Empat Puluh Satu, Menerima Kepercayaan Orang
Mendengar ketukan pintu, Jiang Jianfei menoleh. Detik berikutnya, kedua matanya membelalak selebar lonceng tembaga, dipenuhi dengan rasa tidak percaya. "Dia... dia Ling Yao?" Tidak mungkin!
Wanita yang bisa menarik perhatian Saudara Lu pastinya adalah seorang wanita yang sangat cantik. Namun, Ling Yao yang ada di hadapannya ini tidak hanya berwajah biasa saja, tetapi juga bertubuh gemuk. Dia pasti telah salah orang.
"Kepala Sekolah! Anda memanggil saya?" Ling Yao berhenti tiga langkah darinya.
Kepala sekolah mengangguk, lalu menunjuk ke arah Jiang Jianfei di sampingnya sambil tersenyum. "Tuan Jiang yang ingin mencari kamu."
Ling Yao menatap Jiang Jianfei dengan penuh kebingungan. "Ada perlu apa Anda mencari saya?" Ia yakin dirinya sama sekali tidak pernah mengenal pria itu.
Jiang Jianfei berdehem. "Aku datang untuk melihatmu atas titipan seseorang. Apakah ada yang kubantu?" Penampilan Ling Yao memang tidak menonjol, tetapi temperamennya yang unik membuat orang sulit untuk mengabaikannya.
Terutama sepasang matanya, begitu cemerlang bagaikan gugusan bintang, jernih seperti air telaga, tenang namun penuh kedalaman. Saat menatap matanya, seolah-olah seseorang dapat melihat pantulan diri sendiri, membuat siapa pun tanpa sadar merasa tertarik.
Ling Yao mengangkat alisnya. "Tidak perlu, terima kasih!"
"Apakah kamu tidak ingin tahu siapa yang menyuruhku datang?" Melihat ekspresi Ling Yao yang begitu tenang, Jiang Jianfei berniat untuk mengggodanya. Ia ingin melihat apakah ekspresi Ling Yao akan berubah jika tahu bahwa dirinya adalah teman Saudara Lu.
Ling Yao menggelengkan kepalanya. "Sampaikan terima kasihku padanya." Ia sudah menebak jawabannya di dalam hati. Jiang Jianfei berlogat Beijing, dan satu-satunya orang Beijing yang dikenalnya hanyalah Lu Qingyun.
Kini Jiang Jianfei mengerti mengapa Lu Qingyun begitu memerhatikan Ling Yao; gadis itu benar-benar sangat berbeda dari wanita lain. Jika digantikan oleh wanita lain, meskipun ia tidak memberitahu, mereka pasti akan mendesak untuk bertanya hingga tuntas.
Ling Yao menatap kepala sekolah. "Kepala Sekolah, jika tidak ada hal lain, saya kembali ke kelas dulu."
Kepala sekolah menatap Jiang Jianfei untuk meminta persetujuan.
"Bisakah kita mengobrol sebentar secara pribadi?" Jiang Jianfei ingin mengobrol dengan Ling Yao lebih lama untuk mengenalnya lebih jauh, dan juga ingin tahu apa pendapat gadis itu tentang Saudara Lu di dalam hatinya.
"Baiklah, mari kita mengobrol di tepi sungai."
Setibanya di tepi sungai, Ling Yao duduk di atas rumput. Seppoi-sepoi angin berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut di balik telinganya.
"Ling Yao, apakah kamu benar-benar tidak penasaran sama sekali siapa yang menyuruhku datang?" Jiang Jianfei duduk dengan jarak dua langkah darinya. Tanpa diduga, merasakan terpaan angin di tepi sungai ini terasa cukup nyaman.
"Tidak ada yang perlu membuatku penasaran." Ling Yao mengangkat tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut yang tergerai di dahinya ke balik telinga, lalu pandangannya tertuju pada dua ekor ikan yang sedang berkejaran di dalam air.
Tubuh kedua ikan itu begitu ringan dan lincah, laksana peri kecil yang sedang menari dengan gemulai. Ekor mereka bergerak lembut bagaikan dua buah kipas kecil yang bergoyang anggun di dalam air, seolah-olah sedang menarikan sebuah dansa waltz yang indah. Sisik mereka memantulkan cahaya matahari, berkilauan bagaikan dua permata cemerlang yang bersinar di dalam air.
Jiang Jianfei mengangkat bahunya tanpa berdaya. "Itu adalah Saudara Lu, yaitu Lu Qingyun. Dia meneleponku dan memintaku untuk menjagamu." Sebenarnya ia tidak bisa tinggal terlalu lama di Kota Yun, dan akan kembali ke Beijing beberapa waktu ke depan.
Pabrik pengemasan itu didirikannya bersama seorang teman kuliah. Karena mereka mendalami jurusan seni rupa saat kuliah dan sangat tertarik pada desain kemasan, mereka pun berinvestasi bersama untuk membuka pabrik tersebut.
"Hm." Ling Yao mengangguk dengan ekspresi datar.
Jiang Jianfei tidak bisa duduk tenang lagi. Ia melompat berdiri dari tanah. "Dia itu Saudara Lu, tapi reaksimu cuma begini?" Di dalam hatinya, Saudara Lu adalah sosok yang eksistensinya bagaikan dewa. Jangankan dirinya, di kalangan generasi muda pun, pria itu adalah teladan.
