Bab 60 Kalian Berdua Mulai Berkencan?

Fora dos Limites Supervisionar as respostas 2520kata 2026-07-31 17:46:18

Qiao Wei perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Jiang Tingxi. Jarak di antara mereka tidak lebih dari belasan sentimeter, dipenuhi dengan suasana yang romantis dan ambigu.

Di tengah situasi yang begitu mendebarkan, Qiao Wei tiba-tiba merasakan hidungnya sangat gatal, lalu ia buru-buru mengulurkan tangan untuk menutupi mulut dan hidungnya. "Achoo!"

Setelah bersin tersebut, Qiao Wei seketika merasa suasana di antara mereka berdua menjadi sedikit canggung.

Qiao Wei mendorong Jiang Tingxi. Pada jarak seperti itu, ia hanya bisa mendorong dadanya. Sentuhan yang hanya sesaat dan kenyal itu membuat tangannya buru-buru ditarik kembali. "Jauhan sedikit dariku."

Jiang Tingxi tertawa kecil karena gemas. "Jangan bilang kalau kamu alergi padaku."

Qiao Wei tertegun sejenak, mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menggeleng. "Bukan, sepertinya aku masuk angin, takut menularkannya kepadamu."

Jiang Tingxi menjawab, "Tidak apa-apa, tubuhku sangat sehat."

Sambil berkata demikian, ia mengangkat punggung tangannya dan menempelkannya ke dahi Qiao Wei. Wanita itu secara insting menarik diri ke belakang, membuat bagian belakang kepalanya membentur daun pintu.

Meskipun kekuatannya tidak besar, suara benturan tumpul tetap terdengar.

Ekspresi Jiang Tingxi berubah menjadi khawatir. Ia melindungi bagian belakang kepala Qiao Wei dengan tangannya dan dengan lembut mengusap helaian rambutnya. "Kamu tidak apa-apa?"

Qiao Wei buru-buru menggelengkan kepala.

"Kenapa menghindar? Aku tidak akan memakanmu," gurau Jiang Tingxi sambil tersenyum.

Mereka berdua saling bertatapan. Qiao Wei bisa merasakan jari-jari Jiang Tingxi menyusup tipis di antara helai rambutnya, mengusapnya dengan sangat lembut.

Ia sangat sensitif terhadap sentuhan seperti itu. Dulu saat pergi ke salon dan dipangkas rambutnya oleh penata rambut, ia selalu merasa sangat nyaman hingga beberapa kali hampir tertidur.

Kini, sensasi ajaib itu muncul kembali. Ia menyipitkan matanya dan mengerjap dengan sangat lambat.

Penampilannya terlihat sangat menikmati. Jiang Tingxi yang melihat hal itu merasa gelombang hasrat tiba-tiba melonjak naik. Ia menelan ludah, dan napasnya menjadi sedikit lebih berat.

Tanpa sadar, tangannya mendarat di tengkuk Qiao Wei, membuat wanita itu merasakan kehangatan dari telapak tangannya.

Sedetik kemudian, Jiang Tingxi mundur beberapa langkah, membalikkan badan, meletakkan kedua tangannya di pinggang, lalu tersenyum pasrah sambil bergumam, "Aku benar-benar mencari kesusahan sendiri."

Qiao Wei memandangi punggungnya dengan penuh keheranan. Mendengar pria itu mengatur napasnya, ia sepertinya mulai mengerti sesuatu.

Pipi Qiao Wei pun ikut memanas. Mereka berdua terdiam sesaat. Setelah beberapa menit berlalu, baru lah Jiang Tingxi berbalik. "Aku akan mengajakmu minum sup hangat agar bisa berkeringat, itu akan membuatmu jauh lebih baik."

Qiao Wei mengangkat kelopak matanya untuk menatap pria itu. Ekspresi wajah Jiang Tingxi tampak biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan.

"Baiklah," jawab Qiao Wei, lalu berbalik untuk membuka pintu kamar.

