Pengalaman Pertama Berakting
Keesokan harinya, seorang pemuda yang seluruh tubuhnya basah oleh keringat kembali ke rumah sambil membawa bungkusan berisi bakpao, cakwe, dan susu kedelai.
"Xiao Heng, sudah selesai latihan?" Di depan pintu, ia berpapasan dengan seorang kakek tua dari kompleks perumahan yang sedang berolahraga pagi.
"Selamat pagi, Kakek Dong. Saya baru saja lari beberapa putaran. Tubuh saya masih jauh kalah kuat dibanding Kakek, yang setiap pagi bisa dua jam melakukan delapan gerakan pernapasan!"
"Menjaga kebiasaan berolahraga itu baik, setiap generasi pasti lebih hebat dari sebelumnya. Masa depan ada di tangan kalian!" Kakek tua itu tersenyum lebar.
Kakek Dong ini adalah senior ayah Luo, profesor tua di Universitas Shuimu yang kini berusia lebih dari tujuh puluh tahun, namun masih mampu memimpin tim riset setiap hari. Sungguh mengagumkan!
Setelah sarapan, Luo Heng berganti pakaian santai dan pergi ke jalan raya untuk mencari taksi.
"Pak, ke Kota Film Beiputuo, Daxing." Luo Heng duduk di kursi belakang.
"Jauh juga, ada keperluan apa ke sana?" Sopir itu tidak langsung menyalakan mesin, sambil mengamati Luo Heng lewat kaca spion, ia bertanya dengan nada hati-hati.
Pada masa itu, keamanan tidak sebaik sekarang. Kasus sopir taksi dirampok di daerah terpencil sering terjadi di seluruh negeri, sehingga banyak sopir enggan mengantarkan pemuda ke pinggiran kota.
"Pak, saya dengar hari ini ada syuting film di sana. Saya ingin merasakan suasananya," jawab Luo Heng sambil tersenyum. Ia mendapat informasi ini dari Qian, katanya setelah masa wabah, banyak kru film mulai syuting lagi di sana.
"Baiklah, duduk yang nyaman, kita berangkat sekarang."
"Anak muda, kamu pasti pemain film ya! Sudah banyak orang yang saya antar, belum ada yang sekeren kamu. Kalau bukan kamu, mungkin orderan hari ini saya tolak!" Sopir itu mulai banyak bicara, sementara Luo Heng menanggapinya dengan senyum seadanya, sekalian mencari tahu soal kondisi kota film itu.
Karena belum memahami sistem misterius yang ia miliki, Luo Heng juga belum punya rencana masa depan yang pasti, dan secara naluri tak ingin orang lain tahu urusannya. Jadi ia memilih datang sendiri untuk melihat-lihat situasi di kota film.
Sesampainya di kota film, suasana di gerbang tampak sepi, tidak seramai seperti yang digambarkan Qian. Hanya ada beberapa bus besar yang parkir.
"Qian memang suka membesar-besarkan cerita. Kalau hari ini tidak dapat apa-apa, pulang nanti harus saya tegur," pikir Luo Heng dalam hati.
Ia berjalan ke arah barat laut, dan menemukan kompleks bangunan bergaya kuno. Di tengahnya tergantung papan bertuliskan "Jalan Dinasti Ming dan Qing", dan di dalamnya tampak keramaian orang.
Luo Heng segera mendekat. Di tengah kerumunan, dua kamera tengah merekam beberapa orang berpakaian jubah panjang khas akhir Dinasti Qing. Saat Luo Heng ingin mendekat, seorang pemuda tiba-tiba muncul dan bertanya, "Kamu siapa?"
"Saya ke sini... sebagai figuran," awalnya Luo Heng ingin mengaku sebagai turis, tapi cepat-cepat mengubah jawabannya.
Pemuda itu menatap Luo Heng dari atas ke bawah, lalu berteriak, "Lao Li, sini sebentar!"
Tak lama, seorang pria gemuk berkulit gelap berlari kecil menghampiri, "Sutradara Wu, ada apa?"
"Ini orangmu? Jangan biarkan dia dekat-dekat dengan kamera. Jaga baik-baik!" Sutradara Wu melirik Luo Heng, memberi instruksi pada si gemuk, lalu pergi.
Pria gemuk itu menunduk sopan pada sutradara Wu, tapi begitu orang itu pergi, wajahnya langsung berubah sinis, "Saya nggak ingat bawa kamu tadi pagi, kamu siapa?"
"Bang Li, mungkin Anda lupa, saya memang figuran yang ikut dengan Anda. Hari ini saya khusus datang buat merasakan jadi pemain film," jawab Luo Heng sambil tersenyum dan mengeluarkan sebungkus rokok, lalu menyelipkannya ke tangan si gemuk.
