Bab 42: Satu-satunya Dewa Naga
Su Jin segera menggeleng, "Itu tidak mungkin. Saat itu Xiao Tao benar-benar sudah tidak bernapas lagi, dan kami sendiri yang menguburkannya. Bagaimana mungkin dia masih hidup?"
Qian Ye memang tidak bicara, tapi lewat sorot matanya yang tenang dan dalam, dia seolah bertanya pada Raja Dunia Bawah.
Raja Dunia Bawah menghela napas pelan, "Kelahiran, penuaan, sakit, dan kematian manusia, serta lima putaran reinkarnasi, hanyalah sebuah proses kerja yang normal. Maksudnya, hanya mereka yang sudah mati yang bisa datang ke dunia bawah. Selain itu, tidak ada orang yang bisa datang ke sini dengan sendirinya." Ia melirik dua orang yang datang sendiri ke sana, agak tercekat, lalu segera mengalihkan topik, "Bagaimana kalau kalian pergi ke makam itu sekarang, lihat apakah jenazahnya masih ada?"
Meski meragukan perkataan Raja Dunia Bawah, Su Jin untuk sementara juga tidak tahu harus berbuat apa. Qian Ye berpikir sejenak, lalu berbalik, menggenggam tangan Su Jin dan bersiap untuk pergi.
Baru saja ia melangkah, dua bayangan putih melintas di hadapannya.
"Paduka, tadi ada yang memaksa masuk—eh, ternyata sudah masuk?" Yang datang itu Bai Zuo, dan tak lama kemudian Bai You pun menyusul.
Raja Dunia Bawah takut Qian Ye dan Su Jin berubah pikiran dan ingin tinggal, segera melompat dan menepuk bahu Bai Zuo, "Ngomong apa kamu! Mereka itu tamu. Lagi pula, lihat kalian semua, nangis seperti apa coba, semuanya melolong tanpa alasan!"
Bai Zuo dan Bai You tampak amat bersalah, lalu serentak menatap Su Jin dengan mata penuh harap, gumam mereka lirih, "Ibu…"
Sekali dipanggil begitu, efeknya sungguh luar biasa. Bulu kuduk Su Jin langsung meremang. Menghadapi kebingungan Raja Dunia Bawah, dan tatapan Qian Ye yang setengah tersenyum, Su Jin menggertakkan gigi, lalu segera memeluk lengan Qian Ye sambil berkata, "Guru, lebih baik kita segera periksa makam Xiao Tao, lihat ada yang aneh atau tidak. Kalau tubuhnya masih ada di sana, berarti Raja Dunia Bawah kecil itu berbohong pada kita."
Raja Dunia Bawah yang dipanggil langsung memasang muka masam.
Sementara Qian Ye hanya tertawa lepas, memeluk Su Jin dan terbang pergi.
Sudah terbiasa melayang di udara, Su Jin menyembunyikan wajahnya di dada Qian Ye, menghirup kehangatan itu. Namun kali ini ia cukup bijak, sama sekali tidak ingin membahas soal dekat atau tidak dekat dengannya.
"Kurasa para bawahan Raja Dunia Bawah itu tidak bisa diandalkan, persis seperti tuan mereka." Melihat Qian Ye tak memberi tanggapan, ia pun melanjutkan, "Tetap saja, guruku yang paling bisa diandalkan!"
Bisa dibilang terlalu menjilat.
Qian Ye hanya tersenyum tanpa bicara, lalu dengan cepat memeluk Su Jin, terbang menuju tempat mereka dulu menguburkan Xiao Tao. Angin bertiup di antara pohon-pohon persik, menimbulkan suara gemuruh. Di musim dingin yang menusuk ini, hutan persik justru dipenuhi suasana seperti musim semi yang segera tiba.
"Makamnya benar-benar ada yang usik!" Su Jin tercengang melihat semuanya, lalu berbalik bertanya pada Qian Ye, "Apa itu perbuatan si Iblis Kecil?"
Qian Ye menggeleng, "Raja Iblis saat ini kekuatannya masih terkurung, untuk sementara tidak bisa berbuat apa-apa. Bukankah dia sendiri memohon agar kita mengantarkannya ke Gunung Salju? Lagipula, keponakanku pasti sudah mengantarnya ke sana."
"Lalu siapa yang membawa Xiao Tao pergi, dan bahkan mampu menghidupkannya kembali?" Su Jin kebingungan. Ia menunduk menatap makam yang telah hancur, samar-samar ada kabut hitam mengelilinginya.
Qian Ye mengangguk, "Itu adalah aura kaum iblis."
Mata Su Jin berbinar, "Sepertinya kita telah mengabaikan ayah si Iblis Kecil, yaitu iblis yang dicintai Xiao Tao. Jika di sini ada aura kaum iblis, dan orang itu bukan hanya menyelamatkan Xiao Tao, tapi juga membawanya pergi, berarti kemungkinan besar dia adalah kaum iblis itu."
