Bab 013: Hanya Sebuah Transaksi
Pada masa-masa paling sulit dalam hidupnya, Yan Yan pernah memperingatkan dirinya sendiri: jangan pernah membuat keputusan apa pun di tengah malam. Sebab jiwa di malam hari mengenakan pakaian rapuh. Semua keputusan yang diambil hanyalah bersifat emosional, tidak cocok untuk bertarung di dunia siang hari.
Hanya saat siang tiba, ketika diri telah mengenakan zirah lengkap, akal sehat akan kembali, membuat diri kembali kebal terhadap luka.
Keesokan harinya, Yan Yan mengetuk pintu kantor Peng Zhan.
Sekretaris Xiao Li sangat mengingat Yan Yan. Selama lima tahun bekerja bersama Direktur Peng, ia tahu betul bahwa sikap direktur terhadap Yan Yan sangatlah istimewa.
Ia tak berani bersikap cuek, dan dengan ramah memberi tahu bahwa Direktur Peng sedang tidak di kantor.
Yan Yan datang pagi-pagi sekali ke sini, bermodalkan semangat “bodo amat” yang nekat. Tapi semangat itu seketika meredup ketika mengetahui orang yang dicari tidak ada.
Saat keluar dari perusahaan Peng Zhan dan menunggu lift, Sekretaris Li mengejarnya, menyelipkan sebuah kartu nama ke tangan Yan Yan.
“Ini kontak Direktur Peng, Anda bisa menelepon beliau.”
Yan Yan memandangi kartu nama itu, ingin memberitahu sekretaris ramah itu bahwa ia sudah punya satu. Tepat saat itu, lift tiba, dan tak ingin membuang waktu, ia pun berbalik masuk ke dalam lift, berpamitan dengan sopan.
Begitu keluar dari gedung, hawa panas langsung menyergap seluruh tubuh. Yan Yan merasa seolah-olah berada di dalam tungku.
Beberapa tahun ia tinggal di kota utara ini, tetap saja tak bisa menyesuaikan dengan panas kering di sini. Berbeda dengan panas lembap di selatan, panas di utara terasa tegas, kaku, tanpa basa-basi.
Ia berpikir, barangkali dirinya, seperti panas di selatan, memang kekurangan tekad mutlak bernama “ketegasan” itu.
Ia berjalan beberapa langkah di sepanjang jalan, hendak melambaikan tangan mencari taksi, baru teringat hari ini ia membawa mobil milik Yu Bai, yang diparkir di basement.
Ia benar-benar tidak puas dengan kondisi dirinya belakangan ini.
Ia kembali ke basement, baru saja duduk di dalam mobil ketika ponselnya berdering. Dari Kang Xiaocheng.
“Halo, Kak Yan, kau ada waktu sekarang? Kita bertemu, ya. Aku sudah menemukan saksi. Tanpa rekaman video pun tak masalah, kita tak perlu mencabut gugatan.”
“Apa? Benarkah? Dapat dari mana?”
“Nanti juga tahu. Aku kirim alamat lewat WeChat, langsung saja ke sini.” Usai bicara, tanpa menunggu Yan Yan bertanya lagi, Kang Xiaocheng menutup telepon.
Yan Yan menyetir mobil, sepanjang jalan terus bertanya-tanya apakah dewi keberuntungan kini sedang memihaknya, berhenti menyiksa dan mulai memanjakan dirinya.
Tadi malam, ia baru saja menceritakan masalah itu secara singkat pada Kang Xiaocheng lewat WeChat, dan hanya dalam semalam saksi sudah ditemukan.
Memang, pengacara selalu punya banyak cara.
Pada hari kejadian, lalu lintas di jalan cukup ramai, pasti ada orang yang menyaksikan semuanya.
Karena sudah menemukan saksi, ia pun tak perlu lagi datang meminta bantuan Peng Zhan.
Kecemasan dan kegelisahan yang sebelumnya menyiksanya pun langsung lenyap. Kang Xiaocheng memang bisa diandalkan. Tampaknya, jika Lin Yiran masih terus bimbang soal Kang Xiaocheng sebagai calon pacar, ia bisa memberi beberapa pujian tepat waktu sebagai dukungan untuk sang pengacara.
Mobil melaju kencang, tiba lima menit lebih awal dari waktu yang diprediksi navigasi.
Tempat itu sebuah klub privat bernuansa elegan, tersembunyi di gang tak bernama. Kalau bukan karena petunjuk navigasi, ia tak akan bisa menemukannya.
Setelah memarkir mobil, seorang pelayan berseragam rapi sudah lebih dulu membukakan pintu dan menawarkan jasa valet.
Yan Yan melewati lobi, melihat bayangan dirinya di cermin—bahkan sudut matanya pun tampak tersenyum.
Pelayan perempuan berbalut cheongsam dengan sopan menuntunnya ke ruang privat yang sudah dipesan Kang Xiaocheng.
Begitu pintu dibuka, senyum di wajah Yan Yan seketika membeku seperti udara dingin di klub itu.
Kang Xiaocheng yang melihat Yan Yan terpaku di ambang pintu, segera bangkit meraih tangannya masuk dan memperkenalkan dengan semangat, “Kak Yan, ini Direktur Peng dari Grup Gaoding.”
“Direktur Peng, inilah klien saya yang sempat saya ceritakan, Nona Yan Yan.”