Setelah mengamati Luo Heng beberapa saat, si gemuk pun tersenyum ramah, "Iya, pagi-pagi saya narik orang, jadi lupa. Oke, ikut saya."
Luo Heng mengikuti pria itu masuk ke sebuah ruangan, di mana beberapa orang tengah berganti kostum. Pria gemuk itu menunjuk ke tumpukan pakaian di atas meja besar. "Ambil salah satu, di samping ada wig kepang panjang, jangan lupa pakai wig lalu topi. Setelah itu tunggu di sini, jangan kemana-mana, kalau ada adegan nanti saya panggil."
Setelah itu, pria gemuk itu sibuk sendiri, tak lagi memedulikan Luo Heng.
Luo Heng pun memilih-milih pakaian di meja. Semuanya model akhir Dinasti Qing, beberapa bahkan masih berbau khas. Ia akhirnya menemukan satu yang cukup bersih dan wig yang rapi, lalu segera memakainya.
Seorang pria kurus yang sudah siap berdandan menghampiri, "Bro, tadi nggak lihat kamu. Kamu juga figuran? Kayaknya wajah kamu nggak asing!"
Luo Heng sudah terbiasa dengan pujian akan ketampanannya. Mungkin berkat gen kedua orang tuanya, Luo Heng memang tampan, bukan tipe imut seperti artis zaman sekarang, tapi berwajah tegas dan berwibawa.
Tak sampai seheboh pujian Qian kemarin yang bilang dia bisa menyaingi bintang besar seperti Andy Lau dan Tony Leung, tapi setidaknya setara dengan Daniel Wu atau Louis Koo.
"Bang, saya masih mahasiswa," jawab Luo Heng sambil tersenyum.
"Oh, jadi kamu mahasiswa sekolah perfilman? Datang untuk cari pengalaman ya? Pantas saja, wajah seganteng ini kok mau jadi figuran! Saya iri sama kalian yang punya jalur resmi, diajarin, banyak peluang, sebut nama kampus aja langsung dapat peran!"
Luo Heng tidak menanggapi dugaan salah pria itu, hanya menangguk sambil terus mencari tahu soal kru film itu.
Dari obrolan, ia tahu kalau kru ini sedang syuting serial televisi berjudul "Restoran Nomor Satu di Dunia", kisahnya tentang membuka restoran, tapi detail cerita pun si kurus tidak tahu. Tadi pria gemuk itu adalah koordinator figuran, dan Sutradara Wu adalah asisten sutradara.
Saat mereka mengobrol, pria gemuk itu masuk dan memanggil, "Sudah, jangan banyak bicara, kamu, Lao Jiang, dan... ikut saya!" Luo Heng dan si kurus yang dipanggil Lao Jiang segera berdiri dan mengikuti pria itu keluar.
Mereka dibawa ke sebuah ruangan yang diatur seperti rumah makan tempo dulu. Di depan pintu ada meja kasir dengan sempoa, kendi arak, dindingnya ditempeli kaligrafi dan lukisan, meja kursinya pun tampak tua. Beberapa pelayan berkostum zaman kuno berdiri di dalam, benar-benar seperti rumah makan zaman dulu.
"Sutradara Wu, semua figuran sudah saya bawa, silakan atur," kata pria gemuk itu dengan ramah pada Sutradara Wu.
Sutradara Wu memeriksa satu per satu, lalu mengatur, "Meja ini, tiga orang, pojok sana dua orang, lalu paling luar..." Dalam sekejap, belasan figuran ditempatkan di berbagai meja.
"Kalian sekarang jadi tamu restoran ini. Nanti saat ada aba-aba, mulailah berakting sedang makan. Boleh ngobrol, tapi jangan berteriak. Pokoknya, tunjukkan suasana restoran yang ramai. Mengerti?"
Sutradara Wu lalu pergi ke dekat kamera. Tak lama, seorang pemuda membawa papan clapper dan berteriak, "Adegan 4, kamera 1, take 1, 3, 2, 1, aksi!"
Lao Jiang yang duduk satu meja dengan Luo Heng langsung mengambil mangkuk kosong dan sumpit, berpura-pura makan. Luo Heng pun ikut menirukan.
"Enak sekali, masakan hari ini benar-benar lezat. Saudara, coba ikan kuning kecil mereka, luar biasa!" Lao Jiang sambil mengangkat sumpit kosong berpura-pura mengambil makanan dan berbicara pada Luo Heng.
Luo Heng sempat terpaku, lalu mengambil kendi kosong di atas meja, menuangkan ke mangkuknya.
"Kakak, jangan cuma makan sayur, arak di sini yang paling istimewa. Hari ini saya yang traktir, kita minum sampai puas, saya minum, kamu suka-suka!" Luo Heng pun langsung larut dalam peran, bersama Lao Jiang bersulang dengan mangkuk kosong, seolah benar-benar menikmati hidangan di restoran zaman dulu.