Bab 055: Kau Adalah Kebahagiaan Kecilku (3)
“Minggir kau.”
Yan Yan menggulung lengan bajunya, maju paling depan dengan semangat membara. Ia lebih dulu menyingkirkan wanita tak tahu malu yang berani-beraninya menggoda Yu Bai, lalu dengan satu sapuan kaki memaksa mundur dua ibu-ibu, dan dengan susah payah menyelamatkan Yu Bai yang sudah dikepung habis-habisan oleh “Tim Srikandi Perkasa.”
Situasi jadi tak terkendali, kucing angkuh yang sombong sudah lama bersembunyi dengan cerdas.
Di tengah pertarungan, ia sempat melirik Yu Bai yang sudah ternganga tak percaya dengan kejadian besar ini. Namun, pandangannya langsung tertumbuk pada dua garis merah darah yang mencolok di wajah Yu Bai. Siapa perempuan sialan yang sudah berani mencakar seperti ini?
Wajahnya yang bersinar seolah tertimpa cahaya kini malah dirusak begitu saja. Masih mau hidup atau tidak mereka? Kalau saja sepatu hak tingginya tak sempat dilepas, satu serangan bisa langsung melumpuhkan satu orang.
Namun, ia tetap meremehkan daya ledak “Tim Srikandi Perkasa” itu.
Tak lama, Yan Yan pun akhirnya dikeroyok oleh ibu-ibu yang jauh lebih berpengalaman dalam pertempuran.
Yu Bai tak bisa membalas serangan pada wanita, jadi ia langsung memeluk Yan Yan untuk melindunginya, membiarkan punggungnya jadi tameng menghadapi amukan ibu-ibu itu. Satu tangan menahan serangan licik ke arah Yan Yan, tangan lain dengan susah payah mengeluarkan ponsel untuk menelepon polisi.
Yan Yan merasa pemandangan di depannya sangat familiar. Ia sering mengalami ini di masa kecil.
Dulu, waktu dianiaya oleh Song Guoli yang mabuk, ibunya yang tak mampu melawan hanya bisa memeluknya erat-erat seperti Yu Bai saat ini, melindunginya dengan tubuhnya sendiri, membiarkan punggungnya jadi sasaran pukulan.
Ia bersembunyi dalam pelukan ibunya, merasa itu adalah tempat terhangat dan teraman di dunia.
Pelukan Yu Bai pun sama hangatnya, nafasnya membawa harum dedaunan.
Dengan erat ia mengelilingi Yan Yan, membangun benteng yang tak bisa ditembus dengan tubuhnya sendiri.
Ia bisa mendengar detak jantung Yu Bai yang kuat, perlahan menyatu dengan detak jantungnya sendiri hingga menjadi satu irama.
Sesaat, ia merasa waktu benar-benar berhenti di momen itu.
Kini, ibunya telah punya anak lagi bersama pamannya, pelukannya tak lagi untuk Yan Yan. Tapi, di pelukan Yu Bai, ia kembali merasakan hangatnya perlindungan seorang keluarga. Tak perlu khawatir apa-apa, seolah selama ada dia, ia tak perlu memikirkan atau cemas soal apa pun.
Ia mendongak, menatapnya dalam diam. Pria di depannya terasa tak asing, perasaan familiar itu datang begitu saja.
Mungkin karena hukum tarik-menarik antara laki-laki dan perempuan, ditambah gaya Yu Bai yang setiap gerak-geriknya seperti pangeran tampan di drama Korea, tiga perempuan perkasa itu pun saat mengeroyoknya jadi jauh lebih lembut dibanding saat menyerang Yan Yan.
Bagaimanapun, Yan Yan memang terlalu menarik perhatian dan membuat perempuan lain cemburu. Sekilas saja sudah tampak seperti tipe wanita berbahaya yang wajib masuk daftar hitam di ponsel suami orang.
Kisruh itu akhirnya selesai ketika polisi datang tepat waktu.
Pak polisi sudah berpengalaman, menghadapi keributan kecil seperti ini di antara ibu-ibu biasanya cukup dengan menenangkan, menengahi, dan sedikit menakut-nakuti pakai hukum, pasti semuanya langsung patuh.
