Bab 18 Guru Qiao, tolong ajari aku

Fora dos Limites Supervisionar as respostas 2491kata 2026-07-31 17:45:18

Halaman (1/3)

Qiao Wei menarik napas dalam-dalam. Rasa jengkel yang sejak tadi mengganjal di hatinya kembali membuncah. Ia tidak suka diperlakukan seperti orang bodoh.

“Maaf.” Jiang Tingxi meminta maaf dengan tulus. Ia juga tidak menyangka Lu Zhizhi akan bersikap sedemikian berlebihan.

Padahal ia hanya menyuruh Lu Zhizhi menyebut nama Song Jing’an. Namun pria itu malah membawa-bawa selingkuhan dan tiga ratus ribu. Sial.

Jiang Tingxi diam-diam mengamati ekspresi Qiao Wei. Perempuan itu menundukkan mata, sehingga emosinya tak terlihat jelas, tetapi wajahnya jelas tidak tampak baik-baik saja.

Haruskah ia menjelaskan? “Sebenarnya aku…”

“Tuan Jiang.” Qiao Wei memotong ucapannya. “Apakah Anda sangat membenci Song Jing’an?”

Jiang Tingxi menundukkan pandangan dan menatap mata Qiao Wei. Mata berbentuk almon yang biasanya lembut itu kini tampak tajam, seolah hendak menembus dirinya.

Jiang Tingxi menarik sudut bibirnya dengan susah payah. “Maksudmu?”

“Anda sengaja mendekatiku agar aku menjadi guru les privat keponakan Anda.” Suara Qiao Wei tidak keras, nadanya pun tetap tenang, seakan sedang bercerita. “Sekarang Anda sengaja memberitahuku tentang hubungan Song Jing’an dan Luo Siyu.”

Ia berhenti sejenak, seolah sedang menyusun kata-kata.

“Anda sepertinya tidak ingin dia baik-baik saja.”

Keluarga Qiao dan keluarga Song sebenarnya sudah pernah makan bersama. Qiao Wei dan Song Jing’an tidak pernah mengumumkan pertunangan mereka secara besar-besaran, sementara Qiao Wei juga tidak bergaul dalam lingkaran anak-anak keluarga terpandang di Yucheng. Karena itu, hanya orang-orang di sekitar Song Jing’an yang mengetahui, dalam lingkup terbatas, bahwa Qiao Wei adalah tunangannya.

Dalam pemahaman Song Jing’an, setelah Qiao Wei lulus, mereka akan membicarakan pernikahan. Hal itu sudah pasti.

Qiao Wei sendiri pun berpikiran demikian.

Seandainya bukan karena Luo Siyu, mungkin saat ini Qiao Wei sudah sibuk memilih gaun pengantin.

Dahulu, keluarga Song hendak mengumumkan pernikahan kedua keluarga tersebut, tetapi Qiao Benzhi menolaknya dengan halus.

Kini, setelah dipikir-pikir, Qiao Wei menyadari betapa besar perhatian ayahnya. Mungkin sejak awal ayahnya sudah melihat bahwa Song Jing’an tidak bisa dipercaya, dan ketika masalah yang memalukan itu muncul, ia berusaha melindungi Qiao Wei semaksimal mungkin.

Namun, Qiao Wei benar-benar tidak dapat memahami alasan di balik tindakan Jiang Tingxi.

Setelah memikirkannya berulang kali, satu-satunya kemungkinan adalah bahwa Jiang Tingxi dan Song Jing’an memiliki masalah di antara mereka. Jiang Tingxi tidak ingin keluarga Qiao kembali bekerja sama dengan keluarga Song.

Qiao Wei memang tidak memahami urusan dunia bisnis, tetapi sedikit banyak ia mampu menebaknya.

Ia bisa memahami bahwa orang-orang sibuk mengejar keuntungan.

Hanya saja, seharusnya mereka berdua cukup berpisah secara baik-baik. Itu adalah urusan pribadi.

