Bab 115: Pertemuan Kembali Setelah Lama Berpisah
Peng Zhan berdiri di atas balon udara hidrogen dengan wajah memerah karena panik. Ketika melihat seorang pria yang entah dari mana tiba-tiba muncul di tanah, bukan hanya memakinya habis-habisan, pria itu bahkan memeluk Yan Yan dari belakang. Peng Zhan tak berdaya berbuat apa-apa. Dengan tegang, ia berteriak keras, “K-k-kau, Yu Bai! Kau belum mati? Bagaimana mungkin kau masih hidup?”
Pria bernama Yu Bai itu meletakkan dagunya di tulang selangka Yan Yan, lalu mengusap perlahan wanita yang dipeluknya erat. Dengan suara bergetar, ia berkata, “Aku belum mati. Aku belum mati. Yan kecil, aku sudah kembali. Aku kembali untuk mencarimu.”
Tubuh Yan Yan gemetar hebat, tetapi kepalanya tetap terangkat, menatap langit seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Ia membiarkan pria yang begitu membekas dalam ingatannya dan selalu dirindukannya siang malam itu memeluknya dari belakang. Setiap tarikan napas dipenuhi aroma tubuh Yu Bai yang begitu dikenalnya—membuatnya terlena sekaligus bahagia.
Dua aliran air mata panas yang tak mampu dibendung meluncur deras, melewati sudut bibirnya, terasa getir sekaligus manis.
Di atas balon udara hidrogen, Peng Zhan melompat-lompat karena gelisah sambil berteriak kepada pilot, “Turunkan aku! Cepat turunkan aku! Sialan, kau hendak menerbangkannya ke mana?”
“Maaf, Tuan Peng. Saya menerima uang dari Tuan Yu yang ada di bawah. Dia tidak mengizinkan Anda turun. Katanya, terbangkan sejauh mungkin,” jawab pilot itu dengan nada sewajarnya, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Apa? Kau benar-benar makan dari dua pihak? Bukankah aku sudah membayarmu? Cepat kembali!” Peng Zhan murka, mencengkeram kerah baju pilot itu sambil berteriak.
Pilot tersebut tetap tanpa ekspresi dan berkata tenang, “Tuan Yu membayar lebih banyak. Lagi pula, dia langsung memberikan uangnya kepada pacar saya. Saya tidak mungkin mengabaikan perintah pacar saya.”
Astaga. Yu Bai si rubah licik. Baru muncul saja sudah langsung membuat masalah dengannya. Ternyata dia memakai cara seperti ini. Sungguh licik.
Tiba-tiba Peng Zhan teringat pengurus rumah bernama Hui Kecil itu. Mengapa wanita itu selalu menampakkan senyum aneh di hadapannya?
Barulah Peng Zhan menyadari bahwa dirinya telah dipermainkan oleh mereka berdua yang bekerja sama. w(?Д?)w
“Yan Yanku...” Ia memegangi dada, lalu membungkuk di sisi perahu. Hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Pilot itu mengingatkan dengan suara tenang, “Tuan Peng, sebaiknya Anda duduk dengan baik. Keadaan sudah tak tertolong lagi. Keselamatan adalah yang utama.”
Peng Zhan tiba-tiba melompat dan menerjang pilot itu seperti serigala kelaparan hendak menyantap mangsanya.
Pilot tersebut tetap tenang dan berusaha mencegahnya. “Kalau saya terluka, saya tidak akan bisa menerbangkan balon ini. Persediaan hidrogen saat ini hanya cukup untuk sampai ke kawasan kota. Jika kita belum mendarat sebelum itu, Anda mungkin akan jatuh langsung dari ketinggian lima ratus meter. Anda membaca berita kecelakaan beberapa hari lalu, bukan?”
Peng Zhan sudah sangat marah. Ia melepaskan tangannya dan tertawa dua kali dengan nada mengejek. “Kau kira hanya aku yang akan jatuh? Kalau kau tidak segera mendarat, kau juga akan mati bersamaku. Pacarmu akan membawa uangmu lalu mencari pria muda lain. Kau senang? Terkejut? Mendapat kejutan besar?”
