Bab 31: Begitu Penuh Rasa Hormat
Perasaan tidak nyaman yang semula muncul karena sikap dingin dan rasa takutnya terhadap dirinya, lenyap seketika.
Qian Ye kembali menatap Su Jin dengan senyum tipis yang sangat ramah. “Kenapa kau takut padaku?”
Su Jin sejenak tak tahu harus menjawab apa. Apa sebaiknya ia berkata jujur, atau berbohong saja? Sepasang mata besarnya bertemu dengan mata hitam legam Qian Ye, dan Su Jin pun bergulat hebat dalam batinnya.
Setelah berpikir sejenak, ia mencoba menjawab, “Seorang murid memang seharusnya segan pada gurunya, bukan?”
“Kau itu takut.” Qian Ye langsung menebak dengan tepat, tidak mengizinkan Su Jin mengelak.
Berusaha agar pandangannya tidak terpaku pada tubuh Qian Ye yang nyaris setara dengan patung Daud, Su Jin melirik ke sana-sini, namun suara yang keluar terdengar agak canggung. “Mana bisa tidak takut? Baru saja aku ditangkap, lalu dilempar ke tungku peleburan pil, dan kau juga selalu galak padaku…”
“Aku memang selalu seperti itu padamu.”
Qian Ye menatap gadis yang tampak lesu itu, tak bisa berkata-kata. Bagaimana mungkin gadis ini mengira dirinya akan digunakan sebagai bahan peleburan pil?
Hari ini Qian Ye bicara lebih banyak dari biasanya. Entah hanya perasaan Su Jin saja, namun lelaki itu kini terasa lebih mirip manusia.
Hal ini membuat Su Jin jadi tidak begitu takut lagi.
Entah dari mana datangnya keberanian itu, Su Jin membalikkan badan, menatap Qian Ye dengan serius... Ia berusaha keras untuk tidak melirik ke bawah, hanya menatap wajah Qian Ye saja.
--Tetapi wajah itu benar-benar memesona, Su Jin merasa selain keahlian mengendalikan ekspresi, keteguhannya juga semakin terasah tiap hari.
“Kenapa kau begitu baik pada tungganganmu? Aku bahkan tidak ingat apa-apa, sama sekali tak mengingat masa lalu kita. Lagi pula, kau juga tahu aku sekarang ini sangat bodoh, kenapa kau tetap ngotot membiarkan aku melewati petir hukuman dan berlatih hingga mencapai keabadian?”
“Bukankah seharusnya, kau memberitahuku sesuatu?”
Su Jin mengumpulkan keberanian, mengucapkan semuanya dalam satu tarikan napas. Ia sempat mengira akan ada badai, tapi seluruh ruang gua justru sunyi senyap.
Begitu membuka mata, Su Jin mendapati wajah tampan itu begitu dekat hingga ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kau, ka-ka-kau—”
Saat ini Qian Ye sedang memeluk Su Jin, menatapnya dengan penuh keseriusan, seolah ingin menembus sampai ke dalam jiwanya.
“Aku dulu sering memelukmu seperti ini.” Suara Qian Ye lembut, berbeda dari biasanya, kali ini seakan menyatu dengan banyak kenangan.
Su Jin bahkan tak berani bernapas keras-keras. Saat itu ia sangat bersyukur karena masih mengenakan pakaian, setidaknya ia dan Qian Ye tidak benar-benar sebegitu intim. Soal ucapan Qian Ye, ia sama sekali tidak setuju. Kalau memang wujud aslinya adalah naga, berarti dulunya Qian Ye sering memeluk naganya sendiri?
Bukannya menunggangi?
Su Jin merasa pikirannya jadi kacau.
Qian Ye melanjutkan kenangannya, “Dulu kau sangat nakal, sama sekali tidak takut padaku. Sering membuat onar, lalu akhirnya pura-pura memelas. Setiap kali begitu, aku tak tega menghukummu.”
“Sampai suatu kali, kau memecahkan cermin pusaka Dewi Abadi Sembilan Langit. Aku memintamu mengakui kesalahanmu, tapi kau menolak. Saat itulah pertama kalinya aku memukulmu.”
Mengingat masa lalu, raut wajah Qian Ye melembut. “Dasar bocah nakal, kau malah mendiamkanku tiga tahun penuh.”
Ia menunduk dan melihat Su Jin sudah tertidur pulas di pelukannya, bahkan dari sudut bibirnya tampak kilauan bening entah air liur atau apa.