Namun kini Jiang Tingxi ikut campur…

“Kau marah?” Jiang Tingxi mengamati ekspresinya dengan hati-hati.

Qiao Wei terdiam sesaat. Ia sendiri tidak yakin apakah sedang marah. Ia menggelengkan kepala. “Tidak.”

Halaman (1/3)

Halaman (2/3)

Jiang Tingxi mengangguk lega, lalu tersenyum mencela dirinya sendiri. “Aku terlalu terburu-buru. Siasat kecilku ketahuan olehmu.”

Pria itu berbalik dan bersandar pada pagar, menghadap Qiao Wei. Ia mengambil cangkir teh dari tangan Qiao Wei dan meletakkannya di samping, kemudian memiringkan kepala menatapnya.

Suaranya bahkan lebih lembut daripada angin malam itu.

“Dia baik atau tidak, tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya tidak ingin kau menoleh ke belakang lagi.”

Bulu mata Qiao Wei bergetar halus. Jantungnya tiba-tiba berdegup beberapa kali lebih cepat. Bibirnya yang ranum sedikit terbuka, tetapi ia tidak tahu harus berkata apa.

Ia melihat wajah tampan Jiang Tingxi mendekat dan tampak semakin jelas di hadapannya. Pria itu bertanya, “Apakah kau akan kembali kepadanya?”

Kembali? Kembali menjalin hubungan dengan Song Jing’an? Tentu saja tidak.

Sekalipun perasaannya terhadap Song Jing’an begitu dalam, Qiao Wei tidak akan kehilangan akal hanya karena cinta.

Namun, saat ini pikirannya benar-benar dikacaukan oleh kata-kata Jiang Tingxi, sehingga ia tidak langsung menjawab.

Secercah kekecewaan melintas di mata Jiang Tingxi. Ia menghela napas pelan.

“Sulit sekali memilih. Kalau mengungkap kejahatannya, aku takut akan menyakitimu. Kalau tidak mengungkapkannya, aku takut kau semakin terperosok.”

“Guru Qiao, ajari aku. Menurutmu, apa yang harus kulakukan, hm?”

……

Saat keluar dari teras, pipi Qiao Wei masih memerah. Pertanyaan Jiang Tingxi tadi terus terngiang di telinganya. Ia tidak mampu menjawab, juga tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, sehingga ia hanya bisa memilih untuk melarikan diri.

Begitu keluar, ia berpapasan dengan Si Miao.

“Qiaoqiao, kau dari mana?” Si Miao tampak geram. “Tadi aku melihat Song Jing’an dan Luo Siyu…”

Ucapannya belum selesai ketika melihat Jiang Tingxi keluar dari belakang Qiao Wei. Sisa kata-katanya langsung tertahan.

Kini Si Miao agak trauma terhadap Jiang Tingxi. Ia membencinya, tetapi juga takut kepadanya.

Jiang Tingxi melihat seluruh perubahan ekspresinya. Alis pria itu sedikit berkerut, sementara benaknya dipenuhi kata-kata yang pernah disampaikan oleh pamannya.

“Aku melihat mereka berdua,” kata Qiao Wei. “Mulai sekarang, aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya.”

Saat mengucapkan itu, sudut matanya kembali melirik Jiang Tingxi. Ia sendiri tidak tahu, sebenarnya kata-kata itu ditujukan kepada Si Miao atau kepada Jiang Tingxi.

Si Miao tidak menyadari keanehan itu dan malah bersorak gembira. “Nah, begitu dong. Pria brengsek memang seharusnya dibuang ke tempat sampah. Oh, ya, Qiaoqiao, aku sedang tertarik pada seorang pria tampan. Aku butuh bantuanmu.”

Qiao Wei terdiam.

Jiang Tingxi yang berdiri di sampingnya juga terdiam.

Si Miao melirik Jiang Tingxi, lalu tersenyum canggung dan menarik Qiao Wei ke samping.

“Dia kakak tertua keluarga Zhou.”