Awalnya, tiga biang keributan itu masih berkoar-koar membela diri, tapi melihat luka di tubuh Yu Bai, mereka akhirnya sadar sudah kelewatan, sampai-sampai si pangeran tampan berubah seperti korban film horor... semua gara-gara istrinya, mereka juga terluka, tahu!
Akhirnya, kedua pihak sepakat berdamai.
Masing-masing berobat sendiri, tak ada yang saling menuntut.
Yan Yan harus mencari tempat baru untuk menampung kucing-kucing itu dalam tiga hari.
Setelah semua orang pergi, Yan Yan melihat luka cakaran di wajah dan leher Yu Bai, juga bajunya yang sudah kusut seperti kulit nenek-nenek, satu kancing jasnya tergantung dan nyaris copot.
Pria di depannya dengan tatanan rambut berantakan, masih belum sepenuhnya sadar dari mode bertarung, sangat bertolak belakang dengan sosoknya yang biasanya selalu sopan dan gagah.
Ia tak tahan dan tertawa terbahak-bahak.
Yu Bai pun berdiri tegak di tengah tawa riang Yan Yan, melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke tubuh Yan Yan.
Barulah Yan Yan sadar betapa mengenaskannya gaunnya sekarang.
“Kau masih bisa tertawa? Lain kali kalau ketemu kejadian seperti ini, kalau tak mampu lawan, langsung lari saja. Hanya orang bodoh yang nekat maju. Jelas-jelas kau kalah.” Yu Bai melihat rambut Yan Yan yang acak-acakan dan luka cakaran di lengannya, hatinya benar-benar kesal.
Ia marah pada dirinya sendiri karena gagal melindunginya.
Padahal sudah berjanji tak akan membiarkannya terluka lagi, tapi sekarang malah di depan matanya sendiri Yan Yan dipukuli orang.
Tawa Yan Yan tak kunjung berhenti, bahkan sampai keluar air mata, tapi suaranya jauh lebih lembut, “Kau yang bodoh.” Kalau bukan bodoh, mana mau melindunginya dan rela jadi sasaran pukulan?
Ia melihat luka di wajah Yu Bai, masuk ke kamar tidur dan mencari kotak P3K, tapi setelah dibuka ternyata isinya tak ada yang cocok, atau sudah kedaluwarsa.
“Kita pergi saja,” katanya keluar kamar, memanggil Yu Bai.
Yu Bai sedang merapikan dirinya yang berantakan, tiba-tiba terinspirasi oleh panggilan Yan Yan.
Ia meringis, menutupi luka di wajahnya dengan tangan. “Aduh, sakit sekali.”
“Jangan sentuh,” Yan Yan menggeser tangannya, “Jangan dipegang-pegang, nanti bisa infeksi. Sakit pun tahan saja.”
Di bawah sorot mata Yan Yan yang serius dan cemas, jantung Yu Bai berdebar tak karuan. Ia mendapat ide lagi.
Sepertinya perempuan berhati lembut seperti Yan Yan, yang bahkan mau menampung kucing liar, pasti tak tega melihat yang lemah.
“Aduh, punggungku juga sakit,” Yu Bai memelas, memasang wajah sedih dan kasihan.
Yan Yan teringat kejadian tadi, merasa wajar kalau punggungnya sakit. Tamparan tangan ibu-ibu itu memang luar biasa. Tapi, karena mereka beda jenis kelamin, masa iya ia harus menyuruh Yu Bai buka baju untuk melihat lukanya?
“Kau juga, sudah tahu bakal separah ini, kenapa setuju berdamai begitu saja? Seharusnya langsung ke rumah sakit.”
Yu Bai langsung menolak, “Tak mau ke rumah sakit.”
“Kenapa?”
“Malu, dong. Laki-laki dikeroyok ibu-ibu, pasti dokter ngakak.”
“Lalu besok kau tak masuk kantor?”
“Maksudmu?” tanya Yu Bai.