Pilot itu melirik ke bawah dan berkata dengan muram, “Tuan Yu yang di sana tampaknya sedang sangat bahagia.”
Peng Zhan: Sialan. (╬ಠ益ಠ)
Yan Yan menatap balon udara hidrogen yang perlahan menjauh di langit. Balon itu tampak seperti mimpi-mimpi masa kecilnya yang sedikit demi sedikit menghilang tanpa bekas.
Melihat Yan Yan terus membisu dan tidak juga menoleh, Yu Bai merasa bersalah. Ia mengecup rambutnya dengan lembut, lalu berkata, “Tulisan di balon udara itu adalah isi hatiku yang ingin kusampaikan kepadamu. Jangan marah lagi, ya.”
Dalam hati, Yan Yan kembali melafalkan tulisan yang tertera pada badan balon itu:
Yan kecil, maafkan aku. Aku salah. Tolong maafkan aku.
Dengan suara lirih seperti orang mengigau, ia bergumam, “Kau ingin aku memaafkanmu?”
Yu Bai tidak menjawab. Ia hanya mempererat lingkaran kedua lengannya yang memeluk Yan Yan.
Yan Yan menoleh, lalu perlahan melepaskan diri dari pelukan hangat Yu Bai. Setelah berdiri tegak, ia menatap wajah pria itu dengan saksama.
Dia menjadi lebih kurus dan lebih gelap.
Wajahnya tampak sedikit kuyu. Bibirnya pecah-pecah. Matanya dipenuhi ketakutan, kesedihan, permohonan, sekaligus kegembiraan karena akhirnya mereka bertemu kembali setelah lama berpisah.
“Yan kecil, aku merindukanmu.” Yu Bai hendak meraih tangan Yan Yan dan menggenggamnya seperti dulu.
Namun Yan Yan tiba-tiba mengayunkan tangan dan menampar Yu Bai.
Di tengah ladang yang sunyi, suara tamparan itu terdengar seperti dahan yang patah diinjak langkah berat seorang pejalan yang kelelahan. Tegas dan mendadak.
Yu Bai sama sekali tidak terkejut, juga tidak marah.
Sebaliknya, ia meraih tangan Yan Yan dan mengarahkannya ke wajahnya sendiri, seolah memintanya menamparnya beberapa kali lagi agar amarahnya reda.
Yan Yan menepis tangannya. Suaranya sudah serak ketika berkata, “Aku menamparmu atas nama ayah dan ibumu. Kau tahu betapa cemasnya mereka? Betapa sedihnya mereka? Kau tahu rambut ayahmu memutih dalam semalam? Setiap hari dia memeluk fotomu seperti orang bodoh. Kau terlalu egois. Terlalu egois. Kau sudah membuat mereka sangat terluka.”
Yu Bai kembali memeluk Yan Yan. “Aku tahu. Ini salahku. Jangan marah. Aku memang egois dan tidak baik. Aku telah membuat mereka sedih, dan juga membuatmu menderita. Mulai sekarang tidak akan terjadi lagi. Tidak akan pernah lagi.”
Yan Yan kembali mendorongnya. “Kau salah. Aku tidak sedih. Tanpamu pun aku hidup dengan baik. Bukankah kau sudah melihatnya sendiri? Tanpamu, aku tetap bisa membesarkan putri kita dengan baik.”
Ia sudah tidak mampu berbicara dengan jelas. Suaranya terputus-putus oleh tangis. Air matanya mengalir deras, tetapi ia masih berusaha berpura-pura tidak peduli.
Yu Bai memeluknya sambil menyeka air matanya, lalu ikut menangis.
“Aku sudah kembali. Kita sekeluarga tidak akan pernah berpisah lagi. Aku tahu kau sudah menanggung banyak penderitaan. Mulai sekarang tidak akan pernah lagi. Aku akan melindungimu. Aku akan selalu menjagamu. Kita tidak akan pernah berpisah lagi.”
