Bab 105: Semangat Gosip
Di hadapan Li Peihuang duduk seorang pria, entah apa yang sedang mereka bicarakan, suasananya tampak kurang harmonis. Pelayan di pintu masuk menyambut tamu dengan ramah, dan ketika Li Peihuang mendengar keributan, ia menoleh ke arah pintu, tepat saat melihat Yan Yan masuk.
Sejak insiden audio di perayaan sekolah, Li Peihuang tak pernah menelepon Yan Yan. Ia memang belum memikirkan cara yang tepat untuk menjelaskan kejadian itu. Namun, bisa bertemu secara tak terduga di sini membuatnya sangat senang, hingga ia pun berdiri dan berjalan menghampiri Yan Yan.
Wajah Yan Yan tetap ramah dan bersahabat, sama sekali tak memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Li Peihuang. “Oh, Kakak Senior? Kebetulan sekali, sedang membicarakan urusan?” Ia sekilas melirik pria yang duduk di depan Li Peihuang, wajahnya cukup rupawan, tapi entah mengapa terasa agak licin. Butuh waktu sesaat sebelum ia sadar, sepertinya pria itu memakai riasan tipis.
Seorang aktor, mungkin? Kalau Yan Yan bukan perempuan, mungkin ia takkan menyadari bahwa rona wajah bagus sang pria adalah hasil makeup.
Li Peihuang memperkenalkan pria itu secara samar pada Yan Yan, “Ini temanku, dia baru pulang dari luar negeri, ada urusan pribadi yang ingin dibicarakan.”
Penjelasannya mengandung makna tersirat, tak menyebutkan nama atau marga temannya. Yan Yan memang tak berniat berbincang banyak, ia hanya bilang sudah punya janji lalu mencari tempat duduk sendiri.
Li Peihuang ternyata mengikuti dan berinisiatif menjelaskan, “Kejadian di perayaan sekolah waktu itu memang ada yang sengaja memfitnahku, Xiaoyan, jangan percaya pada hal-hal yang tak berdasar itu. Aku bukan orang seperti itu.”
Yan Yan pura-pura mendengarkan dengan sungguh-sungguh, seolah ia percaya pada pernyataan tulus Li Peihuang, “Aku tahu, Kakak Senior paling mencintai Kakak Ipar, mana mungkin berbuat seperti itu. Jangan dipikirkan lagi, aku tidak akan percaya.”
Mendengar penghiburan Yan Yan, beban di hati Li Peihuang seolah terangkat, hatinya pun menjadi lega dan ia sangat senang hingga ingin duduk kembali.
Saat itu, Peng Zhan membuka pintu dan masuk dengan gaya santai penuh percaya diri. Tampaknya ia berdandan rapi di rumah, seperti merak jantan yang tengah memamerkan bulunya untuk menarik perhatian betina.
Ia cukup terkejut melihat Li Peihuang di sana, apalagi sedang bersama Yan Yan, bahkan terasa aneh baginya. Namun, di balik keterkejutan itu, terselip pula rasa bangga sebagai pemenang.
“Kamu duduk di tempat yang salah, geser sana.” Peng Zhan mengusirnya.
Sejak perayaan sekolah itu, hubungan mereka memang sudah berubah jadi permusuhan. Li Peihuang melihat Peng Zhan seolah tak ada di sana, benar-benar mengabaikan kehadirannya.
Peng Zhan dengan gembira memanggil nama Yan Yan, sengaja untuk membuat Li Peihuang kesal, lalu duduk di hadapan Yan Yan. Tadinya ia ingin duduk di samping Yan Yan, tapi tatapan tajam Yan Yan membuatnya mengurungkan niat.
Yan Yan tak ingin ada keributan di tempat umum, lalu menasihati, “Kakak Senior, sepertinya temanmu sudah mulai tak sabar menunggu.”
Baru setelah itu Li Peihuang beranjak pergi dengan enggan.
Setelah keduanya memesan minuman, Peng Zhan bertanya pada Yan Yan, apakah ia tahu siapa pria yang tadi duduk di sebelah Li Peihuang.
Yan Yan tampak tak tertarik, ia menyesap kopi sambil mendengarkan Peng Zhan bicara sendiri, “Itu namanya Tomma, dari kalangan pebisnis. Sangat terkenal di dunia bisnis.”
“Kalangan? Kalangan apa?” tanya Yan Yan.
“Ya, kalangan gay. Kamu gadis muda, pasti belum tahu. Pokoknya ini makin membuktikan Li Peihuang itu gay, ngerti? Jauhi saja dia ke depannya.” Di mata Peng Zhan, Yan Yan selalu jadi adik kecil yang mengikutinya ke mana-mana.
Yan Yan kagum pada semangat gosip Peng Zhan yang pantang menyerah seperti itu.
“Kamu sudah pernah lihat video Li bertransaksi dengan seseorang itu?” tanyanya.
“Sudah.”
“Setelah nonton, langsung menyimpulkan dia homoseksual?”
“Kuduga si Li itu pasti memotret sesuatu yang memalukan dari si bule berjenggot itu, jadi si bule membayar demi menjaga reputasinya.”
