Bab 033: Batu Bata Pun Tak Mengerti Mengapa Ia Begitu Terkenal
“Jangan, Qiaoyin.” Ujung celana Song Qiaoyin digenggam erat. Ia menunduk dan melihat ibunya tidak hanya berdarah di sudut mata dan hidung, tetapi juga punggung tangannya bengkak seperti terong akibat sabuk yang mencambuk.
Mata Song Qiaoyin berkaca-kaca. “Bu, lepaskan. Aku masih di bawah umur. Kalau aku membunuh kedua bajingan ini, aku tidak akan dihukum mati.”
Perempuan simpanan itu melihat ada kesempatan, segera lari ke arah pintu sambil berteriak minta tolong.
Song Qiaoyin berusaha keras melepaskan genggaman ibunya, lalu mengejar, menarik rambut perempuan itu sekuat tenaga hingga ia menjerit, kedua tangannya menutup kepala dan jatuh terlentang.
Segenggam rambut tebal yang tercabut dari kepala perempuan itu dijejalkan Song Qiaoyin ke dalam mulutnya, lalu ia kembali mengangkat batu bata.
“Qiaoyin, jangan membunuh orang. Ibu mohon padamu.” Suara ibunya lemah, walaupun terdengar memohon, tetapi nadanya tidak bisa dibantah.
Sesaat, ia benar-benar ingin membunuh dua orang tak tahu malu itu. Bahkan kalau sampai masuk penjara pun ia tak gentar.
Namun permohonan tulus ibunya membuat Song Qiaoyin yang hampir kehilangan akal sehat, tersadar kembali. Batu bata yang sudah terangkat itu tidak mengenai kepala perempuan simpanan itu, tetapi justru menghantam keras dada menonjolnya.
Perempuan itu menjerit dan berusaha melawan Song Qiaoyin, mulutnya memaki dengan kata-kata kotor.
Awalnya Song Qiaoyin sedikit kesulitan mengatasi perempuan itu, tetapi karena wajahnya sudah berdarah akibat hantaman batu bata, lama-lama ia tidak mampu melawan keganasan gadis itu.
Song Qiaoyin naik ke tubuh perempuan simpanan itu, kecuali kepala, semua bagian yang bisa dijangkau dihajar dengan batu bata.
Perempuan itu sempat melawan, tapi akhirnya tak berkutik di bawah nafsu amarah Song Qiaoyin yang bagaikan singa betina mengamuk, hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
Song Qiaoyin belum puas, ia melempar batu bata, memaksa membuka kedua tangan perempuan itu dari wajahnya, lalu menampar keras-keras berkali-kali.
Ia menampar dengan sungguh-sungguh, hingga tangannya sendiri sakit, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Semua kepedihan yang ia alami di sekolah hari itu pun ikut ia luapkan di sana.
Apa salahnya jadi gemuk? Apa buruknya gemuk? Kalau bukan karena tubuhnya yang besar, mana mungkin bisa mengalahkan perempuan simpanan itu? Mana mungkin bisa membalaskan sakit hati ibunya? Mana mungkin sekali hantam batu bata bisa membuat Song Guoli pingsan?
Song Qiaoyin berpikir, ibunya tidak boleh lagi hidup bersama Song Guoli, harus segera bercerai.
Kalau tidak, cepat atau lambat mereka berdua akan membunuh ibunya.
Darah mulai mengalir dari sudut mulut dan hidung perempuan simpanan itu akibat tamparan bertubi-tubi Song Qiaoyin. Ia terbata-bata memohon, “Jangan pukul lagi, kumohon. Aku... tak akan berani lagi...”
Masih berharap ada kesempatan lagi?
Song Qiaoyin tidak menggubris, malah semakin keras menampar beberapa kali lagi.
Hari itu suasana benar-benar kacau. Ia merasa telah memukul perempuan itu selama setengah abad, padahal kenyataannya hanya sekitar tiga sampai empat menit.
Song Qiaoyin masih ingat amarahnya belum juga reda, tiba-tiba terdengar suara jeritan memilukan ibunya, “Song Guoli, kau bajingan!” Lalu kepalanya terasa sakit dan ia pingsan.
Belakangan, ia baru tahu dari pembicaraan para tetangga, ayahnya yang tersadar ingin membalas dendam, berusaha menyelamatkan perempuan simpanan itu, bangkit dengan tertatih-tatih, dan hendak memukul kepala Song Qiaoyin dengan batu bata yang tergeletak, tapi karena teriakan ibunya, ia akhirnya menggunakan telapak tangan. Satu tamparan telak ke belakang kepala Song Qiaoyin, hingga ia mengalami gegar otak.
Andai yang digunakan batu bata, sekali pukul saja, nyawa gadis kecil itu pasti melayang, atau setidaknya lumpuh seumur hidup.
Mana ada ayah kandung berperilaku seperti itu? Bahkan binatang pun tak sekejam itu.
Warga sekitar yang membicarakan insiden mengerikan hari itu selalu menyelipkan makian, sekaligus mempertegas sikap menolak perempuan simpanan yang merusak rumah tangga siapa pun.
Song Qiaoyin dirawat di rumah sakit selama lima hari, ibunya lebih dari sepuluh hari, seluruh tubuh penuh luka, hampir tak ada kulit yang utuh. Melihatnya saja sudah membuat air mata Song Qiaoyin menetes.
Ibunya juga memeluknya sambil menangis.
Song Qiaoyin berkata pada ibunya, “Aku sudah berpikir, Ibu harus segera bercerai dengannya. Tak boleh ditunda lagi.”
Kali ini sang ibu tidak menolak.
Soal ayahnya dan perempuan simpanan itu, ia sudah tidak peduli.
