Bab 007 Kejadian Tak Terduga Bisa Terjadi Kapan Saja
Tentang pemberhentiannya, dia tidak memberitahu Yu Bai. Saat ini, seharusnya pria itu sedang dalam perjalanan menuju bandara. Dia tidak ingin membuatnya khawatir, memilih untuk menghadapi semuanya sendirian.
Lagipula, ini memang waktu yang tepat baginya untuk mempertimbangkan kembali rencana kariernya.
Dalam percakapan telepon, Su Qing yang mendengar kabar tentang pemberhentian Yan Yan, menyarankan agar dia sekalian saja mengundurkan diri lalu bergabung mengelola studio yoga miliknya.
Yan Yan menolak.
Selama beberapa tahun terakhir, ada satu hal yang terus menjadi perhatiannya. Dalam hatinya, ia selalu punya keinginan untuk menciptakan merek penginapan miliknya sendiri.
Kota T adalah kota wisata. Dulu ia memilih menetap di sini pun demi mewujudkan impian tersebut.
Demi impian itu, ia selalu melakukan berbagai persiapan, meski belum pernah benar-benar mengambil keputusan untuk memulainya.
Mungkin, sekaranglah saat terbaik untuk melangkah.
Senja tiba, langit mendung, angin dan hujan seolah sudah di ambang pintu.
Yan Yan memeluk sebuah kotak berisi barang-barang yang ia kemas dari kantor, melangkah pelan ke tepi jalan, ingin memesan taksi.
Di waktu yang sama, Liu Zixia, yang juga keluar memeluk barang-barangnya, melihat Yan Yan. Semakin dipikirkan, ia merasa hari ini ia benar-benar sial—seluruh rekan kerja melihat dirinya dalam keadaan begitu memalukan, bahkan diusir pulang oleh atasan. Ini benar-benar aib terbesar dalam hidupnya.
Perasaan tidak terima menguasai dirinya, ia berlari mendekat dengan marah, lalu melemparkan kotak yang dibawanya ke punggung Yan Yan.
Yan Yan sama sekali tidak menyangka ada seseorang seperti orang gila mengikutinya dari belakang. Tanpa bersiap, kotak itu menghantam pinggangnya. Ia kehilangan keseimbangan, terhuyung ke tengah jalan, hampir saja tertabrak mobil yang melaju, dan akhirnya jatuh terduduk di aspal.
Bunyi rem mendadak yang menjerit membuat Yan Yan langsung berkeringat dingin, bahkan Liu Zixia yang bermaksud jahat pun ikut terkejut.
Andai Yan Yan benar-benar tertabrak, ia tidak akan bisa lepas dari tanggung jawab.
Saat itu, pintu belakang mobil terbuka. Seorang pria berwajah dingin keluar. Sekilas tatapannya pada Liu Zixia membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.
Pria itu membantu Yan Yan yang terduduk bangun. Yan Yan menahan pinggangnya, meringis menahan sakit, mengerutkan dahi dan menatap ke atas. Kata “terima kasih” hampir saja terucap, namun ia mendadak terdiam.
Hanya dengan satu tatapan itu, tubuh Yan Yan yang kesakitan tak kuasa menahan getaran hebat.
Ia buru-buru menundukkan kepala, bahkan tak sanggup mengucapkan terima kasih. Ia berbalik, hendak menyeberang jalan.
Suara seseorang mencegahnya dari belakang, sementara sopir mobil itu kebetulan menghadangnya.
Yan Yan sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang datang bergelombang di perutnya, ia hanya terus-menerus meminta sopir itu untuk menyingkir, “Maaf, tolong beri jalan.”
Sepanjang hidupnya, baru kali ini ia merasa begitu terpuruk.
Pengalaman serupa itu, ia harap tak perlu terulang seumur hidupnya.
Sebuah tangan besar menahan salah satu pundaknya, mengingatkan, “Kotakmu belum kau ambil.”
Yan Yan membungkuk, asal memasukkan barang-barang yang berserakan ke dalam kotak. Pena Parker hadiah dari Yu Bai harus dipungut tiga-empat kali baru bisa ia raih.
Memeluk kotak yang sudah rapi, ia menyeberang jalan, berusaha menenangkan diri: Peng Zhan tidak mengenalmu, benar-benar tidak mengenalmu. Jangan gugup, bersikaplah sewajarnya.
Jam pulang kerja, jalanan tetap saja macet. Yan Yan berjalan di antara deretan kendaraan yang merayap pelan.
Tiba-tiba, rasa sakit tajam menghantam perutnya, menghancurkan sisa kekuatan dalam dirinya.
Tangannya terlepas, ia jatuh bersama kotaknya.
Sebuah mobil Volkswagen putih yang melaju pelan mendadak mengerem. Seorang sopir muda melompat turun.
Sopir itu mendekat, melihat sekilas, lalu membentaknya, “Mobil saya ada kamera dashcam, kalau mau pura-pura kecelakaan, kamu salah orang!”
Liu Zixia yang berdiri di trotoar mendadak panik.
