Bab 54: Apa yang Diberikan Qiao Wei Selalu Lebih dari Cukup

Fora dos Limites Supervisionar as respostas 2554kata 2026-07-31 17:46:10

Qiao Wei sudah sering dikerjai oleh Jiang Tingxi, jadi kali ini dia tentu saja tidak tertipu.

Bukan hanya tidak tertipu, dia bahkan belajar untuk membalas. Dia mengambil tusukan sate terdekat, menggigitnya, dan melirik ke arahnya dengan mata almond yang indah.

Ekspresinya sangat hidup, manis, dan menggemaskan, namun tetap menyiratkan sedikit keluguan.

Melihat usahanya gagal, Jiang Tingxi tersenyum acuh tak acuh dan mengambil kembali tusukan sate itu untuk dimakannya sendiri.

Qiao Wei menelan tahu di dalam mulutnya dan bertanya seolah tidak terjadi apa-apa, "Dengan siapa biasanya kamu datang ke sini dulu?"

Jiang Tingxi tidak berpikir panjang dan menjawab dengan jujur, "Lu Zhizhi dan Zhou Nanzhao."

Qiao Wei ber-oh ria, "Kalau begitu, apakah kalian juga saling suap-suapan seperti ini? Pemandangan itu pasti..."

Pasti apa? Qiao Wei sengaja menggantung kalimatnya, sementara Jiang Tingxi mendengarnya sambil sedikit mengangkat sebelah alis.

Terbawa oleh alur pikiran Qiao Wei, dia tanpa sadar membayangkan pemandangan itu.

Dirinya, Lu Zhizhi, dan Zhou Nanzhao saling menyuapi makanan...

Lu Zhizhi mungkin masih bisa dimaklumi karena dia memang selalu tidak serius, tetapi orang seperti Zhou Nanzhao—tuan muda berharga yang angkuh dan sok keren itu—disuapi makanan?

Ck, pemandangan itu benar-benar menyakiti mata.

Tampak pandangan Jiang Tingxi sempat kosong sesaat, lalu sudut bibirnya berkedut seolah teringat akan sesuatu yang mengerikan. Bahkan dari seberang meja pun Qiao Wei bisa melihat merinding bermunculan di lengan pria itu.

Merasa puas karena berhasil, Qiao Wei menunduk dan terkekeh pelan.

Mendengar tawa renyah itu, Jiang Tingxi sadar kembali. Pandangannya jatuh pada wajah Qiao Wei yang tampak begitu ekspresif.

Berbeda dari sikap manjanya tadi, kini wajahnya memancarkan kelicikan yang cerdas dan lincah.

Jiang Tingxi mau tidak mau teringat pada pertemuan pertamanya dengan Qiao Wei lebih dari sebulan yang lalu di pesta penyambutan yang diadakan oleh Song Jing'an.

Saat itu, dia tampak tidak tahan alkohol. Hanya dengan meminum sedikit koktail berKadar alkohol rendah saja pipinya sudah merona merah, namun meski begitu, sama sekali tidak ada kehiupan terpancar dari dirinya.

Dia tampak seperti seseorang yang sengaja mengurung diri di dalam cangkang; tidak peduli bagaimana dunia luar memperlakukannya, dia tidak merasa sedih ataupun senang, dan tentu saja tidak ada kebahagiaan yang terlihat.

Dia sangat cantik, tetapi bagi Jiang Tingxi, dia terasa seperti bunga plastik yang tidak akan pernah layu—tampak indah, namun tanpa vitalitas.

Namun, Qiao Wei yang sekarang bagaikan mawar Black Baccara yang baru saja mekar; begitu menawan namun tanpa kesan dibuat-buat, dengan warna kelopak yang semakin pekat di bawah pancaran sinar matahari.

Jiang Tingxi menatap Qiao Wei lekat-lekat, bibir tipisnya terkatup rapat membentuk lengkungan senyum, lalu dia mengambil dua tusuk sate lezat lagi dan meletakkannya di hadapan wanita itu.

"Guru Qiao," suara Jiang Tingxi terdengar sangat lembut, sengaja direndahkan agar terdengar lebih bertuah, "Karena aku telah mengajarimu cara bercanda, apakah aku pantas mendapatkan tambahan nilai?"

Ucapan itu mengingatkan Qiao Wei bahwa sepertinya dia tidak pernah bisa membuat lelucon seperti itu sebelumnya.

Bahkan ketika bersama Si Miao, tidak peduli betapa tidak serasinya temannya itu bersikap, dialah selalu yang menjadi sosok serius.

Dia ibarat sebuah jam dinding yang berdetak presisi, tidak pernah meleset sedetik pun, kaku dan teratur.

Namun, selama kebersamaannya dengan Jiang Tingxi akhir-akhir ini, dia merasa dirinya benar-benar telah berubah.

Dulu, Qiao Wei takut pada perubahan karena perubahan membuatnya kehilangan rasa aman. Dia harus terus-menerus memastikan kondisi lingkungan sekitarnya agar bisa merasakan ketenangan.

Namun setelah mengenal Jiang Tingxi, segalanya tampak berbeda. Lebih tepatnya, selama Jiang Tingxi ada di sisinya, dia merasa memiliki rasa aman.

Ada semacam energi yang selalu menyertai pria itu—sebuah energi yang membuat Qiao Wei merasa nyaman.

Qiao Wei mengangguk menyetujui. Pria itu memang telah mengajarinya cara bercanda, atau lebih tepatnya, memberinya rasa aman hingga dia bersedia untuk bergurau.

"Lalu, berapa nilai tambahan yang kamu inginkan?" tanya Qiao Wei.

Jiang Tingxi tertegun sejenak, lalu tertawa kecil, "Guru, apakah aku boleh menentukan nilaiku sendiri?"

Terdengar tidak masuk akal, tetapi ada sensasi tersendiri di baliknya.

Qiao Wei tidak berpikir terlalu jauh. Dia hanya merasa Jiang Tingxi sangat cerdik dan unik; tidak peduli berapa nilai yang dia sebutkan nanti, pria itu pasti akan tetap menawarnya.

Karena itu, bertanya langsung padanya justru jauh lebih efisien.

Tepat saat Qiao Wei hendak mengutarakan pendapatnya, sepasang kekasih yang baru selesai makan hendak pergi dan melewati meja mereka. Karena ruangannya agak sempit, tas wanita itu tanpa sengaja membentur sudut meja.

Tali rantai pada tas tersebut menyangkut di