Bab 58 Dia tidak boleh terburu-buru
Hari ini Jiang Tingxi sudah bertanya dua kali. Pertanyaannya berbeda, tetapi keadaannya telah berubah, dan Qiao Wei dapat merasakannya.
Apakah ada dirinya di dalam kehidupan baru Qiao Wei?
Ada jawaban samar di dalam hati Qiao Wei, dan tepat saat ia hendak mengucapkannya, ponselnya berdering.
Ponselnya diletakkan di atas bufet dekat meja makan, nama Yun Xiao berkedip di layar, dan Jiang Tingxi pun dapat melihatnya.
Ekspresi Qiao Wei terlihat sedikit canggung sejenak, lalu ia segera meraih ponselnya dan berkata dengan nada meminta maaf kepada Jiang Tingxi, "Maaf, saya terima telepon sebentar."
Jiang Tingxi tersenyum dan mengangguk, memberi isyarat agar ia silakan.
Qiao Wei bangkit, berjalan menuju kamar tidur, dan menutup pintu.
"Dokter Yun?"
Meskipun kedap suara di kamar tidur sangat baik, Qiao Wei tetap sengaja merendahkan suaranya sedikit.
Suara Yun Xiao terdengar sangat cerah di ujung sana, "Sudah tidur?"
"Belum. Dokter Yun, ada apa?"
"Setelah kejadian waktu itu, saya tidak menerima telepon darimu, jadi saya ingin tahu apakah keadaanmu sudah sedikit membaik?" Suara Yun Xiao sangat lembut, lebih mirip obrolan kawan lama daripada pertanyaan dari seorang dokter.
Melalui pintu kamar tidur, Qiao Wei tanpa sadar melirik ke arah ruang makan. "Lumayan."
"Hm, masalah perceraian tidak bisa dipaksakan," lanjut Yun Xiao. "Dulu sewaktu dengan Song Jingan, aku sudah pernah menasihatimu. Sayangnya nasihatku tidak didengar, aku merasa sangat bersalah. Jadi kali ini, kuharap kau bisa mendengarkan saranku."
Dulu, bukan hanya orang tua Qiao Wei yang tidak menyukai Song Jingan, Yun Xiao pun pernah mengatakan bahwa Song Jingan memang tidak cocok dengannya.
Jika dipikir-pikir sekarang, saat itu dirinya terlalu keras kepala.
Jika ia dengan tegas menolak Song Jingan, mungkin keduanya tidak akan berakhir seperti sekarang ini.
Mungkin, mereka masih bisa berteman.
Beberapa hal memang harus mendengarkan saran dari orang lain.
Pertanyaan yang baru saja dilontarkan Jiang Tingxi terlintas di benak Qiao Wei, tentang apakah kehidupan barunya memiliki Jiang Tingxi di dalamnya.
Ia ingin menjawab ada, tetapi tampaknya sekarang ia harus melangkah sedikit lebih lambat.
Bertanggung jawab pada diri sendiri, dan juga bertanggung jawab pada Jiang Tingxi.
Setelah selesai mencuci mangkuk dan panci, serta menyeka tangannya dengan tisu dapur, Jiang Tingxi berjalan kembali ke ruang makan, tepat saat Qiao Wei keluar dari kamar tidur setelah selesai menelepon.
Entah mengapa, ia merasa ekspresi Qiao Wei tidak lagi secerah tadi.
Ia sedikit mengernyit, lalu kembali mengendurkannya dan tersenyum, "Aku lihat ada buah di kulkasmu, mau kubuatkan segelas jus?"
Tangan Qiao Wei yang memegang ponsel semakin erat, buku-buku jarinya memutih karena mengerahkan terlalu banyak tenaga.
Ia melirik jam tangannya. "Sudah terlalu malam, lain kali saja." Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan dengan nada meminta persetujuan, "Boleh?"
Jiang Tingxi jelas merasakan keanehan pada dirinya. Sebelum menerima telepon tadi, hubungan keduanya jelas sedang baik-baik saja, tetapi sekarang seolah-olah wanita itu membangun kembali tembok di antara mereka berdua.
Jiang Tingxi menekan keraguan di dalam hatinya, mengangkat tangan untuk mengusap puncak kepala Qiao Wei, lalu tersenyum, "Istirahatlah lebih awal."
Ia tidak boleh terburu-buru, semuanya harus dijalani perlahan-lahan.
...
Qiao Wei dan Li Jin membawa Jiang Zhe, Lin Qingxi, dan lima anak lainnya menumpang minibus sewaan pihak penyelenggara untuk menuju Kota Lin guna mengikuti kompetisi.
Karena masalah Lin Qingxi telah memiliki rencana penyelesaian, suasana hati Jiang Zhe sedang bagus. Sepanjang perjalanan ia tampak seperti merak yang sedang melebarkan bulunya, berbicara dan bernyanyi silih berganti.
Perjalanan yang memakan waktu beberapa jam itu sama sekali tidak terasa membosankan berkat kehadirannya.
Qiao Wei menyadari bahwa ekspresi Lin Qingxi tampak tidak begitu gembira.
Saat beristirahat di tempat istirahat di tengah perjalanan, Qiao Wei memanfaatkan kesempatan ketika hendak ke toilet untuk mengobrol sejenak dengan Lin Qingxi.
"Kamu tampak seperti sedang memikirkan sesuatu?" suara Qiao Wei terdengar lembut dan pelan.
