Bab Tiga, Mengembalikan Tanda Pengenal
Gu Qing'an mulai mengemasi barang-barangnya begitu latihan selesai. Dia telah membeli tiket untuk keberangkatan malam nanti. Kepulangannya kali ini, selain untuk menjenguk keluarga, adalah untuk membatalkan pertunangannya dengan Ling Yao. Dia tidak mencintai Ling Yao dan tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang tidak disukainya.
Teringat Ling Yao, keningnya berkerut. Sebelum berangkat wajib militer, dia sudah menegaskan pada Ling Yao bahwa dia tidak menyukainya dan memintanya untuk tidak menganggap serius pertunangan tersebut. Namun, Ling Yao tidak mendengarkan, selalu berdalih tentang perintah orang tua dan perjodohan. Sekarang sudah zaman baru, era yang mengutamakan kebebasan dalam pernikahan; sisa-sisa feodalisme seperti itu sudah seharusnya dihapuskan.
"Tok, tok, tok!" Suara ketukan pintu terdengar.
Gu Qing'an menghentikan aktivitasnya dan membuka pintu. Di depannya berdiri seorang gadis yang tampak lembut. "Rekan Xu, ada apa?"
Xu Juanjuan tersenyum malu-malu dan menyodorkan kotak makan yang dibawanya. "Aku dengar dari kakakku bahwa kamu akan pulang kampung. Ini camilan yang kubuatkan untukmu di jalan." Sejak pertama kali bertemu, Xu Juanjuan sudah menaruh hati pada Gu Qing'an.
"Terima kasih! Tapi aku sudah menyiapkan perbekalan," tolak Gu Qing'an dengan sopan. Dia tahu Xu Juanjuan menyukainya, dan dia pun memiliki kesan yang baik terhadap gadis itu, hanya saja dia masih terikat pertunangan.
"Kak Gu, apa kamu membenciku?" Mata Xu Juanjuan seketika memerah.
"Ti... tidak, mana mungkin aku membencimu. Baiklah, aku terima, jangan menangis," ujar Gu Qing'an seraya mengambil kotak makan tersebut.
Xu Juanjuan menyeka matanya dan memberikan senyuman cerah kepada Gu Qing'an. "Kak Gu, semoga perjalananmu lancar. Aku pergi dulu."
"Ya." Gu Qing'an menatap kepergian Xu Juanjuan, lalu menatap kotak makan di tangannya sambil menggelengkan kepala. Kali ini, apa pun yang terjadi, dia harus memutuskan pertunangan dengan Ling Yao. Entah gadis itu akan mengamuk atau menangis, dia tidak akan goyah.
Keluarga Gu sangat senang mendengar kabar kepulangan Gu Qing'an, terutama Gu Lili.
Dia mendengar bahwa kakaknya pulang untuk memutuskan pertunangan dengan si buruk rupa Ling Yao. Dia sudah lama tidak menyukai Ling Yao. Bagaimana mungkin orang yang jelek dan gemuk seperti Ling Yao layak bersanding dengan kakaknya? Kakaknya sekarang adalah seorang komandan kompi, jika tidak menikah dengan putri pejabat, setidaknya harus menikah dengan putri terpandang di kota.
Sambil bersenandung, dia mendatangi rumah Ling Yao. Saat melihat Ling Yao hendak keluar dengan membawa keranjang punggung, Gu Lili menghadangnya dengan angkuh. "Ling Yao, kakakku akan segera pulang. Tahu tidak kenapa dia pulang? Dia ingin membatalkan pertunangan denganmu. Aku sarankan kau tahu diri dan jangan menghalangi masa depan kakakku."
Ling Yao menatap Gu Lili dengan dingin. Di kehidupan sebelumnya, Gu Lili sering menindasnya karena merasa memiliki perlindungan dari Gu Qing'an. Bahkan, Gu Lili bersekongkol dengan Zhou Yu untuk menjebaknya; keguguran dan penjara yang ia alami di kehidupan lalu tak lepas dari campur tangan gadis itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Menghadapi tatapan dingin Ling Yao, Gu Lili merasa sesak napas dan tanpa sadar melangkah mundur dua kali.
"Bahkan jika semua laki-laki di dunia ini mati dan hanya menyisakan kakakmu, aku tidak akan sudi meliriknya sedikit pun." Sambil berkata demikian, Ling Yao mengeluarkan gelang perak yang menjadi tanda pengikat pertunangan kedua keluarga dari sakunya dan melemparkannya ke arah Gu Lili. "Ambil, tidak perlu diantar."
Sebelum Gu Lili sempat bereaksi, Ling Yao sudah berbalik pergi. Dia harus pergi ke gunung. Di kehidupan sebelumnya, tepat di hari inilah dia menyelamatkan Zhou Yu di gunung dan membawanya pulang. Namun di kehidupan ini, dia hanya akan menonton dari jauh.