Begitu ia melangkah keluar kamar, ia langsung berpapasan dengan guru lain bernama Zheng Yi.

Orang tersebut berasal dari institusi lain dan juga datang untuk mengikuti kompetisi, sehingga sebenarnya ia adalah pesaing bagi Qiao Wei dan timnya.

Qiao Wei mengangguk untuk menyapa orang tersebut.

"Guru Qiao, halo," sapa Zheng Yi dengan riang dan akrab. Begitu kata-katanya usai, ia melihat Jiang Tingxi mengikuti keluar dari belakang Qiao Wei, dan senyumannya langsung membeku.

Tatapan Zheng Yi bolak-balik antara Qiao Wei dan Jiang Tingxi dengan penuh arti, lalu ia mengangguk penuh rahasia dan langsung berlalu pergi.

Melihat Zheng Yi berjalan pergi beberapa langkah, Jiang Tingxi membantu Qiao Wei menutup pintu kamar, dengan penuh perhatian memasukkan kartu kamar ke dalam saku bajunya sendiri, lalu merangkul pundak Qiao Wei dengan ringan saat mereka berjalan pergi.

Beberapa langkah kemudian, ketika menoleh ke belakang, Jiang Tingxi melihat Zheng Yi sedang berdiri di depan pintu kamarnya sendiri sambil memerhatikan ke arah mereka. Begitu melihat Jiang Tingxi memandangnya, Zheng Yi tersenyum kikuk dan buru-buru masuk ke dalam kamar.

"Siapa orang itu?" tanya Jiang Tingxi setelah mereka masuk ke dalam lift.

"Guru yang juga memimpin tim untuk kompetisi," jawab Qiao Wei. Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan penjelasan, "Hari ini baru pertama kali bertemu, jadi belum terlalu akrab."

Mendengar penjelasan yang begitu terperinci dengan ekspresi yang begitu patuh membuat hati Jiang Tingxi merasa sangat senang.

Setibanya di restoran, Jiang Tingxi membantunya memesan semangkuk sup pedas asam. Setelah meminumnya dan sedikit berkeringat, Qiao Wei merasa jauh lebih segar, dan kepalanya tidak lagi terasa pusing seperti di sore hari.

Kini, setelah pikirannya jauh lebih jernih, Qiao Wei baru teringat untuk bertanya, "Kenapa kamu bisa ada di sini? Datang untuk menyemangati Jiang Zhe?"

Hanya alasan itulah yang bisa ia pikirkan.

Jiang Tingxi mengambil segelas air lemon dan meneguknya. "Mana mungkin dia punya pengaruh sebesar itu. Lagi pula, mental anak itu sangat kuat, menang atau kalah baginya sama saja."

Ia mengamati lingkungan sekitar, mendekatkan tubuhnya ke meja, lalu mengangkat dua jari dan memberi gestur memanggil.

Qiao Wei dengan natural ikut condong ke depan, mendengar Jiang Tingxi sengaja merendahkan suaranya, "Aku datang untuk menyemangatimu."

Mengetahui pria itu sedang berseloroh lagi, Qiao Wei memutar bola matanya dengan lembut, lalu kembali duduk tegak.

"Hotel dan transportasi kali ini disponsori olehku," kata Jiang Tingxi sambil tersenyum. "Aku ingin kalian makan dan tinggal dengan lebih baik, agar penampilan kalian juga bisa maksimal."

Hati Qiao Wei terasa menghangat. "Terima kasih banyak."

Mereka tidak duduk terlalu lama karena besok masih ada pertandingan penting. Jiang Tingxi mengantar Qiao Wei kembali. Khawatir dengan kondisi para muridnya, Qiao Wei memutuskan untuk memeriksa setiap kamar terlebih dahulu.

Dalam kompetisi kali ini, ada dua siswi dan tiga siswa.

