Bab 4: Tak Perlu Berpura-pura Lagi
Ye Ming menerima stik kendali yang dimodifikasi dari xboxone, dan dengan penjelasan dari Peng Xiaofei ia segera terbiasa dengan cara pengoperasiannya.
“Modul kendalinya lumayan juga, siapa yang melakukan penyetelannya?”
“Itu tugas Kapten,” jawab Peng Xiaofei.
Ye Ming pun menoleh ke arah Kapten Li Dongsheng, dan melihat Li Dongsheng sedang berdiskusi serius bersama Wakil Kapten Jiang Yongliang yang bertanggung jawab atas desain struktur, di depan laptop mereka.
Peng Xiaofei tersenyum, “Bisa dibilang ini satu-satunya keunggulan robot kita. Hanya saja, sekarang lomba RC makin condong ke otomatisasi penuh, tidak seperti Lomba Master Mecha yang masih sangat mengandalkan kendali dan keterampilan operator. Jadi, keahlian Kapten Li agak terabaikan.”
Ye Ming mengangguk, “Tapi kalau punya kemampuan, ke mana pun tidak usah takut. Bukankah kita juga ke sini untuk belajar?”
“Betul juga, cuma aku tetap ingin dapat penghargaan supaya bisa lanjut S2 tanpa tes,” Peng Xiaofei berkata dengan nada agak sedih dan sedikit kesal.
Ia adalah teman sekamar Ye Ming. Meski baru setengah tahun bersama, ia tahu betul mulai pertengahan semester lalu Ye Ming mendadak berubah jadi ‘mahasiswa teladan’—sudah tidak main game, tak baca novel, bahkan film pendek pun dihindari; setiap hari hanya ke perpustakaan atau ruang belajar mandiri, sungguh seperti suasana kelas tiga SMA.
Selama Ye Ming terus seperti itu, lanjut S2 tanpa tes jelas bukan masalah. Tapi dirinya lain. Bukan berarti Peng Xiaofei kalah pintar—mereka masuk universitas yang sama dengan nilai ujian masuk yang tak terpaut jauh.
Hanya saja, menurutnya, sudah kuliah masa masih mau seperti kelas tiga SMA? Rasanya tidak ada maknanya. Setiap orang memang punya cara masing-masing menjalani masa kuliah.
Saat itu, Li Dongsheng melambaikan tangan memanggil mereka berdua.
...
“Anggota tim kita memang kurang,” ujar Li Dongsheng sambil menatap Ye Ming dengan senyum. “Ye Ming, tadi kamu bilang mau ambil teknik perangkat lunak. Sudah belajar python belum?”
“Sudah,” jawab Ye Ming tanpa ragu, “C, C++, python, semua bisa sedikit.”
Raut wajah Li Dongsheng langsung cerah, “Bagus, berarti kita berdua tangani komputer utama. Xiaofei, kamu gabung sama Tao Zheng urus komputer bawah, sekalian jadi operator, bisa kan?”
Ye Ming dan Peng Xiaofei saling pandang, lalu mengangguk.
Komputer utama adalah komputer yang bisa langsung mengirim perintah, seperti laptop. Komputer bawah adalah sistem eksekusi, misal PLC atau mikrokontroler.
Contohnya, satu komputer terhubung ke printer, maka komputer itu komputer utama, chip kontrol utama pada printer adalah komputer bawah.
Di tim ini, komputer utama tentu saja laptop para anggota, komputer bawahnya adalah mikrokontroler STM32 pada robot.
“Ye Ming, mumpung ada waktu, aku perkenalkan sedikit ya.”
Karena Ye Ming tidak membawa laptop, Li Dongsheng menariknya duduk di depan laptopnya. “Tadi kulihat kamu dan Xiaofei sudah coba robot kita. Menurutmu, apa masalah utama robot kita?”
Li Dongsheng bertanya, namun mendapati Ye Ming lama tak menjawab. Ia pun menoleh heran dan melihat Ye Ming menatap layar laptopnya dengan ekspresi aneh.