"Ling Yao, jangan menyesal!" Setelah sadar, Gu Lili membungkuk memungut gelang perak itu, membersihkan debunya, dan memakainya di pergelangan tangannya. Kakaknya begitu hebat, masih muda sudah menjadi komandan kompi dan masa depannya tidak terbatas. Ling Yao pasti hanya sedang emosi sesaat dan akan menyesal nantinya. Tapi penyesalan pun tidak berguna, karena kakaknya tidak akan melunak.
Melirik gelang perak di pergelangan tangannya, Gu Lili bersenandung pulang ke rumah. Dia tidak sabar untuk memberi kabar gembira ini pada kakaknya.
Ling Yao berjalan menuju gunung dengan keranjang di punggungnya, mengikuti ingatan menuju tempat di mana ia dulu bertemu Zhou Yu.
Setelah menemukan lubang jebakan tempat Zhou Yu jatuh dulu, Ling Yao memasang jebakan binatang yang sudah ia siapkan ke dalam lubang, lalu menutupinya dengan lapisan rumput.
Setelah selesai, Ling Yao duduk di balik pohon besar tak jauh dari sana, menunggu mangsanya datang.
Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan minta tolong dari kejauhan.
Ling Yao menoleh dan melihat Zhou Yu dengan rambut berantakan dan pakaian penuh lumpur berlari terhuyung-huyung ke arahnya. Akhirnya datang juga. Zhou Yu, di kehidupan ini aku tidak akan menyelamatkanmu lagi; aku hanya akan melihatmu jatuh ke jurang penderitaan.
Tak lama kemudian, terdengar jeritan keras. Ling Yao menyunggingkan senyum tipis; dia tahu Zhou Yu telah jatuh ke dalam jebakan.
Begitu jatuh, kaki Zhou Yu langsung terjepit perangkap binatang hingga darah mengucur deras. Namun, dia tidak berani berteriak karena takut dua pria yang mengejarnya akan menemukannya. Dia menahan sakit, menutup mulutnya rapat-rapat.
Melihat dua pria berlari ke arahnya, Ling Yao sengaja berpura-pura sedang mencari tanaman obat.
"Hei, apa kau melihat seorang gadis?" tanya kedua pria itu saat melihat Ling Yao.
Ling Yao sengaja melirik ke arah jebakan di kejauhan, lalu menggeleng dengan panik. "Aku tidak lihat, aku tidak tahu."
Setelah itu, dia segera berlari pergi. Dia tahu kedua pria itu adalah pedagang manusia. Di kehidupan sebelumnya, Zhou Yu bercerita bahwa ayahnya seorang penjudi yang menjualnya karena terlilit utang. Dulu dia begitu baik hati hingga sengaja mengalihkan perhatian para pedagang itu untuk menyelamatkan Zhou Yu, tapi di kehidupan ini, dia memilih untuk membiarkan takdir berjalan semestinya.
Kedua pria itu menemukan jebakan tersebut dan melihat Zhou Yu yang meringkuk di dalamnya.
Zhou Yu tahu dia sudah tertangkap, jadi dia tidak melawan saat diseret keluar. Kakinya yang terjepit perangkap membuat perlawanan menjadi sia-sia.
Ling Yao memperhatikan dari kejauhan. Melihat Zhou Yu dibawa pergi, sudut bibirnya terangkat dalam senyum dingin. Jika bukan karena membunuh itu melanggar hukum, dia tidak akan melepaskan Zhou Yu begitu saja.
Ling Yao kemudian melangkah lebih dalam ke hutan. Dia teringat bahwa sehari setelah menyelamatkan Zhou Yu di kehidupan sebelumnya, Pak Tua Liu dari desa menemukan ginseng liar berusia seratus tahun di gunung yang terjual seharga ribuan yuan.
Karena dia terlahir kembali, dia tidak akan membiarkan kesempatan ini jatuh ke tangan orang lain.
Ling Yao menyusuri hutan, indranya menjadi sangat tajam. Tiba-tiba, dia mencium aroma yang familier; wangi segar ginseng. Bagi Ling Yao, aroma ini sangat akrab, seolah sedang dipanggil oleh teman lama. Sejak kecil, dia memiliki sensitivitas luar biasa terhadap bau tanaman obat; cukup dengan sekali cium, dia bisa mengenali jenisnya dengan akurat.
Mengikuti aroma yang memikat itu, Ling Yao melangkah cepat. Benar saja, tidak lama kemudian, di balik pohon besar, ia menemukan sebatang ginseng liar.
Dia menurunkan keranjang, mengeluarkan alat penggali, dan mulai menggali dengan sangat hati-hati. Pertama, dia menyisihkan tanah di sekitar tanaman agar akar utamanya terlihat. Kemudian, dengan sekop kecil, dia membuang tanah di sekitar akar utama sedikit demi sedikit hingga seluruh bagian ginseng tersingkap. Terakhir, dia mengikat akar utama dan akar serabutnya dengan benang halus, lalu memasukkannya ke dalam keranjang.