Yan Yan menatap tangan Peng Zhan yang terulur, secara otomatis menjabatnya.
Telapak tangannya dingin. Ia merasa, begitu pula hatinya.
“Kak Yan, setelah kau ceritakan padaku kemarin, aku langsung terpikir pada sopir yang mengantarmu hari itu, mungkin saja dia melihat kejadian sebenarnya. Jadi aku menyusuri jejak dari rumah sakit sampai ke Grup Gaoding. Awalnya ingin meminta sopir itu menjadi saksi. Tapi ternyata, si sopir bilang dia tidak memperhatikan apa yang terjadi, karena fokus menyetir. Justru Direktur Peng-lah saksi mata itu.”
“Aku mencoba menemui Direktur Peng, tak disangka dewi keberuntungan berpihak, beliau menyaksikan semua detail kejadian. Makanya aku buru-buru menghubungimu.”
“Kak Yan, kenapa masih bengong? Cepat, anggap saja teh ini sebagai pengganti anggur untuk berterima kasih pada Direktur Peng.”
Kang Xiaocheng begitu bersemangat setelah dengan mudah menemukan saksi mata, suaranya melaju cepat. Peng Zhan, di tengah penjelasan panjang lebar Kang Xiaocheng, kembali duduk ke tempatnya, tersenyum sambil memberi isyarat agar Yan Yan duduk juga.
Kepala Yan Yan masih terasa kosong.
Dalam suara Kang Xiaocheng yang cepat namun stabil, ia berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Kenapa, setelah berputar-putar, saksi matanya tetap saja Peng Zhan.
Tampaknya, mimpi buruk yang ingin segera ia akhiri itu belum juga benar-benar selesai.
Yan Yan melirik kursi di sekeliling meja bundar itu. Peng Zhan dan Kang Xiaocheng duduk saling berhadapan. Di mana pun ia duduk, pasti akan bersebelahan dengan Peng Zhan.
Ia memilih duduk di dekat pintu, setidaknya jika ingin pergi, bisa segera beranjak.
Peng Zhan menuangkan teh dari teko di atas meja ke dalam cangkirnya. Warna tehnya pekat dan jernih seperti kurma merah. Jenis teh Pu’er yang selalu ia sukai.
Sikapnya santun, berwibawa. “Nona Yan, bagaimana kalau kita bicara tentang cara memenangkan perkara ini?”
Dari sorot mata Peng Zhan, Yan Yan sangat yakin, pria itu sudah tahu jati dirinya sebenarnya—bahwa Song Qiaoyin adalah dirinya.
Dari penuturan Peng Zhan, terbukti bahwa hari itu ia memang menyaksikan Yan Yan diserang dari belakang hingga terjatuh di depan mobil mereka. Kang Xiaocheng yang sudah melengkapi semua data bekerja dengan sangat antusias.
“Kak Yan, aku akan segera mulai proses hukum di kantor. Untuk sementara jangan ke mana-mana dulu, fokus pulihkan kesehatan. Supaya aku juga mudah menghubungimu.”
Ia lalu menjabat tangan Peng Zhan, “Direktur Peng, sekali lagi terima kasih. Akan segera kuminformasikan jadwal sidang. Selama persidangan nanti mungkin akan sedikit mengganggu waktu Anda, mohon jangan bepergian dulu jika memungkinkan. Aku juga ada janji dengan klien lain, jadi pamit dulu.” Ia mengambil tas dokumennya dan bersiap pergi.
Sejak awal pembahasan kasus, Kang Xiaocheng beberapa kali melihat arloji. Yan Yan menduga, pasti ada urusan penting lain.
Peng Zhan mengangguk sambil tersenyum.
“Baik, terima kasih sudah repot-repot, Kang,” ujar Yan Yan sambil berdiri, hendak membayar tagihan.
Peng Zhan mencegahnya, “Nona Yan, saya anggota di sini. Tagihan sudah saya urus. Ada satu hal yang ingin saya bicarakan, apakah Anda keberatan meluangkan sedikit waktu?”
Apakah ia bisa menolak?
Setelah mengantar Kang Xiaocheng pergi, Yan Yan tetap tinggal dan duduk berhadapan dengannya.
“Terima kasih,” ucapnya lirih.
Tiga kata itu keluar dari hatinya yang paling dalam. Sebenarnya hari ini pun ia sudah berniat mencarinya ke kantor. Meskipun pada akhirnya harus berputar lebih jauh, tetap saja ia harus mengucapkan terima kasih.
Tatapan Peng Zhan begitu mantap menatap perempuan yang tampak sedikit renta di hadapannya. Ia mengabaikan ucapan terima kasih itu, seolah menghela napas dalam hati, lantas perlahan berkata, “Bukankah seharusnya aku yang berterima kasih padamu? Meski kata terima kasih ini terlambat lima belas tahun, di antara kita berdua, justru akulah yang seharusnya berterima kasih, bukan begitu?”
Tangan Yan Yan yang menggenggam cangkir teh perlahan terlepas, turun ke bawah meja, meremas rok di pangkuannya tanpa sadar.
Ia menatapnya, tanpa gelombang apa pun di matanya.
“Tak perlu berterima kasih padaku. Bukankah ibumu sudah memberitahumu, antara kita hanya ada sebuah transaksi. Jual beli saja.”