Kedua siswi tinggal dalam satu kamar, dua siswa lainnya di kamar lain, sementara Jiang Zhe, Li Jin, dan Qiao Wei masing-masing mendapatkan kamar sendiri.

Ia mendatangi kamar kedua siswa itu terlebih dahulu, dan Jiang Tingxi ikut di belakangnya. Saat pergi ke kamar siswi, Jiang Tingxi menunggu di depan pintu dan tidak ikut masuk.

Qiao Wei bahkan khusus memberikan dorongan semangat kepada Lin Qingxi. "Bertandandinglah dengan baik besok, urusan lainnya dibahas setelah pertandingan selesai. Guru akan berada di pihakmu. Kamu tidak sendirian."

Kondisi Lin Qingxi terlihat jauh lebih baik daripada sore tadi. Setelah memberikan beberapa instruksi tambahan mengenai pertandingan besok, Qiao Wei pun keluar.

"Mau kembali sekarang?" tanya Jiang Tingxi. "Aku antar."

Qiao Wei berkata, "Aku belum menjenguk Jiang Zhe, dan masih harus berkoordinasi dengan Guru Li Jin mengenai urusan besok."

Jiang Tingxi mengerutkan kening, tetapi ia tidak membantah dan hanya mengikuti di belakang Qiao Wei.

Setibanya di kamar Jiang Zhe, anak itu sedang bermain game seluler. Saat membukakan pintu, ia menggunakan satu tangan untuk membuka dan menahan pintu dengan kakinya, sementara jari tangannya sibuk mengetuk layar ponsel.

"Jam berapa ini masih main game?" tanya Jiang Tingxi dengan nada menegur lebih dulu.

Jiang Zhe melirik sekilas dengan cepat sambil tetap menatap layar ponselnya. "Malam sebelum ujian nasional dulu, kamu juga masih main game."

Jiang Tingxi tertegun. Ia melirik sekilas ke arah Qiao Wei dan melihat wanita itu sedang menggigit bibir untuk menahan tawa.

Mendengus pelan, Jiang Tingxi langsung menarik kerah belakang baju Jiang Zhe. "Kulitmu sedang gatal, ya?"

Jiang Zhe buru-buru memohon ampun. "Selesaikan ronde ini dulu, tinggal satu ronde lagi. Guru Qiao, tolong selamatkan aku!"

Trik ini terbukti ampuh. Qiao Wei menarik ujung lengan baju Jiang Tingxi, membuat gerakan pria itu terhenti dan benar-benar melepaskan cengkeramannya dari Jiang Zhe.

Dengan tegas Qiao Wei memperingatkan, "Cepat istirahat setelah ini. Kalau besok kamu tidak punya energi, aku juga tidak akan melepaskanmu."

Jiang Zhe tidak menjawab. Gerakan jarinya di atas layar ponsel semakin cepat, lalu ia berteriak lantang, "Yes! Menang!"

Sambil memasang wajah memelas, ia menutup aplikasi ponselnya. "Tidak main lagi, langsung tidur sekarang." Ia menepuk dadanya seraya berkata, "Aku selalu menepati janji, sifat inilah yang paling mirip dengan Paman."

Setelah mengatakan itu, ia tidak lupa memberikan kedipan mata kepada Jiang Tingxi, memasang ekspresi bangga seolah berkata, "Caramu memujiku tadi cukup bagus, kan?"

Melihat interaksi paman dan keponakan itu, Qiao Wei tidak kuasa menahan senyum. Setelah memberikan beberapa pesan terakhir, ia mengajak Jiang Tingxi pergi.

Begitu tiba di depan kamar Li Jin dan hendak mengangkat tangan untuk mengetuk, pintu sudah dibuka dari dalam oleh Li Jin.

Melihat Qiao Wei dan Jiang Tingxi berdiri berdampingan di depan pintu secara bersamaan, pikiran Li Jin mendadak kosong hingga melontarkan kalimat paling lancang seumur hidupnya.

Ia berkata, "Kalian berdua... sudah resmi berpacaran?"