Bab 70: Petir Penghancur
Bagaimana rasanya daging naga jika dipanggang oleh petir? Di tengah-tengah hidup dan mati, Su Jin masih sempat memikirkan pertanyaan tak bergizi seperti itu. Namun, situasi di depan matanya jelas menunjukkan bahwa petir ini bukanlah milik Shui Jing, sebab ia sudah melewati petir tribulasi pertamanya, dan waktu untuk petir kedua pun belum tiba.
Selain itu, Cang Ming telah berlari ke arah berlawanan, sehingga petir ini pasti bukan miliknya juga.
Perhitungan sederhana, petir ini jelas milik Su Jin.
Karena itu, tak ada alasan membiarkan Shui Jing ikut menderita bersamanya. Bagaimanapun, ia belum tahu berapa banyak petir tribulasi yang akan datang kepadanya, dan sebagai naga purba, apakah tribulasi yang ia hadapi akan lebih besar dan ganas dari yang lain? Satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah agar Shui Jing tidak terseret dalam masalah ini.
Dengan niat itu, ekor besar Su Jin melengkung dan langsung menghempaskan Shui Jing jauh ke udara.
Mungkin Shui Jing akan terluka sedikit, tapi itu jauh lebih baik daripada tersambar petir.
Melihat Shui Jing terbang menjauh, petir tribulasi itu tidak mengubah arah, membuat Su Jin semakin lega. Petir itu benar-benar hanya mengincarnya.
Petir kedua terdiri dari tiga kilat kecil. Meski dikatakan para kultivator bisa menarik petir tribulasi, namun petir-petir yang dihadapi Su Jin benar-benar sangat setia padanya. Setelah Shui Jing terlempar keluar, perhatian mereka tidak berubah, tetap mengarah padanya.
Satu demi satu, tiga kilat petir menyinari bumi. Sementara para penduduk di desa sudah kembali ke rumah, menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Hanya anak-anak nakal yang mengintip dari jendela, memandang ke luar.
Di mata mereka, hanya ada kilat di langit jauh dan suara gemuruh petir.
Namun di mata Su Jin, petir itu terasa beribu kali lebih dahsyat, suara menggelegar yang mengancam merusak pendengaran. Setelah melemparkan Shui Jing, ia sempat bingung, tidak tahu harus bagaimana, apakah menghadapi petir dengan tubuh naga yang tebal, atau dengan cara lain?
Ia berpikir, bagaimana cara menghadapi petir tribulasi ini? Di ingatannya, saat masih menjadi manusia, biasanya para pelaku tribulasi akan menghadapi petir dengan menggunakan ilmu sihir.
Tapi sekarang, ia tidak punya ilmu sihir sama sekali.
Menghadapi petir dengan Qin Iblis Ekor Hangus? Su Jin enggan, benda itu terbuat dari kayu, kalau tersambar petir bisa-bisa langsung jadi abu.
Namun tak ada pilihan lain, Su Jin menggertakkan gigi. Ia merasa seperti seseorang yang keluar jalan membawa tas dan tiba-tiba dirampok; tak mungkin ia mengorbankan nyawa tanpa mengorbankan harta.
Walaupun, ia tak tahu jika mengorbankan harta, apakah para perampok akan membiarkannya pergi begitu saja.
Qin Iblis Ekor Hangus yang semula menjadi aksesoris, membesar. Tiga kilat petir berikutnya menghantamnya, meski beberapa serpihan juga menyambar tubuh naga Su Jin yang besar, panas dan sakitnya membuat air matanya menetes.
Untungnya, sebagian besar petir menghantam Qin Eblis Ekor Hangus. Setelah suara petir yang menggema di langit, kini Qin itu belum menjadi abu, namun sudah hangus dan hitam.
"Terima kasih," Su Jin hampir ingin mencium Qin itu. Meski kelas rendah, namun tetap saja alat dewa, ia segera mengecilkan Qin itu menjadi aksesoris kembali. Warnanya hitam berkilau, tapi kalau disentuh, mungkin tangan akan penuh abu.