Yan Yan mengerutkan kening, “Kamu tak bisa coba berpikir dari sisi lain? Aku jadi heran bagaimana perusahaan besarmu bisa berjalan.”
Peng Zhan jadi kesal. Dulu Yan Yan selalu mengaguminya, sekarang jelas-jelas memandang rendah.
“Perusahaan ada manajer profesional, ada CEO profesional, aku hanya perlu tentukan strategi. Aku juga tak mau jadi Ma Baba kedua, hidup bukan cuma soal kerja, harus ada hobi dan cita-cita. Xiaoyan, bisakah kamu melupakan masa lalu, anggap aku orang baru. Kenalan dari awal, tak terkait masa lalu. Bisa?”
Tanpa pikir panjang Yan Yan menjawab, “Tidak bisa. Kamu tetap kamu.”
Peng Zhan nekat, “Bagaimana kalau aku ubah penampilan?”
Yan Yan sudah lelah berdebat, ia ulurkan tangan, “Serahkan flashdisk-nya. Aku ada urusan penting.”
“Flashdisk boleh kuberikan, tapi kamu harus setuju satu hal.”
“Katakan.”
“Aku ingin jadi tamu gelombang pertama di proyek penginapanmu. Permintaanku tidak berlebihan, aku bayar penuh, tak perlu diskon.”
Ia hanya ingin merasakan rumah yang dirancang Yan Yan sendiri, seolah itu rumah yang dibuat khusus untuknya.
“Deal.” Yan Yan tak mau berlama-lama. Setelah urusan ini selesai, ia masih harus ke Kota W. Proyek penginapan sudah hampir rampung, ia akan melakukan pengecekan akhir, lalu mulai penataan interior.
Itulah keahliannya, rumah tua atau usang jika ditangani olehnya, bisa berubah gaya dan langsung membuat pengunjung jatuh cinta.
Peng Zhan mengenal sifat Yan Yan, jika ia sudah bilang sesuatu, pasti ditepati. Tujuannya sudah tercapai, jadi ia tak mau memperpanjang.
Namun, sambil mengobrol, ia meniru gaya Li Peihuang yang suka pamer, diam-diam memotret Yan Yan yang sedang memegang cangkir kopi, lalu mengunggahnya ke media sosial, hanya dibuka untuk Li Peihuang.
Cita-cita hidup yang segera terwujud: Menggenggam tanganmu, menua bersamamu.
Ia bahkan sengaja menandai Li Peihuang.
Walau saingan cintanya ada di depan mata, tetap saja ia harus menusuk hatinya, itulah gaya Peng Zhan.
Tak lama kemudian, ia mendapat balasan: Terlalu dini untuk bicara begitu.
Li Peihuang tak tahu kalau dirinya kini bagai belalang di dahan, tinggal menunggu saat ia ditangkap burung pipit. Maka ia mengira kejadian di perayaan sekolah masih ada peluang diperbaiki. Bukankah sikap Yan Yan tadi menunjukkan ia tak terlalu memusingkan itu?
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, He Feiyan segera mengunggah isinya kepada para atasan yang menunggu dengan cemas di Ibu Kota, berharap bisa menemukan lebih banyak petunjuk.
Setelah semua urusan itu selesai, tak ada lagi yang bisa Yan Yan lakukan, tinggal menunggu hasil akhir.
Kini hal yang paling mendesak bagi Yan Yan adalah mencari talenta yang bisa ia manfaatkan.
Target pertamanya adalah pemilik restoran kecil yang ia temui saat makan hotpot tempo hari.
Ia mengeluarkan kartu nama dan menelepon.
Yang mengangkat seorang perempuan, “Halo, ini Daging Domba Rebus Dandang Besar, ada yang bisa saya bantu untuk reservasi?”
Yan Yan bertanya, “Apakah Daming itu nama pemilik restoran kalian?”
“Wah, selamat, benar sekali. Sebagai hadiah, kalau Anda makan di sini, akan kami berikan satu piring sayuran gratis. Tak perlu persetujuan bos, saya bisa putuskan sendiri.”
Yan Yan tersenyum di ujung telepon, “Kamu cukup menarik juga. Begini saja, tolong siapkan satu ruang privat, saya akan segera ke sana.”
“Baik, untuk berapa orang?”
“Dua orang.”
Telepon ditutup, Yan Yan langsung berkendara menuju Daging Domba Rebus Dandang Besar.
Pemilik kecil yang dulu menyambutnya lagi, saat melihat Yan Yan sempat tertegun. Yan Yan menunduk sedikit masuk ke dalam lewat tirai yang diangkat sang pemilik, dan seketika aroma hotpot yang menggoda memenuhi hidungnya.
“Hari ini sendirian?” tanya si pemilik dengan ramah.
Yan Yan menatapnya, “Berdua, hari ini aku yang traktir kamu makan.”
Si pemilik langsung bingung.
Menraktir pemilik restoran di restorannya sendiri? Apa jangan-jangan dia mau makan gratis?
()