Bab 104: Menaklukkan Musuh Tanpa Bertempur
He Feiyan memandangi Yan Yan yang cerdas, lalu mengangguk, “Benar. Dugaanmu tepat.”
“Pria berjanggut lebat itu adalah perwakilan dari sebuah grup besar negara A yang berkantor di Tiongkok. Perusahaan mereka adalah pesaing utama perusahaan kita. Sebelumnya, hasil proyek kami di Ibukota dicuri oleh seseorang, dan Kakak Long serta timnya mencurigai bahwa dalangnya adalah pria berjanggut itu. Saat itu, dia sering melakukan kontak rahasia dengan beberapa petinggi kantor pusat kami. Bahkan ada yang melihat ilmuwan kita diundang makan ke rumahnya.”
Yan Yan heran, “Kalau diundang makan di rumahnya, bagaimana kalian bisa tahu?”
He Feiyan tampak sedikit kesal, “Tentu saja, para bos merasa ada yang aneh, jadi mereka menyuruh orang untuk membuntuti.”
“Kalau mereka sudah tahu ada masalah, kenapa kebocoran itu masih terjadi?”
“Itu aku juga tidak tahu. Semuanya dilakukan dengan sangat tersembunyi, jadi tidak ada yang paham persis di bagian mana terjadi kebocoran. Karena itu, proyek-proyek penting pun dipindahkan. Bos besar Yu Bai membentuk tim sendiri, kebetulan saat itu dia harus kembali ke Kota T untuk mencarimu, jadi laboratoriumnya juga dipindahkan ke sini.”
Yan Yan mengangguk, “Lalu pria berjanggut itu pun ikut ke Kota T, bahkan mencari Yu Bai lagi, jelas dia dapat kabar baru. Sepertinya memang ada pengkhianat di dalam.”
“Memang begitu. Dia datang menemui bos, dan bos juga tidak menutup-nutupi dariku, langsung menyuruhku mengantar mereka ke tempat pertemuan. Pria berjanggut itu menawar harga sangat tinggi, minta bos menyerahkan teknologi inti. Tentu saja bos menolak, bahkan sempat menyindir dan mengejeknya, akhirnya mereka berpisah dengan tidak baik.”
“Jadi, kamu yakin bahwa pertemuan Li Peihuang dengan pria berjanggut itulah kebocorannya.” Yan Yan kembali menatap layar, berulang kali memutar rekaman transaksi mereka.
He Feiyan mendekat, menunjuk kotak kecil di tangan Li Peihuang, “Aku curiga di dalam kotak itu ada bagian dari teknologi proyek kita. Tapi yang paling inti dia tidak bisa dapatkan, makanya dia berusaha menekan bos. Bos pasti dijebak oleh mereka.”
Yan Yan menatap layar dengan penuh perhatian. Ia teringat ucapan Zhao Ya bahwa Li Peihuang tidak cukup lihai untuk merancang konspirasi sebesar ini. Kalau dia sendiri tidak mampu, lalu bagaimana dengan kekuatan di balik pria berjanggut itu?
Tiba-tiba Yan Yan teringat hal lain, “Kenapa Peng Zhan bisa punya semua barang ini?”
Ia menahan diri agar tidak terlalu banyak berspekulasi, lalu berkata pada He Feiyan, “Lupakan dulu, kita serahkan saja semua ini ke Zhao Ya dan timnya. Dengan kemampuan mereka, pasti semuanya akan segera terungkap.” Yan Yan lalu membackup data itu, melepaskan flashdisk dan menyerahkannya pada He Feiyan.
He Feiyan menerimanya dengan wajah berat, “Sudah lama aku bilang Li Peihuang itu berbahaya. Sekarang buktinya jelas di depan mata. Mau lihat apa lagi yang bisa dikatakan Guo nanti?”
Yan Yan mengingatkan dengan baik, “Jangan dulu bilang ke dia. Toh, kamu juga belum tahu dia itu teman atau musuh.”
He Feiyan menunduk, suaranya lesu, “Aku tahu.”
Tak lama, kabar dari Zhao Ya pun datang. Ternyata benar seperti dugaan Yan Yan dan He Feiyan, orang yang bertransaksi dengan Li Peihuang memang dari perusahaan pesaing. Jelas, Li Peihuang sudah tak layak lagi menjadi CEO.
Kakak Long bahkan menelepon Yan Yan secara khusus, “Jangan bertindak sendiri, fokus saja pada wisma yang kamu kelola. Dengan petunjuk ini, semua akan segera terungkap.”
Yan Yan menurut. Ia sadar kemampuannya terbatas, hanya ini yang bisa ia lakukan. Urusan besar memang harus diserahkan pada mereka yang berwenang.
Namun, ia tetap ingin bertanya pada Peng Zhan.
Saat Peng Zhan menerima telepon dari Yan Yan, ia sedang berendam di bak mandi rumahnya. Karena terlalu bersemangat, tangannya terpeleset dan ponselnya jatuh ke air.
Dengan kesal ia mengangkat ponsel itu, tapi ternyata sudah tidak bisa digunakan lagi.
Untungnya, nomor Yan Yan sudah ia hafal di luar kepala. Tak lama, telepon yang tadi terputus akhirnya tersambung kembali.