Yan Yan menunjuk wajahnya, “Luka begini, apa tak takut dijadikan bahan tertawaan di kantor?”
Yu Bai langsung lari ke kamar mandi melihat lukanya.
Selama ini ia hanya merasa perih dan gatal di wajah, tak menyangka separah itu. Setelah bercermin, barulah ia sadar betapa parahnya.
Menatap bekas cakaran mencolok di cermin, Yu Bai nyaris tertawa. Sepertinya dewa keberuntungan sedang membantunya.
Ia mencari lagi di tubuhnya, menemukan dua luka lagi di dada dan leher, lalu berpura-pura meringis menahan sakit sambil menahan tawa.
“Habis sudah, malu mau ketemu orang. Kalau ibuku lihat anaknya begini, pasti langsung bakar rumah tiga biang kerok itu. Habis, apa aku jadi cacat ya? Nanti teman-teman kantor malah mikir yang aneh-aneh.”
Dari ruang tamu, Yan Yan mendengar teriakan dari kamar mandi, tak bisa menahan decak kagum, si rubah putih ini memang merepotkan.
Tapi semua ini memang gara-gara dirinya juga.
Ia merasa bersalah pada Yu Bai.
“Begini saja, kau pilih, ke rumah sakit atau ke rumahku?”
“Ke rumahmu untuk apa?” Yu Bai buru-buru keluar, menatap Yan Yan dengan mata menyala-nyala.
Yan Yan: “……” Bukannya tadi mau menangis? Kok sekarang malah seperti tak terjadi apa-apa?
“Ke rumahku untuk mengobatimu, kotak P3K di sini tak bisa dipakai. Kalau mau ke rumah sakit pun, aku bisa menemanimu.”
Yu Bai langsung mendorongnya menuju pintu, “Ngapain ke rumah sakit? Kau dokter terbaik, ke rumahmu saja. Ke rumahmu.”
“Maksudmu apa?”
Yu Bai sadar dirinya terlalu bersemangat, memaksa diri untuk tenang dan berakting.
“Aduh, sakit sekali. Seluruh badan sakit. Ayo cepat pergi dari sini. Siapa tahu ada tetangga tiba-tiba ngamuk masuk lagi, kita berdua… mana bisa melawan. Ke rumah sakit, naik-turun lantai juga ribet. Mending ke rumahmu. Rasanya kau sudah seperti dokter.”
Yu Bai tak memberi Yan Yan waktu untuk berpikir. Ia malah mengunci pintu, lalu buru-buru turun dan menyalakan mobil, melaju kencang ke jalan raya.
Yan Yan di dalam mobil merasa ada yang aneh.
Beberapa kali ia melirik ke arahnya.
Yu Bai malah sengaja membuka kancing kemeja lebih lebar. Benar saja, Yan Yan langsung panik, “Astaga, lehermu juga tercakar, darahnya kena baju. Mending cepat ke rumah sakit untuk suntik tetanus. Siapa tahu kuku mereka kotor. Belok kiri di depan, kita ke rumah sakit.”
Yu Bai: “……” Rasanya malah jadi bumerang.
Yan Yan melihat mobil belok ke kanan di persimpangan, “……”
“Kau terlihat parah sekali. Sebaiknya ke rumah sakit.”
“Tidak apa-apa, aku laki-laki, luka begini bukan apa-apa. Cukup diobati di rumahmu, tak perlu mempermalukan diri sendiri di rumah sakit.”
Yan Yan tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya menyuruh Yu Bai memarkir mobil di parkiran umum apartemennya, lalu membawanya naik ke atas.
Ia diam-diam memperhatikan Yu Bai yang tampak lesu, kepala menunduk sepanjang jalan seperti ayam jantan kalah bertarung.
“Masih sakit? Sebentar lagi sampai.” Ia mencoba menghibur.
Yu Bai hanya menggumam pelan, seolah tak terlalu berharap masuk ke rumah Yan Yan.
Padahal dalam hatinya, ia bersorak gembira: Sang aktor, kau luar biasa, semangat! Tahan terus!
()
Sogou