Bab Dua: Takdir adalah Hal yang Aneh
Namun, di dalam kamar presiden di lantai paling atas, Rong Jin menatap kemeja putih yang baru saja ia ganti, di mana dua huruf besar tertulis rapi. Pandangannya memancarkan sedikit rasa tidak percaya. Ia baru saja membiarkan seorang gadis muda menuliskan tanda tangan pada pakaian custom seharga puluhan juta miliknya...
“Tuan, Direktur Wang sudah menunggu. Silakan Anda segera ke sana.”
Seorang pria berpakaian jas masuk ke dalam ruangan. Sikapnya sangat hormat, wajahnya dihiasi sepasang kacamata, memperlihatkan aura profesional sejati.
Tatkala pandangannya turun ke arah ranjang, sorot matanya yang semula penuh takzim kini berubah menjadi aneh. Ia jelas melihat kemeja putih di atas kasur...
Sejak kapan Presiden perusahaan ini menjadi penggemar berat artis?
“Sudah tahu,” jawab pria berwajah lembut dan berperawakan elegan itu sambil perlahan mengancingkan kemeja barunya. Ia lalu meraih kemeja yang tergeletak di atas ranjang dengan jari-jarinya yang panjang dan putih, melipatnya perlahan. Di bawah tatapan tak percaya sang asisten, ia tersenyum tipis, “Kita bisa berangkat sekarang.”
“Eh? Baik!” Asisten itu sempat bingung, lalu segera menyingkir dan mempersilakan sang presiden lewat.
Biasanya, presiden perusahaan ini begitu ramah hingga seperti robot tanpa emosi. Hari ini, seolah-olah ada jiwa lain yang merasukinya.
Rong Jin mengangguk sopan, merapikan lengan bajunya, lalu berjalan keluar dengan tenang.
Sementara itu, di sisi lain lorong, Song Ci bersandar santai di depan pintu, matanya yang selalu tampak malas melirik ke arah seseorang yang menghalangi jalannya. Ia adalah putra sulung keluarga Wang, terkenal sebagai playboy di kalangan sosialita.
Wang Heng mengenakan jas resmi, seolah hendak menghadiri rapat penting. Wajahnya yang sebenarnya cukup rupawan kini ternoda oleh senyum licik, membuat kesan elegannya pudar. Ternyata, secantik apa pun penampilan seseorang, sifat aslinya tak akan pernah bisa disembunyikan.
“Nona Song, kami hanya ingin Anda bernyanyi sebentar saja, tak perlu buru-buru menolak,” ucap Wang Heng.
Song Ci menatapnya, seberkas dingin melintas di matanya. “Maaf, saya tidak menghadiri pesta pribadi,” jawabnya.
Wang Heng mengangkat alis, memperlihatkan wajah yang mulai kesal. Sebagai pewaris keluarga kaya, di mana pun ia pergi selalu dihormati. Hanya Song Ci yang berani mempermalukannya seperti ini.
Dengan marah, ia melempar bunga mawar di tangannya, menunjuk Song Ci dengan penuh kemarahan, “Song Ci, jangan karena kamu cantik jadi besar kepala! Kami mengundangmu itu sudah terhormat buatmu. Kamu cuma penyanyi murahan, jangan sok suci!”
Kalimat itu membuat wajah Song Ci seketika berubah dingin. Ia berdiri tegak, mata yang biasanya malas kini menyipit penuh keangkuhan dan keberanian. “Penyanyi murahan?”
Wang Heng masih belum menyadari keseriusan situasi. Ia mendongakkan kepala, merasa lebih tinggi dari siapa pun. "Benar sekali! Kamu tahu siapa yang hadir hari ini? Kalau kamu bisa melayani dengan baik, hidupmu akan berubah!"
Song Ci tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa. Wang Heng mengira ia sudah setuju, wajahnya pun semakin pongah, “Tadi pura-pura jaim, sekarang juga pasti mau naik pangkat—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba perutnya dihantam keras. Song Ci menendangnya dengan lutut, satu tangan menarik rambutnya lalu membenturkan kepala Wang Heng ke dinding.
Teriakan kesakitan pun terdengar. Mata Song Ci memancarkan kebengisan. Ia menarik lengan Wang Heng, melemparkannya ke lantai dengan bantingan yang membalikkan seluruh badannya.
Dari atas, Song Ci menatap Wang Heng yang tergeletak di lantai, bibirnya menekuk sinis. “Maaf, aku kurang perhitungan. Seharusnya wajahmu yang mencium lantai!”
Selesai berkata, ia menepuk-nepuk tangannya hendak pergi. Namun baru saja berbalik, ia melihat seorang pria bersetelan jas rapi berdiri di ujung lorong, menatapnya dengan ekspresi terkejut.
Kini pria itu tak lagi memakai jas yang ia kenakan saat konser, melainkan pakaian formal berwarna gelap yang tampak mahal. Mungkin tidak terlalu cocok untuknya, tapi justru membuatnya tampak begitu berwibawa dan tak terjangkau.