Ia hanya ingat, saat di lorong rumah sakit, samar-samar melihat seseorang yang mirip Song Guoli, kepala terbalut perban seperti mumi, berjalan tertatih sambil menopang dinding. Begitu melihat Song Qiaoyin, orang itu buru-buru berbalik arah.
Song Qiaoyin tidak ambil pusing.
Kabar yang ia dengar, perempuan simpanan itu sekujur tubuh penuh luka, dadanya bengkak seperti ukuran F.
Song Qiaoyin hanya mendengus dingin, semacam operasi plastik gratis, tanpa sengaja justru menambah daya tarik perempuan itu untuk merusak rumah tangga orang lain. Tapi operasi sebrutal itu, mungkin seumur hidup perempuan itu tak ingin mengulang lagi.
Kasus perselingkuhan yang terjadi di Kompleks Taman Nusantara ini, sudah pasti menjadi bahan gosip utama para tetangga.
Nama “Song Qiaoyin” menjadi simbol kepahlawanan seorang diri.
Peristiwa itu jadi pelajaran bagi para ayah yang berselingkuh: kalau berkencan jangan pelit, dan jangan membiarkan anak perempuan tumbuh terlalu besar.
o((⊙﹏⊙))o.
Peristiwa itu juga membangkitkan semangat kaum perempuan yang selama ini ditindas.
Andai saja hari itu Song Qiaoyin tidak mengunci pintu, seluruh ibu-ibu di kompleks pasti akan merapat untuk membantunya menghajar perempuan simpanan itu.
Sayang, kesempatan emas untuk memamerkan keahlian, menegakkan wibawa, dan unjuk gigi di depan suami terlewatkan begitu saja.
Sebagai kompensasi, kompleks membentuk Tim Pengawal “Hajar Pelakor Jaga Rumah Tangga”, yang setiap pagi sebelum fajar sudah latihan jurus-jurus bela diri di taman.
Senjata wajib: batu bata.
Anggota tim bangun lebih pagi dari ayam, teriakan yel-yelnya pun lebih nyaring.
Para lelaki yang lewat taman dengan tas kerja, dari kejauhan sudah mendengar pekikan penuh amarah dan semangat.
Pemimpin yel-yel, seorang ibu-ibu, berteriak, “Hajar!”
Semua perempuan menyahut, “Hajar!”
Si pemimpin lanjut, “Pukul!”
Semua perempuan tetap berteriak, “Hajar!”
Pemimpin yel-yel berkata, “Eh, kenapa pada nggak nurut? Sudah kebablasan nih!” ┑( ̄Д ̄)┍
Para lelaki yang mendekat melihat istri masing-masing memegang batu bata besar, sorot mata garang, serius berlatih gerakan memukul. Barisan mereka rapi, penuh semangat, bahkan lebih dari pasukan militer.
Sekejap, para pria merasa kepala mereka gatal-gatal, seperti kepala Song Guoli yang dibalut perban.
Aksi itu menginspirasi kehidupan sosial kompleks-kompleks sekitarnya. Tim Pengawal “Hajar Pelakor Jaga Rumah Tangga” kini punya empat atau lima cabang, membuat harga batu bata di kawasan itu melonjak, bahkan beberapa pedagang cerdik beralih profesi jadi penjual batu bata.
Untuk mempromosikan dagangan, mereka mencetak kisah kepahlawanan Song Qiaoyin dalam brosur dan menyebarkannya luas. Tapi itu cerita lain.
Memang memukul orang melanggar hukum, dan akhirnya masalah keluarga Song diselesaikan oleh ayah Peng Zhan.
Setelah keluar dari rumah sakit, Song Qiaoyin langsung dibawa ke rumah keluarga Peng.
Selama ia dirawat, ibu Peng selalu membuatkan sup penambah tenaga dengan berbagai resep.
Song Qiaoyin akhirnya sadar tubuhnya yang gemuk tak lepas dari sup-sup itu. Ia mulai menolak makanan berminyak dan berkalori tinggi, tapi tak ingin mengecewakan niat baik ibu Peng, jadi ia minum setengah dan sisanya disisakan.
Melihat supnya tidak habis, ibu Peng agak kecewa, tapi ayah Peng membela Song Qiaoyin, “Orang sakit mana doyan makan banyak, nanti kalau sudah sehat baru tambah lagi.”
Peng Zhan dan teman-temannya menjenguk Song Qiaoyin di rumah sakit, Li Yuman membawa sekeranjang buah segar. Begitu bertemu Song Qiaoyin, belum sempat bicara, air matanya sudah mengalir deras karena haru.
Sang koki Song kembali lagi. Meski Song Qiaoyin kini berbadan besar, tapi semangatnya tetap jadi panutan Li Yuman.
Saking girangnya, setelah mendengar kisah kepahlawanan Song Qiaoyin di rumah, ia sampai terbata-bata karena terlalu semangat.
“Ayah, kalau nanti ayah punya perempuan simpanan, kabari aku ya, aku mau ajak idolaku buat habisin dia!”
Tanpa ragu, ayah dan ibunya masing-masing menjitak kepalanya.
Li Yuman melupakan perselisihan sebelumnya dengan Song Qiaoyin, menggenggam tangannya erat, dan bersikeras ingin mengupaskan apel untuknya.
Peng Zhan berkata, “Jangan bodoh lagi. Berjuang melawan orang seperti mereka tidak sepadan.”
Itu pertama kalinya Song Qiaoyin mendengar Peng Zhan berbicara padanya dengan nada lembut. Ia langsung salah tingkah, wajahnya memerah dan hanya menjawab pelan, “Hmm.”