Bab 66 Mari Kita Coba
Qiao Wei secara tidak sadar melirik jam tangannya, hampir pukul sepuluh malam. Apa yang sedang dilakukan Jiang Tingxi di depan pintu rumahnya?
Pria itu sedang menunduk menatap ponselnya, alisnya sedikit mengernyit. Lengan kemejanya disingsingkan hingga ke siku, dan tiga atau empat kancing atas bajunya terbuka.
Seluruh penampilannya tampak begitu santai dan acuh tak acuh, namun ekspresinya terlihat begitu serius dan sungguh-sungguh. Kontras yang aneh ini melekat pada diri Jiang Tingxi, mengingatkan Qiao Wei pada dua kata: penuh pengekangan diri namun tersembunyi gairah.
Jantungnya seolah berdetak lebih kencang.
Mungkin karena kehadirannya terlalu kuat, Jiang Tingxi sedikit bergerak, perlahan menoleh, dan begitu memastikan itu adalah Qiao Wei, kerutan di antara alisnya seketika menghilang, digantikan oleh senyuman di sudut bibirnya.
"Sudah pulang?" Jiang Tingxi mengangkat termos di tangannya, "Aku menyiapkan makanan enak untukmu."
Nada bicara dan gerakannya begitu natural, bagaikan seorang suami yang sedang menunggu istrinya pulang, penuh harap dan kesabaran.
Pikiran Qiao Wei agak lambat merespons, namun kakinya sangat patuh melangkah mendekati Jiang Tingxi. Ia menempelkan kartu untuk membuka pintu, dan Jiang Tingxi mengikuti di belakangnya, menutup pintu, lalu meletakkan termos di atas meja.
Qiao Wei pergi mencuci tangan. Saat keluar, ia melihat Jiang Tingxi sedang dengan telaten merapikan piring-piring makanan dari termos tersebut.
Ada tiga susun semuanya, berisi hidangan lauk dan sup.
"Kau bahkan hampir tidak makan malam." Jiang Tingxi menoleh ke arahnya, "Sudah agak larut, makanlah sesuatu yang ringan dan mudah dicerna."
Qiao Wei melirik hidangan yang tampak begitu menggugah selera itu, dan selera makannya pun mulai bangkit. Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, hidungnya tiba-tiba terasa gatal. Setelah bersin beberapa kali berturut-turut, hidungnya menjadi benar-benar tersumbat, membuat suaranya terdengar sengau.
"Terima kasih."
Kelopak mata Qiao Wei dipenuhi oleh air mata alami akibat bersin, ia berjalan mendekat dan duduk, lalu menyekahnya menggunakan sehelai tisu.
Detik berikutnya, sebuah telapak tangan yang hangat mendarat mantap di dahi Qiao Wei. Ia mengangkat pandangannya yang tampak buram, menatap Jiang Tingxi dengan tatapan tertegun.
Pria itu memancarkan kekhawatiran di seluruh matanya. Sambil merasakan suhu yang menjalar dari telapak tangannya, ia berbicara dengan nada setengah khawatir dan setengah cemas, "Tidak demam, tapi pasti masuk angin."
Jiang Tingxi menunduk menatap Qiao Wei sejenak, menarik kembali tangannya, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan. Beberapa menit kemudian, pintu kamar diketuk.
Jiang Tingxi bangkit menuju pintu, bertukar beberapa patah kata dengan seseorang di luar, dan ketika kembali ke dalam, sudah ada sekotak obat di tangannya.
Ia pergi ke area bar mini untuk merebus air, menuangkan obat tersebut ke dalam cangkir kopi, menyeduhnya, lalu mengaduknya.
Tidak ada sepatah kata pun sepanjang proses itu, dan ekspresi wajahnya tampak agak masam.
Qiao Wei bersandar di punggung sofa, sedikit mendongak dan mengamati setiap gerak-gerik Jiang Tingxi. Kilasan berbagai ekspresi pria itu tiba-tiba melintas di dalam benaknya.