Tahi lalat kecil di sudut matanya menambah kesan agung pada wajahnya. Sifat lembutnya kini berubah menjadi aura seorang pemimpin yang dominan.
Pria itu tak lain adalah penggemar Song Ci saat konser, Tuan Rong.
Benar-benar... kebetulan...
Pandangan mereka kembali bertemu. Song Ci jelas melihat keterkejutan di mata Rong Jin.
Maklum, Wang Heng berbobot lebih dari delapan puluh kilogram, namun ia bisa membantingnya seolah-olah itu hal biasa.
Rong Jin sempat ragu, namun tetap menghampiri bersama asistennya. Song Ci sendiri tetap tenang, hanya berdiri di samping dan menatap wajah pria itu.
Pria ini benar-benar sesuai dengan seleranya. Dipandang berapa lama pun tak akan pernah bosan.
“Nona Song, selamat malam, kita bertemu lagi,” sapa Tuan Rong dengan ramah, senyum sopan dan suara menenangkan, membuat siapa pun merasa nyaman hanya dengan melihatnya.
Song Ci menahan diri, mengangguk padanya, “Selamat malam, Tuan Rong.”
Rong Jin tersenyum lembut mendengar jawabannya. Ia melirik Wang Heng yang tergeletak di lantai, tampak heran. “Ini...”
Belum sempat ia menyelesaikan pertanyaannya, dari kejauhan terdengar langkah kaki tergesa-gesa. Seorang pria mengenakan pakaian serupa Song Ci datang mendekat dengan wajah cemas.
Pria itu berwajah tegas dengan fitur wajah yang tampan dan rapi. Sebenarnya ia memiliki penampilan seorang tuan muda keluarga kaya. Namun sepasang matanya yang berbinar membuatnya tampak seperti playboy sejati.
Namun, playboy ini bukan sembarangan. Ia adalah atasan Song Ci, Presiden Kemilau Abadi Entertainment—Gu Yan.
Gu Yan bergegas menghampiri, seolah tak melihat orang lain di sekitarnya. Ia langsung berdiri di samping Song Ci, menatapnya dari atas ke bawah. "Kamu tidak apa-apa?"
Song Ci mengangguk, menandakan dirinya baik-baik saja.
Baru setelah yakin Song Ci baik-baik saja, Gu Yan menghela napas lega. Ia memandang Wang Heng di lantai dengan dahi berkerut. “Aku sudah duga orang ini pasti punya niat buruk. Kamu masih saja mau ikut keluar!”
Song Ci mengangkat bahu dengan pasrah. Awalnya ia memang hanya ingin menyelesaikan urusan dan keluar untuk merokok, tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.
Yang jelas Song Ci baik-baik saja. Gu Yan menyipitkan mata, menatap Wang Heng dengan dingin. “Song Ci adalah bawahanku. Kalau kamu berani macam-macam lagi, aku tidak akan segan-segan menyingkirkanmu!”
Wang Heng tentu tak berani melawan Gu Yan. Apalagi di dunia hiburan, Gu Yan memiliki kekuasaan mutlak, bahkan di dunia bisnis ia pun sangat disegani.
Di sisi lain, Rong Jin mendengar ucapan itu dan menoleh, sorot matanya pada Song Ci penuh makna. Namun perasaan itu segera menghilang. Ia lalu melangkah maju, tampil sopan dan berwibawa. “Tuan Wang, kami sudah melihat niat baik perusahaan Anda. Maaf, saya tidak bisa bekerja sama dengan orang yang tidak beretika. Sampai di sini saja urusan hari ini.”
Song Ci meliriknya. Suara pria itu terdengar lembut, bergetar di telinga, sungguh indah jika ia bisa menyanyi...
Sayangnya, Rong Jin tak berkata lebih banyak. Ia hanya mengangguk pada semua orang, lalu melangkah pergi bersama asistennya melewati mereka.
“Tuan Rong! Bukan begitu, izinkan saya menjelaskan!” Wang Heng tak menyangka semuanya bisa kacau seperti ini. Awalnya ia hanya ingin Song Ci bernyanyi untuk menyenangkan hati Rong Jin, tapi semuanya kini berantakan di tangannya sendiri.
Pria itu tak menoleh ke belakang. Punggungnya tegak bak bambu muda, kuat dan anggun. Jika bukan karena jas yang ia kenakan, pasti banyak yang mengira usianya baru dua puluhan.
Song Ci menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menarik kembali pandangannya dengan enggan. Namun sorot matanya tak luput dari perhatian Gu Yan di sampingnya.
“Suka?” tanya Gu Yan.
Song Ci mengangguk, bermain-main dengan rokok wanita di tangannya. Suaranya tetap santai dan malas, “Dia tampan.”
Tak mengiyakan, juga tak menyangkal.
Gu Yan menyipitkan mata, menatap ke arah pria yang baru saja pergi, suaranya terdengar samar, “Orang itu tidak mudah dihadapi. Sebaiknya kau jauhi dia.”
Song Ci tak menanggapi, hanya ada selarik penyesalan di matanya.