Qiao Wei merasa kepalanya mendadak pening. “Ka-kau tertarik pada Kak Zhou?”

Halaman (2/3)

Halaman (3/3)

Si Miao mengedipkan mata. “Ah!” serunya, lalu menjadi bersemangat. “Kenapa dulu aku tidak pernah memperhatikannya? Dia tampan sekali.”

Qiao Wei memijat dahinya, tak mampu berkata-kata.

Karena hubungan mereka dengan Sang Tian, Qiao Wei juga mengetahui tentang Zhou Beixuan. Ia adalah pemimpin keluarga Zhou saat ini, memegang kekuasaan besar, berwajah tampan, dan berkepribadian lembut. Namun, kabarnya ia menganut paham tidak ingin menikah.

Selama bertahun-tahun, banyak keluarga yang ingin menjalin pernikahan dengan keluarga Zhou hingga hampir mendobrak ambang pintu kediaman mereka, tetapi Zhou Beixuan tetap tidak tergoyahkan.

Dari cerita Sang Tian, seandainya bisnis keluarga Zhou tidak membutuhkan seseorang untuk mengurusnya dan ayah Zhou tidak menahannya, mungkin Zhou Beixuan sudah pergi ke pegunungan untuk menjadi pertapa.

Qiao Wei memegang wajah Si Miao dengan kedua tangannya, memasang ekspresi tak berdaya.

“Sayang, sadar sedikit. Aku mau ke kamar kecil. Saat aku keluar nanti, kuharap kau sudah tenang.”

Setelah berkata demikian, tanpa memedulikan Si Miao yang memanggilnya berkali-kali dari belakang, Qiao Wei melarikan diri ke kamar kecil.

Ia benar-benar tidak mampu membantu urusan ini.

“Kau menyukai Kak Bei?”

Suara Jiang Tingxi terdengar dari belakang. Si Miao bergidik dan segera mundur jauh-jauh.

“Jangan mendekat! Nanti kau bilang aku ingin melecehkanmu lagi. Lagipula, aku tidak menyukai Zhou Beixuan. Aku hanya tertarik kepadanya.”

Sudut bibir Jiang Tingxi berkedut. “…Apa bedanya?”

“Tentu saja ada bedanya.” Si Miao menjawab seolah itu hal yang sudah jelas. “Kalau keluargaku menyuruhku menikah demi kepentingan keluarga, aku tidak mau dengan pria-pria buruk itu. Kalau memang harus menikah demi kepentingan keluarga, aku akan mencari yang paling hebat.”

Jiang Tingxi terdiam.

“Ah, untuk apa aku mengatakan semua ini kepadamu? Kita juga tidak akrab.” Si Miao bergumam dan berbalik hendak pergi.

“Aku bisa membantumu.”

Ucapan Jiang Tingxi menghentikan langkah Si Miao. Ia berbalik perlahan dan menatap Jiang Tingxi dengan curiga.

Pria itu terkekeh pelan sebelum menjelaskan, “Kau adalah teman Qiao Wei, berarti kau juga temanku.”

Si Miao mencerna kalimat itu. Seketika matanya membelalak. Ia membuat sebuah dugaan, lalu menunjuk Jiang Tingxi dengan telunjuk yang gemetar.

“Dasar kau! Kau mau merebut harta berharga di keluargaku, ya?”

Maksudnya, merebut sahabat tersayangnya, Qiao Wei.

Itu bukan pertanyaan, melainkan kepastian. Sejak awal, ia sudah merasa pria ini bersikap mencurigakan.

Jiang Tingxi mengembuskan napas panjang. Seandainya Si Miao bukan sahabat karib Qiao Wei, dengan sikapnya yang begitu heboh, ia sungguh tidak ingin berbicara lebih banyak dengannya.

Jiang Tingxi menahan kesabarannya.

“Aku akan membantumu mengejar Kak Bei. Kau hanya perlu berhenti menjelek-jelekkanku di depan Qiao Wei. Bagaimana?”