kita melupakan semua ini? Aku tidak akan mempermasalahkan siapa yang melukaiku…”
Jun Xiaomo berdiri tegak, menatap Yuwanyu beberapa saat, lalu mendadak tersenyum.
Pandangan Yuwanyu bergetar, mengira Jun Xiaomo akan menerima jalan damai ini, ternyata—
“Tidak bisa.” Jun Xiaomo berkata tegas dan lantang, “Antara aku dan kau, tidak akan pernah bisa saling memaafkan, karena kau terlalu munafik.”
Ucapan Jun Xiaomo membuat Yuwanyu tercekat, menatapnya kosong, sampai-sampai air matanya pun lupa mengalir.