"Kalau begitu, seharusnya Xiao Tao tidak dalam bahaya."
Karena orangnya sudah pergi, mereka tak lagi punya petunjuk. Qian Ye mengangguk, meraba liontin panjang umur di tangannya, lalu berkata pelan, "Nanti aku akan mencari kesempatan untuk memberikannya pada Xiao Tao."
Walau perkara ini belum tuntas, namun untuk saat ini hasilnya sudah cukup baik. Su Jin menarik ujung baju Qian Ye, bertanya pelan, "Guru, sekarang kita mau ke mana?"
"Aku akan membawamu ke Gunung Salju untuk berlatih," jawab Qian Ye yang memang sudah menyuruh Ku Mu menyiapkan segalanya di sana. Meski sempat tertunda karena urusan si Iblis Kecil, tapi sekarang mereka bisa berangkat tanpa masalah.
Latihan lagi, pikir Su Jin sambil menatap Qian Ye yang begitu serius dan tenang, bertanya-tanya dalam hati, apakah ia benar-benar harus menjadi dewi abadi.
Hutan persik itu begitu sunyi, musim dingin belum berlalu, musim semi belum tiba, benar-benar musim yang sepi.
"Guru, kenapa kau begitu ingin aku berlatih jadi dewi abadi?"
"Karena kau dulu adalah naga abadi satu-satunya di langit dan bumi." Tatapan Qian Ye mendadak sangat lembut, ia mengulurkan tangan, kembali membelai rambut panjang Su Jin.
Seorang tokoh utama pria, seorang tokoh utama wanita, sebuah sentuhan lembut penuh kasih.
Su Jin hanya bisa menghela napas dalam hati. Ia benar-benar tak bisa tidak menganggap dirinya seekor hewan peliharaan, karena—ah sudahlah, lebih baik ia patuh menjadi peliharaan saja.
Naga abadi satu-satunya di langit dan bumi.
Mendadak Su Jin bersemangat, "Itu pasti sangat hebat, ya?"
Konon, para siluman memiliki tubuh yang kuat. Dalam pertarungan dengan tingkat kekuatan yang sama, siluman selalu punya keuntungan tersendiri. Sementara naga dan burung phoenix dalam legenda, keduanya termasuk makhluk suci zaman kuno. Jumlah yang berhasil jadi dewa sangat sedikit, apalagi naga, sang penguasa seluruh binatang. Jika ada yang berhasil menjadi dewa, bahkan para dewa agung dan kaisar langit pun harus menghormatinya.
Karena itulah Qian Ye tetap merasa heran melihat Su Jin yang sampai sekarang masih sangat lemah. Sebagai penguasa seluruh binatang, kedudukannya seharusnya jauh di atas raja binatang mana pun. Namun pada diri Su Jin saat ini, tak terlihat tanda-tanda apa pun.
Dalam perjalanan ke Gunung Salju, Su Jin melihat sekeliling, wilayah putih makin meluas, hingga ia pun menggigil.
"Gunung Salju pasti sangat dingin, ya?" Su Jin bersin lagi, lalu teringat sesuatu yang aneh. "Guru, apa aku berubah wujud lagi?" Ia meraba wajahnya.
Dulu, para pria selalu menatapnya dengan tatapan penuh nafsu, dan Su Jin sendiri pernah melihat wajahnya yang memikat di cermin. Tapi sejak tiba di sini, tampaknya tak ada yang memperhatikan lagi.
Qian Ye melirik wajah Su Jin yang kini biasa saja, lalu memalingkan muka tanpa berkata apa-apa.
Ia memang tidak akan memberitahu Su Jin, bahwa sejak mereka meninggalkan Gerbang Qing Xuan, Qian Ye sudah menyamarkan wajah Su Jin. Teknik penyamaran kali ini jauh lebih canggih daripada yang pernah digunakan Shui Jing. Dan tak seorang pun bisa mengetahuinya. Selain itu, Su Jin tidak memiliki kekuatan spiritual, jadi meski sempat ke dunia bawah, ia pun tak menarik perhatian siapa pun di sana.
Tentu saja, kecuali lagu istimewa itu.
Kali ini perjalanan terasa sedikit panjang. Su Jin tidur lalu bangun, bangun lalu tidur di dalam kereta. Untungnya mereka berdua tidak perlu makan, tapi karena lelah, tetap saja mereka akan singgah di penginapan untuk beristirahat.
Su Jin mengira mereka akan langsung ke Gunung Salju, namun siapa sangka, saat bermalam di sebuah penginapan di kaki gunung dan bersiap naik keesokan harinya, sesuatu pun terjadi.