Sejak mereka saling mengenal, Jiang Tingxi sepertinya sudah beberapa kali marah. Namun jika dipikirkan baik-baik, setiap kemarahan itu selalu terjadi di saat dirinya tidak peduli pada kesehatan tubuhnya sendiri.
Apakah itu hanya kebetulan?
Mana mungkin ada begitu banyak kebetulan di dunia ini.
"Minumlah obatnya."
Jiang Tingxi berjongkok di hadapan Qiao Wei, menyodorkan cangkir kopi tersebut ke depannya. Aroma obat tradisional Tiongkok yang pekat langsung menusuk hidungnya, membuat Qiao Wei seketika mengerutkan kening dan membuang muka karena menolak.
"Bisakah tidak usah minum obat?" Qiao Wei menghindar, mengambil sebotol air mineral, dan memberi isyarat kepada Jiang Tingxi, "Banyak minum air putih saja sudah cukup."
Bibir tipis Jiang Tingxi terkatup rapat, nadanya terdengar membujuk, "Jadilah anak yang baik, minum ini supaya tubuhmu lebih enak."
Qiao Wei paling takut minum obat. Dalam beberapa tahun pengobatannya dulu, ia sudah menelan terlalu banyak obat tradisional maupun barat. Memang mujarab, tapi hal itu meninggalkan rasa enggan di dalam hatinya.
Ia mengerucutkan bibirnya dan mencoba tawar-menawar, "Kalau besok masih belum sembuh, baru diminum lagi, boleh?"
Sepasang mata buah persik milik Qiao Wei tampak jernih berkilau, nadanya terdengar menyedihkan, memancarkan keindahan yang rapuh karena sakit.
Jiang Tingxi seketika menyerah. Ia memalingkan wajah, tersenyum pasrah, lalu kembali menatap wanita itu dan berkata dengan nada serius, "Tidak boleh."
Wajah kecil Qiao Wei seketika merengut lesu saat melihat Jiang Tingxi mengeluarkan beberapa benda dari saku bajunya. Pria itu berkata, "Kau minum dengan patuh, nanti kuberi permen, ya?"
Melihat berbagai macam permen di tangan pria itu—permen buah, permen susu, bahkan sebatang permen lolipop—hati Qiao Wei terasa manis.
Dengan mengumpulkan segenap tekadnya, ia menerima cangkir tersebut, menyesap sedikit, wajahnya berkerut kecil, lalu ia memaksa dirinya meneguk suapan kedua.
Menyerahkan cangkir itu kembali kepada Jiang Tingxi, Qiao Wei menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala, bersikeras tidak berani meminumnya lagi.
Jiang Tingxi tidak punya pilihan lain menghadapi wanita itu. Sambil menghela napas, ia merobek bungkus permen lolipop dan menyodorkannya ke bibir Qiao Wei, "Makanlah, untuk menghilangkan rasa pahitnya."
Qiao Wei tidak bersikap sok malu, ia langsung menggigit permen tersebut. Rasa manis yang segar menyebar di dalam rongga mulutnya, menekan rasa pahit yang tertinggal.
Melihat alis Qiao Wei yang kembali mengendur, tatapan Jiang Tingxi melembut. Ia menatap wanita itu lekat-lekat sejenak, lalu mengulurkan tangan untuk merapikan barang-barang di atas meja dan meletakkannya ke atas nampan.
Qiao Wei perlahan mengecap permen lolipopnya, sementara pandangannya tanpa sadar mengamati Jiang Tingxi, melihat pria itu meletakkan cangkir terakhir ke atas nampan, memegang tepi nampan, lalu berdiri.
"Istirahatlah lebih awal. Jika nanti malam merasa tidak enak badan, hubungi aku kapan saja," pesan Jiang Tingxi, "Jangan takut menggangguku. Jangan pernah menanggung semuanya sendirian."
Usai berkata demikian, Jiang Tingxi berbalik hendak pergi. Sebuah dorongan tiba-tiba muncul di hati Qiao Wei, mulutnya bergerak lebih cepat daripada otaknya, dan ia berseru spontan, "Jiang Tingxi!"