Begitu pula dengan para gadis di luar sana; melihat Saudara Lu ibarat lalat yang melihat... ah, ralat! Bagaikan lebah yang melihat bunga.
"Lalu, harus bagaimana?"
Jiang Jianfei menepuk dahinya sendiri tanpa bisa berkata-kata. "Aku benar-benar menyerah padamu." Ia tadinya mengira Ling Yao akan menunjukkan ekspresi terkejut dan gembira setelah tahu itu adalah Saudara Lu.
Ling Yao melirik jam tangannya, lalu bangkit berdiri dari tanah, menepuk-nepuk sisa rumput di pakaiannya. "Sampaikan terima kasihku kepada Kakak Lu. Tidak ada hal yang perlu dibantu di sini. Tuan Jiang, jika tidak ada urusan lain, saya akan kembali ke kelas."
"Oh." Jiang Jianfei memandangi punggung Ling Yao yang mulai menjauh. Gadis yang dipedulikan oleh Saudara Lu ini benar-benar luar biasa dan tidak biasa.
Sesampainya di rumah sepulang sekolah, Ling Yao melangkah masuk ke ruang medis. Mendapati Lin Xuemei tidak ada di tempat, ia pun berjalan menuju halaman belakang, namun tetap tidak menemukan ibunya. "Ibu! Ibu di mana?"
Melihat tidak ada sahutan, Ling Yao menduga Lin Xuemei mungkin sedang pergi melawat pasien.
Ia meletakkan tas sekolahnya dan melangkah ke dapur. Melihat uap masih mengepul dari dalam panci, Ling Yao maju untuk membuka penutupnya dan mengeluarkan makanan di dalamnya.
Sesaat setelah selesai makan malam, Ling Yao mendengar suara langkah kaki dari luar dan langsung tahu bahwa Lin Xuemei telah pulang. Ia pun melangkah ke luar. "Ibu, Ibu sudah pulang."
Lin Xuemei tampak tidak mendengar, seolah jiwanya sedang tenggelam di dunianya sendiri.
Merasa ada yang tidak beres dengan ibunya, Ling Yao mendekat dan mendapati kedua mata Lin Xuemei memerah, sepertinya habis menangis. "Ibu, siapa yang merundungmu?"
Barulah pada saat itu Lin Xuemei menyadari kehadiran Ling Yao. Dengan panik, ia mengusap matanya dan memaksakan sebuah senyuman. "Ti... tidak ada, jangan berpikiran yang bukan-bukan."
"Ibu, jangan sembunyikan dariku. Sebenarnya apa yang terjadi?" Akhir-akhir ini Lin Xuemei selalu tampak linglung dan bahkan hampir salah memberikan resep obat beberapa kali. Ia sudah bertanya berkali-kali, namun ibunya selalu bilang tidak ada apa-apa.
Lin Xuemei mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap mata putrinya. "Benar-benar tidak apa-apa, hanya saja ada butiran pasir yang masuk ke mata saat perjalanan pulang tadi."
"Ibu, bicaralah yang jujur padaku." Ling Yao menatap lekat-lekat mata ibunya.
Setelah bergelut dengan isi hatinya cukup lama, Lin Xuemei akhirnya membuka mulut dengan terbata-bata. "Yaoyao, mari kita tinggalkan tempat ini." Orang itu telah memberikan batas waktu terakhir kepadanya untuk meninggalkan desa ini dalam kurun waktu seminggu, jika tidak, mereka tidak akan segan-segan terhadap ibu dan anak mereka. Ia tidak tahu siapa pihak di balik ancaman itu, tetapi ia tidak boleh membiarkan Yaoyao terluka.
"Apakah seseorang mengancam Ibu?" Sekilas melihat ekspresi Lin Xuemei, Ling Yao langsung tahu bahwa ibunya sedang diancam.
"Yaoyao, jangan tanya lagi. Mari kita pindah rumah, kita bukan tandingan mereka." Lin Xuemei akhirnya tidak mampu menahan diri lagi dan menangis tersedu-sedu. Sepuluh tahun lalu, ia sudah dipaksa untuk pindah bersama Yaoyao ke desa tetangga ini, tak disangka pihak tersebut masih enggan melepaskan ibu dan anak mereka.
Ling Yao mengulurkan tangan untuk memeluk Lin Xuemei. Merasakan tubuh ibunya yang bergetar lembut, secercah kilatan dingin melintas di matanya. "Kita akan pergi mencari rumah besok." Mengenai orang yang berani mengancam ibunya itu, suatu hari nanti ia pasti akan membuat si pelaku tahu bahwa ibu dan anak mereka bukanlah sosok yang bisa ditindas sembarangan. Hanya saja, saat ini ia masih terlalu lemah dan belum menjadi tandingan pihak tersebut.
Seorang lelaki tua sedang bermain catur ketika tiba-tiba ia merasa sedikit merinding. Ia menghentikan gerakan tangannya dan sedikit mengernyit.
"Ayah, ada apa?" Pria paruh baya yang duduk di hadapannya mengangkat kepala untuk menatapnya.