Lin Qingxi menundukkan kepala, kedua tangannya saling meremas, ia menggigit bibirnya dan ragu-ragu untuk waktu yang lama sebelum berkata dengan suara pelan, "Guru Qiao, saya merasa agak takut."
Qiao Wei mengangkat tangan untuk menepuk pundaknya dengan lembut, "Takut akan apa, bisa ceritakan pada Ibu?"
Lin Qingxi menatap Qiao Wei, dan seketika air matanya tumpah, mengalir dalam butiran-butiran besar, tampak begitu rapuh.
Hati Qiao Wei ikut terasa nyeri, ia dengan lembut membantu menyapu air mata anak itu. "Katakanlah, mungkin Ibu bisa membantumu, atau setidaknya membantu mencarikan jalan keluar."
Lin Qingxi terus menangis dalam diam, air matanya menetes satu per satu tanpa suara. Ia terlalu berhati-hati, seolah takut mengganggu siapa pun.
Sikapnya yang begitu pengertian justru membuat orang lain merasa iba.
"Guru Qiao, saya diam-diam sudah menelepon Ayah," Lin Qingxi menyeka air matanya secara sembarangan. "Katanya, jika kali ini saya bisa mendapat juara pertama, beliau akan mempertimbangkan untuk membawa saya tinggal bersamanya."
Mendengar ayah Lin Qingxi melunak, Qiao Wei merasa sedikit senang. Dibandingkan dengan metode subsidi, diasuh oleh orang tua kandung yang sah tentu saja merupakan solusi terbaik.
"Apakah kamu merasa tertekan?" tanya Qiao Wei.
Meskipun peluang Lin Qingxi dan kawan-kawan untuk menang sangat besar, menaruh beban sebesar itu pada pundak Lin Qingxi sebelum pertandingan tentu membuat anak itu merasa gugup.
Selain itu, persyaratan dari ayah Lin Qingxi terlalu memberatkan, membuat Qiao Wei merasa tidak nyaman.
Lin Qingxi menghela napas, lalu mengangguk penuh semangat. "Ayah sudah punya anak dengan istri barunya."
Ia berhenti sejenak, menundukkan kepalanya semakin dalam, dan suaranya terdengar sangat pelan, "Saya tahu, bibi itu pasti tidak menyukai saya. Tapi kalau nilai saya bisa lebih bagus, Ayah bisa bilang pada Bibi untuk membawa saya ke sana supaya saya bisa membantu mengajari PR adik..."
Perkataan Lin Qingxi belum selesai, tetapi Qiao Wei sudah sepenuhnya mengerti.
Ia mengulurkan tangan dan mendekap Lin Qingxi ke dalam pelukannya. Lin Qingxi setengah kepala lebih pendek darinya, begitu kurus dan kecil, ia pun menyandarkan diri di bahu Qiao Wei.
Mendapat pelukan hangat seperti itu dari orang yang ia percayai membuat Lin Qingxi dapat melepaskan seluruh kehati-hatiannya.
Ia kembali menangis, yang mulanya hanya isakan pelan, lama-kelamaan berubah menjadi tangisan tersedu-sedu.
Qiao Wei dengan lembut menepuk punggungnya, perlahan-lahan, membiarkannya meluapkan tangisannya.
Setelah emosinya mulai mereda, Qiao Wei memegang kedua bahunya, sedikit mencondongkan badan, dan berkata kepadanya, "Jangan pikirkan terlalu banyak hal lain. Berusahalah semaksimal mungkin untuk menghadapi kompetisi kali ini. Urusi semuanya setelah kompetisi selesai, ya?"
Mata Lin Qingxi merah dan bengkak seperti buah persik kecil, tetapi ia tetap mengangguk dengan patuh, "Baik, Guru Qiao."
Qiao Wei memaksakan senyuman, merangkul pundak Lin Qingxi, dan berjalan kembali ke minibus bersama-sama.
Begitu naik ke dalam mobil, Jiang Zhe langsung menyadari keanehan pada diri Lin Qingxi, lalu menatap Qiao Wei dengan penuh tanya. Qiao Wei menggelengkan kepalanya secara perlahan kepada pemuda itu.
Jiang Zhe sangat peka dan tidak bertanya lagi, tetapi di sisa perjalanan berikutnya, ia tidak lagi mencoba mencairkan suasana.
Setibanya di tempat tujuan, Qiao Wei dan Li Jin membantu para siswa mengurus proses check-in hotel masing-masing. Saat Qiao Wei sedang merapikan barang-barangnya di kamar, pintu kamarnya diketuk oleh Jiang Zhe.
Qiao Wei sudah menduga bahwa pemuda itu akan datang dan tidak merasa heran. Setelah mempersikannya masuk, ia menuangkan segelas air dan menyuruhnya duduk.
Namun Jiang Zhe sudah tidak bisa duduk tenang. "Guru Qiao, ada apa dengan Lin Qingxi? Kenapa dia menangis?"
Qiao Wei merasa tidak tepat jika menceritakan masalah pribadi Lin Qingxi kepada Jiang Zhe, jadi ia hanya berkata, "Dia merasa sangat gugup menghadapi hasil kompetisi kali ini."
Tatapan Jiang Zhe mendingin, dan ia berkata dengan nada kaku, "Saya tahu. Ibunya menunggu uang hadiah dari kompetisi itu. Ayahnya bilang dia harus mendapat peringkat pertama baru boleh memutuskan untuk mengasuhnya."
Ia mendengus dingin, "Beberapa orang benar-benar tidak layak menjadi orang tua."