Di layar itu, tengah diputar video “Aku Membuat Lengan Robot Pemain Pingpong dalam Sebulan,” tepat pada bagian tampilan kode python.
“Kamu belum pernah lihat video ini?” tanya Li Dongsheng penasaran.
“Eh…” Ye Ming menahan perasaannya dan mengangguk jujur, “Sudah…”
Video itu ia sendiri yang mengedit seharian! Dan hasilnya pun sangat acak-acakan…
“Kapten, menurutku masalah robot kita ada dua, satu, ketahanan visualnya rendah, kedua, fungsi obstacle crossing-nya kurang baik.” Tak ingin Li Dongsheng bertanya lebih lanjut tentang video itu, Ye Ming buru-buru menjawab.
Ketahanan yang dimaksud di sini adalah terjemahan dari robust—dalam bidang robotik, bukan berarti robotnya tahan banting, melainkan kemampuannya menghadapi gangguan dan kondisi tak terduga.
Ketahanan visual rendah berarti, sedikit saja ada benda lain yang mengganggu, robot langsung gagal mengambil keputusan akurat dan membuat tugasnya gagal.
...
Plak! Li Dongsheng menepuk pahanya, “Benar! Memang dua itu! Makanya aku ingin lihat solusi dari si ‘Akun Kecil’.” katanya sambil kembali menatap layar laptop.
‘Akun Kecil’ adalah julukan warganet untuk pembuat video “Aku Membuat Lengan Robot Pemain Pingpong dalam Sebulan,” karena nama aslinya lucu.
Namanya “Tit Tit Tat Tit Tat.”
“Sayangnya, dia bilang mau open source, tapi sampai sekarang tak ada kabar, update pun tidak,” Li Dongsheng mengeluh.
Ye Ming sampai terpana mendengarnya.
Jadi… mereka sedang menunggu aku?
Saat itu suara Wakil Kapten Jiang Yongliang terdengar, “Kapten, lupakan saja, lihat b-foo.”
Ye Ming dan Li Dongsheng menoleh, “Ada apa dengan Zhihu?”
“Akun Kecil masuk trending topik.”
...
Zhihu, platform tanya jawab berbagi pengetahuan. Karena dulu banyak bermunculan penjawab seperti “penghasilan ratusan juta,” “baru tiba di New York,” “lulusan tiga besar universitas,” “bekerja di perusahaan Fortune 500,” dan sebagainya… maka orang suka menyebutnya b-foo.
B, singkatan dari ‘berlagak’.
Ye Ming juga punya aplikasi itu, tapi sudah lama tak dibuka.
Ia menggeser trending topik, dan langsung tertumbuk pada pertanyaan: “Bagaimana pendapatmu tentang karya lengan robot ‘Tit Tit Tat Tit Tat’ di Bilibili? Jika dibandingkan dengan bocah jenius, siapa lebih hebat?”
Wajah Ye Ming terasa panas, ia buru-buru menjauh sambil membawa ponsel.
Pertanyaan itu masih baru trending, baru puluhan jawaban, tapi jawaban teratas sudah ratusan suka.
“Pakai apa melihat? Ya pakai mata.
Saya sudah lihat videonya, katanya dalam sebulan bikin lengan robot enam sumbu sendirian. Sepanjang video tidak menunjukkan wajah, tidak ada suara, ya sudah saya anggap dia pemalu. Tapi baik desain PCB maupun coding, tak ada proses yang diperlihatkan, hanya hasil akhirnya.
Memang ada adegan proses machining.
Tapi masalahnya, apakah lengan robot butuh keterampilan machining?
Dipuji-puji pun terlalu tinggi, paling banter seperti Handyman Geng versi murah.
Sekarang, orang bahkan malas untuk berpura-pura.”
Ye Ming menarik napas, jantungnya berdebar, lalu membuka kolom komentar.
Tak mengejutkan, puluhan komentar semuanya mendukung penulis jawaban.
Ia menggertakkan gigi, lalu lanjut ke jawaban berikutnya.
“Terkait kepentingan, mantan anggota tim RC dari universitas 985, bagian kendali elektronik.