Yan Yan menangis sambil meronta. Ia menangis sampai hampir pingsan.
Selama setengah tahun ini, ia melewati begitu banyak hal. Bermula dari kesedihan yang menghancurkan hati dan keputusasaan setelah mendengar kabar buruk, lalu memaksa diri untuk bangkit demi anaknya dan berpura-pura tegar, hingga akhirnya menemukan petunjuk demi petunjuk bahwa Yu Bai mungkin masih hidup dan sengaja tidak muncul karena menyembunyikan sesuatu dari keluarganya...
Di dalam semua itu ada kepedihan, rasa teraniaya, pertanyaan, dan keluhan yang selama ini ia pendam sambil terus berharap.
Perasaan takut kehilangan setelah sempat memiliki adalah siksaan yang paling menyakitkan.
Perasaan itu hampir membuatnya gila.
Seandainya ia tidak cukup kuat, seandainya berbagai kejadian yang dialaminya sejak kecil tidak menempa keteguhan hatinya, mungkin saat ini ia sudah benar-benar hancur dan tidak sanggup menghadapi sisa hidupnya.
Bagaimana mungkin ia tidak marah?
Bagaimana mungkin ia tidak melampiaskan amarah dengan memukulnya?
Bagaimana mungkin ia tidak merasa teraniaya dan bersedih?
Bagaimana mungkin ia memaafkannya begitu saja?
Banyak hal terjadi selama Yu Bai menghilang, tetapi semua itu bukan alasan baginya untuk membuat Yan Yan cemas dan menderita. Karena itu, ia membiarkan Yan Yan melampiaskan seluruh emosinya.
Di Kediaman Dongli, Li Daming hanya melihat barang-barang bawaan Yan Yan. Setelah lama menunggu dan Yan Yan tidak kunjung kembali, sementara langit mulai gelap, ia merasa khawatir. Teleponnya pun tidak dijawab, sehingga ia terpaksa keluar mencarinya.
Setelah bertanya kepada penduduk desa di sekitar sana, ia mendapat kabar bahwa Yan Yan sedang berjalan-jalan di area sawah bertingkat. Ia pun berlari ke sana dengan langkah tersaruk-saruk di medan yang sulit.
Kebetulan, ia melihat Yan Yan sedang bergumul dengan Yu Bai.
Li Daming segera berlari mendekat untuk membantu Yan Yan. Namun sebelum sempat tiba, Yu Bai menyadari kehadirannya dan segera membentak, “Jangan mendekat! Ini urusan kami sebagai suami istri. Jangan ikut campur, orang luar!”
Melihat sikap Yu Bai yang seolah-olah kebenaran berada di pihaknya, Li Daming sempat terintimidasi.
Namun setelah dipikir-pikir, ada yang terasa janggal. Bukankah suami Nona Yan sudah meninggal? Dari mana muncul suami ini? Bahkan masih berani mengaku sebagai pasangan suami istri dengannya. Rupanya kecerdasan para penjahat memang sudah meningkat.
“Lepaskan dia, atau aku akan menelepon polisi. Berani-beraninya kau menipu orang! Nona Yan, kau tidak apa-apa?” Li Daming kembali berlari beberapa langkah.
Namun Yan Yan yang sudah menenangkan diri segera memanggilnya.
“Daming, ini bukan urusanmu. Pulanglah dulu. Ini urusan antara aku dan dia. Jangan ikut campur.”
“Tapi aku takut kau dalam bahaya,” kata Li Daming dengan cemas.
Yan Yan melambaikan tangan, memintanya pergi. “Aku tidak dalam bahaya. Dia ayah Niao Niao. Pulanglah dulu.”
Li Daming terbelalak. Butuh waktu cukup lama baginya untuk memahami bahwa suami Nona Yan ternyata masih hidup dan telah kembali.
(Tamat Bab Ini)