“Yan, ada apa kamu meneleponku? Ponselku jatuh ke air, ini aku telepon pakai telepon rumah. Apa kamu sedang kesulitan?” Dengan mengenal karakter Yan Yan, kalau tidak ada masalah besar, ia tidak akan menelepon lebih dulu.
Yan Yan tak ingin berbasa-basi, langsung menanyakan, “Video yang ingin kamu putar di pesta ulang tahun sekolah tempo hari, itu dari mana?”
Pesta itu sudah seminggu berlalu, tiba-tiba Yan Yan menanyakan hal itu, Peng Zhan sempat bingung. Ia berpikir keras, baru teringat bahwa rencana keributan hari itu belum sempat ia jalankan, sudah keburu diambil alih orang lain.
Mendadak ia tersadar, “Waktu itu rekaman suara itu kamu yang lakukan?”
Rasa semangatnya langsung melonjak.
Kalau benar Yan Yan yang melakukan, apa artinya? Itu membuktikan Yan Yan tidak menyukai si Li itu. Siapa yang akan melakukan hal seperti itu kepada orang yang disukai?
Saat ini, saingan terbesarnya memang Li Peihuang.
Yan Yan mendengar nada suara Peng Zhan yang begitu antusias, merasa kesal, lalu berkata, “Memang aku yang menyuruh orang melakukannya. Kamu sudah dapat jawabanmu, sekarang gantian kamu jawab pertanyaanku.”
“Tentu. Sudah pasti. Sudah kamu lihat videonya? Aku yang menyuruh orang merekam. Sebenarnya, aku sudah lama ingin memberikannya padamu, tapi si brengsek yang merekam itu malah menikah dulu. Setelah cuti menikah baru ingat mengirimkannya padaku. Aku sendiri belum sempat menontonnya. Kalau bukan karena belakangan ini Li Peihuang semakin menjadi-jadi, aku juga sudah lupa. Untungnya aku sempat menontonnya. Kamu sadar tidak, bocah itu kemungkinan besar penyuka sesama jenis. Bisa-bisanya dia check-in hotel dengan bule, mereka di dalam kamar lebih dari dua jam, benar-benar luar biasa.”
Yan Yan mendengarnya sudah tak sabar, langsung memotong, “Dulu kamu tidak seberisik ini.”
Peng Zhan langsung sadar, “Salahkan saja kamu selalu cuekin aku. Begitu kamu telepon, aku jadi terlalu bersemangat dan ngomong terus.”
“Sekarang serius. Di video itu aku tidak melihat dia masuk kamar hotel dengan orang asing, apa kamu punya video lain?”
“Tidak mungkin, aku memang menyuruh anak itu merekam bagian mereka masuk kamar hotel. Jangan-jangan dia salah ambil? Dasar tolol.” Peng Zhan pun marah-marah sambil mencari di laci, ternyata flashdisk yang berisi video yang seharusnya diputar masih tertinggal di rumahnya.
Yan Yan sudah malas mendengar ocehannya, langsung memotong, “Kenapa kamu melakukan semua ini?”
Peng Zhan dengan sengaja membanggakan diri, berkata, “Ada banyak cara menyingkirkan musuh, ini salah satunya. Menang tanpa bertempur.”
Dalam hati, ia berpikir, kalau Yan Yan tahu Li Peihuang itu penyuka sesama jenis, mana mungkin dia akan membiarkan dia mendekat. Secara otomatis, saingan pun berkurang satu.
Yan Yan berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Kenapa kamu sudah sejak dulu menyuruh orang mengawasinya?” Saat itu, Yu Bai baru saja mengalami musibah, pun kalau Peng Zhan tahu, mestinya tidak akan langsung mengincar Li Peihuang.
Siapa sangka, kali ini Peng Zhan memilih tidak berkata jujur.
Mana mungkin ia mengakui, sejak jamuan makan di rumah keluarga Yu, ia melihat Li Peihuang menatap Yan Yan dengan penuh perhatian lewat rekaman CCTV, lalu menyuruh Song Guoli mengikuti Li Peihuang, dan sejak tahu tentang pria itu, ia terus menyuruh orang mengawasi setiap gerak-geriknya, agar ia selalu tahu apa saja yang dilakukan si bocah itu pada Yan Yan.
Sebenarnya, ia juga tidak menyangka akan mendapatkan rekaman seperti itu.
Awalnya, ia rajin menonton rekaman yang didapat, tapi lama-lama karena sibuk bekerja dan Li Peihuang tidak lagi sering berinteraksi dengan Yan Yan, ia pun berhenti menonton. Kalau tahu ada kejadian sebesar ini, pasti sejak awal ia sudah menggunakannya untuk menjatuhkan lawan.
Menjatuhkan nama baik musuh adalah taktik yang sudah sangat ia kuasai dalam dunia bisnis.
Yan Yan meminta video yang lain darinya.
Peng Zhan dengan senang hati berjanji akan mengantarkannya besok.
Sebenarnya Yan Yan ingin segera mendapatkannya, tapi melihat jam sudah lewat sebelas malam, ia urungkan niat itu. Ia memutuskan untuk menunggu sampai besok.
Keesokan harinya, Yan Yan baru saja tiba di kafe tempat janjian dengan Peng Zhan, namun ia malah melihat Li Peihuang sudah duduk di dalam.