Bab 141 Kembali Bertengkar
Song Chi mendorongnya dengan gerakan menolak, yang justru semakin menyulut emosi Rong Jin. Pria itu meraih tangan Song Chi dan mengangkatnya ke atas kepala. "Ada apa? Kau hanya membiarkan Gu Yan menyentuhmu, tapi sekarang aku menciummu sedikit saja tidak boleh?!"
Song Chi belum pernah melihat Rong Jin yang seperti ini, begitu beringas, tidak masuk akal, bahkan menyimpan sisi dingin dan egois. Sosok Rong Jin dalam ingatannya—seorang pria terhormat yang menolak pernyataan cinta orang lain dengan sopan—tampak semakin menjauh...
"Omong kosong apa yang kau katakan!"
Song Chi merasa murka, lalu mendorong pria itu dengan kuat. Rambutnya tampak berantakan saat ia menatap pria itu, matanya dipenuhi rasa panik.
Melihat keadaan Song Chi yang seperti itu, hati Rong Jin pun terasa nyeri. Namun, begitu teringat bagaimana Gu Yan menyentuh dan menggenggam tangan Song Chi, amarah di dalam dadanya tidak dapat dikendalikan lagi.
Ketidakinginannya untuk mempublikasikan hubungan mereka, apakah benar karena ia masih memikirkan Gu Yan?
Semua ini apa artinya? Di satu sisi berkencan dengannya, tetapi di sisi lain masih bersikap mesra dengan Gu Yan?
"Song Chi... apa kau punya hati? Apa lagi yang kau inginkan dariku, hah? Haruskah aku melihatmu bermesraan dengan pria lain dengan mata kepala sendiri, melihatmu berduaan dengan pria lain, baru kau ingin aku bersikap tenang?!"
Sepasang mata Rong Jin memerah, tatapannya begitu dingin bagaikan binatang buas yang melihat mangsanya...
Mendengar itu, Song Chi menatapnya, tidak mengerti maksud ucapannya.
"Kau... apakah kau sengaja membuat keributan tanpa alasan? Kau..."
Song Chi sama sekali tidak ingin berurusan dengan Rong Jin lagi. Chen Lin masih berada di dalam sana, dan ini adalah satu-satunya kesempatan yang tidak boleh ia lepaskan.
"Kau salah paham. Masalah ini akan kujelaskan setelah kita pulang nanti. Sekarang... lepaskan!"
Ucap Song Chi dengan nada dingin.
Di luar dugaan Song Chi, meskipun sedang marah, Rong Jin tetap menuruti permintaannya dan melepaskan tangannya. Hanya saja, kata-kata yang terlontar dari bibir pria itu membuat dada Song Chi terasa sesak.
"Kau mau pergi mencari Gu Yan? Jika kau pergi... jangan pernah kembali lagi..."
Pada saat ini, pria itu tampak seperti anak kecil yang naif. Meskipun usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun, ia masih saja mengucapkan kalimat kekanakan tentang tidak usah kembali jika berani pergi.
Jika diperhatikan lebih dekat, mata Rong Jin dipenuhi rasa sakit. Di balik tatapannya tersimpan rasa sedih dan kecewa yang sulit disembunyikan, sementara matanya yang tadinya cemerlang bagaikan Bima Sakti kini tampak meredup. Kesedihan yang begitu pekat seolah hendak menelannya bulat-bulat...
Song Chi membelalakkan matanya. Ia sendiri juga merasa sangat sedih dan terluka. Luka di hatinya baru saja dikoyak oleh orang tuanya sendiri, dan sekarang Rong Jin malah...
"Apa maksudmu?"
Suara Song Chi pun ikut mendingin.
Rong Jin tertawa sinis, ekspresinya tampak begitu lelah dan hancur. "Xiao Chi, seluruh kesabaranku seumur hidup ini telah kuberikan kepadamu. Namun, kau tidak bisa memanfaatkan kebaikanku semaumu tanpa batas..."
"Aku bersikap semena-mena, keparat?"
Song Chi ikut tersulut emosi. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi merasa percuma karena kata-kata apa pun tidak akan mengubah apa pun. Ia mendengus dingin, lalu berbalik dan melangkah pergi.
Rong Jin menatap punggung Song Chi yang sama sekali tidak menoleh, perlahan-lahan menutup matanya.
"Kenapa kau harus terus memaksaku..."
"Tuan, apakah saya masih harus mengawasi Nona Song?"
Wuming berdiri tanpa suara di depan mobil.
Rong Jin serta-merta membuka matanya, kilatan kejam di matanya bahkan membuat Wuming terperanjat sesaat. "Tentu saja. Setelah pernikahan selesai, bawa dia kembali kepadaku dengan cara apa pun..."
"Baik..."
Wuming sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mengiyakan...
Rong Jin adalah atasannya, dan ia harus mematuhi perintah. Namun, saat teringat wajah Song Chi, Wuming tiba-tiba merasa tidak tega.
Di dalam gedung pernikahan, Song Chi mencari toilet terdekat untuk merapikan diri. Riasan di wajahnya telah luntur, dan pakaiannya pun tampak sedikit kusut, membuatnya terlihat sangat berantakan.
Ia berdiri di depan cermin besar, mengambil *cushion* untuk merias ulang wajahnya. Namun, di tengah-tengah merias diri, air mata justru mengalir menuruni pipinya.
Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan di atas wastafel. Air matanya mengalir deras tak terbendung, dan bagaimanapun ia menyekahnya, air mata itu terus saja turun.
Ia menggigit bibir, berusaha menahan agar isak tangisnya tidak keluar, sementara hatinya terasa begitu gersang dan hampa...
Kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini? Rong Jin bahkan tidak mampu memahaminya...
Apakah ini semua salahnya...
Apakah karena ia tidak menjelaskan hubungannya dengan Gu Yan kepada Rong Jin...
Apakah Rong Jin benar-benar tidak menginginkannya lagi...
Pikiran Song Chi dipenuhi keyakinan bahwa semua ini adalah kesalahannya. Ia menanggung seluruh kesalahan itu di pundaknya, menyesali kata-katanya kepada Rong Jin di dalam mobil tadi.
Itu adalah Rong Jin, Rong Jin miliknya sendiri. Bagaimana bisa ia membuatnya merasa sedih dan terluka...
Di saat Song Chi tenggelam dalam keraguan diri, ponsel di dalam tasnya tiba-tiba berdering. Telepon itu dari Peng Yan.
"Xiao Chi, kau tidak perlu datang lagi. Seseorang telah mendahului kita..."
Seluruh tubuh Song Chi langsung kaku, suaranya terdengar serak. "Siapa..."
Peng Yan mengirimkan sebuah foto.
Di dalam foto itu, Song Chi dan Chen Lin sedang bersalaman, sementara Song Jing dan Nyonya Song berdiri di belakang, menatap putri mereka dengan tenang...
"Jadi itu dia..."
Setelah menerima terlalu banyak pukulan, Song Chi justru menjadi mati rasa. Ia tidak menunjukkan gejolak emosi yang besar, hanya berkata dengan datar, "Jadi itu dia..."
"Kita masih punya kesempatan. Song Jiao itu kemampuannya biasa saja, Chen Lin mungkin hanya memberikan muka pada Song Jing, jadi kau jangan..."
"Kak Yan," Song Chi memotong ucapannya. "Aku lelah. Mengingat Tuan Chen Lin telah memilih orang yang tepat, kalau begitu... aku akan pulang lebih dulu..."
Setelah berkata demikian, tanpa mempedulikan apa pun yang dikatakan Peng Yan di ujung sana, Song Chi langsung menutup panggilan teleponnya.
Dari awal hingga akhir, yang ia tununjukkan hanyalah ketenangan. Ia bahkan tidak sempat menjelaskan apa pun kepada Rong Jin dan langsung bergegas ke sini, namun hasil yang didapat justru seperti ini...
Terlalu lelah, ia merasa sangat lelah sekarang.
Song Chi perlahan melangkah keluar dari toilet. Di dekat pintu, seorang pria sedang menelepon. "Tuan Gu, Anda tenang saja. Orang itu hanya kebetulan lewat di dekat saya dan saya sempat menyinggungnya sedikit, dia tidak berpikir macam-macam. Soal bayaran itu..."
Entah apa yang dikatakan oleh orang di ujung telepon, pria itu langsung tersenyum lebar.
"Iya, iya, betul kata Anda. Nona Song dan Anda adalah pasangan yang paling serasi, sementara Tuan Rong itu... pada akhirnya hanyalah orang luar..."
Song Chi berdiri tanpa ekspresi, mendengarkan pria itu berbicara di telepon. Matanya menyipit, bahkan untuk sekadar menggerakkan tubuhnya pun ia sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Gu Yan... ternyata sengaja melakukannya...
Pria itu sengaja membuat Rong Jin salah paham?
Ah... pantas saja malam ini pria itu bersikap begitu aneh dan terlalu memerhatikannya, rupanya karena alasan ini...
Song Chi tidak memiliki tenaga lagi untuk menemui Gu Yan. Ia sangat ingin menemui Rong Jin, tetapi... Rong Jin sudah tidak menginginkannya lagi, pria itu tidak menginginkannya lagi...
"Nona Song, Anda ingin pulang?"
Wuming entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Song Chi, suaranya terdengar sangat pelan.
Song Chi menoleh menatap Wuming, lalu perlahan menganggukkan kepalanya. "Ya... antarkan aku menemui Rong Jin..."
Wuming mengerutkan kening, tetapi tidak mengatakan apa-apa selain memberikan gestur mempersilakan.
Song Chi tidak ragu lagi. Ia melirik sekilas ke arah bawah, melihat Song Jiao yang sedang tertawa akrab bersama Chen Lin, dan secercah rasa tidak rela terbersit di matanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Song Chi terus menatap ke luar jendela mobil. Wuming, yang duduk di kursi pengemudi, menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Nona Song, Tuan Rong sebenarnya hanya sedang marah..."
Biasanya ia adalah pria yang pendiam, namun entah mengapa kali ini ia tiba-tiba ingin menghibur Song Chi. Setelah berada di sisi Song Chi selama beberapa hari ini, ia telah melihat sendiri betapa baiknya wanita itu. Dalam hatinya, ia berpikir alangkah baiknya jika ia bisa terus berada di sisi Nona Song untuk melindunginya...
"Aku tahu,"
Ucap Song Chi dengan nada datar.
Jika berada di posisi sebaliknya, seandainya Rong Jin bergandengan tangan dan berpelukan dengan wanita lain, mungkin ia juga akan merasa cemburu. Rong Jin hanya sedang dikuasai amarah, tidak apa-apa, ia memaafkan kemarahan pria itu yang tidak pada tempatnya. Bagaimanapun, kepedihan yang ia terima di hadapan keluarganya tidak seharusnya dilimpahkan kepada Rong Jin.
Song Chi terusmenerus mencari-cari alasan untuk membela Rong Jin, sementara hatinya terasa semakin sakit luar biasa.
Namun... ia hanya merasa sedikit sedih saja...