Qian Ye mengulurkan tangan, dengan lembut mengusap sudut bibir Su Jin. Ia tetap mempertahankan posisi itu, memangku Su Jin dalam pelukannya, lalu perlahan memejamkan mata dan mulai bermeditasi, membiarkan daging dan tulangnya yang belum sepenuhnya menyatu terus menjalani proses penyembuhan berikutnya.
Walaupun rasa sakit di sekujur tubuh hampir melampaui batas daya tahan, Qian Ye sama sekali tak menunjukkan raut kesakitan, malah di tengah-tengah alisnya terlukis kedamaian.
Apakah karena Su Jin berada dalam pelukannya?
Si kecil yang suka membantah, yang bisa, di ambang maut sekalipun, menukar nyawanya demi dirinya—tunggangan yang satu itu.
Benarkah ia hanya sekadar tunggangan?
Dengan pertanyaan itu, Qian Ye perlahan mematikan semua indranya.
Sementara si bocah yang sedang terlelap itu, sebenarnya tadi tidak berani tidur, sebab Qian Ye belum mengenakan pakaian—eh tidak, maksudnya ia tengah berada dalam pelukan Qian Ye.
Namun tentang masa lalu itu, apa pun yang dikatakan Qian Ye, Su Jin sama sekali tidak bisa mengingatnya. Ia bahkan masih ingat berapa nilai ujian masuk perguruan tingginya di kehidupan lalu, tapi tak ingat sedikit pun hal-hal yang disebut Qian Ye.
Pasti Qian Ye salah orang, pikirnya. Ikan dan naga, tetap saja berbeda.
Lagi pula, pasangan katak jelek itu juga bertemu di Kolam Putih, dan si belut kuning yang sedang birahi itu, juga ditemukan di Kolam Putih.
Dalam ketidaksadaran, Su Jin merasa dirinya melayang di udara, bagian pinggangnya terasa sedikit berat dan hangat. Ia menoleh, dan seketika terkejut setengah mati.
Ia memang tidak suka binatang panjang tak berbulu, tapi kini ia sendiri telah menjadi makhluk seperti itu!
Tak hanya itu, dengan ngeri Su Jin menyadari, Qian Ye sedang duduk menunggangi tubuhnya!
Seekor naga hijau panjang melayang di udara, dan di punggungnya duduk Qian Ye berbusana putih.
“Jangan membantahku lagi. Kau yang merusak cermin pusaka Dewi Abadi Sembilan Langit, itu memang salahmu. Sebenarnya kalau saja kau mengaku, aku pasti tak akan mengejarmu.”
Naga hijau itu diam—Su Jin bahkan tak tahu apakah ia bisa bicara atau tidak, ia masih kebingungan, tak tahu kenapa setelah tidur tiba-tiba bisa bangun dalam wujud naga.
Melihat naga itu bungkam, Qian Ye menghela napas panjang, tapi tak berkata apa-apa lagi.
Tidur kali ini terasa sepanjang satu abad bagi Su Jin, namun entah kenapa, ia merasa amat damai. Mungkin karena terlalu lama dalam satu posisi, tangan dan kakinya jadi pegal.
Syukurlah saat membuka mata, ia tidak lagi berada dalam pelukan Qian Ye.
Su Jin menghela napas lega, lalu berbalik, dan mendapati Qian Ye yang sedang bermeditasi duduk tepat di hadapannya.
“Ah!”
Ternyata mereka berada di atas ranjang yang sama! Bagi Su Jin, ini sungguh mengerikan!
Dalam kisah drama atau novel, biasanya tokoh perempuan yang terbangun di ranjang bersama pria akan langsung menjerit, lalu buru-buru memeriksa apakah pakaiannya masih rapi.
Su Jin bahkan dengan teliti memastikan pakaian Qian Ye juga masih rapi.
Bagaimana mungkin Qian Ye tak tahu apa yang dipikirkan Su Jin? Wajahnya langsung berubah serius, “Aku tidak tertarik memakan tungganganku sendiri.”
Su Jin balas dengan wajah canggung dan penuh ekspresi, “Tapi, tapi kau jelas memelukku, tidur bersama…”
“Memeluk hewan peliharaan saat tidur tidak boleh, ya?”
Memang ada orang yang suka tidur sambil memeluk kucing atau anjing peliharaan, itu bisa dimengerti oleh Su Jin. Namun, jika membayangkan dirinya adalah seekor naga, dan Qian Ye sering memeluk naganya saat tidur...
Bagaimana pun dipikir, sulit sekali membayangkan hal itu tetap polos, dan rasanya... agak ekstrim, bukan?