Mungkin banyak yang tak paham soal ‘lengan robot main pingpong’ ini. Begini, dengan tingkat presisi dan kemampuan yang diperlihatkan di video, kalau bola pingpong diganti bulu tangkis, itu sudah setara dengan robot bulu tangkis paling menonjol di Kejuaraan Robot TV Nasional tahun 2015—tahun itu, robot bulu tangkis dari Universitas Elektronika juga menggunakan kamera stereo vision, dan kemampuannya luar biasa, lalu jadi juara.
Tapi harap dicatat, robot dari universitas itu bukan lengan robot dengan enam derajat kebebasan! Hanya mobil otomatis dengan lengan robot tiga sumbu untuk mengayunkan raket!
Jadi, saya tidak percaya pembuat video bisa dalam waktu sesingkat itu sendirian menyelesaikan lengan robot yang secara keseluruhan melampaui robot bulu tangkis.”
...
“Nah, benar kan apa yang kukatakan?” ujar Jiang Yongliang sambil tertawa, melihat Li Dongsheng juga membuka halaman Zhihu, “Biar saja, nanti juga reda sendiri.”
...
Kening Li Dongsheng mengkerut, ia terdiam beberapa detik lalu menghela napas panjang.
Sebagai mahasiswa tingkat tiga, ia juga sering main Zhihu, dan dia tahu, di Zhihu orang yang berlagak memang tidak bisa dipercaya, tapi para pengkritik...
Biasanya, mereka memang punya kemampuan.
Apalagi beberapa jawaban dengan like terbanyak juga mengkritik dengan argumen yang kuat.
Ia sudah ikut lomba sejak tahun pertama, kini jadi kapten tim RC, tahu betul berapa besar usaha untuk tiap fungsi.
Ambil contoh pembuat lengan robot di Bilibili itu, meski dikerjakan waktu senggang, tetap butuh empat bulan—jangan kira empat bulan waktu senggang itu kalah dari satu bulan kerja penuh. Dalam proyek, kadang inspirasi dalam riset dan debugging sangat menentukan.
Belum lagi machining, pembuatan PCB, pembelian komponen, semua butuh waktu tunggu.
Jadi, Li Dongsheng pun merasa, si ‘Akun Kecil’ itu pasti tidak kerja sendirian, minimal algoritma dan kodenya bukan hasil buatan sendiri.
Kalau tidak, kenapa bilang open source tapi tak kunjung dibuka?
“Ya sudah, kalau tidak bisa meniru, kita buat sendiri.” Li Dongsheng pun tersenyum, melihat jam lalu berdiri, “Ayo, kita makan bareng dulu!”
Sebagai kapten, tentu dia harus menunjukkan semangat juang.
Tiba-tiba, suara seseorang terdengar.
“Kapten, algoritma visual dan prediksi lintasan bola untuk robot pelempar bola, biar aku yang tangani.”
Li Dongsheng menoleh, melihat Ye Ming memegang ponsel, perlahan berjalan mendekat.
Wajahnya agak memerah.
“Kamu yakin bisa?” Jiang Yongliang menatap pemula yang baru bergabung setengah hari itu, penuh keraguan.
Walaupun tahu Ye Ming pernah mengajari kakak tingkat matematika ujian S2, tapi kemampuan seperti “jago soal dari desa kecil” tak berarti banyak di dunia rekayasa.
“Aku rasa... aku bisa.” Ye Ming menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Saat melihat semua memandanginya, ia mendadak agak gugup.
“Orang yang kalian sebut sebagai ‘Akun Kecil’ pembuat lengan robot itu... itu aku.”
—Ia masuk tim robot ini, selain karena tugas, juga ingin memanfaatkan fasilitas yang ada.
Misalnya, printer 3D di sebelah, serta berbagai alat dan instrumen.
Lagipula, lengan robot pingpong itu memang benar-benar dia yang buat sendiri.
Dari desain sampai coding, dari machining hingga perakitan dan finishing.
Keluarganya sendiri punya bengkel machining di kota kecil!
Tanpa sistem pun, tiga tahun lalu ia sudah bisa bubut baut sendiri!
Apa yang harus ia sembunyikan?