Su Jin menghela napas panjang, "Seharusnya sudah selesai, kan? Aduh, tubuhku sakit sekali." Ia menunduk melihat tubuh naga hijau yang kini menghitam, meski belum matang, tapi kulitnya pasti sudah hangus.
Di sisi lain, Cang Ming telah tiba dengan kecepatan penuh. Dari kejauhan, ia melihat tubuh naga besar yang sekarat, hatinya bergetar, apakah ia sudah terlambat?
Sementara Shui Jing yang terlempar keluar, sempat mengumpat panjang, namun ia tahu Su Jin bermaksud baik. Tapi, apakah ia tipe rubah yang selalu lari dari bahaya? Oh tidak, ia bukan rubah pengecut yang kabur saat bahaya.
"Su Jin, kau terlalu meremehkan aku!" Shui Jing melesat kembali.
Cang Ming juga berteriak, "Istriku, kau baik-baik saja?"
Mendengar suara mereka, Su Jin yang bertahan dengan kesadaran merasa tenang. Bahkan jika ia pingsan, Cang Ming dan Shui Jing pasti bisa membawanya pergi.
Namun, saat senyum lega di bibir Su Jin belum sepenuhnya menghilang, awan gelap di langit sudah berkumpul, kilat aneh menyambar, memancarkan cahaya terang ke seluruh bumi. Sebuah petir tribulasi sebesar lapangan sepak bola jatuh dari awan tanpa ampun.
Cang Ming dan Shui Jing yang sedang melaju pun tertegun.
Bagaimana mungkin, ini baru tribulasi pertama Su Jin, tapi kenapa dahsyat seperti hendak naik ke dunia dewa!
Bukan hanya Su Jin, bahkan Shui Jing dan Cang Ming jika harus menghadapi petir seperti itu, pasti tak akan tersisa apa pun. Kecuali Cang Ming dalam kondisi puncak, mungkin masih ada peluang selamat, tapi sekarang ia sama sekali tak punya harapan.
Shui Jing benar-benar terkejut, ia sudah hidup ratusan tahun, belum pernah melihat petir sehebat ini. Bahkan saat ibunya naik ke dunia dewa pun, petir tribulasi tidak sebesar ini.
Pada dasarnya, tribulasi bagi makhluk iblis memang sulit, petir mereka selalu lebih kuat daripada para kultivator. Namun tribulasi Su Jin ini benar-benar melampaui segala pemahaman.
Su Jin menggulung tubuhnya, menengadah melihat cahaya yang menutupi langit. Telinganya tak lagi mampu mendengar apa pun, matanya pun silau.
"Apakah aku akan mati?" Menghadapi kematian, Su Jin justru menjadi tenang.
Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, begitu hidup, ia tahu ia tidak ingin mati, tidak pernah ingin, meski berkali-kali mengalami kematian.
"Tutup matamu, tenangkan diri, coba rasakan inti spiritualmu. Jalankan kekuatan spiritual ke seluruh tubuh, buat dirimu mencapai puncak."
Saat semua suara lenyap, Su Jin justru mendengar suara dari alam gaib. Suara itu adalah suara Qian Ye.
Apakah ia berhalusinasi?
Suara itu seolah tahu isi hatinya, lalu berkata, "Bukan halusinasi! Kau lupa, aku pernah bilang kita sudah terhubung batin. Kau menghadapi tribulasi, bagaimana mungkin aku tidak tahu? Cepat, lakukan seperti yang kukatakan!"
Ini adalah kata-kata terpanjang yang pernah Qian Ye ucapkan pada Su Jin.
Di saat itu, Su Jin tiba-tiba sadar dari ambang kematian, berusaha mengingat semua yang pernah dikatakan Qian Ye, tentang menenangkan diri, tentang inti spiritual, tentang puncak, namun ia tidak tahu apa maksudnya.
"Tapi, Guru, aku tidak bisa!"
R*^_^*