Darah merah terang yang mengalir di paha Yan Yan membuatnya terguncang. Kali ini, ia benar-benar telah membuat masalah besar.
Peng Zhan yang berdiri di samping mobil pun melihat genangan darah di bawah tubuh Yan Yan. Ia berlari, melepas jaket untuk membungkus tubuh wanita itu, lalu mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam mobilnya.
Sebelum menutup pintu, ia membentak sopir yang masih terpaku, “Cepat bawa ke rumah sakit!”
Liu Zixia menggigit bibir, bahkan tidak mengambil barang-barangnya yang tercecer, lalu berbalik dan kabur.
Yan Yan memegang erat perutnya dengan kedua tangan.
Sebelum kesadarannya menghilang, ia berusaha merogoh tas, menelepon Su Qing.
Sakit yang mengiris perut seperti ombak besar menenggelamkan dirinya. Ia mendengar Su Qing memanggil namanya, namun tak sanggup menjawab, hanya helaan napas berat yang tersisa.
Peng Zhan mengambil alih telepon, dan dunia Yan Yan menjadi gelap. Dalam benaknya hanya ada tangan hangat Yu Bai yang semalam membelai perutnya.
Ia tahu, kemungkinan besar janin di dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.
Yan Yan terbangun di tengah suara pertengkaran.
Di luar ruang inap, Yu Xi mencengkeram sopir Peng Zhan, menuntut ganti rugi.
Laki-laki itu membalas memaki Yu Xi, menyebutnya perempuan tak tahu malu yang salah sasaran.
Satpam rumah sakit berusaha menjaga ketertiban. Yu Xi berteriak kepada petugas, “Kalau pelaku tabrak lari itu lolos, kalian yang tanggung jawab!”
Menjadi satpam dengan gaji pas-pasan untuk menghidupi keluarga bukanlah perkara mudah, apalagi menghadapi orang yang begitu ganas, mereka tak berani keras, takut masalah jadi makin besar, akhirnya hanya bisa membujuk dengan sabar.
Yan Yan berusaha bangkit dan memanggil Su Qing yang berdiri di pintu. Melihat Yan Yan membuka mata, Su Qing segera mendekat dan menopangnya, “Jangan banyak bergerak, istirahat saja.”
“Bagaimana dengan anakku?” Yan Yan masih berharap ada keajaiban.
Su Qing menggelengkan kepala dengan penuh penyesalan, “Tidak tertolong. Kau dan Yu Bai masih muda, masih banyak kesempatan. Jangan bersedih. Yang penting sekarang pulihkan kesehatanmu.”
Meski sudah menyiapkan diri, tetap saja air mata menggenang di pelupuk mata Yan Yan saat mendengar anaknya tiada. Mungkin memang begini takdirnya. Datangnya tak terduga, perginya pun demikian.
Setelah agak tenang, ia berkata pada Su Qing, “Tolong panggilkan Yu Xi masuk.”
“Untuk apa kau urusi dia? Sopir itu bukan orang sembarangan, nanti dia yang kerepotan. Sudah kubilang, tapi dia tidak mau dengar. Merasa masih bagian dari keluarga Yu, jadi bertingkah seenaknya.”
“Kenapa dia bisa datang?” Yan Yan benar-benar tak ingin keluarga Yu tahu. Dengan ketidakhadiran Yu Bai, ia lebih rela menanggung semuanya sendiri.
Su Qing menggeleng, “Aku juga tidak tahu. Begitu aku tiba di rumah sakit, dia langsung muncul. Sejak itu ia menahan pria yang mengantarmu dan sopirnya.”
“Orang itu juga masih di luar?”
“Sudah pergi, hanya meninggalkan kartu nama, aku taruh di laci. Dia meninggalkan sopirnya di sini. Katanya, setelah kau sadar, semuanya akan jelas.”
Yan Yan menarik napas lega dan berbaring lagi, “Katakan pada Yu Xi bahwa yang menyebabkan keguguranku adalah sahabat baiknya, Liu Zixia. Suruh dia beritahu Liu Zixia untuk bersiap-siap digugat, aku akan menuntutnya.”
Meski hatinya sempat terguncang karena bertemu Peng Zhan, ia jelas melihat siapa yang sengaja melempar benda ke arahnya.
Soal anak, ia tidak akan tinggal diam.
Yu Xi yang mendengar kabar itu sangat terkejut, kedua tangannya mencengkeram baju sopir erat-erat, takut pria itu kabur, bahkan setengah tubuhnya sudah masuk ke dalam kamar.
“Yan Yan, kau sudah gila? Keguguranmu apa hubungannya dengan Zixia?”
Yan Yan malas berdebat, tapi tidak bisa membiarkan kesalahpahaman berlanjut, ia harus meluruskan segalanya agar orang yang sudah menolongnya tidak merasa menyesal.
“Ini bukan salah sopirnya, lepaskan dia. Liu Zixia yang sengaja melempar barang ke pinggangku hingga menyebabkan keguguran. Kalau tak percaya, tanya saja sahabatmu itu.”