Jiang Tingxi menghentikan langkahnya, menatap Qiao Wei dengan bingung. Namun keberanian Qiao Wei tiba-tiba lenyap begitu saja, ia mengerjap dengan cepat, lalu mengubah kata-kata yang tadinya sudah berada di ujung lidahnya.
"Terima kasih," ucap Qiao Wei.
Jiang Tingxi menatapnya selama dua detik, lalu tiba-tiba tersenyum, "Sama-sama. Selamat malam."
"Ya, selamat malam."
Jiang Tingxi tidak langsung pergi, ia berdiri diam menatap Qiao Wei. Wanita itu membalas tatapannya, ada emosi yang agak rumit di dalam sorot mata mereka, namun seolah telah sepakat, keduanya sama-sama tidak mengatakan apa-apa lagi.
Pada akhirnya, Jiang Tingxi mengangguk ke arahnya lalu bergi.
Saat mendengar suara pintu ditutup, Qiao Wei merasa sedikit menyesal. Kata-kata itu sudah hampir terucap di bibirnya tadi, mengapa ia malah ciut nyali?
Dengan perasaan kesal, Qiao Wei menjambak rambutnya sendiri, menutupi wajahnya sambil menendang-nendang kecil, lalu merebahkan diri di atas sofa.
Sesaat kemudian, Qiao Wei jatuh tertidur dalam keadaan setengah sadar.
Entah sudah berapa lama berlalu, Qiao Wei merasakan hawa dingin merayap di tubuhnya. Ia meringkuk, dan beberapa saat kemudian, ia justru merasa seluruh tubuhnya seperti terbakar api.
Ia berbalik dengan susah payah. Seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama kepalanya yang terasa seperti semangkuk bubur tahu yang hancur.
Qiao Wei merasakan tenggorokannya seperti terbakar. Perasaan ini terasa begitu akrab; dua tahun lalu saat ia pergi mengikuti profesornya untuk studi banding ke Amerika Serikat, ia pernah mengalami demam karena flu berat sekali.
Sensasinya nyaris persis sama dengan saat itu.
Kala itu, ia dan profesornya berpisah untuk mengumpulkan materi. Ia sendirian di Los Angeles tanpa sanak saudara, dan harus menahannya selama dua hari penuh sebelum akhirnya bisa bangun untuk pergi ke apotek membeli obat.
Perasaan kesepian yang pekat itu kembali menyerang Qiao Wei, sementara perkataan Jiang Tingxi terus berputar di benaknya: "Jangan menanggung semuanya sendirian."
Ia menarik napas dalam-dalam, mengangkat tangannya yang terasa seberat seribu pon untuk meraih ponsel di atas meja kopi. Padahal jaraknya hanya sejangkauan tangan, tetapi ia sama sekali tidak bisa mencapainya.
Setelah bersusah payah menggesernya hingga ke tepi meja, jari-jarinya sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Kelopak mata Qiao Wei terasa perih tanpa alasan. Pada saat itu, layar ponselnya menyala, menampilkan titik hijau dan merah dengan avatar WeChat milik Jiang Tingxi di tengah-tengahnya.
Qiao Wei merasa dirinya bagaikan ikan yang terdampar di daratan dan akhirnya mendapatkan air. Ia mengulurkan jarinya dan menyentuh tombol terima panggilan.
Di ujung sana, Jiang Tingxi terdiam selama satu detik sebelum akhirnya tertawa, "Kau benar-benar belum tidur."
Di lantai bawah, Jiang Tingxi sedang mendongak menatap jendela kamar Qiao Wei. Lampu di kamarnya masih menyala, dan tanpa berpikir panjang, ia melakukan panggilan telepon itu.
Di ujung sana tidak langsung menjawab pertanyaannya, membuat Jiang Tingxi sedikit mengerutkan kening, "Aku mengganggumu?"
Beberapa saat kemudian, suara serak Qiao Wei terdengar. Suaranya tidak besar, namun Jiang Tingxi mendengarnya dengan sangat jelas.
"Jiang Tingxi, mari kita... coba jalani?"